ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 105


__ADS_3

Bi Amoy yang melihat Bella menangis tidak menghampiri, ataupun menghibur Bella. Bi Amoy hanya berada di ambang pintu. Dirinya pun tak kuasa menahan tangis kala melihat bayi kecilnya menangis tersedu-sedu.


Entah bagaimana perasaan Bella saat ini. Perasaannya begitu campur aduk. Kepedihan, dan kerinduan yang menjadi satu.


Di Rumah Sakit.


Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt… ponsel Nelson bergetar.


Nelson mencoba menjawab telepon masuk. Di seberang telepon terdengar.


“ Selamat siang Tuan muda,” ucap Roy.


“ Jelaskan situasinya?” ucap Nelson.


“ Nyonya sedang berada di Villa keluarga Xia, Tuan muda,” ungkap Roy.


Nelson terdiam sejenak. Dalam batinnya dia berkata. “ Apakah Bella sudah tahu, bahwa Vilanya telah di jual?”


“ Mungkin dia ingin melihat Villa yang seharusnya miliknya. Namun di jual oleh ayahnya sendiri.”


Nelson menghirup napas beratnya seraya berkata. “ Baiklah. Awasi dan jagalah istriku dengan baik. Kau mengerti?”


“ Baik, Tuan muda,” jawab Roy.


Nelson menutup teleponnya. Dan bersandar di ranjangnya seraya berpikir. “ Kehidupan seperti apa yang di jalani Bella, semasa dia tinggal di Vila itu?”


Nelson sedikit merenung hingga akhirnya teriakan Dion menyadarkan lamunannya.


“ Aaaaaaa.” Dion berteriak.


Nelson terperanjat kaget, Nelson mencoba bangkit dari ranjangnya untuk melihat situasi.


“ Ada apa?”


“ Dion apa yang terjadi padamu?” Seru Nelson dengan cemas.


Seraya menahan sakit dia berjalan menghampiri Dion. Nelson berkata. “ Apa yang terjadi padamu?”


Dokter, dan perawat bangkit untuk membungkuk hormat pada Nelson.


“ Selamat siang, Tuan muda. Maaf karena sudah mengganggu istirahat Anda,” ucap sang dokter.


“ Ada apa? Mengapa kau berteriak?” Tanya Nelson.


“ Pak dokternya tidak sengaja menusuk lukaku, Ayah,” ungkap Dion.


Sang Dokter hanya menundukkan kepalanya seraya berkata. “ Maafkan saya Tuan muda. Saya tidak hati-hati,” ungkapnya.

__ADS_1


Nelson hanya berkata. “ Berhati-hatilah, dan juga lebih lembutlah pada putraku. Jika kalian masih ingin bekerja.”


Dokter merasa perkataan itu lebih seperti sebuah ancaman bagi mereka.


Dion bertanya. “ Ayah. Bisakah ayah menemaniku di sini?”


Nelson menampilkan senyuman hangat, yang membuat perawat begitu terpesona. Kala melihat senyuman manis yang di tunjukkan oleh Nelson.


Nelson menghampiri putranya seraya berkata. “ Apakah ayah harus duduk di sini bersamamu?”


Dion menganggukkan kepalanya. “ Emmm.”


“ Baiklah,” Nelson pun duduk di samping Dion.


Dion tersenyum puas. Karena Nelson ayahnya mau menemaninya.


Dokter pun telah selesai membersihkan luka Dion. Terlihat lukanya telah mengering, dan tiga hari lagi jahitannya sudah bisa di lepas.


“ Apakah sakit?” Nelson bertanya.


“ Ehmm. Awalnya tapi sekarang sudah tidak.”


“ Permisi, Tuan muda,” ucap sang dokter seraya memasangkan plester anti air di luka Dion.


“ Karena sudah selesai, saya undur diri Tuan,” ucap sang Dokter.


Kedua orang tua Nelson harus pergi karena kakek Nelson sedang berada di bandara. Sehingga mereka harus menjemputnya.


Nelson memberanikan dirinya untuk bertanya lebih jauh pada Dion, tentang kehidupan mereka sebelum bertemu dengan Nelson.


Nelson berkata. “ Dion, bisakah kamu menceritakan bagaimana kehidupanmu sebelumnya?”


Dion terdiam sejenak, seraya tersenyum pada ayahnya. Dia berkata. “ Tentu saja. Jika ayah mau mendengarnya, akan aku ceritakan semuanya padamu ayah.”


“ Baiklah. Ceritakan saat kau kecil bagaimana?” Pinta Nelson.


“ Semasa kecil ya? Ah. Aku ingat!”


“ Saat aku, dan Dean kecil. Kami selalu menghabiskan waktu kami bersama pengasuh. Sedangkan ibu sibuk bekerja di toko bunga. Dan juga bekerja paruh waktu di tempat lain.”


“ Ibu selalu bekerja hingga kami tidak terlalu banyak bermain ataupun bertemu dengannya. Di saat kami masih tertidur. Ibu sudah pergi bekerja, dan di saat ibu pulang kerja kami sudah tertidur lelap.”


“ Seperti itulah kami melewati hari kami hingga usia empat tahun. Ibu tidak lagi memakai jasa pengasuh. Karena kami spesial jadi kami sudah bersekolah. Berangkat pagi dan pulang ke rumah ketika sudah sore.”


“ Ibu masih bekerja di toko bunga. Dan juga berbagai pekerjaan paruh waktu lainnya. Ibu selalu terlihat baik-baik saja. Namun, sebenarnya ibu selalu menangis di tangga setiap tengah malam.”


“ Aku dan Dean selalu merasa sedih kala ibu menangis sendirian. Terkadang ketika kami menghampirinya, ibu akan menyeka air matanya, dan berkata. “ Ah. Ibu baik-baik saja,” kami tahu bagaimana kesulitan ibu mencari nafkah untuk kami.”

__ADS_1


“ Karena kami bersekolah. Kami harus memiliki sebuah laptop untuk belajar. Namun, ibu tidak memiliki cukup uang saat itu, sehingga kami berjualan mawar di jalanan, ibu tidak ingin merepotkan Momy Anita. Sehingga kami pun bekerja sama mencari uang.


“ Apakah ayah tahu, kami hidup begitu sederhana. Demi membesarkan kami ibu berhenti sekolah. Kami tumbuh besar tanpa figur seorang ayah. Namun kami tetap bahagia.”


“ Momy Anita pernah bicara, bahwa saat ibuku ketahuan hamil di luar nikah. Ibuku di usir dari rumah. Semua orang menghinanya, mencemoohnya sebagai wanita murahan. Bahkan ayahnya yang berarti kakekku juga memintanya untuk menggugurkan kandungannya kala itu.”


“ Ah sudah, sudah. Aku tidak ingin bercerita lagi. Semua itu membuatku sedih,” ungkap Dion.


Nelson yang mendengarkan perkataan putranya itu. Merasa hancur, hatinya begitu sakit, bagai teriris-iris. Sungguh penderitaan Bella di sebabkan oleh dirinya. Jika saja dirinya berusaha lebih keras untuk mencari Bella. Kedua putranya tidak akan kekurangan apa pun jika bersamanya.


Mata Nelson berkaca-kaca. Dion yang menyadari kesedihan, dan rasa bersalah ayahny itu segera memeluk Nelson dengan erat seraya berkata. “ Ini semua bukan salahmu ayah. Tapi ini semua adalah jalan yang Tuhan pilihkan untuk kita lewati.”


“ Semua jalan Tuhan tidak ada yang mudah, dan mulus. Semua orang melewati yang namanya jalan berliku, berputar, berkelok, maupun berlubang.”


“ Semuanya telah memiliki jalannya masing-masing, begitu juga dengan kami. Kesusahan kami, adalah untuk bahan pengajaran kami. Agar tidak mengeluh, dan membenci nasib sendiri.”


“ Aku sangat berterima kasih sekali pada ayah, dan juga ibu. Karena sudah memberikan DNA yang sangat membuat orang lain iri.”


“ Terima kasih karena ayah telah membuat kehidupan untuk aku, dan juga Dean,” ungkap Dion.


Dion begitu tulus kala tersenyum pada Nelson. Nelson yang melihat senyuman Dion pun membuat hatinya terenyuh. Dalam hatinya dia berkata. “ Aku sangat bersyukur sekali, mendapatkan putra yang begitu tampan, dan juga bijak sana.”


“ Aku sangat senang sekarang. Kenapa? Karena aku kini memiliki keluarga yang utuh. Kini aku memiliki seorang ayah yang tampan dan juga berwibawa. Sungguh bahagia bukan? ungkap Dion.


Nelson hanya mengusap kepala Dion, dirinya begitu terharu mendengar perkataan anaknya yang begitu tulus.


Dion bertanya. “ Ayah, ibu pergi ke mana?”


Nelson menjawab. “ Ibu pergi ke suatu tempat.”


“ Di mana itu?” Dion sedikit penasaran.


“ Rumah masa kecil ibumu,” ucap Nelson.


“ Apakah di sana, ibu akan bertemu dengan kakek?” ucap Dion.


“ Tidak. Kakek sudah tidak tinggal di sana lagi,” ungkap Nelson.


“ Apakah aku bisa pergi ke rumah itu?” tanya Dion.


Nelson menjawab. “ Tentu saja, nanti jika ayah telah sembuh ayah akan membawamu pergi ke sana.”jawab Nelson.


“ Akan aku nantikan saat di mana ayah dan ibu, beserta Dean ikut pergi bersama, berbagi kebahagiaan bersama. Dan juga berbagi hal-hal menyedihkan. Atau pun saling menyembuhkan luka hati masing-masing,” ungkap Dion.


“ Hidup ini begitu indah bukan?” Tak ada yang terlewat oleh Tuhan. Ketika di berikan Rezeki uang, ataupun kesehatan.


Maaf jika masih ada typo atau salah tulis.🙏🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2