
Melihat Dean, dan merasakan bagaimana lembutnya sentuhan darinya itu, membuat Nelson terenyuh di buatnya, dengan tersenyum dia berkata, “ Ayah sudah berbicara dengan dokter, mereka mengizinkan mu untuk pulang hari ini, karena besok kita akan pergi ke luar negeri, seraya mengobati penyakitmu.”
Dean hanya menganggukkan kepalanya tanpa bicara, di tatapnya kaca jendela, melihat matahari sudah beranjak tinggi. Dean tersenyum seraya memasang wajah manja pada Nelson, dia berkata, “ Ayah, bisakah kau membawaku jalan-jalan sebentar, sebelum pulang aku ingin mampir membeli kue untuk ibu, dan Dion.
Nelson pun menjawabnya dengan lembut. “ Tentu saja.”
Setelah menyelesaikan prosedur rumah sakit, akhirnya Dean bisa pulang. Nelson dan Dean menunggu di lobi rumah sakit. Namun mereka berdua merasa banyak mata yang memperhatikan mereka. Nelson melihat Dean yang duduk seraya memejamkan matanya, terlihat begitu anggun. Sedangkan dirinya menyesap kopi juga menjadi pusat perhatian di lobi. Bagaimana tidak? Nelson tak kalah tampan dengan wajah Dean. Orang-orang di sekitarnya memuja-muja mereka berdua.
Setelah menunggu selama sepuluh menit, akhirnya Roy datang menjemput Nelson dan Dean. Roy menghampiri Nelson seraya berkata, “ Maaf tuan muda, saya terlambat.” Nelson tidak berbicara apapun, dia memerintahkan Roy untuk membawakan tas pakaian Dean ke mobil.
Kala Nelson berdiri seraya melihat Dean yang masih terpejam, dengan cepat dan lembut dia menggendong Dean, dan membawanya menuju mobil. Di luar Roy sudah menunggu, dengan sigap dia membukakan pintu mobil untuk Nelson. Setelah Nelson masuk, dengan hati-hati dia membaringkan Dean di kursi belakang.
Roy bertanya. “ Tuan muda, apakah kita akan mampir ke tempat lain terlebih dahulu?”
Nelson menjawabnya, “ Kita akan pergi ke sebuah toko kue, Dean ingin membeli kue.”
Roy dengan tegas berkata, “ Baik, tuan muda.”
Setelah berkendara selama lima belas menit, Dean akhirnya terbangun, dia menanyakan apakah dirinya melewatkan toko kuenya?
Dean dengan suara sedikit parau bertanya. “ Apakah aku melewatkan toko kuenya?”
Nelson menyadari Dean sudah terbangun pun menjawabnya, “ Tidak, kita bahkan baru saja sampai! Apakah toko kue itu yang kau inginkan?” Seraya Nelson menunjukkan sebuah toko kue diluar kaca jendela mobil.
Dengan senang Dean mengangguk, dan berkata.
“ Ya, itu adalah toko kuenya ! Bisakah kita masuk sekarang?”
Nelson menjawabnya, “ Tentu saja, ayo ayah akan ikut denganmu.”
Nelson dan Dean turun dari mobil, dengan hati-hati Nelson membantu Dean keluar. Roy menatap tuan mudanya, dalam batinnya dia berkata, “ Sungguh dasyat pengaruh anak itu. Bahkan tuan muda yang biasanya dingin, kini berubah menjadi sosok yang sangat hangat, seakan melindungi dan mencintai keluarganya, berbeda saat Elena Shen menjadi istrinya. Bahkan jika dipikirkan lagi, Elena Shen tidak pernah mendapatkan perhatian dan kasih sayang yang tulus dari tuan mudanya. Sungguh malang jika dibayangkan.”
__ADS_1
Ting.. suara lonceng berbunyi saat pintu di buka. Nelson dan Dean berjalan masuk. Seketika pandangan semua tamu yang berada di dalam toko beralih pada mereka berdua.
Nelson betkata, “ Sayang, kue mana yang kau inginkan?”
Dean menjawab seraya menunjuk kue tiramisu serta berkata, “ Yang ini, aku ingin kue tiramisu ini ayah!”
Nelson dengan sigap segera meminta pelayan untuk membungkus kuenya.
Pelayan berkata, “ Tuan, silahkan menunggu, kuenya sedang di kemas. Apakah ada tambahan lainnya?”
Nelson bertanya pada Dean, “Apa lagi yang kau inginkan, Nak?”
Dean menjawab dengan suara yang lembut, “ Bolehkah aku memakan permen kapas itu? Permen itu terlihat sangat cantik bukan? Aku juga ingin membelikan Dion satu!”
Nelson dengan tersenyum menjawab , “ Tentu saja, berapa pun yang kau mau akan ayah beli!”
Dean menampilkan senyuman terbaiknya pada Nelson, dia berkata. “ Terima kasih ayah.” Senyumnya membuat Nelson semakin luluh padanya.
Setelah membeli semua keinginan Dean, Dean terlihat bahagia, dia tidak menampakkan rasa sakitnya, dan tersenyum mengajak Nelson untuk segera kembali ke mansion. Dia ingin segera bertemu ibu dan adiknya.
Bunyi denting jam dari dinding kamar Bella,
menyadarkannya dari lamunan panjang, Bella dari semalam tidak dapat tidur dengan nyenyak, dia begitu gelisah! Bella merasa ada yang janggal, namun dia menepis bayangannya. Berharap semuanya akan baik-baik saja. Kala Bella menatap keluar kaca jendela, terlihat matahari telah semakin tinggi. Perutnya dengan tanpa aba-aba dan tiba-tiba mengeluarkan suara. Dia sadar bahwa dia tidak keluar dari kamar sedari pagi, sehingga membuatnya kelaparan. Bella beranjak dari tempat tidurnya, menuju kamar mandi.
Rasanya dia ingin berendam di air dingin, untuk menyegarkan pikirannya. Dalam benak Bella muncul kenangan-kenangan indah kala Dean dan Dion sering bermanja dengannya. Namun kini kedua putranya tumbuh lebih cepat. Terlebih semenjak Dean sakit, mereka tinggal bersama Nelson, kedua putranya semakin menjauh darinya. Dion lebih sering bersama kedua orangtua Nelson, sedangkan Dean selalu bersama dengan Nelson. Rasanya Bella menjadi kesepian di buatnya.
Setelah sepuluh menit berendam, akhirnya Bella menyelesaikan mandinya. Bella menuju wardrobe, mencari gaun selutut berwarna cream, gaun itu terlihat sangat cocok dengan tubuh dan kulit Bella, memperlihatkan kaki jenjang milik Bella, dengan kulit putih bersih semakin menambah daya tariknya. Bella menambahkan sedikit riasan untuk menutupi kantung mata di wajahnya, dia tidak ingin orang mengetahui jika dia tidak tidur semalaman.
Tok… tok… tok. Suara pintu di ketuk.
Dion memanggil ibunya, “ Ibu, apakah kau sudah bangun?”
__ADS_1
Bella menjawabnya. “ Ya, masuklah.”
Dion mendorong pintu kamar Bella, dia segera menghampiri Bella di tempat tidurnya, saat hendak memeluk ibunya. Dion menyadari jika ibunya tidak tidur semalaman. Terlihat ada kantung mata di wajahnya.
Dion bertanya, “ Ibu, ada apa dengan wajahmu? Kau terlihat sendu, apakah kau tidak tidur semalaman?”
Bella tersenyum menatap Dion, sungguh tidak bisa menutupi apapun darinya. Dengan tersenyum Bella berkata. “ Bagaimana kau tahu? Bahkan ibu sudah menutupinya dengan riasan, agar tidak kelihatan.”
Dion menjawab. “ Tentu saja aku tahu! Karena aku adalah putramu? Apakah ada yang mengganggumu?
Bella kembali bertanya. “ Apakah hari ini kau tidak pergi dengan kakek dan nenek? Apakah Dean sudah kembali?
Dion menjawab dengan sedikit murung, dia berkata. “ Tidak, kakek dan nenek sedang ada urusan. Kakak juga belum kembali!”
Dion semakin mendekat padanya, dengan perlahan dan lembut dia memeluk Bella, dan berkata. “ Ibu, kapan akan membuat resepsi pernikahan? tidakkah ayah Nelson sangat baik? Aku merasa jika aku dan ayah sangat dekat, bahkan aku merasakan bahwa aku dan ayah memiliki ikatan batin yang kuat. Seakan dia adalah ayah kandungku.”
Bella yang mendengarnya sedikit tercengang. Kala putranya itu mengatakan bahwa Nelson adalah ayah kandungnya. Bella berpikir, mungkin perlakuan Nelson yang sangat perhatian dan peduli itu, membuat anak-anaknya merasakan bagaimana rasanya memiliki ayah? Dengan lembut Bella memeluk Dion seraya tersenyum dan berkata.
“ Ibu sudah bicara dengan ayahmu, dia akan meresmikan pernikahan kami secepatnya.”
Dion terlihat kaget dan senang, dia berjingkrak-jingkrak di atas tempat tidur, menandakan begitu bahagianya mendengar kabar itu. Setelah puas melakukannya dia kembali bertanya, dia berkata. “ Resepsi seperti apa yang ibu inginkan nanti?”
Bella menjawab dengan penuh senyuman, dia berkata. “ Yang ibu inginkan adalah pesta yang sederhana tidak perlu mewah, setidaknya semua sakral dan orang tahu ibumu sudah menikah!”
Dion kembali bertanya, karena kebingungan. Dia berkata. “ Bukankah semua wanita ingin resepsi yang mewah, yang agung seperti seorang putri?”
Bella kembali menjawab, dia berkata dengan tersenyum. “ Tentu saja ibu ingin. Namun yang lebih penting adalah dia menyayangi kalian berdua dengan tulus, mencintai kalian seperti anak kandungnya sendiri. Soal resepsi pernikahan mewah itu tidak terlalu penting bagi ibu. Sekarang kau sudah mengerti bukan?
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung
__ADS_1
Mampir yuk ke Novel Author yang baru rilis.🙏🌹🥰