
Ameera dan Alex pun saling pandang keduanya belum bertanya kepada Amel masalah kepindahan nya.
"Kenapa Amel harus sedih sayang, kamu bisa ikut kaka." jawab Ameera setelah mendapat anggukan dari suaminya.
"Be.. benarkah..? kalian tidak akan melupakan Amel kan?" tanya Amel memastikan kembali.
"Tentu saja Amel bebas memilih, ikut om atau disini bersama mama dan papa kita semua keluarga kamu." jawab Alex kemudian.
"Terimakasih banyak om." ucap Amel dengan tersenyum.
"Mel.. kenapa kamu tidak disini saja nak, kamu tega meninggalkan mama juga." ucap Mama Mila pada Amel.
"mama jangan sedih." kata Amel memeluk mama Mila dari samping.
"Mama mohon ya mel kamu disini saja tinggal sama mama dan papa, Biar kita tidak kesepian." pinta mama Mila pada Amel.
"Memangnya Amel masih boleh disini sedangkan kak Ameera dan adek Alea tidak disini?" tanya Amel pada mama Mila.
"tentu saja sayang, ini rumah kamu juga sudah berapa kali mama bilang kita ini keluarga dengan ada atau tidak adanya adek Alea dan kakak Ameera kamu tetap menjadi anak mama." ucap mama Mila membalas pelukan Amel.
"Baiklah ma, Amel akan tinggal disini bersama mama dan papa." ucap Amel kemudian setelah mendapat anggukan tanda setuju dari Alex dan Ameera.
Alex sedikit lega dengan adanya Amel di sini membuat mamanya tidak akan kesepian jika dia dan anak istrinya pindah, selain itu Amel juga bisa menjadi obat untuk mamanya jika mama Mila merindukan adiknya yang sudah meninggal.
__ADS_1
"Terimakasih sayang." kata Mama Mila mencium pucuk kepala amel dengan sayang.
"Karena semuanya sudah setuju papa ada usul lex, bagaimana kalau kita sekalian mengadakan syukuran di rumah kalian nanti." usul papa Dirga.
"Alex setuju pa, nanti biar Alex urus semuanya kalian tinggal terima beres saja." jawab Alex dengan semangat.
"yasudah.. ayo kita berangkat ke kantor sekarang, sekalian mengantar amel." kata Papa Dirga mengajak alex berangkat ke kantor bersama.
.
.
.
"pagi pak.. ini berkas yang bapak minta kemarin." kata Kirana, meletakkan berkas di atas meja Dio.
"terimakasih kira.." kata Dio tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop di depannya.
"dan satu lagi pak, nanti jam 10 bapak ada kunjungan ke proyek yang berada di jalan xx." kata Kirana sebelum meninggalkan ruangan Dio.
"kamu atur saja, dan satu lagi kamu harus ikut." kata Dio dengan tegas.
"Ba..baik pak." kemudian Kirana keluar menuju ke meja kerjanya.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul sepuluh kurang sepuluh menit dan Kirana sudah siap berdiri di depan ruangan Dio untuk mengingat kan atasannya.
tok.. tok.
"Permisi pak, sudah saatnya kita berangkat." kata Kirana setelah sampai di depan meja Dio.
Kemudian Dio menutup laptopnya dan menatap ke arah Kirana.
"apa ada yang perlu di bawa kesana?" tanya Dio.
"tidak ada pak, bapak hanya meninjau perkembangannya sampai di mana itu saja." jawab Kirana menundukkan Kepalanya.
"ayo." ajak Dio kemudian berjalan mendahului kirana.
dan seperti biasa kirana harus berlari mengejar atasannya ke tempat parkiran pribadi milik Dio yang ada di kantor.
"Mari pak." kata Kirana yang sudah duduk di samping Dio.
Dio segera menjalankan mobilnya ke tujuan mereka.
hampir satu jam perjalanan mereka sampai di tempat Proyek keduanya langsung di sambut dengan hormat.
sekitar satu jam Dio berbincang tentang perkembangan pembangunan tersebut diikuti kirana yang selalu berada di belakang Dio. keduanya pun memutuskan untuk kembali ke kantor setelah memastikan tidak ada kendala apapun.
__ADS_1