
Evan tidak berkata apa pun. Dia melangkahkan kakinya ke ruang kerja. Ingin menghubungi Nelson. Namun, nomornya tidak aktif.
“ Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silahkan coba beberapa saat lagi,” selalu kata-kata itu yang terdengar kala menghubungi nomor Nelson.
“ Kenapa nomor Presdir tidak bisa di hubungi?” Evan sedikit gelisah.
Dia terus mencoba untuk menghubungi Nelson. Namun, berapa kali pun dia mencoba, tetap saja tidak dapat tersambung.
“ Ah. Sial, umpatnya.
Evan meletakkan kembali ponselnya. Melangkahkan kakinya menuju kamar Dean. Di tatapnya Dean yang terbaring diranjangnya. Dalam hatinya dia berkata. “ Sungguh Tuan kecil adalah anak yang hebat.”
Di balkon kamar hotel. Oliver sedang duduk seraya meminum kopi dinginnya. Dia memandang pemandangan indah kota Quebec, Kanada.
Dalam hatinya berkata. “ Sungguh. Kehidupan orang kaya sangatlah berbeda,” ucapnya.
Evan yang melihat Oliver di balkon menghampiri seraya berkata. “ Kau di sini?”
Oliver yang mendengar suara Evan pun segera mengalihkan pandangannya pada Evan. Oliver segera bangkit dari duduknya untuk menyapanya.
“ Tuan Evan. Apakah saya tidak boleh bersantai di sini?”
“ Tidak. Bukan begitu,” ucap Evan seraya menghampiri Oliver dan ikut duduk di sampingnya.
Oliver bertanya. “ Ada apa, Tuan? Anda terlihat sangat murung sejak pagi.”
“ Tidak apa-apa,” ucap Evan.
“ Bagaimana perasaanmu saat menjaga Tuan kecil?” Tanya Evan.
“ Saya? Tentu saja saya sangat bahagia bisa menjaganya. Bagi saya Tuan kecil itu sosok yang kuat. Dia bahkan tidak banyak mengeluh seperti kebanyakan anak yang sudah saya jaga,” jawab Oliver.
“ Sejujurnya baru kali ini saya mendapatkan klien yang sangat baik terhadap saya, dan saya menemukannya di sini,” ungkapnya.
Evan yang sedari tadi diam seraya menggoyang-goyangkan minuman di tangannya berkata. “ Kau benar. Dia anak yang tangguh. Bahkan lebih tangguh dari orang dewasa,” ungkap Evan.
“ Aku ingin bertanya sesuatu padamu,” ucapnya.
Oliver berkata. “ Ingin bertanya apa?”
Evan berkata dengan sedikit ragu. “ Di saat kau bekerja menjaga seseorang. Apakah kau pernah kehilangan salah satu pasienmu?” Tanya Evan.
Oliver sedikit terdiam. Namun, dengan wajah yang sedikit lesu dia berkata. “ Tentu saja. Saya bahkan selalu menemani pasienku hingga napas terakhir mereka.”
“ Saya selalu meratapi mereka yang harus meninggalkan dunia ini sebelum mereka beranjak dewasa, dari anak perempuan hingga anak laki-laki.
“ Saya merawat mereka yang sakit dengan sepenuh jiwa dan raga saya. Saya mendedikasikan hidup saya untuk merawat mereka yang sakit parah.”
“ Saya selalu sedih. Saat anak-anak itu meninggalkan saya. Namun, hidup masih terus berjalan.”
“ Sebelum saya merawat Tuan kecil, saya merawat seorang anak laki-laki. Namun. Setelah tiga tahun bersama akhirnya anak itu pun mengakhiri perjuangannya.”
__ADS_1
“ Hidup saya terus seperti itu, melihat anak-anak yang sakit hingga menghadapi kematian mereka.”
Oliver tidak sanggup melanjutkan perkataannya, air mata tidak henti-hentimya terus mengalir membasahi wajahnya. Oliver menangis sesegukan kala mengingat anak-anak yang telah menyelesaikan perjuangannya.
Evan sedari tadi mendengarkan perkataan Oliver hanya bisa berdiam diri, tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Dalam batinnya. “ Aku tidak ingin melihat Tuan kecilnya pergi meninggalkan dunia ini. Aku ingin dia tumbuh dewasa, bersama dengan menuanya diriku.”
“ Nelson akan sangat terluka jika Tuan kecil meninggalkannya. Aku tidak ingin melihat Nelson terpuruk atas kepergian putra sulungnya.”
“Aku lebih berharap jika Tuan kecil sembuh dari penyakitnya. Semoga ada keajaiban untuknya.”
“ Yang dapat menyembuhkan penyakit dan rasa sakit yang di deritanya selama ini.”
❤️❤️❤️❤️❤️
“ Paman Evan…” Dean yang terbangun dari tidurnya mencoba memanggil Evan.
Dengan kondisinya yang masih lemah, dia mencoba meraih gelas yang berada di nakas di samping tempat tidur. Namun, karena kondisinya yang lemah itu, dia tak sengaja menjatuhkan gelasnya hingga pecah.
“ Ah,” Dean mencoba untuk turun dari ranjangnya.
Evan dan Oliver yang mendengar keributan di dalam kamar Dean pun segera berlari menuju kamar Dean.
Saat Evan mendorong pintu, di saat itu dia melihat Dean yang sudah terduduk membersihkan pecahan gelas yang berserakan di lanta kamarnya.
Wajahnya pucat pasi. Namun tetap memberikan senyuman yang hangat pada keduanya, seraya berkata. “ Maaf. Aku tidak sengaja menjatuhkannya.”
Evan dengan segera mengangkat Dean untuk naik ke ranjangnya, seraya berkata. “ Apa yang Tuan butuhkan? Biarkan aku dan Mr. Oliver yang mengambilkannya.”
Evan dan Oliver merasa bersalah. Jika saja Tuan kecilnya terluka. Bagaimana mereka menjelaskannya pada Nelson?
Evan bertanya. “ Baiklah apa yang Tuan kecil butuhkan?”
Sedangkan Oliver membersihkan pecahan kaca dinlantai.
“ Aku haus. Aku ingin minum,” ucap Dean.
“ Baik. Tunggulah di sini, aku akan segera membawakannya,” serunya.
Evan bergegas ke dapur mengambilkan air untuk Dean.
Dean berkata. “ Maafkan aku karena sudah membuat keributan. Sehingga Mr. Olaf harus membereskannya untukku,” ungkapnya.
Oliver hanya tersenyum seraya berkata. “ Seharusnya aku yang meminta maaf. Karena tidak menjagamu dengan benar,” ucapnya.
Dean hanya tersenyum kala mendengar perkataan Oliver.
“ Bagaimana keadaanmu?” Tanyanya.
“ Emmm. Sudah lebih baik,” ungkapnya.
__ADS_1
Evan datang seraya menyerahkan segelas air pada Dean. “ Tuan kecil, silahkan.”
Dean mengambil gelas dari tangan Evan. Seraya te berkata. “ Terima kasih.”
Dean meminum airnya sampai habis. Setelah gelas kosong dia menyerahkannya pada Evan.
Evan bertanya. “ Apakah Tuan kecil lapar?”
Dean pun menjawab. “ Emmm. Aku lapar. Aku ingin makan sesuatu,” ungkapnya.
“ Apa itu?” Oliver dan Evan secara bersamaan bertanya lalu saling memandang.
“ Aku ingin makan Cheesecake,” ungkap Dean.
“ Baiklah. Aku akan meminta staf hotel membawakannya kemari,” ucap Evan.
“ Terima kasih,” ucap Dean.
“ Apakah ada lagi yang Tuan inginkan?” tanya Evan.
“ Tidak. Tidak ada,” jawab Dean.
“ Tunggulah sebentar. Aku akan meminta layanan untuk membawa cakenya,” ucap Evan.
Evan pun pergi meninggalkan Dean, bersama Oliver di kamarnya, untuk menghubungi layanan kamar.
“ Halo. Aku dari kamar presidential suits. Aku ingin memesan tiga buah Cheesecake, dan tiga jus apel, aku ingin datang segera, karena Tuan kecil ingin segera memakannya. Terima kasih sebelumnya,” Evan pun menutup panggilannya.
Evan kembali ke kamar Dean. memberitahunya bahwa dia telah memesan kuenya.
Dean hanya menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Aku ingin berada di ruang tamu,” ucapnya.
Evan berkata. “ Tentu saja,” seraya Evan mengangkat tubuh Dean, untuk memindahkannya ke ruang tamu.
“ Apakah di sini?” Tanya Evan.
” Emmm. Terima kasih,” ucap Dean
“ Apakah kau ingin sesuatu?” tanyanya lagi.
“ Apakah boleh aku meminta apel?” Pintanya.
“ Tentu saja,” ucap Oliver.
Selagi Oliver menyiapkan apelnya. Evan hendak pergi untuk menyelesaikan pekerjaannya l, meninggalkan Dean. Namun Dean menghentikannya.
“ Bisakah Paman menemaniku di sini?” ungkapnya.
Evan yang mendengar perkataan Dean pun menghentikan langkahnya, dan kembali berbalik pada Dean.
Dia menghampiri Dean, dan duduk di sampingnya seraya berkata. “ Apakah seperti ini?”
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹
Bersambung