ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 112


__ADS_3

Dean menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Apakah ayahku ada menghubungimu?”


Evan yang sedang mengetik pun menghentikan aktivitasnya, kala mendengar perkataan Dean.


“ Tidak. Aku bahkan tidak bisa menghubunginya,” ungkap Evan.


“ Ah. Begitu. Aku harap Ayahku baik-baik saja,” ucap Dean.


Namun, entah mengapa saat mendengar perkataannya, Evan merasakan kesedihan dalam perkataannya.


“ Aku sangat merindukan mereka,” ungkap Dean.


Evan semakin terdiam. Tak tahu harus berkata apa?


“ Apakah aku bisa kembali ke tempat ibu, dan saudaraku berada? tanyanya.


Evan pun menjawabnya. “ Apakah Tuan kecil ingin pulang ke Jincheng?”


Dean menganggukkan kepalanya.


Evan kembali terdiam sejenak. Setelah berpikir dia pun berkata. “ Aku akan bicara dengan Presdir. Tentang keinginanmu itu,” ucapnya.


“ Apakah benar?” seru Dean.


“ Tentu jika nomor Presdir sudah bisa di hubungi kembali, aku akan membicarakannya, ucap Evan.


Oliver yang mendengar percakapan mereka berdua sedikit terdiam. Dia merasa bahagia jika Dean ingin kembali bersama keluarganya.


Namun di satu sisi dia juga sedih karena kemungkinan besar dia akan di berhentikan. Karena Dean akan kembali pulang ke negara asalnya.


Oliver menghirup napas beratnya, dia menguatkan hatinya untuk menerima segala keputusannya.


Oliver datang kepada mereka berdua membawa sepiring apel, seraya berkata. “ Apelnya sudah datang,” ucap Oliver.


Dean memberikan senyuman terbaiknya pada Oliver kala menerima sepotong apel darinya, seraya berkata. “ Terima kasih,” ucapnya.


Oliver terdiam kala melihat senyuman yang diberikan olehnya. Oliver selalu merasa heran terhadapnya, dalam keadaan sakit pun dia masih bisa melemparkan senyuman yang begitu tulus.


Oliver bertanya. “ Mr. Oliver. Mengapa kau diam? ucapnya.


Oliver yang tersadar segera berkata. “ Ah tidak. Tidak apa-apa Tuan.”


Dean yang melihat Oliver sedikit merasa aneh, dia pun berkata. “ Ada apa? Apakah ada sesuatu yang mengganggumu?” tanyanya.

__ADS_1


“ Tidak ada Tuan Kecil,” ucapnya.


Dean kembali bertanya. “ Apakah kau mendengar perkataanku dengan Paman Evan? Hingga itu mengganggumu?”


Oliver terdiam kala mendengar perkataan Dean. Dia menundukkan kepalanya, seraya berkata. “ Aku hanya bahagia mendengar Tuan kecil akan berkumpul kembali dengan ibu, dan saudara Tuan kecil.”


“ Hanya saja. Aku merasa cukup gelisah karena jika Tuan kecil kembali, aku akan berpisah dengan Tuan kecil,” ungkap Oliver.


Evan terdiam kala mendengar perkataan Oliver. Dia tidak tahu apa yang harus dia katakan sekarang. Situasinya benar-benar canggung.


Dean tersenyum. Dia menghampiri Oliver perlahan, untuk duduk di sampingnya, seraya memeluknya Dean berkata. “ Jika kau ingin. Aku akan meminta ayahku untuk membawamu pulang bersamaku,” ucap Dean.


Seketika Oliver mengangkat kepalanya. Dia mematap wajah tampan Dean dengan intens, seraya berkata. “ Apakah itu semua bisa? Apakah Tuan Nelson akan mengizinkannya?” ucapnya.


Dean yang sedang memeluk Oliver pun melepaskan pelukannya. Dean berkata, “ Tentu saja. Aku akan mencoba bicara pada ayahku, selama itu bisa dilakukan ayahku pasti mengizinkannya.” Dean tersenyum bangga kala mengatakannya.


Oliver tersenyum. Seraya memeluk kembali Dean, begitu erat dia membalas pelukan Dean.


Dean berbisik ke telinga Oliver. “ Terima kasih.”


Hanya kata terima kasih yang terucap dari mulut Dean. Namun, dapat menggetarkan hatinya. Sungguh batinnya sangat bahagia kala mendengar perkataan lembut dari Dean.


Dean begitu menghargai Oliver. Tidak pernah sekalipun Dean membuatnya jengkel. Dean begitu penurut, dan jarang berbicara. Evan hanya tersenyum kala mendengar percakapan keduanya. Ya, Dean memiliki hati yang sangat besar. Walaupun dia terlihat dingin di luar. Namun dia sangatlah perhatian.


❤️❤️❤️❤️❤️


Nelson telah keluar dari rumah sakit, Bella beserta Dion yang selalu menemaninya, dia begitu bahagia. Namun di satu sisi dia juga merasa sedih, karena ketiadaan putra sulungnya Dean.


Nelson senang kala mendengar Dean ingin kembali ke mansionnya. Namun, di satu sisi juga dia takut. Takut akan kenyataan saat Bella mengetahui kondisi Dean yang sebenarnya. Dan kondisi mentalmya tidak kuat menerima kenyataannya.


Nelson yang duduk di ranjang sedikit melamun. Dirinya ingin memberi tahu Bella. Namun, dia juga tak ingin melukainya.


“ Ada apa?” sebuah suara menyadarkannya dari lamunan.


Nelson sedikit terkejut. Namun, dia berusaha untuk tenang kembali. Saat dia menatap Bella tiba-tiba saja dia menjadi bergairah kala melihat Bella memakai gaun tidur yang sangat seksi itu.


Napas Nelson kini sedikit memburu. Sedangkan Bella dengan wajah tak berdosa mengitari Nelson, dan sesekali menggodanya. Seraya berkata. “ Apakah kau ingin?” ucapnya.


Jelas Nelson tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini, gairah yang membara itu seakan membakar tubuh Nelson. Ingin rasanya dia menerkam Bella tanpa ampun.


Nelson mendekati Bella, ditariknya lengan Bella, seraya berbisik di telinganya. “ Aku sangat menginginkannya, tidak peduli kau meminta ampun sekalipun.”


“ Aku tetap tidak akan berhenti menikmatimu,” ucapan Nelson yang seakan menarik Bella kedalam gairahnya.

__ADS_1


Nelson mulai menciumi bibir ranum Bella, tangannya sesekali menjelajahi tubuh Bella yang sangat menggoda.


Dalam napasnya yang memburu Nelson berkata. “ Sayang. Mengapa kau sangat menggoda? Seakan aku tak bisa lepas darimu,” ungkapnya.


Bella tak bisa berkata apa-apa, dia yang tenggelam dalam kenikmatan itu hanya bisa mendes*h.


”Ah. Nelson..” hanya kata-kata itu yang bisa terucap dari mulutnya.


Suara des*han Bella sangatlah menggoda. Bahkan Nelson sudah tidak sabar memasukinya.


Bella berucap seraya menahan kenikmatan yang di berikan oleh Nelson. “ Ah. Aku mohon lakukanlah, aku sudah tidak tahan Nelson.”


Nelson tersenyum penuh kemenangan, dengan sedikit lebih menggodanya Nelson menyentuh lembut bagian kulitnya, meraba hingga pangkal pah*.


Bella menggelinjang kenikmatan seraya berkata. “ Ah. Mengapa kau membuatku menunggu terlalu lama,” Bella bangkit. Menarik kepala Nelson agar bisa menciumnya.


Nelson yang tanpa pertahanan pun ambruk di atas tubuh Bella. Nelson membalas ciuman Bella dengan lebih agresif, dia mencumbunya penuh hasrat.


“ Ah. Nelson bagaimana dengan lukamu? Jangan terlalu cepat lukamu baru saja sembuh,” ucapnya dengan terengah-engah. Mengingatkan Nelson bahwa dirinya baru saja pulih.


“ Aku bahkan tidak merasakan sakit sama sekai,” ucap Nelson.


Bella sudah tidak tahu sudah beraoa kali dia mencapai orgasmenya. Yang dia tahu Nelson tangguh di ranjang. Hingga dirinya tak mampu mengimbanginya.


Dua jam pergulatan di ranjang belum juga usai. Dinginnya Ac tak lagi bisa meredam gairah membara keduanya. Hingga Nelson akhirnya mencapai puncak pelepasannya.


Nelson mencumbu Bella kala mencapai pelepasannya. Dengan lembutnya dia berbisik di telinga Bella. “ Terima kasih istriku. Kau sungguh luar biasa.”


Bella begitu tersipu malu kala mendengar ucapan Nelson. Yang membuat wajahnya merona.


Nelson berbaring sejenak di samping Bella, dia menutupi tubuh Bella yang polos dengan selimutnya, seraya berkata. “ Maafkan aku jika aku berlaku kasar terhadapmu.”


“ Itu karena kau sangat menggoda bagiku.” ungkapnya.


Bella hanya tersenyum menanggapi perkataan Nelson.


Nelson melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, terdengar suara air mengalir.


Sesaat kemudian Nelson kembali dan menggodanya. “ Apakah kau ingin mandi bersamaku?”


Bella tersenyum kala mendengar perkataan Nelson. Nelson tersenyum puas. Dengan senang hati Nelson menggendong tubuh Bella yang polos menuju kamar mandi.


Readers ku sayang harap baca dulu sampai selesai baru menilai.🙏

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys, terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2