
Seorang pria paruh baya duduk di ruangan kerjanya terpejam, kepala nya terasa berat memikirkan semua kejadian yang terjadi dalam hidupnya.
Apalagi saat ini perusahaan miliknya sedang tidak baik - baik saja lebih tepatnya sudah diambang kebangkrutan.
Entah dia juga tidak tahu penyebabnya tiba - tiba semua proyek yang dia kerjakan bermasalah dalam waktu yang bersamaan belum lagi dengan kasus yang menimpa anaknya semakin membuat kepalanya terasa penuh.
Padahal selama ini dia tidak pernah mengekspos anak - anaknya untuk menghindari sesuatu yang tidak diinginkan, namun semua usahanya selama ini sia - sia bahkan orang - orang kini sudah mengetahui kalau Risa adalah salah satu dari putrinya.
"Aku harus berbuat sesuatu, aku tidak mungkin membiarkan perusahaan ini hancur begitu saja." ucap Harsana sambil mengetuk jari tangannya di meja.
"Atau aku coba meminta batuan pada Alex, dia kan suami Ameera pasti dia mau membantu aku ayah mertuanya." kata ayah Ameera sedikit menarik bibirnya keatas namun itu tidak bertahan lama sebab tiba - tiba dia teringat beberapa bulan yang lalu Alex datang menemuinya untuk mencari Ameera bahkan alex saat itu sangat marah sekali pada dirinya.
__ADS_1
Saat sedang sibuk mencari jalan keluar tiba - tiba ada seseorang yang mengetuk pintu ruangannya.
tok..tok..tok..
"masuk." kata Harsana dengan mata yang masih terpejam.
"ma..maaf pak, tapi di luar banyak sekali wartawan." kata seseorang tersebut dengan menunduk.
"apa wartawan?" tanya Harsana ameera memastikan kini ayah dari Ameera itu sampai menegakkan tubuhnya.
"Bilang pada mereka semua untuk kembali minggu depan aku akan melakukan klarifikasi. untuk saat ini aku belum siap menghadapi mereka." perintah Harsana pada orang tersebut.
__ADS_1
"baik pak, kalau begitu saya permisi pak." pamit orang tersebut pada Harsana.
Setelah kepergian karyawannya Harsana semakin di buat sakit kepalanya, satu masalah saja belum dia temukan solusinya kini masalah - masalah lainnya muncul.
saat Harsana menunduk pandangannya tidak sengaja dia melihat sebuah foto yang masih tersimpan rapi di laci mejanya. potret sebuah keluarga bahagia yang sedang menanti buah hati mereka, di dalam foto tersebut adalah gambar dirinya dan juga ibu dari Ameera, dalam foto itu tampak Harsana sedang mencium perut istrinya yang sudah membuncit raut wajah keduanya benar - benar terlihat sangat bahagia menanti kelahiran buah hati mereka.
tes..
Tanpa terasa air mata Harsana menetes mengingat kenangan - kenangan indah saat bersama almarhum istrinya atau ibu dari Ameera.
"Apa kamu akan membenciku seandainya kamu tahu sikapku terhadap Ameera?" ucap Harsana sambil mengelus foto tersebut.
__ADS_1
"tapi apa kamu tahu hati sakit setiap melihat wajahnya yang duplikat dengan dirimu, bahkan senyum persis sekali dengan senyum milik mu. setiap melihatnya membuatku marah sekaligus kecewa sebab di saat dia lahir justru kamu pergi meninggalkan ku pergi jauh hiks.. hiks .. rasanya aku tidak mampu menatap wajahnya." Harsana menangis tergugu memeluk foto tersebut.
"Sebenarnya dadaku juga merasakan sesak setiap melihat tatapan sendunya, sekedar untuk menyapa atau menyebutkan namanya saja aku tidak sanggup hiks..hikss.. maafkan aku istriku aku bukanlah ayah yang baik untuk anak kita. maafkan aku hikss... tapi aku benar - benar tidak sanggup menerima kalau dia penyebab kepergian mu hiks...hikss" Harsana mengungkap kan semua isi hatinya selama ini pada foto mendiang istri pertamanya, ibu dari Ameera.