ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 125


__ADS_3

Evan dan Andre beranjak dari tempatnya. Bersiap melangkahkan kakinya keluar.


“ Tunggu.” teriak Nelson.


Evan dan Andre seakan mematung kala mendengar suara Nelson.


Nelson yang bangkit dengan susah payah, wajahnya menyiratkan seakan dia ingin memakan seseorang hidup-hidup. Dia merapikan pakaiannya, dan beralih pada Dean.


Di tatapnya dengan hangat wajah putranya yang masih pucat pasi itu. “ Apakah kau ingin minum? tanyanya.


Dean menelan salivanya. Tak pernah dia melihat ekspresi ayahnya yang sekarang di lihatnya. Dean menganggukkan kepalanya.


Nelson memberikannya segelas air. “ Minumlah, lekas tidur kembali, hari masih gelap,” perintahnya.


Dean segera meminum airnya, dan sesegera mungkin untuk memejamkan matanya kembali.


Bella masih terdiam di tempatnya kala menatap Nelson yang telah bangkit kembali.


Sedangkan Andre dan Evan menunggu nasib mereka, padahal mereka tidak melakukan kesalahan sama sekali. “ Apa yang kau inginkan?” tanya Andre.


Evan tidak ingin membuat keadaan makin ruyam sehingga dia memilih untuk tetap diam.


“ Ikut aku,” Ucap Nelson.


Evan dan Andre saling memandang satu sama lain, berharap tidak ada pertumpahan darah yang tidak di inginkan.


Nelson memijat kepalanya yang pening, karena kejadian sebelumnya. Di tambah dia hanya tidur sejenak.


Nelson bertanya dengan sedikit dingin. “ Jadi apakah kalian akan membicarakannya pada semua orang?”


“ Membicarakan apa? Kami bahkan tidak tahu apa maksud perkataanmu,” ucap Andre. Evan hanya menundukkan kepalanya seakan menerima apa yang akan di lakukan oleh Nelson pada mereka.


Nelson bingung menjelaskannya. Dia menghela napasnya, lalu melanjutkan perkataannya. “ Aku harap kejadian ini tidak sampai terdengar oleh yang lainnya. Jika tidak kalian tahu sendiri konsekuensinya,” ancam Nelson.


Mereka berdua menelan salivanya kala mendengar ancaman dari Nelson.


“ Aku tahu. Kami mengerti, kami tidak akan berkata apa pun, dan pada siapa pun,” ucap Evan. Seraya melakukan gerakan tutup mulut mereka beserta menguncinya dengan rapat.


Nelson menganggukkan kepalanya. “ Pergilah. Dapatkan sesuatu untuk di makan. Aku sudah terlalu lapar,” pintanya


“ Baik. Kalau begitu kami pamit,” ucap Andre. Seraya berlari kecil bersama Evan, meninggalkan Nelson.


Andre kembali melihat ke belakang, wajah Nelson masih terlihat. Dia mengedikkan bahunya seraya merinding.


“ Aku sama sekali tidak mengerti tentang sikapnya. Bagaimana kau bisa bertahan dengannya? Aku sama sekali tidak mengerti,” ungkap Andre.

__ADS_1


Evan teringat saat dulu. Di mana dia di selamatkan oleh Nelson.


“ Entahlah. Namun, aku tetap menyukainya,” ucap Evan.


“ Ah. Soal itu!” ucap Andre seraya berjalan.


Evan mengangguk-anggukkan kepalanya. Jika di pikirkan lagi sepuluh tahun sudah dia mengabdi pada Nelson. Semenjak kejadian dua belas tahun yang lalu. Evan seakan tidak bisa melepaskan dirinya dari Nelson.


“ Ah. Bisakah kau menceritakannya padaku? Tentang apa yang terjadi hari itu?” ucap Andre.


Evan menganggukkan kepalanya. Seraya mengikuti langkah Andre.


Di kamar Bella merasa bersalah karena sudah mendorong Nelson hingga jatuh.


“ Maafkan aku, aku tidak bermaksud mendorongmu,” ucapnya seraya menundukkan kepalanya.


Nelson menghampiri Bella, dia menarik lengan Bella agar tubuhnya mendekat padanya. “ Seharusnya aku yang minta maaf padamu, tak seharusnya aku berbuat seperti itu di sini,” ucapnya. Seraya mengusap lembut puncak kepala istrinya.


“ Maafkan aku karena tidak bisa mengendalikan diriku yang selalu ingin menyentuhmu, kau benar-benar candu bagiku.”


“ Hanya dengan memandang wajahmu saja, sudah membuatku bergairah, hanya perlakuan sederhana saja kau bisa membuatku terangsang. Rasanya aku ingin selalu bersamamu, aku tidak ingin melewatkan sedetik pun waktuku untuk memandangmu.”


“ Sebelumnya tidak ada wanita yang mampu membuatku tertarik. Tak ada yang mampu menyentuh ruang gelap di dalam hatiku.”


“ Hingga akhirnya aku bertemu denganmu, kau yang ceroboh. Namun, aku tetap menyukaimu.”


Bella seakan tenggelam dalam perkataan yang di lontarkan oleh Nelson. Dia pun merasakan hal yang sama dengannya.


“ Aku juga. Aku selalu ingin bersamamu, kau yang pertama. Kau yang membangkitkan rasa cinta itu. Kau yang membuatku percaya kembali akan kehangatan cinta.”


“ Kau yang mengingatkanku bahwa suatu hubungan tidak selalu berakhir dengan kepedihan, dan rasa sakit yang mendalam,” ungkap Bella.


Nelson tersenyum lembut, menanggapi perkataan istrinya. Yang seakan berterima kasih karena bertemu dengannya.


Keduanya sama-sama tidak ingin berpisah. Ingin selalu bersama, menikmati hari-hari yang indah bersama. Merawat kedua putranya bersama. Hingga maut memisahkan mereka.


Andre dan Evan kembali ke kamar. Untuk memberikan makanan pada Nelson.


“ Presdir ini makanannya,” ucap Evan. Seraya menyerahkan enam kotak makanan serta buah. Dan juga jus kesukaan Dean serta Dion.


Nelson menganggukkan kepalanya.


“ Kami akan makan di luar,” ucap Evan.


Bella yang merasa tidak nyaman pun berkata. “ Makanlah di sini bersama kami, lagi pula ruangannya cukup besar.” Pinta Bella.

__ADS_1


Andre tersenyum, dia berkata. “ Tidak perlu. Kami akan pergi makan di luar saja. Kalian makanlah,” ucapnya.


Bella tidak tahu harus bicara apa lagi? Mengingat dirinya tidak begitu akrab dengan sahabat suaminya. Walaupun mereka terlihat baik. Namun, tetap saja ada kesenjangan di antara mereka.


“ Jika kau butuh sesuatu, kami berada di taman rumah sakit,” ucap Andre.


Nelson mengisyaratkan mereka untuk segera pergi dengan mengerakkan tangannya.


“ Kau lihat bukan? Perlakuannya pada wanita sangat lembut. Mengapa pada kita dia selalu tidak ramah,” ucap Andre.


Evan hanya tersenyum kala mendengar kekesalan dari Andre.


“ Ada apa denganmu? Kau selalu tersenyum kala aku kesal pada Nelson,” ungkap Andre.


“ Bukankah Nelson menakutkan? Dia bisa membunuhmu seketika ketika kau melakukan kesalahan,” ucap Andre.


Evan hanya melirik Andre. Kemudian duduk di bangku taman. Dia menyalakan pemantik rokok. Di hisapnya perlahan. Andre yang memperhatikannya pun ikut menyalakan rokok di tangannya.


“ Kau tidak tahu jika Presdir tidak semenakutkan seperti yang orang lain katakan,” ucap Evan


Andre semakin tidak mengerti, tentang apa yang dibicarakan oleh Evan. “ Lalu seperti apa dia? Yang ku tahu hanyalah Nelson adalah orang yang dingin.


“ Dia tidak mengenal kata ampun kala melawan musuhnya. Di medan perang juga dia adalah salah satu prajurit terbaik di peletonnya.”


“ Dia bahkan ditakuti oleh musuh yang setiap kali berhadapan dengannya. Musuhnya selalu menghilang tanpa jejak.”


Evan hanya tersenyum kala mendengar cerita Andre. Karena pada dasarnya adalah, Evan di selamatkan oleh Nelson. Saat terjadi konflik besar dengan anggota militan.


“ Izinkan aku menceritakan kisahku saat aku pertama kali bertemu dengannya.” ucap Evan.


“ Saat itu aku adalah seorang informan. Namun entah apa yang terjadi, aku pun jadi sandera.”


“ Aku di pukuli habis-habisan. Kulitku dibakar oleh rokok yang menyala.”


“ Mereka terus berusaha mengorek informasi dariku. Namun, aku diajarkan untuk tidak membuka mulutku. Sekritis apa pun keadaanku. Aku tidak boleh membuka mulutku.”


“ Hingga di hari ke seribu. Jenderal yang di kenal bertangan dingin itu datang menyelamatkan diriku.”


“ Saat itu aku bersama tiga rekanku. Yang kondisinya lebih baik dariku. Mereka masih bisa berjalan normal, tidak seperti diriku yaang sudah begitu lemah.”


“ Yang lainnya sudah berhasil di selamatkan. Hanya tinggal aku seorang. Aku tidak bisa keluar dengan mudah.”


“ Aku saat itu telah berdoa. Ya Tuhan jika hidupku hanya sampai di sini, berikanlah aku kedamaian, dan berikanlah ketabahan bagi keluargaku.”


“ Aku sudah merelakan hidupku pada Tuhan. Karena menurut orang lain Nelson tidak peduli dengan orang lain. Dia selalu sendirian. Tidak ada harapan bagiku untuk diselamatkan olehnya.”

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2