ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 195


__ADS_3

“ Apa yang kau beli?” Dean bertanya pada adiknya dengan sedikit penasaran sambil menelisik jauh ke dalam tasnya.


“ Aku akan memberitahumu nanti saat sudah di rumah.” ujar Dion seraya tersenyum misterius. Dean hanya menyunggingkan sedikit senyuman karena tidak puas akan jawaban adiknya.


“ Ayo kita pergi makan siang, sudah waktunya makan.” Nelson mengajak semuanya untuk pergi makan siang. Mereka pun pergi menuju ke restoran mewah yang masih berada di kawasan pusat perbelanjaan.


Nelson beserta yang lainnya memasuki tempat makan, saat berjalan semua mata tertuju pada kedatangan mereka semua, langkah yang anggun semakin menambah daya tarik bagi mereka. Nelson di sambut dengan begitu sopan dan juga hormat karena restoran itu adalah milik Yohan. Nelson juga menanam saham di sana. Sehingga semua staf dan pihak restoran sudah mengenal Nelson. Anak-anak duduk dengan tenang, begitu pula Nelson dan Bella, namun Oliver malah masih berdiri di sisi lain ruangan.


“ Oliver, kemarilah.” Nelson meminta Oliver untuk duduk bersama mereka. Dengan senang hati dia pun duduk di samping anak-anak. Menunggu makanan mereka tiba. Oliver dan Dion bersenda gurau, sesekali Dean menampilkan senyuman hangat di wajahnya yang serius. Nelson ikut bahagia karena kedua putranya mampu berbaur dan menghargai pekerja yang ada di rumah.


Selepas makan siang sebelum pergi Oliver mempersiapkan beberapa obat yang harus di minum Dean. Nelson menatap lembut putranya yang tengah memainkan gelas di tangannya.


“ Tuan kecil, minumlah.” Oliver menyerahkan butiran obat ke telapak tangannya. Dean memasukkan semua obat yang ada di tangannya ke dalam mulutnya dan menelannya. Lalu melirik ke arah Ayahnya seraya tersenyum.


“ Apa sudah selesai?” Nelson bertanya pada Oliver yang sedang membenahi kembali tempat obat dan memasukkannya kembali ke dalam tasnya. “ Sudah Tuan.” Jawab oliver.


“ Baiklah, ayo kita pergi.” Nelson mengajak seluruh anggota keluarganya untuk meninggalkan restoran. Semua orang beranjak pergi meninggalkan ruang VVIP. Mobil pun tiba di hadapan mereka, Bella berjalan menuntun Dion sedangkan Dean berjalan dengan Oliver di belakangnya. Mobil melesat pergi menuju ke arah Mansion.


Sesampainya di mansion Dean dalam keadaan tidur begitu pula dengan Dion. Nelson menggendong Dion sedangkan Oliver menggendong Dean membawanya masuk ke dalam mansion. Di ikuti dengan langkah Bella di belakang mereka. Beberapa pelayan datang menghampiri mereka mengeluarkan barang-barang yang ada di dalam bagasi mobil.


Nelson menaiki anak tangga, Dion terbangun. Dia menatap mata Ayahnya dengan pekat lalu berkata dengan pelan.


“ Ayah, aku ingin tidur di kamarku.” Pintanya seraya menutup kembali matanya. Nelson hanya mengulas senyum hangat padanya. Dia pun melangkahkan kakinya menuju kamar Dion, dengan cekatan dia melepaskan sepatu beserta kaos kaki yang di kenakan olehnya, tak lupa dia mengecup keningnya pelan. Sebelum meninggalkan kamar Dion.


Di kamar Dean Oliver tengah melepaskan sepatu Dean, dia juga mengganti pakaian Dean. Nelson menegok Dean sebentar sebelum dia melangkahkan kakinya menuju kamar miliknya. Setibanya di sana Nelson menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur yang besar miliknya, dia mengangkat sebelah tangannya lalu menutupi bagian mata. Dirinya masih terngiang-ngiang perkataan Dean, membuat Nelson kembali tertegun.


Nelson melirik ke arah pintu di mana istrinya baru saja masuk ke dalam. Dia menatapnya dengan dalam, Bella yang menyadarinya pun membalas dengan senyuman yang hangat di depannya.


“ Aku akan mandi terlebih dulu, tubuhku rasanya begitu lengket.” ujar Bella seraya melangkah pergi menuju kamar mandi. Terdengar suara air mengalir di dalam sana, membuat Nelson sedikit gelisah, dia duduk di samping tempat tidur, tatapannya tertuju ke arah luar tepatnya di area taman belakang. Tampak seorang anak tengah tertidur di bawah pohon rindang.


“ Bukankah anak-anak tertidur?” Nelson bicara sendirian. Karena rasa penasaran pun dia akhirnya turun menuju taman belakang. Benar saja di sana ada seorang anak tengah berbaring di bawah pohon menikmati angin yang melintasi dirinya. Dean terbangun saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekatinya. Dia membuka matanya perlahan dan terlihat adalah sosok Nelson yang terhalang cahaya matahari. Dean melihatnya dengan teliti, lalu berkata.


“ Ayah,” ucap Dean lembut.

__ADS_1


“ Bukankah kau sedang tidur? Bagaimana kau bisa secepat ini sampai di sini?” Nelson bertanya dengan sedikit heran.


“ Tentu saja aku berjalan!” Sahutnya. Dean mengulas senyum di wajahnya.


“ Kau ini.” Seraya mengelus puncak kepala Dean pelan.


“ Ayah, berbaringlah di sini bersamaku,” pintanya. Nelson menuruti permintaan Putra sulungnya itu dengan ikut berbaring di sampingnya.


“ Lihatlah Ayah,” Dean menunjuk ke arah langit yang cerah dan berwarna biru yang di hiasi oleh awan putih . Nelson mengikuti arahan putranya, menatap langit yang begitu luas.


Saat Bella selesai mandi dan berpakaian dia tidak mendapatkan sosok suaminya di kamar, merasa sedikit heran dia bergegas merias sedikit wajahnya lalu keluar mencari keberadaan Nelson. Saat menuruni anak tangga dia bertemu dengan seorang pelayan lalu mencoba untuk bertanya padanya.


“ Apa kau melihat suamiku?” Sang pelayan pun menunjuk ke arah taman belakang di mana Nelson beserta Dean berada. Bella sedikit lega, setidaknya mereka menghabiskan waktu bersama.


Bella menuju dapur mengambil segelas air dan membawanya ke ruang keluarga, di sana ada banyak barang yang mereka beli tadi siang, Bella melirik ke arah tas yang menarik perhatiannya sedari tadi. Akan tetapi dia tidak berani mengintip isinya, dia akhirnya memilih untuk menonton televisi selagi menunggu suami dan putra sulungnya kembali ke dalam mansion. Setelah merasa bosan dia mengambil sebuah majalah Fashion dengan riangnya dia melihat satu persatu pakaian yang di suguhkan di sana, hingga tatapannya tertuju pada sebuah gaun yang sangat indah. Tampak sederhana akan tetapi begitu elegan.


“ Ah, sepertinya aku menginginkan ini.” Bella menunjuk model yang mengenakannya, sedetik kemudian Bella terperangah kala melihat harga dari baju itu yang cukup fantastis. Di liriknya lagi bahwa gaun itu adalah edisi terbatas yang di keluarkan oleh merek terkenal.


Waktu sudah menunjukkan pukul 05.00 sore. Setelah puas berada di taman belakang Dean bersama Ayahnya kembali masuk ke dalam mansion. Di ruang keluarga Bella berbaring di atas sofa, sedangkan Dion baru saja turun bersama Oliver.


“ Ibu,” Dean menyapanya. Bella tersenyum penuh kebahagiaan saat melihat Dean.


“ Apa sudah puas bermainnya?” Bella bertanya seraya mengusap punggung tangan Dean.


“ Ehm.” Dean menganggukkan kepalanya. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada Dion yang baru saja datang.


“ Apa masih mengantuk?” Dean menghampiri adiknya lalu membawanya duduk di sampingnya. Dion menganggukkan kepalanya, tubuhnya kembali terbaring di atas sofa.


Dean melirik ke arah tas belanja miliknya. Lalu dia meminta Oliver untuk membawakan barang-barang yang ada di sudut ruang keluarga.


“ Mr. Olaf, tolong bawakan barang-barang itu.” Pintanya. Dion melirik ke arah Oliver yang tengah membawa tas belanja. Dengan malas Dion membangunkan dirinya.


Dean meraih sebuah tas belanja yang sedari tadi membuat Bella penasaran. Perlahan dia membawanya ke hadapan Ibunya.

__ADS_1


“ Ibu, ini adalah hadiah dariku, aku harap ibu suka dengan yang aku berikan padamu.” Dean menyerahkan tas belanja itu, lalu memgecup lembut kening ibunya Bella. Nelson sedikit cemburu pada sikap putra sulungnya yang begitu romantis terhadap istri sekaligus ibu dari anak-anaknya.


Dean menyerahkan sebuah tas belanja kepada Oliver. “ Mr. Olaf, kau bisa memiliki ini. Aku harap kau menyukainya.” Dean tersenyum begitu hangat pada Oliver. Dean menatap Dion yang menatap dirinya sejak tadi, lalu Dean menyerahkan sebuah kotak padanya. Dion sedikit bingung dengan apa yang di berikan oleh Dean padanya. Dion perlahan membuka bingkisan itu perlahan, dan terlihatlah sebuah kotak musik Box yang dapat bergerak dan diiringi oleh musik klasik. Seketika raut wajahnya berbinar, terlukis jelas kebahagiaan di sana.


“ Lalu bagaimana dengan Ayah?” Nelson bertanya karena hanya dirinya yang tidak mendapatkan hadiah darinya. Dean hanya tersenyum tipis mendengar perkataan Nelson. Dean mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam sakunya, lalu memberikannya pada Ayahnya. Dia tersenyum puas, saat dia membuka kotak itu perlahan terlihat sebuah jepit dasi yang cantik tertata rapi dalam kotak.


“ Aku harap Ayah sudi memakainya.” Nelson segera memeluk putranya, dia bahkan tidak tahu kapan Dean membelikan hadiah untuknya. Oliver yang melihat interaksi Ayah dan Anaknitu begitu terharu. Dia memeluk erat bingkisan yang diberikan oleh Dean, majikan namun lebih terasa seperti keluarga baginya.


Dion sibuk dengan hadiahnya, dia terus memutar lagu yang ada di dalam musik box nya. Sedangkan Bella hanya menatapnya dengan tatapan yang begitu dalam.


“ Ibu, bukalah bingkisannya, apa kau menyukainya?” Suara Dean menyadarkannya dari lamunan.


“ Ah, iya,” Bella sedikit terkejut, dengan pelan dia membuka tas mengeluarkan kotak besar di dalamnya. Bella sudah menduga pasti isi di dalam kotak ini adalah sebuah gaun. Akan tetapi setelah kotak itu terbuka dan memperlihatkan sedikit isi kotak yang di pegang olehnya. Tangannya bergetar, matanya tidak mempercayai dengan apa yang baru di saja dia lihat.


“ Gaun yang diinginkannya itu kini ada di depan matanya, gaun yang di produksi terbatas itu telah hadir di hadapannya. Dia tidak bisa memercayai semuanya. Bella melirik ke arah Dean yang tengah tersenyum lembut padanya, dia terisak lalu memeluk erat putra sulungnya yang masih berada di hadapannya.


“ Sayang, terima kasih untuk gaunnya.” Bella memeluk Dean begitu erat hingga membuatnya sulit untuk bernapas.


“ Ibu, aku sulit bernapas.” Dean menepuk punggung ibunya pelan.


“ Ah, maafkan ibu sayang.” Bella melepaskan tubuh kecil Dean. Selagi Bella melihat gaun yang di berikan oleh putra sulungnya. Dean mendekati Dion lalu mendekapnya dengan erat.


Nelson sedikit iri pada putranya Dean, bagaimana bisa dia kalah dalam merebut perhatian Bella. Dia menatapnya tak berdaya. Oliver hanya memgulas senyum tipis kala melihat Bosnya tengah sedikit kesal.


Seorang pelayan menghampiri mereka yang tengah berbahagia, dengan sopan dia berkata. “ Tuan, Nyonya. Di depan ada Tuan Andre dan juga Nona Anita.” Seketika keduanya berbalik kala mendengar nama sahabatnya di sebut.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2