ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 182


__ADS_3

Leo terus memanjatkan doa untuk cucunya tanpa henti, tampak buliran air mata itu tersemat di ujung matanya yang sudah menua. Dia menghela napas panjangnya berharap agar operasinya segera selesai. Namun, nyatanya operasi yang seharusnya selesai dalam empat jam itu harus berlangsung lebih lama dari perkiraan.


Keputusasaan itu kembali menghampirinya, perasaan tidak berdaya itu menyelimuti hatinya. Rasanya percuma saja memiliki banyak uang jika tidak bisa menyelamatkan cucunya sendiri. Leo kembali menatap lampu yang masih berwarna merah itu, dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang besar.


Samar-samar Leo mendengar langkah kaki yang begitu cepat, dia mengalihkan pandangannya pada sebuah koridor di mana dua orang wanita tengah berlari menghampirinya. Leo langsung bangkit dari duduknya, dalam pandangannya itu adalah Bella, akan tetapi dia tidak mengenali wanita yang berada di sebelahnya.


Wajah Bella begitu suram, aura kesedihan terpancar dari sorot matanya, tampak wajahnya yang cantik itu basah oleh deraian air matanya.


“ Ayah, bagaimana keadaan Dean?” Bella berlari lalu memeluk Leo.


“ Ayah juga tidak tahu, Nak.” Leo menatap Bella dengan tatapan yang begitu dalam.


Bella terisak, dia membenamkan seluruh wajahnya pada dada bidang Leo. Walau sudah tua, akan tetapi Ayah mertuanya itu tetap saja tampan, dan berwibawa, tubuhnya yang tinggi tegap seperti milik Nelson. Membuatnya merasa nyaman bersamanya.


“ Duduklah di sini, mungkin sebentar lagi akan selesai.” Leo mengalihkan pandangannya pada wanita muda yang tengah berdiri di belakang Bella, dia pun bertanya dengan sedikit penasaran. “ Siapa dia?” Seraya menunjuk pada Anita.


Bella melirik Anita, dia pun berkata. “ Ayah, ini Anita sahabatku, dan Anita ini adalah Ayah mertuaku Leo Hongli.” Bella mengenalkan Anita, begitupun sebaliknya.


Anita menundukkan kepalanya, menyapa dengan sopan dan begitu hormat pada Leo yang tengah berdiri di hadapannya. Sedangkan Leo hanya tersenyum lembut dan hangat padanya.


Bella yang duduk itu kembali menyatukan jari-jari tangannya, dia kembali memanjatkan doa pada Tuhan agar putranya dapat kembali sehat. Tak lama kemudian lampu yang berada di atas pintu ruang operasi itu padam, membuat semua orang yang menunggu dapat bernapas lega.


Seorang dokter datang menghampiri ketiganya, Bella segera menghampiri sang Dokter. “ Bagaimana kondisi putraku?”


Dokter menghela napas beratnya, lalu berkata. “ Ini sungguh keajaiban dari Tuhan, saat kami mengoperasi Ananda Dean hendak mengeluarkan gumpalan darah di kepalanya, dengan tidak sengaja kami menemukan tumor yang bersarang di kepalanya, dan akhirnya kami memutuskan untuk mengangkat tumor tersebut, semoga tidak ada efek sampingnya. Dan kami akan terus memantau keadaan pasien pasca operasi.”


“ Kami hanya bisa berharap malam ini dia bisa melewati masa kritisnya.” Setelah menjelaskan semuanya, Dokter yang masih syok akan kejadian di ruang operasi pun pergi meninggalkan mereka yang masih termangu berusaha mencerna perkataan sang Dokter.


Bella berjalan mundur, dia tidak tahu harus bereaksi bagaimana, Leo sendiri tampak syok dengan kenyataan ini. Dirinya tak percaya bahwa cucunya juga belum lepas dari kematian.


Terdengar suara langkah kaki, dan juga roda tengah di dorong dari balik pintu ruang operasi, semua mata tertuju pada pintu yang terbuka. Sedetik kemudian brankar rumah sakit keluar bersama alat-alat penunjang kehidupan Dean. Bella segera berlari menghampiri petugas medis yang tengah mendorong brankar.


“ Dean, anakku.” Teriaknya. Kilauan crystal putih itu kembali turun membasahi wajah Bella yang tampak sayu. Dia tidak tega melihat kepala anaknya yang di balut perban.


“ Maaf Nyonya pasien harus segera di pindahkan keruang intensif. “ Ujar petugas medis pada Bella yang tengah menghadang.

__ADS_1


Leo segera menarik Bella, mencoba untuk menenangkannya. Mereka bertiga pun mengikutinya ke ruang intensif di mana Nelson juga berada di sana.


Setibanya di sana Sandra tengah tertunduk lesu, tatapannya juga begitu kosong kala menatap ke arah Bella yang baru saja sampai di sana.


“ Bella,” Sandra memeluk tubuh menantunya. Bella sendiri tidak banyak bicara, dia sendiri hanya membalas pelukan yang di berikan oleh ibu mertuanya.


Bella menatap brankar Dean hingga dia di bawa masuk, perasaannya campur aduk, akan tetapi ketakutannya tergambar jelas di wajahnya. Dia mencoba untuk tegar.


“ Ibu, lalu di mana Dion? Bukankah dia sudah sampai di sini?” Dia yang bertanya sedikit bingung karena tidak menemukan putranya Dion.


Tiba-tiba Andre datang menghampiri mereka, Sandra menatap wajah Andre, yang juga tidak lebih baik. Mungkin Andre lebih tahu akan keadaan Dion.


Bella langsung berlari menghampiri Andre. “ Andre, bagaimana keadaan Dion? Apa dia baik-baik saja?” Bella memberondong banyak pertanyaan pada Andre.


Andre hanya mengulas sedikit senyuman pada Bella, lalu menjawab. “ Kau bisa melihatnya sendiri, mungkin dia sekarang sudah bangun.”


Bella mengalihkan pandangannya pada Mertua dan juga Anita. “ Pergilah, di sini kami yang akan menunggui Nelson dan juga Dean, lagi pula Dion hanya ingin bertemu denganmu.” Selesai Sandra berkata, tampak bulir air mata tersemat di ujung matanya yang sendu.


Bella pun pergi meninggalkan mereka, dengan langkah gontai dia mengekor di belakang Andre. Pikirannya juga sudah melayang sejak dia sampai di rumah sakit. Memikirkan anak pertama dan suaminya yang kini masih berada di ambang kematian, sedangkan yang satunya mengalami trauma psikis yang cukup berat.


“ Apa kau tidak apa-apa?” wajah Bella menengadah, kedua matanya bertemu dengan sorot mata yang begitu gelap, dia tak bisa mengalihkan pandangannya dari Andre. Bella merasa bukan hanya dirinya yang mengalami hal yang mengerikan ini, tampak Andre juga mengalami hal yang sama dengannya.


Andre meraih tangan Bella, mencoba untuk membantunya agar kembali berdiri. Setelah Bella berdiri dia menatap nama di samping pintu yang bertuliskan Dion Hongli. Hatinya sedikit hangat, walau mereka belum merubah nama belakang anak-anak secara resmi akan tetapi keluarga sudah menerapkannya secara langsung.


Akan tetapi yang hangat itu berubah, seketika perasaan marah, kecewa, dan kesedihan itu berkumpul jadi satu. Dia hanya bisa menutup mulutnya dengan kedua tangannya yang kecil itu, pelan-pelan buliran air mata menggenangi matanya yang indah itu.


Di sebuah ranjang rumah sakit, tampak seorang anak tengah terduduk di atasnya, wajahnya menghadap pada jendela dengan kaca besar, di luar sana tampak langit telah menggelap, sangat gelap hingga tak bisa melihat bintang-bintang yang biasanya menghiasi langit malam.


“ Dion.” Panggil Andre.


Perlahan Dion mulai berbalik, wajahnya di penuhi goresan ranting pohon pada saat melarikan diri, dia menatap keduanya dengan tatapan kosong. “ Ibu.” Ucapnya pelan. Namun entah mengapa? Terasa begitu menyakitkan bagi orang yang mendengarnya, di sudut bibirnya tersungging senyuman pahit. Sungguh membuat hati sakit.


Bella mengatur napasnya, berusaha untuk tegar di hadapan putra keduanya. Dia langsung menghampiri Dion dan memberikannya pelukan yang begitu erat padanya. Hal yang tidak terduga adalah ekspresi dari pada Dion tetap datar dan terkesan dingin. Bella mengalihkan pandangannya pada Andre yang tengah berdiri di depan jendela kaca.


Andre hanya menundukkan kepalanya, dirinya juga tidak menyangka insiden itu telah melukai perasaan dan jiwanya. Trauma yang di alaminya cukup serius dan terbilang berat. Hati Bella semakin hancur di buatnya, dirinya berpikir bahwa hanya raganya yang kembali tapi tidak jiwanya. Bella terisak sembari memeluk Dion lagi. Dion tidak banyak bicara, dia hanya memandang ibunya dengan tatapan kosong, dia bahkan tidak menanyakan keadaan Dean. Bella menunduk. “ Bagaimana bisa dia mencemaskan Kakaknya, sedangkan dirinya saja sudah menderita.”

__ADS_1


Bella tidak sanggup bicara lagi, dia memendam emosinya jauh di dalam lubuk hatinya, dirinya sangat ingin menghibur putranya. Namun, apa daya bahkan dirinya tak kuasa menahan gejolak di hatinya.


“ Kau sudah aman sayang, ibu ada di sini. Paman Andre juga menjagamu dengan baik, Ibu dan Ayah tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi, Ibu janji.” Bella berbisik di sebelah telinganya.


Dion tidak bicara satu kata pun, akan tetapi di sudut bibirnya tersemat senyuman yang begitu tipis hingga Bella maupun Andre tidak menyadarinya, kedua mata yang indah itu hanya mengedip dan mengedip hingga akhirnya dia tertidur kembali.


Dalam sebuah bayangan yang semu.


Nelson tersadar di dalam sana, dia melihat pemandangan yang sangat indah, Dean tengah berdiri di sebuah padang bunga, dia bahkan berpakaian serba putih, tampak indah dan bersinar kala mentari pagi itu menyinarinya. Wajahnya berseri-seri bagaikan dia telah menemukan kebahagiaannya. Namun, seberapa keras dia memandang dan mencari, dirinya tidak menemukan sosok Dion di padang bunga itu.


“ Dean, kau tidak apa-apa?” Nelson menghampiri putranya yang tengah berdiri menatapnya begitu dalam, sebuah senyuman menghiasi wajah tampannya, hingga dia tidak mampu untuk berpaling.


“ Ayah, mengapa kau ada di sini? Ini bukan tempatmu. Kembalilah Ayah.” Dean berkata seraya meminta Ayahnya untuk pergi.


“ Ayo kita kembali bersama, Ayah mana mungkin meninggalkanmu di sini.” Nelson mencoba membujuk putranya untuk ikut bersamanya.


“ Tidak Ayah, ini bukan saatnya kau pergi. Kembalilah Ibu dan Dion membutuhkanmu.” Dean memalingkan pandangannya.


Di dalam bayangan itu Dean berjalan pergi meninggalkan dirinya, dia perlahan menjauh dari pandangannya. Nelson mencoba berlari mengejar putranya yang semakin menjauh, dia yang terjatuh pun hanya bisa berteriak seraya mengulurkan sebelah tangannya. “ Dean!”


Seketika Nelson membuka kedua matanya, masker oksigen masih terpasang di wajahnya. Dengan lemah dia menatap sekelilingnya adalah sebuah kamar, aroma disinfektan pun tercium di hidungnya, napasnya masih terengah-engah memikirkan apa yang sebenarnya terjadi?


“ Dean, Dion.” Dia terus memanggil nama kedua putranya.


Di dalam ruangan itu ada seorang perawat yang tengah memeriksa keadaannya. Namun, perawat itu belum menyadari bahwa Nelson telah siuman. Setelah selesai memeriksa perawat itu berbalik, dia melihat kedua mata Nelson telah terbuka dengan sempurna. Dia segera menghampiri Nelson.


Samar-samar dia mendengar sang perawat memanggil dirinya. “ Tuan, apakah Anda bisa mendengar suaraku? Jika iya, tolong kedipkan mata Anda.” Nelson yang mendengar suara perawat itu pun mengedipkan kedua matanya secara perlahan. Tampak senyum sumringah dari sang perawat.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2