
Di malam itu jalanan begitu sepi. Tidak banyak orang maupun kendaraan yang berlalu lalang karena hujan.
Drrrttt… Drrrttt… Drrrttt. Ponsel Bella berbunyi dan bergetar.
Bella meraih ponselnya yang berada di dalam tasnya. Bella tersenyum kala menatap layar ponselnya. Terlihat nama yang tertera adalah Nelson.
Bella menjawab. “ Halo. Suamiku?” ucapnya.
“ Istriku. Aku sangat rindu padamu. Apakah kau sudah selesai? Apakah sudah makan malam? Nelson bertanya dengan sedikit nada manja.
Bella merasa hatinya sangat hangat kala mendengar suara lembut Nelson. Dia merasa begitu di pedulikan oleh Nelson, kala Nelson menghubungi dan berkata rindu padanya.
Bella menjawab. “ Aku sedang dalam perjalanan pulang. Tunggulah sebentar,” ucapnya.
“ Sepertinya di sana sedang turun hujan? Apakah kau membawa payung?” Nelson bertanya.
“ Bagaimana kau tahu? Di sini sedang hujan?” Bella bertanya-tanya.
“ Tentu saja aku tahu. Suara gemuruh hujannya begitu terdengar dengan jelas di telingaku,” ungkap Bella.
“ Tunggulah sebentar. Aku akan segera pulang,” ucap Bella.
“ Kau pasti kedinginan menunggu di sana sendirian? Apakah aku perlu menjemputmu? Ucap Nelson.
“ Ah. Tidak… tidak perlu. Lagi pula sebentar lagi busnya tiba,” ucapnya.
Tiba-tiba ponsel Bella mati karena kehabisan daya. Bella tidak bisa menghubungi Nelson kembali.
“ Ah sial. Kenapa harus mati? Aku bahkan belum bicara banyak pada Nelson,” umpatnya. Seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam tasnya.
Setelah menunggu cukup lama bus pun tak kunjung datang. Karena hujannya sangat deras, taksi pun sulit untu di berhentikan.
Ketika keputusasaan melanda, sang penyelamat pun tiba. Sebuah mobil Maserati hitam berhenti di depan Bella. Seseorang turun dari mobil menggunakan payung hitam, di sebelah tangannya menggenggam sebuah payung dan berjalan ke hadapan Bella.
“ Nyonya. Saya menjemput Anda, silahkan naik ke mobil,” ucap Roy.
Bella masih terpaku kala melihat Roy memegang payung.
“ Nyonya,” Roy sedikit berteriak.
Bella yang baru saja tersadar dari lamunannya pun, segera berjalan menuju mobil seraya di payungi oleh Roy.
Setelah Bella masuk mobil. Roy pun berputar untuk masuk dan duduk di kursi kemudinya, setelah menutup payung yang basah.
“ Nyonya, saya akan menyalakan penghangat agar Nyonya tidak kedinginan, “ ucap Roy.
Bella hanya menganggukkan kepalanya, seraya bertanya. “ Apakah Nelson yang memintamu untuk menjemputku?”
Roy dengan tegas berkata. “ Tuan muda meminta saya untuk menjemput Nyonya. Karena ponsel Nyonya tidak bisa di hubungi,” ucap Roy.
Bella tersenyum kala tahu Nelson yang memintanya untuk menjemput dirinya.
Roy bertanya padanya. “ Nyonya, ke rumah sakit, atau kembali ke mansion?”
__ADS_1
“ Kerumah sakit saja. Lagi pula Dion ada di sana.” Ucap Bella.
“ Bagaimana kau tahu, aku berada di kawasan itu.” Ucap Bella.
Roy sedikit bingung, dengan asal dia berkata. “ Tuan muda yang meminta saya untuk menjemput Anda,” ucap Roy.
Setelah menentukan tujuan. Akhirnya mobil melesat cepat di jalanan yang sepi pengendara.
Tok… tok… tok… suara pintu di ketuk.
“ Masuk,” ucap Nelson.
Segerombolan orang masuk ke dalam ruangan, Nelson yang melihat mereka hanya diam tak bicara apa pun.
“ Hei. Mengapa kau murung seperti itu? Ucap Andre.
Ronald bertanya. “ Apakah kau kecewa karena kami yang datang?”
Robin berkata. “ Sungguh aku tidak percaya kau sakit? Ungkapnya.
“ Diamlah sebelum aku lempar kalian keluar,” suaranya pelan. Namun terasa begitu mengancam.
Yohan segera menengahi mereka dengan berkata. “ Apakah kami mengganggu tidurmu? tanyanya.
Ronald berkata. “ Ayolah. Jangan bersikap dingin seperti itu?”
“ Bahkan saat sakit pun kau tetap menakutkan,” ujar Robin.
Nelson dengan dingin berkata. “ Berhentilah bicara. Putraku sedang tertidur.”
“ Ayah. Mengapa begitu ramai?” Dion yang terbangun karena mendengar keributan.
Semua orang saling menatap pada Dion yang berjalan menghampiri Nelson.
“ Mengapa kau bangun?” Nelson bertanya dengan lembut dan perhatian.
Dion mencoba menaiki ranjang Nelson untuk bisa berbaring bersama.
Dion membenamkan wajahnya pada dada bidang Nelson. Tanpa menekan lukanya.
Nelson bertanya. “ Apakah kau masih mengantuk?”
“ Emmm. Hanya sedikit,” ucap Dion.
“ Siapa dia?” Yohan bertanya.
“ Putraku,” jawab Nelson.
“ Dari mana kau mendapatkan putra yang begitu tampan ini?” Ucap Ronald penasaran.
“ Nak. Apakah paman ini menculikmu?” Robin bertanya dengan sedikit mengejek.
“ Aw,” teriak Robin. Karena di pukul oleh Andre.
__ADS_1
Andre berkata. “ Jangan bicara sembarangan. Bisa-bisa besok kau dibuat menghilang olehnya.”
“ Anak ini adalah putranya. Bahkan Bos kita ini memiliki satu orang putra lagi. Namun, aku tidak melihatnya?” ungkap Andre.
“ Ada satu lagi?” Yohan sedikit terkejut kala mengetahui kebenarannya.
“ Andre. Bagaimana kau tahu bahwa anak ini milik Nelson?” Ronald bertanya dengan penasaran.
“ Tentu saja aku tahu. Aku bahkan tahu siapa wanita yang beruntung mendapat benih darinya,” Andre sedikit menggoda Nelson.
Nelson hanya diam tidak bicara sepatah kata pun.
“ Lalu di mana putramu yang satunya lagi?” tanya Yohan pada Nelson.
Dengan dingin dia berkata. “ Dia sedang di Quebec, Kanada.”
Robin lebih kaget karena Nelson mengirim putranya ke luar negeri. “ Apa! Mengapa kau mengirim putramu ke sana?”
“ Andre ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi?” ucap Ronald.
Andre tidak berani bicara lagi. Karena Nelson menatapnya seakan ingin membunuhnya.
“ Ah. Tanya saja langsung padanya,” ucap Andre.
“ Sebaiknya kalian berhenti,” Nelson sedikit menaikkan nada bicaranya.
Seketika semua orang pun terdiam. Nelson kembali bicara. “ Apakah dari kalian tidak ada yang memberi hadiah satu pun pada putraku?”
Seketika semua orang sibuk menelepon.
“ Halo. Kirimkan semua koleksi action figur di toko kita ke rumah sakit H sekarang,” ucap Yohan.
“ Halo. Bawakan aku dua unit mobil anak terbaru koleksi showroom kita ke rumah sakit H sekarang,” ucap Robin.
“ Halo. Kirimkan dua set mainan terbaru andalan kita ke rumah sakit H sekarang juga,” ucap Ronald.
“ Halo. Kirimkan dua set laptop Gaming terbaru koleksi kita, dan kirimkan ke rumah sakit H sekarang,” ucap Andre.
“ Baiklah, ini hanya sebagian kecil hadiah dari kami untukmu pangeran kecil,” ucap Andre.
Dion yang mendengarkan pembicaraan orang dewasa itu pun segera bangkit. Dan berkata. “ Apakah itu semua untukku, dan kakakku?” ucapnya.
Andre segera menjawab. “ Tentu saja. Itu hanya sebagian hadiah yang akan kau dapatkan dari kami,” ucapnya.
Dion dengan semangat berkata. “ Sungguh?”
Dion bertanya. “ Ayah apakah paman-paman ini akan memberikan semua hadiah itu padaku dan kakak?”
Nelson menjawabnya dengan lembut, dan penuh kehangatan. “ Tentu saja, Nak. Jika kau menginginkan yang lebih dari mereka ini. Mereka tetap akan berusaha memberikannya,” tatapan Nelson semakin tajam pada para sahabatnya.
“ Tentu saja kami akan memberikan apapun padamu,” ucap Andre. Dalam batinnya dia berkata. “ Jika tidak ayahmu yang akan membunuh kami semua.”
“ Bos. Bolehkah aku menggendong Dion?” ucap Yohan.
__ADS_1
Bersambung