
Malam pertama adalah yang paling berharga, mereka mana berani tinggal lama dan menganggu malam mereka. ( udah bukan malam pertama kali, emang malam-malam sebelumnya tidak di hitung yahπ)
Setelah semua orang pergi, kamar pengantin seketika menjadi begitu tenang.
Bella mengambil handuk basah yang hangat, kembali ke sisi tempat tidur, baru berniat membantunya untuk menyeka wajah suaminya. Tiba-tiba tangannya di cengkeram, detik berikutnya, dia sudah jatuh dalam pelukan Nelson. Dia merangkulnya dan berbalik dengan cepat, sehingga tubuhnya yang besar menindihnya di atas. Matanya yang berwarna hijau zamrud bagaikan batu giok yang bersinar menatapnya dalam.
β sengaja, pura-pura mabuk?β ucap Bella langsung paham.
Tubuhnya penuh dengan bau alkohol yang cukup menyengat. Namun, sama sekali tidak terlihat mabuk, itu artinya tadi Nelson pura-pura mabuk.
β Jika tidak pura-pura mabuk, mereka tidak akan melepaskanku begitu saja?β Nelson menjawab seraya memainkan matanya yang indah.
Gaun merah melapisi tubuh indah Bella, rambutnya yang panjang dan halus tergerai bebas, sungguh menggoda bagi mata yang melihatnya.
Dengan lembut tangan Nelson mengangkat dagu mungilnya, senyum yang begitu nakal tersungging di bibir tipisnya.
β Katakan, bagaimana cara menghukummu, istriku?β
Ketika Bella mendengar ini, dia mengerucutkan bibirnya, lalu berkata. β Suamiku, apa ini tidak terlalu terburu-buru?β
β Istriku ini memang sangat menggoda, ini karena aku menginginkanmu. β Dia berkata sambil tersenyum, lalu menundukkan kepala dan memcium bibir tipisnya yang merona.
Nelson mencium istrinya dengan penuh hasrat, api gairahnya kini telah membara.
Tiba-tiba tubuh Bella terasa melayang, ketika dia menyadarinya, mereka berdua sudah berada dalam jacuzzi, air sudah menutupi dadanya.
β Mandi bersama?β Bella mengangkat dagunya dengan senyum yang begitu menggoda.
Wajah tampan Nelson mulai mendekat, bibir yang tipis pelan-pelan mengecupi bibir Bella yang merah merona, detik berikutnya semakin menjadi liar.
Langit diluar jendela, gelap lalu terang, mereka melakukan aktivitas mereka hingga pagi.
Keesokan paginya, cahaya matahari menyelinap masuk dari balik celah tirai, mengintip kedua tubuh yang sedang melekat tanpa malu. Bella bersandar di lengan Nelson, rambutnya yang kecokelatan itu tergerai di atas seprei putih, bahunya yang putih polos cuma tertutupi selimut berwarna senada. Malam pengantin membuat mereka kelelahan dan tertidur nyenyak.
Bella tidur dengan lelap bahkan mereka tidak menyadari jika hari sudah beranjak siang.
Tokβ¦. tokβ¦ tok.. pintu kamar di ketuk dari luar.
β Ayah, ibu bangun!β Suara Dion yang lembut terdengar dari luar kamar.
__ADS_1
Bella refleks menarik selimut sampai kepala, berbalik dan berkata dengan sedikit kesal. β Kenapa ribut sekali? Bukankah anak-anak bersama Oliver? Apakah Oliver tidak membawa anak-anak pergi bermain?β
Nelson mengulurkan tangan untuk merangkulnya seraya mengecup pelan keningnya. β Tidurlah lebih lama, aku akan pergi melihatnya.β
Nelson beranjak dari tidurnya, pergi ke kamar mandi dan berpakaian, lalu keluar.
Sedangkan Bella kembali tertidur karena kelelahan, semalaman di kerjai oleh suaminya tanpa ampun.
β Ayahβ¦β suaranya terdengar begitu putus asa, Nelson merasa ada yang tidak beres, dia segera membuka pintu. Terlihat Dion tengah menangis, wajah tampannya di penuhi oleh air mata.
β Ayah..β suaranya begitu lirih.
β Apa yang terjadi?β Nelson bertanya dengan sangat cemas.
Dia segera membawa Dion ke ruangan lain, karena tidak ingin mengganggu istrinya yang masih tidur.
β Coba kau katakan dengan perlahan apa yang terjadi?β Nelson mencoba menenangkan putranya, seraya memberinya segelas air.
Setelah Dion kembali tenang, dia mulai bicara perlahan, seketika raut wajah Nelson berubah menjadi sangat gelap dan cemas.
Nelson segera menghubungi beberapa digit nomor di ponselnya.
Terdengar suara dari seberang telepon. Ya, itu adalah suara Andre. β Pagi tadi putra sulungmu di temukan tengah meringis kesakitan dan tak sadarkan di taman hotel. Seorang pengunjung hotel membawanya ke sini. Aku baru mengetahuinya saat mencarinya.β Andre bicara dengan tidak berdaya.
β Lalu kenapa kau tidak memberitahuku lebih awal?β Nelson setengah berteriak.
Andre menarik napas beratnya lalu berkata. β Bagaimana bisa aku mengganggu orang yang tengah bahagia dan kelelahan setelah malam pengantinnya.?β
Saat Nelson mendengar penjelasan dari Andre dia pun terdiam, tak bisa berkata-kata lagi. Sejenak dia memijat dahinya yang pening itu.β
β Apakah kau bisa datang ke rumah sakit?β tanya Andre.
β Walau untuk saat ini dia belum siuman, tapi setidaknya kau harus di sampingnya,β Andre terus bicara sedangkan Nelson tidak bicara apa pun.
β Nelson..β Amdre setengah berteriak di seberang telepon menyadarkan Nelson yang tengah tenggelam dalam lamunannya.
β Aku akan segera ke sana, tolong jaga putraku,β pintanya, sedetik kemudian dia pun menutup teleponnya.
Perlahan Nelson menatap Dion yang masih terisak. Lalu berkata. β Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja. Berhentilah menangis, Ayah akan pergi menyusul Dean. Tunggulah di sini bersama ibumu. Ayah akan berangkat, jangan bicara apa pun padanya. Hari ini ayah akan meminta nenek untuk menjagamu selagi ibu sedang tidur, kau mengerti?β ucapnya.
__ADS_1
Dion menganggukkan kepalanya tanda dia mengerti semua perkataan Ayahnya.
Selesai memberi arahan pada Dion, Nelson kembali masuk kamar, di sana dia melihat Bella yang kembali tertidur, saking lelapnya dia bahkan tidak menyadari Nelson masuk.
Dia berganti pakaian dengan cepat, tidak lupa juga menempelkan sebuah memo, di depan kaca meja rias. Dengan lembut dia mengecup kening istrinya, seraya berbisik. β Aku pergi dulu,β Dia lalu pergi meninggalkannya.
Dion masih berada di luar kamar menunggu Ayahnya. Nelson menatap Dion lalu berkata. β Pergilah ke kamarmu, Ayah sudah bicara dengan Nenek. Jadi bersikap baik dan patuhlah, selagi Ayah tidak ada, kau mengerti bukan?β
Dion menganggukkan kepalanya, seraya berjalan kembali ke kamarnya. Setelah melihat Dion masuk kemarnya, dia bergegas meninggalkan hotel, menuju rumah sakit di mana putranya berada.
Mobil Bentley hitam miliknya melesat membelah jalanan pusat kota.
Di rumah sakit, Andre dan Oliver sangat cemas, karena Dean masih dalam keadaan tak sadarkan diri, walau sudah mendapatkan perawatan.
Terlihat raut wajah yang begitu muram, sesekali menatap pada ruang intensif. Dean masih saja belum siuman.
Tubuh Oliver bergetar hebat. Kedua telapak tangannya berkeringat. β Seharusnya aku tidak meninggalkannya. Seharusnya aku mendampinginya, menemani ke mana pun dia pergi.
β Aku..,β Oliver tidak melanjutkan kata-katanya, dia begitu menyalakan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Dean.
Andre mendekati Oliver, dia mencoba untuk menyentuh bahunya seraya berkata. β Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Mungkin ini sudah seharusnya terjadi, kita sudah tidak bisa apa-apa lagi. Kita hanya bisa berdoa, semoga tidak terjadi hal buruk padanya.β ucap Andre dengan suara yang begitu berat.
Oliver hanya menangis dengan suara yang tertahan. Dia mencoba untuk tetap tegar. Menyiapkan hatinya saat bertemu dengan Tuannya Nelson nanti.
Walau dia juga tidak tahu akan semarah apa Nelson padanya. Namun, dia sudah siap dengan kemungkinan terburuknya.
Andre dan Oliver masih menunggui Dean. Setibanya Nelson di rumah sakit, dia menatap dengan dalam pada Oliver yeng tertunduk tak berdaya.
β Bagaimana kondisinya?β Seketika Andre dan juga Oliver memalingkan pandangannya pada Nelson yang tengah berdiri di hadapan keduanya.
*
*
*
Terima kasih untuk dukungan ya guys. Jangan lupa tinggalkan jejak kalian dengan cara; like, vote dan komen. Sehat dan bahagia sll untuk readerku tersayang.πππͺπ₯°π«Άβ€οΈπΉ
Bersambung
__ADS_1