ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 207


__ADS_3

“ Presdir ini ada pesan dari Nyonya.” Evan menyerahkan ponselnya pada Nelson yang duduk di kursi penumpang. Setelah membaca pesan tersebut dia lalu membuka ponselnya di sana terlihat banyak panggilan masuk dari istrinya, dia lalu menghubungi Bella. Terdengar suara yang begitu marah namun, lebih terdengar menyedihkan. Nelson mendengarkan perkataan istrinya dengan seksama. “ Apa?” Nelson membelalakkan kedua matanya.


Di sisi lain.


Di apartemen Gisel tengah terbaring. Demamnya sudah reda. Gisel tidak bisa berbuat apa pun. Dia hanya tertidur seharian. Tetapi mulut dan hatinya tidak. Yang di sebut hanyalah Robin dan Robin. Hingga membuat Revan geram sendiri.


Revan menggosok wajahnya dengan kasar. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia sendiri bahkan sudah kewalahan karena tekanan Ayahnya yang tak lain Ayah Gisel juga. Setelah seharian tertidur, Gisel terbangun dengan pikiran linglung yang dia tanyakan hanya Robin dan Robin.


“ Kakak, bagaimana dengan Robin? Apakah dia baik-baik saja?” Sorot matanya menunjukkan pengharapan yang tiada akhir. Walau dia tahu akhirnya dirinya juga yang terluka.


“ Gisel, jika kau mencintainya mengapa kau tidak kembali padanya. Jika dia mencintaimu tanpa pamrih dan juga tulus. Dia akan menerimamu dalam keadaan apa pun.” Revan tak kuasa saat melihat adiknya kembali terluka.


“ Kakak tidak tahu bagaimana bahagianya dia saat bersama anak-anak. Dan bahagianya dia saat membicarakan ketika suatu saat kami memiliki bayi kami sendiri. Aku tidak bisa menghancurkan harapannya begitu saja. Aku yang sekarang hanya bisa memberikannya kekecewaan. Walau aku sangat egois ingin bersamanya tetapi, aku tidak bisa melakukannya.” Gisel tak kuasa menahan tangisnya, crystal bening mulai berjatuhan di pipinya.


Revan juga ikut berkaca-kaca saat melihat adiknya kembali terluka. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia merasa jika dirinya tidak berguna, dia memiliki uang dan kekuasaan tetapi, dirinya tak bisa memberikan kehidupan yang bahagia bagi adiknya. Revan memeluk Gisel berusaha menghiburnya.


Di sisi lain Robin yang baru sadar itu tidak bisa tenang. Dia ingin segera menemui Gisel tetapi, apa daya untuk duduk saja masih harus dibantu Andre ataupun Yohan.


“ Mengapa kau gelisah sekali?” Apa kau merasa tidak nyaman?” Yohan bertanya pada Robin yang sedari tadi tidak bisa tenang.


“ Apa kau ingin bertemu Gisel?” Seketika kepala Robin berbalik. Dia menatap tajam pada Andre.


“ Ada apa? Apa yang kau inginkan dariku?” Andre bertanya dengan perasaan yang khawatir. Ia takit jika Robin melakukan hal gila.


“ Aku ingin bertemu dengan Gisel, tolong bawa aku pergi!” Robin sedikit memelas saat berhadapan dengan Andre.


“ Tidak bisa! Kau bahkan baru saja siuman. Bagaimana bisa kau pergi begitu saja. Sedangkan aku yang mengawasimu.” Robin menghela napas beratnya. Dia menundukkan kepalanya.


“ Untuk sekarang lebih baik kau fokus pada pemulihanmu, lagi pula kau tidak bisa berbuat apa pun saat ini.” Yohan kembali mengingatkannya.


Tiba-tiba saja tangis Robin pecah, ia terisak dengan kuat, napasnya tersengal-sengal. Andre menatapnya dengan dalam. Perlahan dia mendekatinya. Memberikannya pelukan agar ia merasa sedikit lega.


“ Aku tahu, aku bukanlah seorang pria yang baik. Aku yang selalu membawa penderitaan untuknya. Tapi aku ingin selalu bersamanya, menemaninya saat ia sedih. Aku ingin selalu bersamanya. Aku takut kehilangan dia.” Robin terisak di dalam dekapan Andre.


Di sisi lain Andre melihat Yohan di sudut kafetaria rumah sakit tengah menangis. Ia tidak menghiburnya walau dia ingin, kisah cinta di antara mereka begitu tragis. Andre hanya mengamatinya dari jauh.


Dua jam telah berlalu, Yohan masih dalam keadaan yang sama. Andre dengan setia menungguinya berharap kesedihannya segera mereda. Namun, waktu telah berlalu tetapi Yohan masih saja diam membeku. Hujan juga tak kunjung reda seakan langit ikut bersedih bersama Yohan.


Saat Andre menatap ke arah luar. Ia melihat Oliver tengah menggendong seorang anak di pangkuannya. Sedetik kemudian Bella berlari di belakangnya.


“ Bella! “ Andre segera turun menuju bangsal IGD

__ADS_1


Dion berada di bangsal IGD ia duduk dengan tenang tak ada sedikit pun ketakutan dalam dirinya. Walau rasa sakit di kakinya sudah menjalari bagian sekitarnya tetapi ia tetap tenang dan tidak bersuara.


“ Tolong panggil Dokter Ortopedi kemari.” Dokter Kevin yang baru datang ke bangsal IGD itu segera memberi instruksi untuk menangani masalah Dion.


“ Tolon siapkan X-Ray.” Pinta sang Dokter Ortopedi.


“ Baik!” Perawat segera berlari untuk menyiapkan jadwal X-Ray untul Dion.


“ Apa tidak sakit?” Dokter Kevin dan Dokter Ortopedi saling memandang saat pergelangan kakinya di periksa. Dion diam saja tak bersuara sedikit pun.


“ Bella,” Andre menghampiri Bella yang sedang duduk di kursi tunggu. Bella yang mendengar suara yang tidak asing di telinganya itu berbalik.


“ Andre,” Bella bangkit lalu menyapanya dengan sopan.


“ Apa yang terjadi?” Andre bertanya dengan cemas.


“ Dion terjatuh. Kakinya terkilir. Ah, tidak. Mungkin lebih parah dari pada itu, aku melihat pergelangan kakinyabergeser cukup jauh.” Bella menutup wajahnya. Bella terisak saat bicara dengan Andre.


Samar-samar terdengar suara langkah kaki yang semakin jelas dan dekat. Nelson datang bersama dengan Dean.


“ Istriku, bagaimana keadaan Dion?” Nelson bertanya dengan cemas. Wajah Bella telah basah dengan air mata. Nelson mengulurkan tangannya untuk mengusap air mata yang ada di wajah istrinya.


“ Aku belum tahu, ini semua salahku karena tidak memperhatikannya bermain.” Bella tersedu-sedu saat bertemu dengan Nelson.


“ Dean,” Bella segera memeluk putranya dengan haru.


“ Tidak apa-apa ibu, semua sudah ditangani jadi jangan khawatirkan Dion lagi. Ibu tahu sendiri bukan saat dia jatuh dari lantai dua aja dia masih tertawa dengan kencang. Jadi jika hanya kakinya yang terluka dia akan baik-baik saja.” Dean terus saja bicara. Sedangkan tiga orang dewasa yang ada di sekitarnya terdiam, mereka tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh Dean. Nelson bahkan berusaha keras mencerna ap yang dikatakan oleh Dean.


“ Nelson, kau sudah datang?” Dokter Kevin menghampirinya sembari membawa berkas X-Ray kaki Dion.


“ Emm, aku baru sampai. Bagaimana keadaannya?” Mendengar pertanyaan Nelson. Dokter Kevin memberi isyarat agar dia ikut dengannya menuju ruang Dokter Ortopedi.


“ Istriku, tunggulah di sini. Aku akan bicara dengan Dokter.” Nelson menepuk punggung tangan Bella dengan lembut lalu pergi meninggalkan Bella dengan yang lainnya.


Di bangsal IGD Dion sedang mendapat perawatan pergelangan kakinya yang bergeser. Selepas mendapat perawatan Dion harus menggunakan gips di kaki kanannya. Para perawat saling memandang saat melihat Dion yang sama sekali tidak berteriak kesakitan. Dia hanya terdiam tanpa suara.


Tiba-tiba Dean datang dengan wajah yang tidak baik. Ia berjalan dengan cepat menghampiri Dion yang sedang duduk di tempat tidur.


“ Dasar kau!” Dean datang lalu memukul kepala Dion dengan tiba-tiba.


“ Apa yang Kakak lakukan? Aku ini seorang pasien!” Dion setengah berteriak pada Dean yang ada di depannya.

__ADS_1


“ Aku yang seharusnya berkata seperti itu. Jangan kekanak-kanakan. Kau tahu dengan jelas bukan jika ibu sangat mengkhawatirkanmu. Lalu mengapa harus sampai seperti ini?” Dean sedikit meninggikan suaranya. Seketika Dion terdiam tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya.


“ Aku tidak sengaja Dean, aku tidak bermaksud membuat ibu sedih. Aku hanya..,” Dion tidak sanggup meneruskan perkataannya. Buliran crystal bening itu berjatuhan, wajah Dion telah basah oleh air mata.


Dean menghela napasnya. “ Maafkan aku, seharusnya Kakak tidak memarahimu.” Dean merangkul adiknya. Dengan terus meminta maaf padanya.


“ Aku hanya takut jika kau terluka, Dion terluka ataupun sakit itu sangatlah menyedihkan. Aku tidak ingin kau merasakan itu semua. Aku mohon jangan lakukan hal seperti itu lagi.” Dean mengusap puncak kepala adiknya. Sesekali ia memgecupnya. Semua orang yang ada di bangsal IGD terkejut dengan apa yang dua anak itu bicarakan. Pikirannya begitu dewasa. Ditambah wajah dari keduanya benar-benar mirip. Mereka sangat identik.


“ Istirahatlah, aku akan keluar dan menemani Ibu,” Saat Dean akan pergi Dion menangkap lengannya.


“ Bagaimana dengan keadaan Ibu? Apakah Ibu baik-baik saja.”


“ Tenanglah, tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Dean melepaskan tangan Dion dengan lembut dan hati-hati.


Di ruang Dokter Nelson senantiasa mendengarkan apa yang tengah di jelaskan oleh Dokter. Setelah mendapat penjelasan dari Dokter tentang kondisi kaki Dion, Nelson dapat bernapas dengan lega karena cedera yang di dapat tidak terlalu parah.


Hari berganti begitu pula dengan bulan. Waktu berlalu begitu cepat, tiga minggu pertama setelah kemoterapi keadaan Dean baik. Tak ada keluhan yang berarti hingga tiga pekan kemudian Dean mendapatkan kemoterapi yang kedua. Satu bulan telah berlalu semenjak Dean mendapatkan kemoterapinya yang kedua, Dean semakin membaik, tubuhnya merespon dengan baik obat yang di berikan padanya.


Di sisi lain Anita bertemu Andre untuk memberitahunya bahwa dia sedang mengandung anaknya. Andre terdiam membeku ia bagaikan di sambar petir di siang bolong saat mendengar pengakuan Anita, gelas di tangannya bahkan lepas dan terjatuh hingga pecahannya bertebaran di mana-mana. Andre berdiri dari duduknya, ia menatap Anita penuh arti sedangkan Anita hanya mampu menundukkan kepalanya ke bawah, ia takut akan kenyataan jika Andre tidak menerima kehadiran darah dagingnya sendiri karena Andre belum bisa melupakan masa lalunya. Hal yang selalu di takutkan oleh Anita tidak pernah terjadi. Crystal bening di dalam mata Andre telah menggenangi bola matanya, ia setengah berlutut sembari memegang tangan Anita. Lalu berkata.


“ Apa kau sedang mengandung anakku? Kau tidak bercanda bukan?” Andre bertanya dengan penuh pengharapan pada jawaban Anita.


“ Ya, aku mengandung anakmu.” ucapnya pelan.


Ekspresi Andre tidak terduga kala mendengar kabar itu. Ia berjingkrak-jingkrak sembari mengangkat tangan Anita hingga melayang-layang. Andre tersenyum lebar dan mendekati Anita dengan pelan dan lembut Andre setengah berlutut dengan penuh cinta dan kasih mencium perut datar Anita.


“ Hai, baby,” Andre terus menciuminya tanpa henti sampai Anita merasa geli sendiri.


“ Terima kasih,” Andre mengecup kening Anita.”


“ Ayo kita pergi!” Andre menggandeng tangan Anita dengan hati-hati.


“ Ke mana?” Anita bertanya dengan kebingungan.


“ Kemana lagi? Kalau bukan ke rumah sakit! Aku akan memberikan perawatan terbaik untuk anakku.” Andre segera membawa Anita pergi dari Star kafe. Setelah membayar semua tagihan mereka berdua melajukan mobil Maserati merah meluncur tenang di atas aspal membelah jalanan kota Jincheng.


*


*


Seperti apakah endingnya, jika author mulai mager!?😁🙏

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2