
Nelson bertanya. “ Mom, bagaimana menurutmu tentang Dean dan Dion? Apakah menurutmu mereka seperti diriku saat kecil?”
Sandra menjawab, “ Ya, mereka seperti dirimu semasa kecil, terutama Dean. Dia seperti dirimu versi mini.”
Nelson berkata. “ Mom, beberapa hari yang lalu, Dean mengalami kecelakaan di kamar hotel, dia mengalami pendarahan saat itu, dan membutuhkan donor darah, kebetulan golongan darahku sama denganya. Jadi aku putuskan untuk melakukan tes DNA, dan hasil yang tidak terduga pun muncul, dan ya. Disana tertulis Dean adalah putra kandungku, Mom!”
Sandra seketika terdiam, dia bingung mengungkapkan perasaannya, bagaimana tidak cucu yang selama ini dia harapkan berada di depan matanya, bahkan mereka telah tinggal satu atap bersama.
Sandra dengan kaget berkata, “ Apa….! Ja-ja-di Dean adalah putra kandungmu? Anak-anak itu adalah cucu Mommy? Kau tidak bercanda bukan?”
Nelson menjawab. “ Ya, mereka adalah putra kandungku, namun aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan ?”
Sandra berkata. “ Tentu saja, kau harus segera meresmikan pernikahan kalian agar orang-orang tahu istri dan anak-anakmu! Apa lagi yang kau tunggu?”
Nelson berkata. “ Tapi Bella belum tahu jika aku adalah ayah biologis dari kedua putranya. Aku takut setelah dia tahu Bella tidak menerimaku, aku takut jika dia akan meninggalkanku dan membawa anak-anak pergi dariku!”
Sandra mencoba menenangkan putranya Nelson, dengan lembut dia berkata. “ Kau harus mencoba menjelaskan apa yang terjadi, jangan biarkan dia tahu kebenarannya dari orang lain, karena itu akan membuatnya terluka. Beranikan dirimu, jangan menyerah ketika kau mendapatkan sebuah penolakan. Karena seorang pria pantang menyerah, dan juga harus rela berjuang untuk mendapatkan sesuatu yang sangat berharga. Jdi cobalah untuk membicarakannya dengan baik-baik bersama Bella.”
Nelson berkata. “ Setelah aku kembali, aku akan membicarakan masalah ini dengan Bella.”
Sandra bertanya. “ Lalu bagaimana keadaan Dean sekarang? Apakah dia baik-baik saja?”
Nelson menjawab. “ Ya, dia sekarang sudah stabil. Namun, dia ingin segera keluar dari rumah sakit, dia memilih untuk dirawat di kamar Hotel, mungkin dia sudah bosan berada di rumah sakit!”
Sandra berkata. “ Syukurlah, jika Dean sudah membaik! Jika bisa dirawat di kamar hotel maka lakukanlah permintaannya. Jangan menunggu apa-apa lagi. Masalah biaya bukan masalah bagi kita, Nak! Karena pada dasarnya kenyamananlah yang nomor satu. Jadi kapan rencara kalian akan kembali ke sini? Mommy dan Ayahmu sudah merindukan Dean, jadi cepatlah kembali.”
Nelson berkata dengan sedikit ragu, “ Jika keadaan Dean sudah kembali normal, dan stabil, aku akan membawa Dean kembali pulang.”
__ADS_1
Sandra berkata. “ Baiklah jika begitu, Mommy harap kalian baik-baik di sana, sebaiknya kau istirahat, bukankah d sana pukuk 02:30 pagi. Kau pasti tidak tidur karena harus menjaga Dean?”
Nelson menjawab dengan suara yang sedikit parau, dia berkata. “ Ya, aku akan segera tidur. Aku tutup pembicaraannya ya Mom, semoga semuanya berjalan dengan lancar. Nelson pun menutup panggilannya.
Dia pergi menuju kamar mandi, seketika dia melihat dirinya di cermin, terlintas wajah Nelson yang berantakan. Dalam hatinya bergumam, “ Ahh, ini belum seberapa dengan rasa sakit yang Dean derita selama ini.”
❤️❤️❤️❤️❤️
Di pagi harinya Dean terbangun, dia menatap Nelson yang masih tertidur di sofa, Dean baru pertama kali melihat keadaan ayahnya yang begitu berantakan. Dean hanya tersenyum, dalam benaknya terlintas. “ Mungkin dirinya tidak akan pernah lagi melihat ayahnya dalam keadaan seperti itu, tidak akan merasakan lagi bagaimana dia mencintainya dengan tulus, dia merasa waktunya semakin menipis.
Tok… tok… suara pintu kamar di ketuk dari luar.
“ Selamat pagi, apakah tidurmu nyenyak?” ucap seorang perawat wanita.
Dean dengan sedikit berbisik betkata. “ Bisakah kau bicara dengan pelan? Ayahku baru saja tertidur.”
Sang perawat pun, mengalihkan pandangannya pada ranjang sebelah, dan terlihatlah pemandangan yang membuat wanita salah tingkah. Nelson tertidur dengan kancing kemeja yang terbuka, yang mana memperlihatkan dada bidang milik Nelson, walaupun dalam keadaan tertidur, namun wajahnya tetap terlihat tampan. Penampilan berantakan Nelson bahkan masih menarik perhatian para perawat wanita yang datang untuk memeriksa keadaan Dean.
Dean menjawab dengan sedikit tersenyum, “ Untuk sekarang, semuanya baik-baik saja! Hanya saja, apakah aku bisa mendapatkan perawatan diluar rumah sakit?”
Perawat kembali berkata. “ Syukurlah jika kau tidak merasakan sakit lagi, untuk permintaanmu sebaiknya kau membicarakannya dengan dokter yang bertanggung jawab untukmu, dan untuk ayahmu. Aku akan berbicara dengannya. Mengerti?”
Dean hanya menganggukkan kepalanya.
Perawat pun pergi meninggalkan Dean. Kala Nelson terbangun, dia telah melihat Evan dalam pandangannya. Evan telah datang seraya membawakan makanan, serta pakaian untuk ganti Nelson dan Dean.
Nelson bertanya. “ Kapan kau sampai? Apakah kau membawakan apa yang aku minta?”
__ADS_1
Evan menjawab. “ Baru saja, tentu Presdir. Semua yang Anda butuhkan sudah tersedia!”
Nelson melirik barang bawaan yang berada di meja, dia pun menganggukkan kepala seraya berkata pada Dean. “ Kenapa kau sudah bangun? Ini masih terlalu pagi untukmu, Nak!”
Dean tersenyum seraya berkata. “ Ah, aku baru saja bangun. Matahari sudah cukup tinggi bukan? Sehingga waktunya untuk bangun. Lagi pula kita akan kembali ke hotel hari ini!”
Nelson sedikit menyela perkataan putranya. “ Hei jagoan, kau ini seenaknya saja memutuskan sesuatu, padahal ayah saja belum memberikanmu izin!”
Dean sedikit menunduk, dengan enggan dia berkata. “ Baiklah, aku tahu!”
Nelson kembali berkata. “ Ayah akan mencoba berbicara dengan doktermu, jika mereka mengizinkannya, kita akan kembali ke hotel, dan kau akan dirawat di dalam kamar hotel secara intensif.” Nelson melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri.
Saat Nelson selesai mandi. Dia melihat begitu banyak makanan yang telah tersaji di meja, Nelson melihat Dean yang sedan menyantap makanannya dengan lahap, membuatnya tersenyum bahagia karena tujuh hari yang lalu adalah pertaruhan hidup dan matinya.
Dean memanggilnya seraya berkata. “ Ayah kemarilah, makanlah bersamaku dan paman Evan.”
Nelson menghampiri mereka berdua, dan duduk di samping Dean, dengan cekatan Dean menyuapi ayahnya.”
Dean bertanya, “ apakah enak?”
Nelson menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Mmm…enak.”
Nelson menatap putranya, wajahnya kini berseri kembali, senyuman lembut menghiasi wajahnya yang kuyu. Jika mengingat malam tadi betapa menderitanya dia. Makanan yang telah di makan, kembali di muntahkannya. Sungguh membuat hati yang melihatnya begitu pilu.
Nelson kemudian berkata. “ Baiklah, ayah akan menemui doktermu untuk membicarakan keinginanmu dirawat dì hotel, ayah pergi dulu sebentar, ayah akan segera kembali ke sini.”
Setelah Nelson pergi Dean mendekat pada Evan, dengan mata yang sedikit jahil dia bertanya . “ Paman Evan, pasti sangat sulit disamping ayahku bukan?”
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung