
" permisi, apa benar ini rumahnya ibu Rini?" tanya Ameera pada Seorang pria paruh baya yang sedang duduk di depan sebuah rumah.
"iya benar saya suaminya, mbak siapa." jawab bapak tersebut.
"perkenalkan pak, nama saya Ameera saya saudaranya mbok sumi yang sekarang tinggal di rumah beliau pak. Apa saya boleh bertemu dengan ibu Rini." ucap Ameera menjelaskan.
"oh.. duduk dulu mbak saya panggil kan istri saya dulu." kata si Bapak kemudian beranjak ke dalam rumah.
tidak lama kemudian bu Rini menghampiri Ameera keluar.
" eh, nak Ameera katanya tadi mencari ibu ya, ada apa nak?" kata bu Rini menyusul Ameera duduk di seberangnya.
"iya buk, sebenarnya ameera sedang mencari pekerjaan apa ibu tahu kira - kira di dekat sini ada lowongan tidak ya buk?" tanya ameera ragu - ragu.
"oh.. kamu sedang mencari pekerjaan, kalau tidak salah di depan sana ada toko yang membutuhkan pekerja, coba nanti ibu pastikan dulu ya masih ada atau tidak lowongan nya." jawab bu Rini.
__ADS_1
"terima kasih banyak buk, maaf ameera sudah merepotkan."kata ameera tersenyum canggung.
"sama - sama ibu senang bisa membantu kamu, jangan sungkan kalau butuh bantuan apapun datanglah kesini nak ameera." kata bu Rini tersenyum.
"pasti buk, sekali lagi terima kasih banyak, Ameera pamit pulang dulu ya buk." ucap Ameera dengan wajah senangnya.
.
.
.
.
Di ruangannya Harsana termenung semua ucapan Dio benar - benar mengganggu pikirannya. Benarkah mendiang istrinya kecewa terhadap dirinya, Apa istrinya akan membencinya melihat perbuatan nya selama ini terhadap ameera, tapi yang dilakukannya selama ini adalah bentuk kekecewaan dirinya atas kehilangan istri yang sangat dicintainya.
__ADS_1
" apa kamu pernah berfikir bagaimana perasaan istrimu yang rela mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan keturunan mu. bukankah seharusnya kamu menyayangi nya mencurahkan semua kasih sayangmu untuknya bukan memberi nya kesakitan yang berkepanjangan. aku yakin ibunya Ameera pasti kecewa diatas sana."
ucapan Dio ini terus saja berputar di kepalanya, hatinya sedikit terbuka. Ameera kecil yang tidak berdosa anak itu sama sekali tidak meminta untuk di lahirkan, dimana anak - anak lain di sambut suka cita oleh kedua orang tuanya tapi tidak dengan Ameera justru kelahirannya membuat duka dengan meninggalnya sang ibu. Pantaskah dirinya menyalahkan anaknya sendiri.
"maafkan aku Shena, maafkan aku.. aku tidak bisa menjadi ayah yang baik untuk anak kita." kata Harsana dengan bergetar.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang, bahkan memenuhi satu permintaanmu saja aku tidak bisa shena, setiap aku melihat anak kita aku tidak sanggup shen wajahnya yang persis dirimu membuatku sakit shen." ucap Harsana lagi sambil memeluk foto mendiang sang istri.
Meskipun Harsana sudah menikah lagi namun cinta untuk mendiang istri pertamanya tidak pernah terkikis bahkan di ruang kerjanya masih penuh dengan semua foto dan kenangan dirinya dengan shena, ibu nya ameera.
saat wajahnya menoleh tidak sengaja Harsana melihat foto dirinya dan sang istri saat mengandung ameera.
deg!!!
kehamilan itu lah yang keduanya tunggu - tunggu selama 2 tahun menikah, saat sang istri memberi kejutan kehamilannya bahkan Harsana memberikan hadiah sebuah Villa saking bahagianya menyambut calon anaknya.
__ADS_1
Lalu saat sang anak lahir bahkan dirinya sama sekali belum pernah menggendong bahkan memeluknya.
Ameera kecil yang malang, hanya sekedar mengadzani putrinya pun Harsana tidak mau.