
“ Siapa mereka?” ucap Dean dengan dingin. Wajah pucat semakin memberikan kesan dingin seperti Nelson.
Evan menjawab. “ Tuan kecil. Mereka ini adalah para sahabat Ayah Anda,” ucapnya.
Dean menelisik mereka berempat. Namun, tak sedikit
pun dia tersenyum.
“ Wow. Kau sama persis dengan Nelson, begitu dingin. Namun tetap anggun,” ucap Ronald.
Dean mengulurkan tangannya pada Andre.
Andre dengan senang hati menjabat tangan Dean. Namun saat dia berjabat tangan, dia merasakan tangan kecil itu begitu dingin, wajahnya sedikit pucat. Andre tidak mengatakan apa pun, ketika Dean mengulurkan tangannya pada yang lainnya.
“ Kau sangat tampan. Tatapan matamu sama persis dengan milik Nelson ayahmu,” ucap Yohan.
Andre membawa Evan ke ruang kerja. Andre bertanya karena sedikit khawatir. “ Apa yang terjadi? Mengapa wajahnya begitu pucat? Tangan mungilnya itu bahkan terasa dingin?”
Evan menghirup napas beratnya seraya berkata. “ Dia baru saja melewati rasa sakit yang luar biasa. Bahkan aku di buat tegang dan panik olehnya.”
“ Namun, sekarang keadaannya sudah stabil. Tidak ada yang perlu di khawatirkan,” ungkap Evan.
“ Apa yang kau takutkan?” ucap Andre.
“ Aku takut kehilangan Tuan kecil,” ungkap Evan seraya menundukkan kepalanya, Andre mencoba menenangkannya.
Andre tahu rasanya di ambang keputusasaan. Dia juga tahu rasa kehilangan seseorang. Karena itu sangatlah menyakitkan.
Dean terlihat dingin, seakan-akan dia kembali pada kepribadiannya yang tenang serta dingin, tak ada senyuman yang terlihat dari wajah tampannya.
Semua orang memperhatikan dirinya. Bahkan Evan dan Oliver pun kebingungan karenanya. Sebelumnya dia baik-baik saja. Namun sekarang wajahnya tanpa ekspresi.
Evan menundukkan kepalanya. Tidak tahu harus berbuat apa?
Evan bertanya. “ Apakah kau ingin makan sesuatu?”
Dean menjawab dengan dingin. “ Tidak,” ucapnya.
“ Lalu apa yang kau inginkan?” tanya Evan kembali.
“ Entahlah,” ucap Dean.
Andre dan lainnya saling memandang satu sama lain.
“ Bagaimana bisa dia sedingin itu? bisiknya
Andre bertanya. Bagaimana jika kita pergi ke suatu tempat?” ucapnya.
“ Ya. Kau benar, mari pergi kesana,” ucap Yohan.
“ Kita akan pergi ke Old Quebec,” ungkap Robin.
__ADS_1
“ Dean. Kau harus melihat pemandangan indah yang di sajikan di sana,” ungkap Andre.
Evan menatap Dean. Seraya bertanya. “ Bagaimana? Apakah kau ingin ikut?” tanyanya.
Dean terdiam sejenak, dia pun bertanya. “ Mr. Olaf, apakah aku bisa pergi?” ucapnya.
Oliver sedikit terdiam sejenak. Lalu dia pun berkata. “ Tentu Tuan kecil bisa pergi,” ucapnya.
“ Ikutlah bersamaku, aku akan sedikit tenang jika kau ikut,” ungkap Dean.
Oliver hanya menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Baik, Tuan kecil.”
Mereka bertujuh pun pergi menuju Old Quebec, tempat populer di Quebec, Kanada.
Di dalam mobil, Oliver serta Dean satu mobil bersama Andre dan juga Yohan. Sedangkan di mobil satunya. Evan bersama Ronald, dan Robin.
Dean tidak bersuara sedikit pun. Yang dia lakukan di mobil hanya memejamkan matanya persis seperti Nelson ayahnya. Pembawaan yang tenang, sikapnya yang dingin, serta angkuh. Namun, tetap terlihat anggun.
Andre memulai pembicaraan. Dengan santai dia bertanya. “ Aku dengar kau sangat cerdas. Lalu apa rencanamu?”
Dean melirik Andre. “ Orang bilang aku genius, dan juga berbakat. Namun, yang aku rasakan adalah. Aku hanya anak-anak pada umumnya.
“ Aku dengar kau adalah seorang sarjana?” tanya Andre.
“ Ya. Aku sudah menyelesaikan pendidikanku,” ungkapnya.
“ Rencanaku adalah untuk memulai kembali pengobatan penyakit kankerku,” ungkapnya dengan datar.
Dean yang mendengar perkataannya pun membuka matanya secara perlahan lalu berkata. “ Terima kasih,” tersungging sedikit senyuman di ujung bibirnya, membuat Andre bahagia.
“ Walaupun begitu menyakitkan, tapi aku harap kau bisa bertahan,” ucap Andre.
Setelah satu jam perjalanan pun akhirnya mereka sampai. Di sana suasananya sangat indah, bangunan tua bergaya prancis berdiri kokoh.
“ Ayo turun,” ucap Andre.
Dean berjalan turun. Mengikuti mereka, Oliver mengikuti Dean di belakangnya seraya menggendong ranselnya.
Saat jalan-jalan, Dean menghentikan langkahnya di sebuah toko perhiasan di pinggir jalan. Dean terpaku kala memandangi kalung yang begitu cantik.
Andre menghampirinya seraya bertanya. “ Apakah kau menginginkannya?”
Dean tidak bersuara. Namun, dia memilih sebuah kalung yang bertuliskan Destin. Dean terus memandangi kalung tersebut.
Dean berkata. “ Cantik bukan?”
Andre dan yang lainnya menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Tentu, itu sangat cantik.”
“ Ini untuk ibuku, dia pasti senang mendapatkannya,” ucap Dean.
Andre yang melihatnya pun bertanya. “ Apakah kau tahu makna dari kalungnya?”
__ADS_1
Dean tersenyum dan menjelaskan maknanya. “ Destin dalam bahas Prancis adalah takdir. Takdir yang di tetapkan oleh surga,” ucapnya.
Semua orang yang berada di dekat Dean saling tercengang. Kala Dean menyelesaikan perkataannya.
Mereka tidak percaya Dean mengatakan hal yang begitu bermakna.
Andre ternganga kala mendengar makna dari kalung yang di pegang Dean. Dia sangat takjub. Di usia semuda ini dia sudah mengerti tentang sebuah makna yang sedalam itu.
“ Kau… aku sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi,” ungkapnya.
“ Tolong di kemas,” ucap Dean. Seraya menyerahkan kalungnya, beserta uangnya.
Dean yang tersenyum begitu hangat, terlihat semakin manis. Kala memandangi benda yang ada di tangannya.
“ Kita akan pergi ke mana lagi?” tanyanya.
“ Bagaimana jika kita makan? Aku sudah lapar, apakah kalian tidak lapar?” seru Robin.
Mereka pun berunding, dan kembali bertanya pada Dean. “ Apakah kau ingin pergi makan?” ucap Evan.
Dean menganggukkan kepalanya tanda setuju.
Setelah berjalan mengitari jalanan Kanada. Mereka tiba di sebuah restoran yang sangat mewah di kelasnya.
Mereka memesan ruangan pribadi di mana pemandangannya begitu indah, dan menjanjikan. Dean duduk di tepi jendela memandangi jalanan Kanada yang begitu indah.
Mereka memesan banyak makanan, dan juga minuman. Dean terlihat menikmati makanannya, walaupun tanpa suara.
Sedangkan Oliver yang awalnya bingung ditarik oleh Robin untuk duduk makan bersama dengan mereka. Tak ada kesenjangan sosial di antara mereka.
Oliver yang hanya seorang perawat pun diperlakukan dengan hormat, dan baik. Apa pun yang mereka makan. Oliver pun akan memakannya.
Andre memperhatikan Dean dengan seksama, melihat Dean benar-benar seperti melihat Nelson versi mini. Di tatap matanya yang terlihat indah itu. Tersirat kepedihan yang mendalam.
Dean dengan tenang, dan anggun memakan makanannya.
“ Benar-benar di lahirkan untuk jadi bangsawan,” bisik Ronald.
“ Ya kau benar. Anak ini memang pantas untuk jadi penerus Nelson,” ungkap Robin.
Orang-orang menatap Dean dengan intens. Memperhatikannya hingga mata pun tidak berkedip.
Evan hanya menggelengkan kepalanya. Melihat semua orang menatap Dean.
Dean Hongli walaupun sakit tetap mempesona kan🥰
Selesai makan mereka berbincang-bincang sebentar. Sedangkan Dean, dia berdiri di depan jendela bergaya Prancis. Sorot lampu semakin menambah pesonanya.
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung