ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 203


__ADS_3

Sandra tersenyum bahagia saat melihat menantunya mengenakan kalung yang selama ini menemani hidupnya. Kini ia memiliki tuan putrinya yang baru.


“ Kau sangat cantik putriku!” Sandra memeluk Bella dengan begitu hangat.


“ Terima kasih, Ibu.” Bella sangat terharu, mengingat semua yang telah Sandra berikan padanya.


“ Ibu, kalian semua sangat baik padaku. Aku sungguh berterima kasih padamu.” Bella menangis bahagia di pelukan Ibu mertuanya Sandra.


“ Aku yang seharusnya berterima kasih padamu, karena telah hadir ke dalam hidup Nelson. Dan melahirkan dua orang cucu yang jenius dan tampan untuk kami.” Sandra kembali mengecup kening Bella dengan penuh kasih.


“ Sebaiknya kita bergabung dengan yang lainnya, Dion pasti sudah menunggu kita.” Bella mengusap kasar air mata yang membasahi wajahnya. Sandra menggandeng tangan Bella dan berjalan menuju Dion yang telah berada di ruang keluarga.


Di sana gelak tawa telah memenuhi seisi ruangan, bahkan kakek buyut menemani Dion menonton serial kartun favoritnya. Kakek buyut begitu gembira dengan kehadiran Dion di sisinya. Dia hanya menikmati waktu bersama dengan dengan anggota keluarga dari pihak Nelson.


“ Kakek, apa kabar?” Bella menyapanya dengan sopan. Kakek buyut tersenyum saat melihatnya. Sementara para tetua berkumpul di ruang sebelah. Terlihat ada kecanggungan di antara mereka, akan tetapi Bella tidak terlalu mempedulikannya. Dia hanya menikmati suasana hangat yang terjadi saat ini.


Di Rumah sakit.


Nelson menunggui Dean selesai melakukan pemeriksaan. Setelah menemui Dokter Kevin, Nelson sedikit lega karena kondisi Dean cukup prima untuk mendapatkan kemoterapi siklus pertamanya.


Nelson meraih ponselnya, di carinya nomor ponsel milik Bella. Dia mencoba menghubungi istrinya. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya dari seberang telepon terdengar suara yang begitu lembut nam merdu.


“ Halo suamiku, ada apa? Bagaimana situasi di sana?” Bella memberondong banyak pertanyaan pada Nelson.


“ Semuanya baik-baik saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Bagaimana di sana? Apa kamu menikmatinya?” Setiap dia menghubungi Bella, Nelson selalu tersenyum bahagia.


“ Baiklah, aku akan segera menutup teleponnya. Bersenang-senanglah bersama Ayah dan Ibu. Sampai jumpa di rumah istriku.” Nelson menutup teleponnya. Kini dia fokus menatap Dean yang sedang duduk dengan tenang menunggu gilirannya masuk ke dalam.


“ Apa kau takut?” Nelson bertanya pada Dean yang sedari tadi fokus dengan pikirannya sendiri. Saat mendengar suara Nelson. Dean berbalik, ia menatap Ayahnya dengan tatapan yang dalam, sedetik kemudian dia mengulas senyum sembari menggelengkan kepalanya. “ Tidak sama sekali, karena Ayah selalu di sampingku. Menemani di sini.” ucapnya.


Saat Dean berusaha tegar di hadapannya. Nelson selalu merasa sangat hancur. Putra kecilnya selau berkata tidak apa-apa walau dirinya sendiri tahu bagaimana penderitaan yang telah dialami olehnya. Namun, dari wajahnya selalu menampilkan senyum terbaiknya pada semua orang.

__ADS_1


“ Jika kau merasa khawatir, tidak apa-apa untuk menangis. Kau bisa melakukannya tanpa harus menahan semuanya sendirian.” Dean hanya diam saja saat Nelson selesai bicara, dia juga tidak menatap wajah Ayahnya. Nelson tahu apa yang dirasakan oleh Putranya, akan tetapi dia tidak bisa berbuat banyak untuk menghiburnya. Karena Nelson pada dasarnya tidak memiliki selera yang humoris.


“ Putraku, mungkin Ayah tidak bisa menghiburmu dengan kata-kata yang manis. Tetapi percayalah Ayah akan selalu berada di sampingmu hingga perjuanganmu usai. Sampai kau bisa memenangkan pertarunganmu. Ayah tidak akan meninggalkanmu, sampai napas terakhir Ayah.” Nelson mendekap tubuh kecil Dean. Sesekali Nelson menepuk pundak putranya mencoba memberikan tempat nyaman untuknya.


“ Izinkan Ayah mendapat kepercayaanmu. Biarkan Ayah menerima rasa sakitmu. Maka berbagilah dengan Ayah walau kau tak ingin membagi rasa sakit dengan ibumu. Bersikaplah seperti anak-anak seusiaamu. Ketika kau ingin sesuatu merengeklah pada Ayah dan jika kau ingin menangis Ayah akan menemanimu.” Selesai Nelson bicara Dean sudah terisak. Dia begitu terharu akan perkataan Ayahnya. Dia tidak menyangka jika Nelson begitu peduli dan mencintainya lebih dari apa pun. Sedetik kemudian Dean menangis dengan kencang hingga perawat dan dokter berdatangan menghampiri keduanya.


“ Tuan apa yang terjadi? Apakah ada bagian yang sakit?” Seorang dokter mencoba bicara pada Dean yang terisak di pelukan Ayahnya. Nelson memberikan isyarat pada Dokter untuk tidak terus bertanya karena Dean baik-baik saja. Dokter dan perawat mengerti mereka segera meninggalkan mereka berdua.


Di sisi lain.


Di sudut jendela rumah sakit berdiri seorang wanita muda, tatapannya begitu kosong saat menatap rintik hujan yang turun membasahi bumi. Di kaca jendela ia menempelkan telapak tangannya di sana. Bayangan ini dan itu memenuhi kepalanya. Kenangan manis semakin tergambar jelas dalam ingatannya.


Momen saat Robin pertama kali berpura-pura berkencan dengannya itu adalah kenangan yang sangat indah baginya.


Flashback


Apa kau sudah gila? Mengapa kau bilang jika kita sudah tidur bersama? Sudah kukatakan bahwa kita ini berkencan. Bukannya tidur bersama!” Gisel setengah berteriak di dalam bar tempat mereka minum. Gisel meneguk kembali bir yang ada di tangannya, kemudian ia menggebrak lagi meja di hadapan Robin.


“ Siap! Karena di kalangan militer semuanya menganggap berkencan itu setara dengan tidur bersama.” Suaranya tegas dan berwibawa menggema di telinga Gisel.


“ Kau?” Salah satu tangannya mengepal. Sedangkan yang satunya lagi mencengkeram gelas bir yang sedang di genggamnya. Rasanya ia ingin memukul pria yang ada di hadapannya sekarang. Sedangkan Robin dengan wajah yang tidak berdosa ia berlagak tidak tahu akan perasaan Gisel sebenarnya. Wajah Gisel merah padam saat Robin mengatakan perihal tidur bersama. Setelah hening sejenak Gisel memiliki ide membuat foto bersama tetapi tidak saling menyentuh.


“ Aku tahu! Bagaimana jika kita melakukannya?” Robin kebingungan dengan apa yang sedang dibicarakan oleh wanita yang ada di hadapannya. Di bawah rintik hujan itu mereka berdua membuat skenario. Robin berada di dalam bar sedangkan Gisel berada di luar. Keduanya berfoto seakan keduanya begitu dekat padahal Gisel hanya menempelkan wajahnya pada dinding kaca. Keduanya tampak bahagia. Senyuman hangat terpancar dari wajah keduanya.


Semakin hari rasa itu semakin tumbuh pada keduanya. Namun, kisah cinta itu tak selalu indah dan mulus bagi mereka. Selalu ada rintangan yang menghalangi hubungan keduanya. Antara lain adalah restu dari orang tua Gisel sendiri. Ayah Gisel adalah seorang Jenderal dengan bintang tiga di pundaknya. Sedangkan Robin saat itu hanya sersan dua. Ayah Gisel ingin putrinya bersama dengan Yohan yang saat itu berpangkat Kapten di tim. Tetapi Gisel tidak menyukainya. Dia hanya menganggap Yohan sebagai Kakak baginya. Sehingga tak ada perasaan untuknya.


Liku-liku kisah keduanya sudah terkenal di kalangan militer. Suka duka keduanya sudah di lalui bersama. Namun, sudah begitu keras usaha mereka akan tetapi takdir tak seindah yang diharapkan oleh keduanya. Mereka berpisah dengan lukanya masing-masing.


Flashback Off.


Gisel memejamkan kedua matanya. Sesekali buku matanya yang lebat itu bergetar setiap ia berkedip, wajahnya begitu sendu. Tatapannya begitu dalam menatap butiran hujan yang menempel pada dinding kaca.

__ADS_1


“ Gisel,” suara yang tidak asing itu terdengar jelas di telinganya diiringi suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Gisel berbalik di hadapannya ada seorang pria dan itu adalah Yohan pria yang selalu hadir di saat dirinya terpuruk dan rapuh. Di saat semua orang tak percaya padanya dialah pria yang datang pertama kali mengatakan bajwa dirinya sepenuhnya percaya padanya.


“ Apa yang kau pikirkan?” Yohan berjalan kearahnya dengan raut wajah yang sedikit sendu.


“ Aku hanya teringat kenangan indah ketika hujan turun.” Gisel kembali menatap ke arah luar jendela. Jari tangannya yang lentik itu memainkan irama dengan mengetuk-ngetukkannya pada dinding kaca yang telah basah oleh air hujan.


“ Aku yang bersikeras untuk pergi meninggalkannya, tetapi aku juga yang semakin tersiksa.” Gisel menundukkan kepalanya. Yohan yang mendengar perkataan Gisel itu membuatnya sedih, perasaannya untuk Gisel semakin berkembang, tetapi dia sudah tahu jika Gisel tidak memiliki perasaan untuknya. Yohan hanya dapat memendam perasaan cintanya pada Gisel. Ia memujanya dalam diam dan melindunginya dari kejauhan. Tak ada yang lebih tulus dari Yohan dalam mencintai Gisel. Yohan memberanikan dirinya untuk mendekap tubuh Gisel. Perlahan dia menepuk bahunya berusaha sebaik mungkin untuk menjadi seorang yang bisa memberikannya kenyamanan. Waau dia sudah tahu jika dirinya tidak akan bisa menggantikan Robin di hati maupun hidupnya.


“ Dokter sudah mengizinkan kita untuk menjenguk Robin. Walau terbatas akan aku pastikan kau bisa mengunjunginya. Apa kau ingin pergi ke sana?” Yohan bertanya pada Gisel. Akan tetapi ia tidak menjawabnya sama sekali. Sejenak Gisel terdiam kemudian dia menganggukkan kepalanya pertanda bahwa dirinya menginginkan untuk dapat melihat Robin.


“ Ayo!” Yohan membawa Gisel menuju ruang perawatan intensif di mana Robin di rawat. Gisel berjalan dengan gontai seakan dia kehilangan separuh jiwanya. Walau dulu dia pernah merasakan hal seperti itu akan tetapi sekarang lebih menyakitkan baginya.


“ Apa kau sakit?” Yohan khawatir dengan kondisi Gisel sekarang. Dia terlihat begitu pucat seakan tidak ada darah yang mengalir di tubuhnya.


“ Aku tidak apa-apa, hanya sedikit lelah.” Gisel mengulas senyum terbaik yang dimiliki olehnya. Dia berlagak tegar tetapi jauh di dalam lubuk hatinya dia sangatlah rapuh. Saat mereka hampir sampai. Tiba-tiba Yohan menghentikan langkahnya. Sehingga Gisel yang berada di belakangnya menabrak punggung Yohan.


“ Ah!” Gisel berteriak kecil saat dia jatuh terduduk. Saat dirinya mencoba bangkit, matanya menangkap sosok yang tidak asing baginya. Itu adalah Nelson.


“ Halo,” setelah bangkit dari jatuhnya Gisel menyapa orang yang ada di hadapannya. Sedangkan Nelson tatapannya yang dingin bagaikan bongkahan es itu sudah biasa bagi Gisel, karena sedari dulu Gisel adalah bawahan Nelson. Sehingga dia tahu bagaimana tegas dan kerasnya dia selama di militer dulu. Walau dia tidak lagi berkarir di militer tetapi dia tetap saja berwibawa dan berkarisma.


“ Kau sudah datang!” Nada suaranya terkesan dingin saat bicara pada Gisel. Gisel tahu bahwa Nelson pasti merasa kesal dengan sikap dirinya yang angkuh dan egois. Tetapi Gisel yakin bahwa Nelson tetap memedulikannya di balik sikapnya yang dingin.


“ Apa kau ingin menjenguknya? Dokter berkata hanya satu orang yang bisa masuk. Sebaiknya kau saja yang masuk. Robin pasti lebih membutuhkanmu!” Nelson mempersilahkan Gisel untuk masuk ke dalam. Selagi keluarga Robin belum datang ke rumah sakit. Kedua mata Gisel berkaca-kaca. Yohan segera membawanya ke ruang di mana Gisel harus memakai gaun protektif yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2