
"Ameera tidak tahu lagi harus bagaimana caranya berterima kasih buk." jawab Ameera dengan menggenggam erat tangan bu Rini.
"Tidak perlu sungkan ibu sudah menganggap kamu seperti anak ibu sendiri, lagian ibu juga senang membantu kamu dengan ikhlas nak." ucap Bu Rini dengan tulus, mengusap punggung ameera.
.
.
.
.
***
Sudah 2 hari ini ameera benar - benar tidak keluar rumah sama sekali, bahkan hanya membuka jendela saja dia tidak berani. Ameera takut jika orang - orang yang mengawasinya itu orang suruhan Alex yang di tugaskan membawanya, Ameera benar - benar takut jika kembali di siksa oleh alex apalagi sekarang perutnya sudah mulai membuncit.
"Aku tidak bisa terus bersembunyi disini terus menerus, aku harus pergi dari sini." ucap Ameera memikirkan langkah kedepannya.
"iya.. benar aku harus menunggu mereka lengah baru aku pergi dari tempat ini." Akhirnya Ameera mengemasi sebagian pakaian miliknya, saat nanti orang - orang tersebut lengah Ameera tinggal membawanya saja.
.
.
.
***
"ada kabar apa saja dari anak buah mu?" tanya Dio pada Arsen.
__ADS_1
"tenang saja, anak buah ku sudah tahu keberadaan Ameera, mereka masih memantau dari jauh." jawab Arsen tanpa ragu.
"Pastikan anak buah mu menjaganya dengan baik sampai aku menjemputnya sendiri dari sana." ucap Dio dengan serius.
"kamu tenang saja, mereka selalu bergantian memantau dari depan rumah Ameera." kata Arsen dengan santainya
" ingat jangan sampai anak buah mu itu membuatnya ketakutan, aku tidak mau sampai kehilangan jejaknya dan si brengsek Alex menemukannya lebih dulu."Dio memberi peringatan pada Arsen.
"tenang saja, kamu tinggal atur waktu kapan kamu akan pergi ke sana." kata Arsen.
"oke, hari sabtu nanti kamu temani aku kesana jangan lupa jemput aku pakai mobilmu aku tidak mau alex curiga nantinya." ucap Dio sambil memainkan handphone miliknya.
.
.
.
***
"Dio benar seharusnya aku menyelidiki semuanya dahulu, sekarang menyesal pun tidak berguna." lirih Alex menyisir rambutnya kebelakang dengan jari tangannya.
Dia menyesal dengan semua perbuatannya pada ameera, mungkin dia tidak mencintai Ameera tapi rasa bersalah nya terhadap ameera istrinya yang malang itu sangat menyiksa dirinya.
Sekarang rasa benci dan marah itu berpindah pada ayah Ameera, karena penyebab kekacauan ini akibat kebohongan Harsana. kalau saja dia tidak menutupi kebenarannya tidak mungkin dia membalas dendam kepada orang yang salah.
"nikmati saja dulu kesenangan kalian, setelah ini aku pastikan kalian semua akan lupa bagaimana cara tersenyum." ucap Alex dengan wajah dingin nya.
.
__ADS_1
.
.
***
Pagi harinya Alex datang ke rumah orang tua Ameera,
dia akan berpura - pura seolah belum mengetahui semua kebohongan mereka.
tok ..tok...
"Eh ..mas ini suami nya non Ameera bukan?" tanya bik jum asisten rumah tangga di rumah itu.
"saya ingin bertemu dengan ayah mertua." kata Alex tanpa menjawab pertanyaan bik jum.
"silahkan masuk mas, saya panggil kan Bapak dulu." kata bik jum mempersilahkan Alex menunggu di sofa ruang tamu.
Tidak berselang lama ayah Ameera turun dari tangga, Harsana menghampiri Alex dengan gugup.
"Pagi nak Alex, tumben pagi - pagi datang kesini." sapa Harsana setenang mungkin menutupi rasa gugupnya.
"hanya kebetulan lewat saja." ucap Alex singkat.
"Apa kabar Ameera baik - baik saja, setelah menikah dia tidak pernah lagi mengunjungi rumah ini." kata Harsana mencoba memastikan apa yang dikatakan Dio tempo hari benar atau tidak jika Ameera benar - benar di usir oleh alex.
"dia baik, Apa benar dia sama sekali tidak pernah kemari?" tanya Alex mencoba memastikan.
"benar nak, dia belum pernah sekalipun berkunjung kesini setelah menikah, syukurlah kalau keadaanya baik - baik saja." kata Harsana sedikit lega berarti ucapan Dio tidak lah benar, rasa bersalah nya pada Ameera sedikit berkurang.
__ADS_1
Alex tidak lagi membalas ucapan ayah Ameera namun wajahnya mulai memerah menahan emosi, sungguh pandai sekali ayah mertuanya ini berakting seolah - olah dirinya seorang ayah yang menyayangi anaknya.