
Ke esokan harinya, Nelson ada pertemuan dengan kolega bisnisnya, dia ingin membawa Dean, namun Dean tidak ingin ikut bersama Nelson. Alasannya karena kelelahan sehingga meminta untuk tetap tinggal di hotel. Nelson menyetujuinya, karena melihat kondisi Dean membaik. Dia menitipkan Dean pada manager hotel agar memantau keadaan Dean saat dirinya pergi.
Setelah menitipkan Dean, Nelson dan Evan beranjak pergi menuju tempat pertemuan dengan kolega bisnisnya. Saat Nelson telah pergi, Dean kembali tidur. Tubuhnya begitu lelah, rasanya dia ingin tidur lebih lama lagi. Tak terasa sinar matahari telah beranjak dan semakin tinggi menembus kaca jendela dan gorden kamar Dean. Dengan enggan Dean bangkit dari tempat tidurnya. Tubuhnya begitu lengket karena peluh membasahinya. Dean berjalan menuju kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya. Menyiapkan air hangat untuk mandinya. Setelah semuanya siap Dean pun memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam jacuzzi. Dia menatap lengannya yang kurus. Semoga bisa kembali seperti dulu.
Sepuluh menit berlalu, Dean beranjak dari jacuzzi dia membersihkan tubuhnya kembali, setelah selesai dia mencari pakaian yang akan dikenakannya. Dean mengambil t-shirt putih, serta kemeja lengan pendek warna cream. Membuat Dean terlihat Calm.
Namun hal yang tidak terduga adalah Dean terjatuh karena kakinya tersangkut handuknya saat akan menghubungi Nelson, tiba-tiba kepalanya merasakan sakit yang luar biasa, Dean mencoba berpegangan pada sesuatu yang ada di dekatnya. Namun, lengannya tak mampu menahan beban tubuhnya, hingga Dean terjatuh dan kepalanya terbentur ke ujung kursi. Seketika Dean kehilangan kesadarannya, darah segar mengalir cukup banyak dari kepalanya, menggenangi separuh wajahnya.
Namun, yang lebih sial lagi tidak ada yang datang memeriksa keadaan Dean. Setelah kejadian pun tetap tidak ada yang datang. Perlahan kesadaran Dean mulai kembali, samar-samar dia mendengar suara Dion, dan ibunya yang memanggil namanya. Perlahan Dean mencoba meraih ponselnya, dengan susah payah akhirnya dia bisa meraihnya. Dengan suara yang parau Dean berkata pada Smartphonenya. “ Panggil ayahku.” Dan seketika ponsel pun dalam keadaan menyala dan menghubungi Nelson, namun berapa kali pun Dean menghubungi Nelson dan Evan, tidak ada jawaban sama sekali, dalam benaknya terlintas, “ Ah, apakah seperti ini akhir hidupku, sama sekali tidak keren!” ungkap Dean.
Perlahan kesadaran Dean semakin menghilang, dia cukup banyak mengeluarkan darah. Hingga akhirnya terdengar suara pintu terbuka, dan itu adalah privat buttler. Samar-samar dia mendengar langkah kaki, namun Dean sudah kehilangan kesadarannya.
Privat buttler yang berjalan karena akan membereskan kamar pun tiba-tiba terkejut dan berteriak melihat Dean bersimbah darah. Dia segera menelpon petugas keamanan, dan resepsionis mengabarkan bahwa tuan kecil terluka. Semua orang panik, mereka bergegas menghubungi ambulance meminta agar segera datang mengingat kondisi Dean yang sangat lemah.
Semua staff Hotel ketakutan, mengingat Dean sudah dititipkan kepada pihak hotel untuk menjaganya. Dean dibawa ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama.
Di sisi lain, Nelson telah selesai bertemu dengan koleganya, saat itu Nelson berada dalam mobil, perhatiannya tertuju pada pada amplop coklat yang berada dalam tas kerjanya, dengan penasaran Nelson membuka amplop dan membaca isinya, terlihat itu adalah dokumen Bella sepuluh tahun yang lalu. Nelson membacanya dengan seksama, dan mendapati bahwa wanita yang tidur dengannya adalah Bella, betapa terkejutnya Nelson kala mengetahui kebenarannya, dan tak lama setelah kejadian itu Bella di kabarkan mengandung anak dari laki-laki yang tidak di kenalnya. Nelson menyadari bahwa putra kembar Bella kemungkinan adalah putranya juga. Nelson benar-benar tidak menyangka jika Bella adalah wanita di malam itu, wanita yang dia rebut mahkotanya.
__ADS_1
Dan terlihat dari keterangannya bahwa Bella di usir dari keluarga Xia, dan tinggal bersama sahabatnya Anita Ye. Mereka melewati masa sulit tanpa Nelson, anak-anaknya tumbuh dalam serba kekurangan, dan tidak mendapatkan figur seorang ayah. Itu semua membuat hatinya sangat terluka, mata Nelson terlihat berkaca-kaca, dalam batinnya berkata.
“ Maafkan ayah, Nak! Maafkan aku Bella karena terlambat menemukanmu!” Nelson menyesali hidupnya yang tak menyadari bahwa putranya sedekat itu dengan dirinya. Nelson menatap ponselnya begitu banyak panggilan dari Dean, saat Nelson ingin menghubungi Dean balik, tiba-tiba Evan dengan ribut masuk ke mobil dengan panik, dia memberitahu Nelson tentang kejadian yang menimoa Dean di hotel.
Evan dengan suara bergetar berkata.” Presdir, tuan kecil sekarang berada di rumah sakit!”
Nelson yang mendengarnya begitu terkejut, dia bertanya. “ Apa yang terjadi? Kenapa bisa berada di rumah sakit?”
Evan berkata, “ Sebaiknya kita segera ke sana presdir!”
Sopir pun melajukan mobil dengan sedikit mengebut. Nelson dan Evan begitu gelisah. Setelah lima belas menit berkendara akhirnya mereka sampai di rumah sakit V, di mana Dean dirawat. Dengan segera mereka memasuki rumah sakit dan bertanya di mana letak UGD, setelah mendapat pengarahan akhirnya mereka menemukan manajer hotel, dan bertanya keadaan Dean.
Manajer hotel dengan suara yang bergetar berkata. “ Keadaannya cukup parah, dokter sedang memberikan pertolongan pertama, menurut dokter, tuan muda kehilangan cukup banyak darah, dan sekarang mereka sedang sibuk mencari golongan darah yang sama dengannya.”
Nelson merasa sedikit frustrasi, seharusnya kebahagiaan yang menyelimuti dirinya, namun nyatanya kekhawatiran yang tiada akhir kini dia rasakan. Tak lama perawat memanggil, perawat berkata. “ Wali Dean Xia! Nelson yang termangu, mencerna situasi yang sedang terjadi.
Tangan Evan pun menepuk pundak Nelson, menyadarkannya dari lamunan.
__ADS_1
Nelson yang tersadar segera berjalan menuju perawat.
Perawat bertanya, “ Tuan, Anda wali dari ananda Dean Xia?”
Nelson menjawab. “ Ya, saya adalah ayahnya.”
Perawat kembali bicara, “ Begini tuan, anak Anda mengalami pendarahan, dan kehilangan banyak darah. Sehingga dia membutuhkan transfusi darah secepatnya, sedangkan di rumah sakit kami golongan darah Rhnull/ Golden Blood sudah tidak tersedia karena golongan darah tersebut sangat langka, apabila ada kerabat, ataupun teman Anda yang mempunyai golongan darah yang sama, bisa mendonorkan darahnya untuk putra Anda.”
Nelson segera menjawabnya. “ Golongan darah saya sama dengan putra saya, Rhnull apakah saya bisa mendonorkan darah saya padanya?”
Perawat berkata, “ Silahkan ikut saya tuan, kami harus memeriksa kondisi Anda apakah bisa menjadi pendonor atau tidak?”
Nelson mengikuti perawat menuju laboratorium rumah sakit, di sana perawat mengambil sampel darah Nelson untuk di uji coba. Setelah menunggu sebentar akhirnya hasilnya keluar, karena kondisi fisik Nelson dalam keadaan prima sehingga Nelson dapat mendonorkan darahnya pada Dean.
Setelah perawat mendapatkan satu kantung darah untuk Dean, dia segera menyerahkan kepada dokter yang ada di ruang operasi. Di tempat lain Nelson masih memberikan darahnya untuk Dean, seraya berdoa di dalam hatinya agar Dean baik-baik saja.
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹
__ADS_1
Bersambung