ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 98


__ADS_3

Bella yang masih berlari di jalanan, seraya melihat ke sekeliling bahwa jalanan begitu padat, dan tidak bergerak sama sekali!


“ Ah, aku sangat lelah!” Bella mencoba berhenti, dan mampir ke toserba terdekat, dirinya membeli sebotol air mineral, kemudian melanjutkan kembali larinya.


“ Ah, rasanya seperti aku yang akan mati!” ungkapnya.


Bella kembali mencoba berjalan ke depan, dengan kaki yang sakit, terlihat di depan sana ada sebuah truk besar yang terguling menghalangi jalan.


“ Ah, ternyata itu penyebabnya. Jika aku berada di dalam taksi entah sampai kapan aku sampai ke rumah sakit!” Batin Bella.


“ Aku sudah lelah! Tapi aku ingin segera sampai di rumah sakit!” Bella meneruskan larinya, hingga melihat jalanan di depan matanya berjalan lancar.


“ Sebaiknya aku menghentikan taksi saja! Kakiku seperti akan lepas dari tubuhku!” ungkap Bella.


Bella kemudian menghentikan taksi, dan menuju rumah sakit di mana Nelson di rawat!”


“ Aku mohon Nelson, bertahanlah!


“ Tuhan, aku mohon selamatkanlah suamiku, lindungilah suamiku, jangan ambil dirinya di saat aku belum siap kehilangannya.” Bella berdoa dalam hatinya, matanya yang indah itu berkaca-kaca penuh pengharapan.


Saat di tengah perjalanan tiba-tiba saja perbaikan jalan, sehingga mobil harus berputar arah, padahal jarak ke rumah sakit tinggal 1 km lagi. Dengan banyak pertimbangan Bella memilih turun dan kembali berlari menuju rumah sakit.


“ Nona, di depan ada perbaikan jalan! Sehingga harus berputar!” ungkap sang sopir.


Bella dengan sedikit tersenyum berkata. “ Tidak apa-apa pak, lagi pula rumah sakitnya sudah dekat!”


“ Jadi saya turun di sini saja ya pak!” Bella turun seraya menyerahkan ongkos taksinya.


“ Ah, aku harus kembali berlari lagi!” Batin Bella.


“ Nelson jika kau berani meninggalkan aku, apapun yang terjadi, aku akan menyeretmu dari neraka untuk kembali padaku!” Dengan kaki yang sudah terluka. Bella meneruskan perjalanannya.


“ Rasanya aku hampir mati! Kedua kakiku begitu sakit!” Ungkap Bella.


Setelah berlari selama 10 menit, akhirnya Bella sampai di rumah sakit. Bella tergopoh-gopoh menuju resepsionis, untuk menanyakan di mana ruangan tempat Nelson di rawat.


Dengan napas yang tersengal-sengal, dan berjalan sempoyongan, Bella bertanya. “ Permisi, kamar rawat Nelson Hongli berada di mana?”


Resepsionis yang berjaga cukup heran, dalam batinnya dia berkata. “ Ada apa dengan wanita ini? Dia begitu berantakan, siapa wanita ini?” Resepsionis itu bertanya-tanya dalam pikirannya.


Resepsionis pun bertanya. “ Nelson Hongli yang mana?”


Dengan napas yang berat, Bella menjelaskan bahwa yang di maksud adalah Nelson Hongli, pemilik Hongli Group.


“ Ah, Tuan muda Nelson. Dia berada di ruang VVIP, lantai lima.” Ucap resepsionis.


“ Baiklah.” Ucap Bella seraya pergi meninggalkan meja resepsionis, menggunakan lift untuk naik ke lantai lima.


“ Ah, kakiku! Mengapa sangat sakit?” Bella mencoba melepas sepatunya, dan benar saja kakinya terluka, dan sudah mengeluarkan darah.


“ Ah, sial kenapa aku jadi seperti sedang wajin militer, berjalan berkilo-kilo meter jauhnya!” Bella menggerutu sendirian di dalam lift.

__ADS_1


Di dalam lift, Bella mencoba mengatur napasnya. Namun dia terlalu lelah untuk itu.


“ Ah kakiku!” Bella terduduk di lift.


Ting.. suara pintu lift terbuka.


“ Ah, gawat! Aku harus segera ke sana!” Dengan penampilan yang berantakan, Bella mencari di mana ruangan Nelson!


Setelah berjalan dengan susah payah, dia pun menemukan ruangan di mana Nelson di rawat.


Saat Bella membuka pintu, dia kaget bukan main. Karena Nelson tidak ada di ranjangnya. Bella melihat ranjangnya kosong dan rapi.


Tiba-tiba butiran crystal bening mulai berjatuhan di wajah Bella yang mulai kusut, karena dia berlari sampai tiba di rumah sakit.


Tubuhnya bergetar hebat, Bella menangis sejadi-jadinya seraya berkata. “ Apakah aku terlambat?”


Tubuh Bella menyusut ke lantai, rasanya sia-sia saja dia berlari seperti orang gila, terus berlari hanya untuk ketemu Nelson!”


“ Nelson, aku mohon kembalilah padaku!” Bella berteriak.


“ Mengapa kau meninggalkanku di sini!”


“ Bahkan aku tidak bisa mengatakan salam perpisahan padamu! Mengapa kau pergi lebih dulu?”


“ Mengapa kau tidak menungguku lebih lama? Mengapa? ”


“ Sungguh kau sangat jahat Nelson!”


“ Sungguh, jika waktu bisa di putar kembali, aku akan bersikap baik padamu!”


Bella yang menangis membuat Nelson yang berada di balik pintu ruangan terpaku pada perkataan Bella.


Bella meraih selimut di ranjang, dia menghirup dalam-dalam, aroma tubuh yang tersisa, dengan isak tangis yang semakin menjadi, Bella berteriak. “ Nelson, mengapa kau tega meninggalkan aku!”


Tiba-tiba terdengar suara yang sangat familier. “ Ibu, mengapa kau menangis?” Dion bertanya, dengan sedikit heran.


Bella yang mendengar suara Dion pun, mengalihkan pandangannya, dan betapa kagetnya dia, kala melihat Nelson yang duduk di kursi rodanya.


Bella termangu kala mencerna situasi di depannya.


“ Astaga!” Bella menampar wajahnya sendiri, dan dia juga yang merasa kesakitan sendiri.


Nelson, dan Dion hanya memelototi Bella yang menampar dirinya semdiri.


“ Ada apa denganmu?” Nelson bertanya.


Bella segera mundur, hingga menabrak sesuatu.


“ Prank.” Suara benda medis berjatuhan.


Bella tak percaya, seraya bergerak mundur Bella bertanya. “ Apa yang terjadi di sini?”

__ADS_1


Dion berusaha menenangkan ibunya, seraya berkata. “ Ibu, bukankah ibu ke sini untuk bertemu dengan ayah ?” tanya Dion.


“ Jadi kau masih hidup?” Bella semakin bingung.


Nelson menimpali Bella. “ Lalu kau berharap bahwa aku cepat mati begitu?”


Bella termangu kala suara bariton itu menggelegar di telinganya.


Dion kembali berkata. “ Ibu, ayah belum mati! Ayah masih bersama kita sekarang. Apa kau bahagia mendengarnya?”


Dion mencoba mendekatkan ibunya pada Nelson, berharap hubungan keduanya membaik.


Saat Dion mencoba meraih tangan ibunya, Bella tersadar bahwa putranya juga terluka.


Bella bertanya dengan cemas. “ Apa yang terjadi padamu? Ada apa dengan kepalamu?”


Dion menjawabnya seraya tersenyum, dia berkata. “ Ah, ini. Aku terjatuh!” Dion memegangi balutan perban di kepalanya.


“ Tidak, tidak mungkin terjatuh. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?” Bella bersikeras meminta penjelasan.


Tiba-tiba Nelson merasa ke sakitan.


“ Ah, ah, kenapa begitu menyakitkan?” ungkap Nelson.


Dion dan Bella yang melihatnya kesakitan segera mendekat, seraya bertanya. “ Ayah bagian mana yang sakit? Apakah perlu memanggil dokter?” Ucap Dion.


Bella tak mau kalah, dia juga cukup khawatir pada Nelson, saat hendak maju lebih dekat pada Nelson, Nelson menyadari ada yang aneh dengan cara berjalan Bella.


Dirinya yang kesakitan pun, memperhatikan Bella dengan intens, dan ya, penampilan Bella sungguh berantakan saat ini, rambutnya yang sudah semrawut, pakaiannya sudah tidak rapi lagi.


Nelson bertanya. “ Apakah sesuatau terjadi padamu?”


Bella mencoba berbohong pada Nelson. “ Aku, tidak ada yang terjadi!” Seraya memalingkan pandangannya pada tempat lain.


“ Jangan berbohong padaku!” seru Nelson.


Dalam hatinya Bella berkata. “ Ah sial, walau dalam keadaan sakit pun, dia tetap menyusahkan!”


Bella menjawab, dengan ragu dia berkata. “ Di jalan, ada sebuah kecelakaan. Di mana sebuah truk terbalik. Sehingga membuat jalanan macet total.”


Nelson memotong perkataan Bella. “ Lalu apakah kau berlari dari sana?”


Bella menganggukkan kepalanya.


Nelson sedikit berteriak. “ YA! Kau ini bodoh atau apa? Mengapa kau berlari?”


Bella dengan sedikit gemetar dia berkata. “ Aku takut, jika aku tidak berlari kau akan pergi meninggalkanku! seraya menangis dia menyusut di lantai.


Nelson yang melihat Bella begitu sedih pun, dengan perlahan turun dari kursi rodanya, dia mencoba memeluk Bella, dengan menahan sakit yang luar biasa di bagian perutnya.


Dengan lembut berkata. “ Maafkan aku Bella, aku tidak bermaksud membentakmu ! Aku hanya sekedar khawatir padamu!” Ungkapnya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2