ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 132


__ADS_3

Hari ini Dean telah keluar dari rumah sakit, dia cukup bahagia. Karena ke esokan harinya mereka akan kembali ke Jincheng. Tidak lupa juga mereka membawa Oliver bersama mereka.


Dean terlihat lebih ceria karena selama beberapa ini, dia tidak merasakan gejala sakitnya.


“ Ayah,” panggil Dean.


Nelson menoleh, seraya tersenyum dia berkata. “ Ada apa, Nak?” tanyanya.


“ Aku ingin makan kue,” pinta Dean.


“ Tentu saja, jawab Nelson.


Dean telah berganti pakaian, dia mengenakan pakaian kasualnya. Dia terlihat tampan. Namun terlihat jelas perubahan tubuhnya yang kehilangan cukup banyak berat badan.


“ Di mana ibu?” tanya Dean


“ Mereka membeli sesuatu, bersama adikmu Dion,” jawab Nelson.


Dean menganggukkan kepalanya. Sedangkan Evan membereskan barang-barang yang akan dibawa pulang.


“ Terima kasih paman Evan,” ucap Dean.


Evan tersenyum kala mendengar perkataan Dean. “ Sama-sama Tuan kecil.”


“ Ayah, berikanlah cuti pada Paman Evan,” ucap Dean.


Seketika Nelson mengalihkan pandangannya pada Evan. Evan yang di tatap tajam oleh Nelson. Seketika menjadi salah tingkah.


“ Aku, aku tidak bicara seperti itu,” ungkap Evan.


“ Ayolah ayah, jangan bersikap seperti itu pada Paman Evan, saat ayah tidak ada paman Evan yang sudah menjagaku,” ucap Dean.


Nelson menghela napas seraya berkata. “ Tentu saja, jika pekerjaannya sudah selesai ayah akan memberikannya cuti,” ucap Nelson seraya memberikan tatapan tajam pada Evan.


Evan hanya bisa menghela napasnya. “ Padahal aku tidak berkata apa-apa,” batinnya.


“ Jangan berikan tatapan seperti itu pada paman Evan,” pinta Dean.


Nelson hanya menghela napasnya, dia menganggukkan kepalanya, tanda setuju.


Dean seakan menang dari ayahnya. Dia tersenyum begitu puas.


Evan tersenyum kala melihat Nelson tunduk pada putranya.


Nelson menatap Evan yang tersenyum, saat tatapannya bertemu Evan, dia langsung mengisyaratkan tangannya berada di lehernya seakan dia akan membunuhnya. Evan hanya bergidik ngeri kala melihat gerakan yang dilakukan oleh Nelson.


“ Ayah…” teriak Dion yang berhambur ke pelukan Nelson. Di ikuti dengan Bella yang bergegas masuk ke dalam.


“ Eh. Sudah di bereskan ternyata, terima kasih Evan,” ucap Bella.


Dean menatap ibunya, terlihat Bella membawa minuman kesukaannya. Dia tersenyum begitu lembut kala ibunya menghampiri.


“ Apa kau senang, Nak? Bagaimana apa masih ada yang sakit?” tanya Bella.

__ADS_1


Dean menggelengkan kepalanya. “ Tidak ibu, aku sudah sembuh karena melihat ibu tersenyum,” ucap Dean.


Bella tidak bereaksi, dia hanya tersenyum seraya menghampiri putranya. Dia mengusap lembut pucuk kepala Dean. Bella memeluknya begitu erat, rasanya sudah begitu lama dia tidak memeluk Dean.


“ Ayah. Apakah kita sudah bisa keluar sekarang?” tanya Dean.


“ Emm… tentu saja, Nak,” jawab Nelson. Seraya menganggukkan kepalanya.


“ Cepatlah pulih kak, pekerjaan kita sudah menumpuk,” seru Dion.


“ Aku tahu,” ucap Dean. Seraya mengusap lembut kepala adiknya Dion.


Setelah menyelesaikan urusan di rumah sakit mereka pun meninggalkan rumah sakit.


Di mobil Dean hanya memejamkan matanya, dia tidak berbicara sama sekali. Sedangkan Dion selalu menggoda ayahnya.


“ Dion, ibu rasa kau harus berhenti melakukan itu,” Bella mengingatkan putranya.


“ Jangan terlalu keras padanya, mungkin Dion ingin bermain sebentar,” Bela Nelson.


“ Ayah adalah yang terbaik,” ucap Dion. Seraya memberikannya jempol.


Nelson tersenyum, Evan yang memperhatikan mereka pun ikut tersenyum tipis.


“ Jangan memanjakannya seperti itu! Jika terus menerus dimanjakan akan seperti apa jadinya dia nanti?” ucap Bella sedikit kesal pada suaminya.


Dion menundukkan kepalanya, seraya berkata. “ aku tahu, maafkan aku ibu,” ucapnya. Dion sedikit bersalah kala mendengar ayah dan ibunya bertengkar hanya karena hal sepele.


Nelson hanya tersenyum, seraya memeluk kedua putranya. Perlahan Dean membuka matanya, dia berkata. “ Ada apa? Mengapa ribut sekali?”


“ Ah. Kue.” ucap Dean.


“ Tentu saja ayah sudah membelikannya untukmu, dan untuk yang lainnya juga,” ucapnya.


“ Terima kasih ayah,” ucap Dean.


Di kamar hotel semua orang telah menunggu kedatangan mereka.


Sudah ada banyak makanan yang tersaji di meja makan.


Di saat Dean memasuki kamar semua orang menghampirinya satu persatu. Mereka menyelamatinya karena telah keluar dari rumah sakit. Di tambah besok siangnya mereka akan kembali ke Jincheng.


“ Selamat datang jagoan,” mereka berkata secara bersamaan. Membuat Dean terharu. Matanya berkaca-kaca, karena orang-orang yang berada di sana sangatlah peduli, dan juga menyayanginya.


“ Terima kasih paman,” ucap Dean. Seraya membungkukkan badannya.


“ Baiklah, mari kita makan, kita harus merayakan kesembuhan Dean,” ucap Yohan.


Mereka pun makan bersama-sama.


“ Duduklah,” Nelson menyiapkan makanan untuk Dean, sedangkan Bella mengurusi Dion.


“ Emm.. siapa yang memasak makanan ini?” tanya Dion.

__ADS_1


Yohan berkata. “ Tentu saja Andre yang memasak semua makanan ini, lezat bukan?”


“ Emm… sangat lezat, sepertinya aku tidak akan bisa berhenti memakan ini,” ucap Dion. Seraya memasukkan makanan ke dalam mulutnya yang kecil.


“ Dion makan perlahan,” ucap Nelson.


Dion hanya mengerucutkan bibirnya. Dean yang melihat tingkah laku adiknya itu, dengan cekatan dia memberikan beberapa lauk ke dalam mangkuk Dion.


“ Makanlah yang banyak, dan nikmatilah makananmu,” ucapnya. Semua orang yang berada di meja makan pun sedikit tercengang kala melihat bentuk perhatian Dean pada adiknya Dion.


Dion menatap wajah Dean, dia tersenyum manja, seraya berkata. “ Terima kasih kakak,” ucapnya.


Dean hanya tersenyum, terlihat di mangkuknya hanya ada sedikit nasi dan lauk pauk. Makanan yang sedikit itu bahkan tidak habis di makannya.


Andre memperhatikannya, dia berpikir bahwa Dean kehilangan nafsu makan karena obat yang di komsumsinya.


Setelah selesai makan, Dion kekenyangan karena tidak bisa berhenti makan. Sedangkan Dean, dia sudah kembali ke kamarnya, dia masih butuh istirahat yang banyak karena masih terlihat lemah.


Nelson menghampiri Dean, dia berkata. “ Apa kau merasa sakit, Nak? Apa perlu kita kembali ke rumah sakit?” tanyanya.


“ Aku tidak apa-apa ayah. Hanya terasa lelah sedikit,” ucap Dean.


Nelson mengambil beberapa pil obat untuk diminum oleh Dean.


“ Minumlah obatmu, kau akan merasa baikan,” ucap Nelson.


Dean mengambilnya, dengan sekejap dia menelan semuanya.


“ Apakah sudah semuanya? tanya Dean.


“ Sudah, sekarang istirahatlah,” ucap Nelson.


“ Ayah. Tolong ajak ibu ke sini,” pintanya.


“ Baiklah, ayah akan meminta ibumu ke sini,” ucapnya. Seraya melangkahkan kakinya keluar.


Dean mencoba meraih laci nakasnya, di sana tersimpan sebuah kotak kecil yang tersimpan rapi. Dia membuaka kotaknya. Terlihat sebuah kalung cantik yang di belinya di toko di pinggiran jalan kota Quebec, Kanada.


Dean memandangi hadiahnya, sebelum ibunya datang.


Tak berapa lama ibunya datang, Bella bertanya. “ Ada apa, Nak?” Seraya menghampirinya.


Dean tersenyum kala melihat ibunya datang. “ Duduklah di sini,” seraya menepuk tempat tidurnya.


Bella duduk di sampingnya, dia menatap Dean dengan intens. Dean memegang tangan Bella. Dia berkata. “ Lihatlah ibu, apakah ibu suka?” tanyanya. Seraya membuka kotak hadiahnya.


*


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2