
Di sisi lain.
Gisel yang sedari tadi sudah datang ke rumah sakit ingin menemui Robin, akan tetapi dia tidak berani masuk. Gisel hanya melihat dari jauh di mana Robin tengah di rawat. Di sana ada tiga orang yang sedang duduk di kursi tunggu. Orang-orang yang sudah tidak asing baginya. Di sudut lain Revan mengamati Adiknya untuk waktu yang lama. Ketika yang tersisa hanya Yohan, Gisel memberanikan diri untuk menghampirinya. Samar-samar Yohan mendengar suara langkah kaki yang perlahan semakin terdengar jelas. Yohan yang sedari tadi menunduk kini ia mengangkat dagunya, sepasang sepatu wanita berhenti di depannya. Yohan mencoba melihat siapa sosok wanita yang ada di hadapannya, ternyata Gisel. Mantan kekasih Robin.
“ Bagaimana keadaannya?” Gisel mencoba bertanya padanya. Namun, Yohan hanya menggelengkan kepalanya. Tanda ia tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini. Mendengar ucapan Yohan, Gisel terdiam wajahnya melukiskan kesedihannya.
“ Bagaimana keluarganya, apa mereka sudah di hubungi?” tanya Gisel pada Yohan.
“ Sudah, mereka semua ada di luar negeri sehingga akan memakan waktu untuk kembali ke sini. Apa kau tidak ingin bertemu dengan mereka?” Yohan menangkap sorot matanya yang tidak bisa berbohong sama sekali. Rasa khawatir menyelimuti Gisel.
“ Tidak apa-apa. Kau tidak akan bertemu mereka kali ini.” Yohan menenangkan Gisel. Ia juga sedikit terpukul kala melihat Gisel begitu rapuh, sama seperti saat ketika Ia meninggalkan Robin.
Gisel melihat dari balik kaca, di sana Yohan terbaring tak berdaya. Luka di wajahnya mengatakan bahwa kecelakaan yang menimpa dirinya begitu kuat dan parah. Alat-alat medis yang dingin itu menyentuh kulitnya yang tipis. Setiap embusan napasnya begitu berarti. Kilauan crystal bening perlahan berjatuhan membasahi wajahnya. Gisel mengusap kasar pipinya yang basah dia berusaha tegar.
Andre dan yang lain tengah kembali sembari membawa beberapa kotak makanan yang di belinya dari supermarket terdekat. Mereka menghentikan langkahnya saat melihat seorang wanita tengah berdiri di depan ruang perawatan intensif di mana Robin di rawat.
“ Bukankah itu Gisel?” Ronald berjalan ingin menghampirinya. Namun, di tahan oleh Andre. Dia menggelengkan kepalanya agar tidak mendatanginya.
“ Ada apa? Aku bahkan sudah lama tidak bertemu dengannya.” Ronald bingung dengan situasi yang ada di hadapannya.
“ Sudah aku katakan, jangan menghampirinya. Biarkan saja dia.” Andre menarik lengan Ronald dan membawanya duduk di sisi lain koridor rumah sakit. Mereka menunggu di sana sepanjang malam. Begitu pula dengan Gisel dia menunggu di kursi tunggu bersama dengan Yohan.
Pukul 01:30 dini hari. Tiba-tiba Dokter bersama perawat dan seorang Dokter spesialis berlari menuju ruangan Robin. Mereka masuk dengan terburu-buru. Andre yang menyadari keributan terbangun lebih dulu ia mengikuti Dokter di belakangnya. Yohan dan Gisel juga sangat terkejut mereka bangkit dan berdiri di depan kaca pemisah. Di sana Robin tengah di kerumuni oleh para Dokter dan juga perawat. Monitor yang menunjukkan detak jantung pasien itu terus mengeluarkan suara yang cukup nyaring, semakin membuat Dokter panik.
Dari balik kaca Gisel melihat bagaimana kerasnya usaha para Dokter untuk menyelamatkan Robin. Dokter dan perawat saling bergantian melakukan CPR pada Robin.
“ Defibrilator.” Teriak seorang Dokter. Perawat bergegas membawa peralatan yang dibutuhkan. Selagi seorang Dokter melakukan CPR terhadap Robin. Dokter yang satunya mempersiapkan Defibrilator. Perawat mengoleskan gel di bantalan defibrilator. Dokter bersiap untuk menempelkannya ke dada Robin. Setelah di tempelkan ke dadanya tubuh Robin terangkat. Akan tetapi detak jantungnya belum kembali.
Gisel yang melihat dari balik kaca telah berlinang air mata, dia tak kuasa saat melihat Robin tengah berada di ambang kematian. Gisel menyatukan kedua tangannya, dia berdoa dengan sepenuh hatinya.
“ Tuhan, aku mohon selamatkan dia.” Gisel berdoa dengan putus asa.
“ Satu kali lagi.” Teriak Dokter mencoba mengembalikan detak jantung Robin. Dan sekali lagi tubuh lemah itu kembali terguncang. Tampak air mata menetes di sudut mata Robin. Seakan ia mampu mendengar rintihan dan tangisan Gisel.
__ADS_1
Setelah usaha yang keras akhirnya usaha keras dari Dokter membuahkan hasil. Detak jantung Robin kembali.
“ Sudah kembali.” Semua orang merasa lega saat Robin berhasil di selamatkan. Setelah memeriksa untuk terakhir kali Dokter dan perawat keluar bergantian. Di luar pintu mereka sudah di tunggu oleh Gisel, dan yang lainnya.
“ Dokter, bagaimana keadaannya?” Gisel bertanya dengan keadaan tubuh yang gemetar. Suaranya tertahan menahan tangis.
“ Saat ini keadaannya sudah stabil kembali. Tuhan masih memberkati pasien. Tetapi kami tidak bisa menjaminnya. Semoga saja pasien dapat melewati masa kritisnya.” Selesai menjelaskan para Dokter dan perawat meninggalkan semua orang yang tertunduk lesu. Tubuh Gisel mundur ke belakang. Kedua kakinya seakan tidak bisa lagi menahan berat beban tubuhnya sendiri. Yohan dengan sigap menangkap tubuh Gisel yang terhuyung.
“ Kau tidak apa-apa?” Yohan bertanya dengan cemas. Gisel tak mampu berbicara. Sorot matanya begitu kosong.
Andre dan Ronald juga tidak hanya khawatir dengan Robin. Gisel juga tak luput dari perhatian mereka. Yohan membawa Gisel untuk duduk dinkursi tunggu, Andre mendekati Gisel. Dia setengah berlutut di hadapannya. “ Tidak apa-apa Robin pasti bisa melewati ini semua.” Andre menepuk pelan bahunya. Gisel yang sedari tadi tidak menyadari kehadiran Andre dan Ronald pun tertegun.
“ Kalian?” Gisel menutup mulutnya yang setengah terbuka dengan telapak tangannya. Perlahan air mata kembali mengalir. Dia tak kuasa menahan sedihnya saat bertemu dengan Andre. Revan yang berada di sisi lain melihat semua yang terjadi. Dia hanya tersenyum pahit kala melihat semua yang terjadi pada Adiknya.
“ Robin, tidak sekarang atau pun dulu kau tetap saja berhasil meluluhlantakkan hidup Gisel sekali lagi.” Revan memejamkan kedua matanya. Dirinya tak sanggup melihat adiknya memderita. Namun, dirinya tak bisa berbuat banyak untuknya.
“ Tidak apa-apa jika kau ingin menangis, menangislah.” Ronald mengusap punggung Gisel. Akhirnya Gisel menangis sesegukan di dalam dekapan Andre. Yohan hanya menatapnya diam, sesekali dia tersenyum getir.
“ Walau aku tidak menyentuhnya, setidaknya biarkan aku menemaninya.” Gisel mencoba tegar di depan semua orang.
“ Baiklah jika kau mau seperti itu. Kami hanya bisa menemanimu.” Andre tak ingin memaksanya untuk pergi, melihat tulusnya dia menunggu Robin yang terbaring lemah tak berdaya.
Tak terasa matahari telah menampakkan dirinya, Gisel masih terjaga, dengan setia dia menunggui Robin dari balik kaca. Telapak tangannya menyentuh dinding kaca, Gisel sangat ingin menyentuhnya walau hanya sekali. Mata indahnya kini sembab karena terus menangis semalaman. Yohan masih setia menemaninya. Andre dan Ronald bergantian untuk pulang merapikan diri mereka lalu kembali lagi.
Masa kritis Robin sudah lewat membuat semua orang dapat bernapas lega. Walau mereka belum mengetahui kapan Robin kembali siuman? Tetapi mereka yakin Robin akan segera kembali berkumpul bersama dengan mereka. Di sepanjang koridor rumah sakit di mana Robin di rawat terdapat banyak karangan bunga dari orang-orang yang mendoakan kesembuhannya.
Robin sangat di cintai oleh orang-orang sejak aksi heroiknya terekam oleh kamera. Di dalam hatinya Gisel sangat bangga pada Robin. Namun, di sisi lain ia sangat sedih atas kecelakaan yang menimpanya.
“ Gisel, apa kau ingin makan sesuatu? Aku akan membawakannya untukmu.” Yohan bertanya pada Gisel karena sejak tadi malam dia belum makan apa pun. Gisel hanya memandangi Robin tanpa beranjak sedikit pun. Bahkan ketika Andre dan Ronald kembali Gisel masih berada di posisi saat mereka pamit pulang.
Andre menghela napasnya. “ Mengapa kau masih di sini? Kau seharusnya istirahat. Apa kau sudah makan?” Gisel hanya menggeleng.
“ Seharusnya kau tidur. Lihatlah wajahmu berubah menjadi tua dalam semalam.” Andre terus menggodanya akan tetapi tak ada respon berarti dari Gisel.
__ADS_1
“ Aku akan menunggu di sini sampai keluarganya datang. Setelah itu aku akan pergi.” Gisel memaksakan senyuman di wajahnya yang kuyu.
“ Keluarga Robin tidak akan segera datang. Mereka terjebak badai sehingga mereka tidak akan datang. Aku, Yohan dan Ronald yang akan menjaganya bergantian. Jadi pulanglah.” Gisel enggan bersuara dia hanya tertunduk tanpa berani menatap wajah Andre.
“ Yohan akan mengantarkanmu.” Andre meninggalkan Gisel. Yohan berusaha membujuk Gisel.
“ Jika sesuatu terjadi pada Robin, aku akan segera menghubungimu. Tentu saja Robin tidak akan mau melihatmu seperti ini. Jadi sebaiknya kau beristirahat. Apa kau mengerti?” Gisel hanya mengangguk. Dia berjalan gontai menyusuri koridor rumah sakit menuju ke arah pintu keluar, sementara Yohan mengikuti di belakangnya. Selagi berjalan Yohan menepuk-nepuk dadanya yang entah mengapa begitu sesak dan menyakitkan melihat wanita di depannya.
Saat tiba di pintu keluar Gisel berdiri mematung di sana. Revan yang melihat Gisel keluar dia segera menghampirinya.
“ Apa kau ingin pulang?” Gisel tak bicara. Revan melirik ke arah belakang ada Yohan yang tengah berdiri di sana.
“ Aku yang akan membawanya pulang. Kau kembalilah ke rumah. Kau juga butuh istirahat.” Yohan hanya menyeringai saat mendengar perkataan Revan.
Tak lama sebuah mobil Bentley warna hitam datang menghampiri ketiganya. “ Tuan,” sang sopir memanggil Revan untuk segera masuk ke dalam mobil. Yohan hanya memandangi bayangan Gisel yang berlalu. Mobil yang di tumpangi oleh Gisel maupun Revan hilang tertelan ramainya pengendara.
Di dalam mobil Gisel bersandar di pintu mobil, pandangannya tertuju ke arah luar jendela. Sorot matanya begitu kosong. Seakan dia kehilangan jiwanya. “ Apa kau ingin makan sesuatu? Apa kita perlu mampir ke restoran?” Gisel tetap diam tanpa suara. Suasana di dalam mobil semakin canggung.
Revan membuang napasnya lalu kembali berkata. “ Di saat kau ingin mengakhiri hubunganmu dengannya. Lalu bagaimana kau bisa menjalani hidupmu tanpa dirinya?”
Seketika Gisel berbalik menatap Revan dengan tatapan yang sangat tajam dan dingin. Revan yang menangkap sorot matanya sedikit merinding. Baru kali ini dia melihat sisi lain dari adiknya.
“ Hei, jangan seperti itu! Aku bahkan hanya bergurau denganmu.” Revan berusaha mengalihkan pembicaraan. Gisel tak menanggapi perkataan Kakaknya. Sekarang yang ada di pikirannya hanyalah Robin dan Robin. Pria yang selalu mengisi hatinya walau hubungan mereka telah berakhir cukup lama.
Gisel terus saja menatap ke arah luar, di sana memperlihatkan jalanan yang dilaluinya begitu cepat. Begitu pula waktu yang di lewatinya selama ini. Akan tetapi luka di hatinya ternyata belum sembuh sepenuhnya. Ada luka yang setiap saat bisa terbuka kembali. Revan tidak tahu apa yang harus diperbuat olehnya? Sementara dirinya ikut tenggelam ke dalam pusara penderitaan adiknya sendiri. Revan hanya memegangi kepalanya yang sakit. Berpikir apa yang harus dilakukan untuk menghiburnya. Namun, dia tidak bisa melakukan apa-apa. Yang bisa dia lakukan hanya menemaninya, itu pun hanya dari kejauhan.
*
*
Terima kasih untuk dukungannya. Salam sayang dan sehat selalu.🙏😇🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1