ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 109


__ADS_3

Di saat bersamaan Bella turun dari mobil Maserati hitam. Dia berjalan dengan anggunnya, gaun selututnya mengekspos kaki jenjang indah milik Bella.


Saat mereka di lobi rumah sakit mereka berempat berpapasan dengan Bella, dua pasang mata menatap Bella dengan intens. Hingga Bella berlalu memasuki Lift.


“ Lihatlah wanita itu cantik bukan?” ucap Robin.


“ Ya. Kau benar dia benar-benar cantik,” balas Yohan. Seraya memandangi Bella hingga masuk lift.


“ Apakah aku harus mengejarnya? Untuk mendapatkan nomor teleponnya,” ucap Ronald.


“ Ah. Sepertinya aku harus mendapatkannya. Lagi pula aku tidak memiliki kekasih,” ucap Robin.


Andre yang sudah tahu wajah Bella pun seketika berkata. “ Jaga tatapanmu, dan bicaramu. Jangan sampai Nelson mengetahuinya.


Robin dan Yohan yang tidak mengerti tentang maksud perkataan Andre pun bertanya. “ Apa maksudmu? Berkata seperti itu?” ucap Robin.


“ Kau lihat bukan wanita cantik yang baru saja lewat?” tanya Andre.


“ Tentu saja. Wanita itu memiliki paras yang sangat cantik, kulitnya seputih salju, tubuhnya pun sangat indah,” ungkap Ronald yang berjalan seraya membayangkannya.


“ Ya. Kau benar,” ucap Andre.


Andre berkata dengan putus asa. “ Wanita yang kalian lihat itu adalah Istri Nelson,” ungkapnya.


Seketika mereka bertiga menghentikan langkahnya. Dengan serempak berkata. “ APA!!”


“ Jadi wanita cantik itu Kakak ipar,” ucap Robin kaget.


“ Aku baru saja memberitahumu bukan? ucap Andre.


“ Sebaiknya kita segera pergi dari sini,” seru Andre. Seraya melangkahkan kaki keluar menuju mobilnya.


Mereka bertiga masih termangu kala mencerna situasi yang sedang terjadi saat ini.


Tok… tok… tok… terdengar suara pintu di ketuk.


“ Masuk,” teriak Nelson.


Nelson yang melihat beberapa berkas tidak melihat ke arah pintu, seperti tidak tertarik dengan siapa yang datang.


Namun, saat Bella masuk ke dalam, Nelson segera mengalihkan pandangannya pada Bella yang berdiri di depan pintu.


“ Kau sudah datang?” ucap Nelson.


“ Emmm..”. Bella menganggukkan kepalanya.


Nelson tersenyum seraya berkata. “ Kemarilah.”

__ADS_1


Bella pun segera menghampiri Nelson di ranjangnya, dan duduk di sampingnya.


Nelson mengusap kepala Bella seraya berkata, “ Apakah harimu baik?” ucapnya.


“ Emmm..” Bella menganggukkan kepalanya.


“ Apakah kau sudah makan?” tanya Nelson.


“ Sudah, jawab Bella.


Nelson kembali bertanya. “ Apakah terjadi sesuatu?”


“ Ah. Tidak, aku hanya sedikit sedih saja,” jawab Bella.


“ Hal apa yang membuatmu sedih?” Nelson bertanya dengan penuh perhatian.


Bella mengalihkan pertanyaan Nelson. “ Di mana Dion?”


“ Dion tertidur. Karena kelelahan bermain dengan teman-temanku,” ucap Nelson.


Bella bertanya dengan sedikit ragu. “ Emmm.. Bolehkah aku meminjam bahumu sebentar?”


Nelson merasakan ada kesedihan dari pancaran mata Bella, dengan lembut dia berkata. “ Tentu saja. Selama itu membuatmu nyaman.”


Bella memdekat, dia membenamkan wajahnya seraya berkata. “ Aku ingin bercerita sedikit, apakah boleh?”


“ Hari ini aku mendengar kabar bahwa vila tempatku di besarkan di jual. Aku datang ke vila itu, dan bertemu dengan seorang yang sangat berjasa untukku,” ungkap Bella.


Nelson bertanya. “ Siapakah orang itu?”


Bella berkata dengan sedikit tersenyum. “ Dia adalah Bi Amoy, wanita yang telah aku anggap seperti ibu kandungku sendiri. Bi Amoy sangat baik padaku.”


“ Bahkan hari ini aku dapat merasakan kembali masakan yang sangat aku rindukan selama ini.”


“ Aku dapat kembali memeluk Bi Amoy, merasakan kembali belaian tangan lembutnya yang selama ini kurindukan.”


“ Banyak kenangan indah tersimpan di vila itu, aku sangat terkejut kala mendengar vila itu telah di jual oleh ayahku.. Dan aku terlambat mengetahuinya.”


“ Jika saja aku mengetahuinya lebih awal. Aku akan mengusahakan segala cara, walaupun aku harus menguras isi tabunganku untuk membelinya kembali.”


“ Kini vila itu telah di jual, dan sudah di beli oleh seseorang. Aku ingin sekali mendapatkannya kembali. Aku ingin tetap memiliki memori indah tentang keluargaku.


“ Walaupun keluargaku tak seharmonis dulu, dan tak sebahagia dulu.”


“ Aku tidak habis pikir, bagaimana bisa ayahku dengan teganya menjul vila itu, sedangkan vila itu adalah milikku. Dan vila itu atas namaku sendiri.”


“ Aku tidak ingin vila itu di jual, aku ingin vila itu kembali padaku. Aku ingin memperlihatkannya pada kedua putra kita bahwa aku lahir, dan besar di vila itu.”

__ADS_1


“ Tapi semuanya sirna setelah vila itu jatuh ke tangan orang lain. Bahkan aku tidak tahu siapa yang membelinya.”


“ Dan hari ini. Ibuku memberikanku sebuah hadiah kecil, lihatlah cantik bukan?” ucap Bella seraya memperlihatkan kalung antiknya pada Nelson.


Nelson begitu takjub kala melihat kalung antik itu, dia berkata. “ Ini sangat indah. Kalung ini sangat cocok untukmu. Kalung ini begitu indah sehingga saat kau memakainya akan semakin indah,” ucapnya.


Bella tersenyum kala mendengar perkataan Nelson.


“ Aku tidaklah pandai dalam menghibur. Namun aku bisa menjadi pendengar yang baik untukmu. Kau bisa berbagi rasa sakitmu padaku, dan kau bisa melepaskan semua unek-unekmu padaku. Aku hanya ingin kau menjalani hidup dengan penuh kebahagiaan.”


“ Jika kau tidak bisa mendapatkan kebahagiaan, maka aku sendiri yang akan membuat kebahagiaanmu terwujud.” Seraya Nelson mengecup lembut puncak kepala Bella.


Bella yang mendapat perlakuan hangat itu semakin terjatuh dalam jurang tanpa dasar milik Nelson. Bella menikmatinya. Perlakuan baik, lembut, dan hangat yang selama ini dia idamkan tak ingin berakhir begitu saja.


“ Aku sangat mencintaimu Bella. Sangat mencintaimu,” ungkap Nelson.


“ Aku ingin segera meresmikan hubungan kita, tidak menyembunyikanmu, meresmikanmu sebagai Nyonya Hongli yang sah secara hukum.”


“ Agar tidak ada orang yang berani menyinggungmu, ataupun menyakitimu dan kedua putra kita.”


“ Istriku, sebaiknya kau membersihkan dirimu terlebih dulu. Setelah itu istirahatlah,” ucap Nelson.


“ Emmm.. sebentar lagi. Biar aku memelukmu sebentar lagi,” ungkap Bella yang semakin erat memeluk Nelson.


Nelson hanya tersenyum kala mendapati Bella yang sedang bermanja dengannya.


Tiba-tiba saja Bella berkata. “ Nelson. Jika saja dulu aku tahu kau adalah pria yang tidur bersamaku. Apakah kau akan menerimaku? Saat aku tiba-tiba datang kepadamu dan meminta pertanggung jawabanmu?”


Nelson sedikit terdiam. Dia mengingat kembali bahwa dirinyalah yang pertama kalinya untuk Bella, dan merenggut kesucian Bella. Dengan tersenyum Nelson berkata. “ Tentu saja. Aku akan menerimamu sepenuh hatiku.” ucapnya.


“ Lagi pula sejak kejadian malam itu, aku tak bisa melupakannya. Aku selalu membayangkan wanita itu. Aroma parfumnya, dan aroma tubuhnya seakan menjadi candu untukku.”


“ Lalu mengapa kau tidak mencariku?” Bella menyela perkataan Nelson.


“ Siapa bilang aku tidak mencarimu? Aku mencarimu hingga kalang kabut, memeriksa semua CCTV yang ada di hotel. Namun tidak ada jejakmu sama sekali.”


“ Aku mencarimu hingga beberapa tahun. Namun, aku tidak mendapatkan informasi sedikut pun tentang wanita yang berada di kamarku.”


“ Meskipun sudah bertahun-tahun berlalu. Aku tidak bisa melupakan sensasi saat bercinta denganmu. Kulit lembutmu seakan menyentuhku lebih dalam dan dalam lagi. Hingga aku terperangkap imajinasiku tentangmu.”


” Setelah empat tahun berlalu aku masih mencarimu tanpa hasil apa pun. Hingga kakekku menjodohkanku dengan Elena Shen. Kau tahu bukan Elena Shen?” Tanya Nelson.


Bella menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Tentu saja aku tahu. Aku juga mengenalnya. Dia adalah Nona besar keluarga Shen.”


” Aku mengenalnya karena dulu aku selalu bertemu dengannya saat ada undangan pesta, ketika kami masih kecil.” ucap Bella.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2