
"Masih ingat pulang ternyata." ucap Nisa pada suaminya.
"Maksudmu apa? tidak bisakah menunggu aku duduk dulu ." jawab Papa Harsana pada istrinya yang sudah berdiri di depan pintu.
"Hebat sekali kamu mas, pergi semalaman sedangkan aku di rumah sendirian." kata Nisa dengan nada tingginya.
"aku sudah bilang aku ada urusan kalau saja semalam kamu tidak menghalangi aku, tidak mungkin aku pergi terlalu malam sampai tidak pulang. Lagi pula kamu bukan anak kecil lagi." ucap Papa Harsana yang kini ikut meninggikan suaranya.
" Oh bukannya meminta maaf justru kamu menyalahkan aku.. iya mas." bentak Nisa tidak terima.
"Berhenti bersikap egois Nisa, terserah apa yang kamu katakan aku tidak peduli." kata Papa Harsana, langsung menerobos masuk menghiraukan teriakan Istrinya.
"mas...mas buka pintunya aku belum selesai bicara." teriak Nisa menggedor pintu kamar mereka.
"Apa lagi yang mau kamu bicarakan, lama-lama aku lelah menghadapi sikap kamu ini Nisa." jawab Papa Harsana begitu membuka pintu kamarnya.
"harusnya aku yang bilang begitu mas, aku lelah hidup seperti ini." kata Nisa tidak terima.
" jadi apa maumu HAH? mau berpisah silahkan aku tidak akan menghangi. Kalau kamu masih mau disini rubah sikap mu mulai sekarang." Brakk.. setelah mengucapkan itu papa Harsana langsung membanting pintu kamarnya.
Nisa sampai memejamkan matanya saking kagetnya, mendapat ancaman dari suaminya membuat Nisa langsung terdiam. dia memang tidak tahan hidup seperti sekarang ini tidak seperti dulu yang serba mewah dan selalu ada tapi nisa tidak dapat berbuat banyak karena dia tidak mempunya apa-apa sekarang kalau sampai dia di usir suaminya mau tinggal dimana dia.
__ADS_1
"Awas kamu mas, aku tidak akan tinggal diam." ucap Nisa mengepalkan tangannya.
Sedangkan di dalam kamar papa Harsana duduk di tepi ranjang, dia mengusap wajahnya dengan kasar.
"Perempuan seperti apa yang selama ini aku nikahi." ucap papa Harsana penuh penyesalan.
.
.
.
"Mbok.. hari ini jadi belanja?" tanya ameera yang kini sedang menemani anaknya bermain.
"jadi atuh neng, soalnya di kulkas sudah tidak ada bahan makanan sama sekali." jawab mbok sumi.
"Ameera ikut mbok, tunggu sebentar ya Meera ganti baju sekalian Ijin mas Alex dulu. Meera titip alea mbok."kata ameera yang langsung berjalan ke arah kamarnya.
tut...tut. .
"Halo sayang, ada apa? tumben telepon mas?" tanya Alex setelah mengangkat teleponnya.
__ADS_1
"Halo mas, Ameera boleh ijin tidak?" tanya Ameera ragu-ragu.
"apa sayang katakan saja, mas tidak akan marah." jawab alex seolah tahu keraguan istrinya.
"apa Meera boleh ikut mbok Sumi belanja sekalian nanti jemput amel pulang sekolah. Boleh ya mas.. Ameera bosan mas di rumah." ucap Ameera.
"boleh sayang, asal kamu dan anak kita hati-hati ya." jawab alex langsung.
"serius mas?" tanya Ameera memastikan.
"serius sayang, tapi ingat harus di antar supir ya." jawab Alex lagi.
"Terimakasih banyak mas, Ameera sayang mas." ucap Ameera langsung mematikan sambungan teleponnya karena malu, berani sekali dia mengungkapkan sayang pada Alex.
.
"Ayo mbok.. kita berangkat." kata Ameera begitu sampai di ruang tengah.
"ayo neng." jawab Mbok sumi langsung berdiri mengambil tas belanjanya.
Ameera dan mbok Sumi sudah dalam perjanjalan ke pasar begitu juga dengan Alea yang kini duduk di pangkuan mbok sumi, sebab mbok sumi sendiri yang memintanya dia ingin sekali menggendong Alea yang sudah di anggap seperti cucunya sendiri.
__ADS_1