ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 93


__ADS_3

Nelson berjalan dengan tenang, meninggalkan rumah sakit, seraya menunggu Roy datang. Nelson mencoba untuk menyalakan rokoknya. Dalam hatinya dia berkata, “ Aah, ternyata masih sakit.”


“ Tuan muda, silahkan!” Roy yang sudah berdiri membukakan pintu mobil untuk Nelson.


Nelson yang melihatnya, segera menuruni anak tangga. Namun, tiba-tba dia kehilangan keseimbangannya, karena merasakan sakit di bagian perutnya.


“ Tuan muda, Anda tidak apa-apa?” dengan sigap Roy menangkap tubuh Nelson.


Nelson berkata. “ Aku baik-baik saja.”


Roy kembali bertanya. “ Apakah sebaiknya, Anda kembali ke rumah sakit!”


“ Berisik, jalankan saja mobilnya!” Perintah Nelson.


“ Baik, Tuan muda.” Roy pun dengan segera menjalankan mobilnya menyusuri jalan utama menuju perusahaan.


Drrrttt… drrrttt… ponsel Nelson kembali bergetar.


“ Halo, Presdir. Keadaannya semakin memburuk!”


Nelson menjawabnya. “ Bertahanlah, sebentar lagi aku sampai di kantor!”


Nelson pun menutup teleponnya, seraya berkata. “ Roy, bisakah kau mengemudi lebih cepat?”


Tanpa jawaban, Roy segera memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, seperti keinginan Nelson.


Setelah sepuluh menit Nelson pun sampai di perusahaan, dia bergegas menuju ruang Kontrol. Memeriksa situasinya.


“ Presdir.”


“ Presdir.”


“ Presdir.”


Staf IT memberikan salam pada Nelson, sedangkan dirinya hanya berjalan lurus tanpa menoleh sedikit pun.


Nelson berkata. “ Jelaskan situasinya!”


Staf IT pun menjelaskan panjang lebar, mengenai masalah yang terjadi. Nelson sudah mengerti permasalahannya.


Nelson yang pucat pasi, seraya memegangi perutnya pun berusaha menangani virus yang menyerang data Base. Namun, seberapa cepat Nelson, dia tetap tidak bisa menyingkirkan virus tersebut.


Sejenak Nelson berpikir, dan memilih menghubungi Dion untuk bertanya apakah dia bisa menyelesaikan kodenya.


Tut… tut.. tut.. panggilan tersambung. Namun belum ada jawaban.


Setelah beberapa kali memanggil, akhirnya dapat tersambung. “ Halo, ayah. Ada apa?” tanya Dion.


Nelson sedikit bingung. “ Dion putraku, ayah ingin kau membantuku!”


Dion sedikit bingung, dia kembali bertanya. “ Apa yang ayah butuhkan?”


Nelson menjelaskan permasalahannya. “ Ada sebuah virus yang menyerang data Base perusahaan, dan ini seperti kanker. Setelah di hapus, akan muncul kembali!”


Dion mengerti duduk permasalahannya, dia pun berkata. “ Berikan padaku situsnya, akan aku selesaikan segera!” ungkap Dion.


Nelson pun memberikan arahan pada staf IT untuk memberikan tautan pada Dion.


Nelson kemudian bertanya. “ Apakah kau mendapatkan situsnya?”

__ADS_1


Dion berkata. “ Ya, aku sedang menyelesaikannya!”


“ Ayah, apa imbalan dari kerja kerasku ini?” Dion bertanya.


Nelson menjawabnya, seraya menahan sakit. “ Apa yang kau inginkan dari ayah?”


Semua staf yang berada di dalam ruangan IT, saling memandang satu sama lain. Mereka saling berbisik.


“ Siapa anak ini?”


“ Apakah dia putra Presdir?”


“ Bukankah Presdir tidak memiliki putra, dari pernikahannya dulu?”


“ Ya, kau benar!”


“ Aku jadi penasaran seperti apa rupa anak ini!”


“ Ayah, aku melacak alamat IP nya, dan ini tersebar di beberapa negara!” seru Dion.


Nelson kembali bertanya. “ Apakah kau bisa menyelesaikan, dan menyingkirkan virusnya?”


Dion berkata. “ Tentu saja, serahkan padaku! Aku akan menyelesaikannya!”


Semua staf IT takjub dengan kemampuan Dion, penyelesaiannya menangani Kode, dan menyingkirkan virus yang ada pun, terpampang nyata di layar besar ruangan kantor.


Setelah menunggu sepuluh menit. Semua staf IT dapat bernapas lega, permasalahan yang menyerang data Base pun dapat di selesaikan dengan mudah oleh Dion.


Nelson tersenyum bangga, dalam batinnya dia berkata. “ Kau benar-benar putraku! Kau sangat berbakat.”


“ Ayah. Ayah, apakah kau mendengarkanku?” terdengar suara Dion memanggil Nelson.


Nelson menjawab. “ Iya, ayah mendengarkanmu!”


“ Tentu saja, kau memang putraku yang handal!” ungkap Nelson.


Semua staf, kembali tidak percaya dibuatnya. Mereka baru pertama kali mendengar bosnya berbicara begitu banyak, kagum, dan mengerti tentang sikap bosnya yang dingin itu, di balik sikapnya yang dingin, dan angkuh itu terselip sebuah jiwa yang hangat.


Karena masalah telah terselesaikan dengan baik, Nelson pun beranjak pergi menuju ruangannya.


Staf IT pun kompak mengucapkan terima kasih pada Nelson.


“ Terima Kasih Presdir.”


“ Terima kasih atas kerja keras Anda Presdir!”


“ Maafkan kami, karena sudah membuat Anda kesulitan!”


Nelson tidak berkata apa pun, dia hanya melangkahkan kakinya keluar.


Semua staf membungkuk kan tubuh mereka, saat Nelson berjalan di depan mereka.


“ Sungguh hebat, anak itu mampu menyingkirkan virus itu hanya dengan sepuluh menit, sedangkan aku? Berjam-jam pun tidak bisa menyingkirkannya!” Sesal seorang staf IT.


“ Eh, jangan berkata seperti itu? Kau sudah berusaha dengan baik! Jangan berkecil hati seperti itu!”


“ Hei, apakah Presdir sedang sakit? Wajahnya begitu pucat pasi!”


“ Kau benar! Aku melihatnya begitu kesakitan!”

__ADS_1


“ Sudahah, jangan mengurusi kehidupan Presdir jika kalian sayang pada nyawa kalian!”


Di sisi lain, Nelson sedang menunggu putranya Dion, yang akan datang menemuinya.


“ Ah, kenapa begitu menyakitkan!” ungkap Nelson yang terbaring di ruangannya.


Nelson mencoba meraih ponselnya, untuk menghubungi sopir di mansion.


Tut… tut… tut..


“ Halo, Tuan muda.” Terdengar suara di seberang telepon.


Nelson berkata. “ Apakah sudah berangkat?”


Sang sopir pun berkata. “ Sudah, Tuan muda. Kami sedang di jalan menuju perusahaan!”


Dion meminta sopir agar dia bisa berbicara dengan ayahnya, dia berkata. “ Ayah, aku akan segera sampai di sana, tunggu aku ya.”


Nelson sedikit tersenyum, kala menahan rasa sakitnya, dalam batinnya berkata. “ Sungguh obat terbaik adalah, perlakuan manja dari seorang anak!”


Nelson berkata. “ Ayah akan menunggumu, jadi cepatlah datang! Dapatkah kau memberikan teleponnya? Ayah ingin berbicara pada sopir!”


Dion pun kembali duduk tenang di kursi belakang seraya tersenyum puas.


Sopir mendengarkan perkataan Tuannya, yang terdengar adalah. “ Hati-hatilah dalam mengemudi. Aku tidak ingin putraku terluka!”


Sang sopir dengan tegas berkata. “ Baik, Tuan muda!”


Dion melirik sopir seraya berkata. “ Apa yang di katakan ayahku?”


“ Akh tidak Tuan kecil.”


Mobil pun kembali melaju, menyusuri jalanan utama kota.


Nelson yang berada di ruangannya meminta Roy untuk membawakan obatnya, entah mengapa rasanya begitu sakit! Dan rasanya cukup tak tertahan.


“ Roy, bisakah kau datang membawakan obat padaku?” Nelson berbicara dengan susah payah.


Roy yang mendapat pesan tersebut, segera membawa obat Nelson menuju ruangannya.


Tok… tok… tok suara pintu di ketuk.


Roy mendorong pintu, dan segera menghampiri Nelson.


“ Tuan muda, Anda tidak apa-apa?” Roy mencoba membantu Nelson bangkit dari tidurnya.


“ Berikan aku obatnya.” Nelson meminta Roy memberikan obatnya.


Dengan cekatan Roy membuka botol obat, dan memberikan beberapa pil, serta segelas air pada Nelson.


“ Minumlah ini, Tuan muda, agar rasa sakitnya berkurang!” ungkap Roy.


Nelson dengan segera meminumnya, dan menelannya.


“ Aku akan tidur sebentar, bangunkan aku jika Dion datang!” Pinta Nelson.


Roy menganggukkan kepalanya, seraya pergi meninggalkan Nelson.


Sementara Nelson perlahan tertidur, karena efek dari obat yang di minumnya.

__ADS_1


Jangan lupa like,vote dan komen ya guys. Terima kasih atas dukungannya. 🙏🥰🫶🌹🌹


Bersambung


__ADS_2