ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 193


__ADS_3

Di dalam kamar Bella tengah duduk di kursi meja rias yang berada di walk in closet, rambutnya masih basah. Nelson yang baru selesai mandi itu tertegun kala melihat gaun tidur istrinya yang transparan sehingga memperlihatkan lekuk tubuhnya yang indah. Nelson tersenyum kegirangan, dia mengambil alat pengering rambut yang di pegang oleh Bella.


“ Biar aku saja,” ucapnya. Seraya berdiri di belakang Bella, dengan cekatan Nelson mengeringkan helai demi helai rambut istrinya. Tak berapa lama setelah rambutnya kering Nelson segera menciumi leher jenjang Bella. Napas yang memburu terdengar jelas di telinga Bella. Sedangkan Bella tengah terbawa arus permainan suaminya yang semakin berani, tubuhnya di balik dan didudukkan di atas meja rias sehingga Bella berhadapan dengan Nelson, Nelson terus mencumbunya tanpa henti membuat Bella melayang di setiap inci bagian tubuhnya yang di sentuh oleh suaminya.


Rasanya begitu panas, napas yang memburu dari keduanya semakin menambah gairah keduanya, tak terasa tubuh Bella sudah polos tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya.


“ Istriku aku menginginkanmu!” Nelson berbisik di sebelah telinga Bella membuat wajahnya kian memerah karena ucapan suaminya.


“ Jangan di sini,” pinta Bella dengan manja. Dengan senyum kepuasan Nelson segera menggendong Bella ala bridal style menuju tempat tidurnya. Mereka menghabiskan malam dengan bercinta sampai pagi, mengingat semenjak insiden penculikan Dean dan Dion mereka sudah lama tidak melakukannya, sehingga malam itu Nelson melampiaskan hasratnya yang terpendam untuk mengeksekusi istrinya Bella.


Di pagi hari yang cerah, cahaya matahari yang hangat perlahan mengintip di antara celah tirai jendela kamar Nelson dan Bella, dengan lembut menyinari wajah cantik Bella. Kulitnya yang seputih salju itu bersinar kala cahaya mentari menyinarinya, pelan-pelan dia membuka matanya hal pertama yang dia lihat adalah wajah tampan Nelson yang tengah berbaring di sampingnya.


Wajahnya begitu tenang dan manis, membuatnya tak bisa memalingkan pandangannya. Sungguh indah bahkan saat tertidur pun tidak mengurangi ketampanannya, dengan pelan dan tanpa suara Bella mencium bibir suaminya dengan lembut, tiba-tiba kedua mata Nelson terbuka dan membuatnya terperanjat kaget.


“ Pagi, istriku,” ucap Nelson lembut. Bella sedikit gelagapan, dia malu tertangkap basah saat mencuri ciuman darinya. Dia hanya tersipu seraya menundukkan kepalanya. Nelson dengan lembut mengangkat dagunya dengan tangannya yang besar sehingga wajah Bella kini memandang Nelson, bulu matanya bergetar saat berkedip membuat Bella makin terpesona padanya.


Nelson mengecup lembut puncak kepala Bella lalu dengan sekejab dia membopongnya kedalam kamar mandi, Bella hanya terdiam di dalam pangkuan Nelson karena dia sudah tahu apa yang akan terjadi selanjutnya di sana. Setelah selesai memadu kasih di bawah shower, Bella segera dibawa ke bak mandi untuk dimandikan dengan lembut Nelson menggosok punggung putih istrinya. Begitu pula sebaliknya.


Setelah selesai mandi dan memakaikan sebuah gaun berwarna Nude ke tubuh istrinya Nelson berkata. “ Sudah waktunya untuk sarapan, apa kamu ingin turun ke bawah?” Bella hanya menggelengkan kepalanya pelan.


“ Baiklah, aku akan meminta pelayan untuk memgantarkan makananmu.” Nelson mengecup lembut kening istrinya sebelum dia melangkah pergi.


Akhirnya Bella dapat bernapas lega setelah suaminya keluar kamar, sejak semalam hingga pagi ini Nelson tanpa henti mengerjainya tanpa ampun membuat sekujur tubuhnya lelah dan sakit, bahkan tubuh bagian bawahnya terasa ngilu saat hendak berjalan.


Bella mendengus kesal, dia melirik pada cermin terlihat dengan jelas kiss mark yang diberikan oleh Nelson padanya.


“ Aish, kenapa banyak sekali?” Bella terus memandangi jejak percintaan mereka semalam. Dia kembali memjatuhkan tubuhnya di tempat tidur.


Di ruang keluarga Oliver tengah menemani Dean dan Dion, di meja tampak sudah banyak tersedia obat-obatan milik Dean. Seberkas senyum bersinar di wajah Dean, dia tampak bahagia saat bersenda gurau bersama Oliver dan juga Dion. Nelson berjalan menuruni tangga dia menatap intens kepada mereka yang berada di ruang keluarga, sudah lama sekali dia tidak merasakan perasaan hangat ini lagi.


“ Apa yang sedang kalian lakukan?” Nelson perlahan mendekati mereka. Dion yang melihat ayahnya datang segera berhambur kepelukannya, memeluknya begitu erat. Sedangkan Dean hanya duduk di sofa tidak beranjak dari sana.


“ Selamat pagi Tuan,” Oliver menyapa dengan sopan dan hormat padanya. Nelson hanya menganggukkan kepalanya seraya menggendong Dion di pelukannya.


“ Apa tidurmu nyenyak?” Nelson bertanya pada Dion.

__ADS_1


“ Ehm, tidurku sangat nyenyak karena kakak bersamaku.” Ucapnya dengan penuh kegembiraan.


“ Lalu bagaimana denganmu, Nak?” Nelson mengalihkan pandangannya pada Dean yang sedang duduk.


“ Tidurku baik,” hanya itu yang keluar dari mulut Dean. Nelson menghela napasnya.


Kepala pelayan menghampiri ke ruang tamu, memberitahu bahwa sarapan pagi sudah siap di meja makan. Nelson berkata. “ Buatkan sup sarang burung walet untuk istriku, dan antarkan makanannya ke kamar, dia sedikit kurang sehat.” Kepala pelayan pun segera menyiapkan apa yang di minta oleh Tuan mudanya.


“ Ayo kita makan,” Nelson mengajak yang lainnya untuk segera ke meja makan. Oliver dan Dean mengikuti langkahnya. Di meja makan sudah tersaji banyak makanan lezat.


“ Wooah,” Dion berdecak kagum saat melihat hidangan yang tersaji di hadapannya. Nelson hanya tersenyum lembut saat melihat putranya seperti itu. Dia segera duduk dan makan dengan lahap. Sesekali Nelson mengambil lauk lalu menyerahkannya pada kedua putranya secara bergantian. Mereka makan dengan tenang.


Seesai sarapan Nelson beserta kedua putranya dan juga Oliver tengah berbicara di ruang keluarga, sembari menunggu Oliver selesai mengurus obat yang harus di minum oleh Dean, Nelson dengan gembira mengajak Dion bermain. Tak lupa juga dia memperhatikan Dean yang menelan obatnya satu persatu kedalam mulutnya.


“ Apa sudah selesai?” Nelson bertanya pada Oliver yang sedang membenahi botol-botol obat yang ada di meja.


“ Sudah Tuan,” sahutnya. Nelson menganggukkan kepalanya.


“ Ayah bisakah kita membuka ini?” Dion membawa sebuah hadiah yang di bungkus dengan kertas merah yang cukup indah. Nelson berbalik padanya lalu mengisyaratkan bahwa dia boleh membukanya.


“ Bagaimana dengan kepalamu, Nak?” Nelson bertanya seraya mendekatkan dirinya pada Dean.


“ Tidak apa-apa, sudah membaik. Tidak ada yang perlu di khawatirkan!” Dean memberikan senyum yang hangat padanya. Nelson mengelus puncak kepala Dean yang mulai di tumbuhi banyak rambut dengan lembut.


“ Apa kau ingin ikut membuka hadiah bersama dengan Dion di sana?” Seraya menunjuk ke arah Dion yang asyik membuka satu persatu hadiah yang di dapat dari anggota keluarga serta kerabat dekat. Dean bangkit dari duduknya lalu melangkah menuju Dion di ikuti Nelson yang berada di belakangnya.


Tok.. tok.. tok.


Seorang pelayan mengetuk pintu kamar, lalu berkata. “ Nyonya, saya memgantarkan sarapan.”


“ Masuklah,” Bella berkata dengan sedikit malas, dia bangun dari tidurnya. Tampak seorang pelayan masuk sembari memegang nampan makanan. Di situ ada banyak hidangan dan juga sup sarang burung walet, Bella hanya menyeringai penuh arti.


“ Nyonya, Tuan berpesan agar Nyonya menghabiskan makanan serta supnya.” Ujar sang pelayan. Bella pun memakan makanannya secara perlahan hingga makanannya habis. Sang pelayan pun pergi setelah Bella menyelesaikan makanannya.


“ Ah, perutku kenyang sekali.” Bella duduk di dekat jendela.

__ADS_1


“ Sudah lama sekali aku tidak tidur dengan nyenyak, dan makan lahap seperti ini.” Bella memandang langit yang cerah itu, memanjatkan puji syukur pada Tuhan karena bisa melewati masa-masa sulit itu seraya tersenyum.


Bella menenggelamkan wajahnya di antara tempat tidur dan selimut akan tetapi dia teringat pada kedua putranya, karena dia belum bertemu dengannya pagi ini. Dia merapikan diri seraya menutupi bekas kiss mark yang ada di lehernya. Lalu melangkah keluar menuju lantai bawah, sejak menuruni anak tangga pandangannya sudah tertuju pada orang-orang yang sedang bersuka cita membuka setiap bungkusan hadiah yang berada di sisi lain ruang tamu. Gelak tawa mereka membuat hati Bella begitu tenang dan damai.


“ Kenapa tidak mengajak ibu? Saat kalian tengah bersenang-senang!” Bella berjalan menghampiri mereka. Namun tak ada seorang pun yang menyambut kedatangannya. Bella sedikit cemberut menatap tajam pada suaminya. Akan tetapi Nelson berlagak polos seakan tidak tahu mengapa anak-anaknya bersikap seperti itu.


Bella mendengus kesal, dia berbalik ingin mengambil segelas air untuk menenangkan pikirannya. Di belakangnya Dean, Dion dan Nelson tengah bersiap memeluknya dan mereka bertiga pun berhambur memeluk Bella dari belakang secara bersamaan. Bella sedikit kaget dia tersenyum bahagia saat melihat tawa lepas dari ketiganya.


Dion membawa ibunya duduk di sofa, sedangkan Nelson mengambilkan segelas air di dapur untuk istrinya. Saat dia menuangkan air tampak gelak tawa dari Bella dan kedua putranya yang tengah menjahili ibunya. Kepala pelayan dan para pelayan pun mengamati mereka, kini suasana di dalam rumah itu kembali hidup setelah beberapa waktu lalu meredup karena insiden mengerikan menimpa keluarganya.


Nelson berjalan menghampiri mereka membawakan segelas air pada istrinya. Bella dengan senang hati meraih gelas yang di berikan oleh suaminya.


“ Terima kasih,” Bella tersenyum lembut pada Nelson.


“ Apa kamu tidak bekerja?” Tanya Bella karena sedikit heran suaminya berada di rumah padahal bukan hari minggu.


“ Kenapa kamu berkata seperti itu, aku hanya ingin menghabiskan waktuku bersama kedua anak dan juga istriku, apa tidak boleh?” Nelson berkata dengan nada suara yang terdengar kesal. Dean yang melihat kenakalan kecil ibunya itu segera menggenggam erat tangan Ayahnya.


“ Jangan dengarkan Ibu, Ayah.” ucap Dean, seraya mengedipkan salah satu matanya.


“ Aish, anak nakal ini.” Bella bersiap pura-pura menggertak Dean. Akan tetapi di hentikan oleh Nelson. Dia mengisyaratkan bahwa Dean tidak boleh di pukul ataupun di gertak olehnya. Bella hanya mendengus kesal karenanya. Dia tidak bisa menang melawan putra sulungnya dan juga suaminya.


Dion tertawa cekikikan kala melihat ibunya kesal karena tingkah saudaranya dan juga Ayahnya sendiri.


“ Kemarilah ibu, aku akan memelukmu sekarang!” Dion melebarkan kedua lengannya bersiap menerima tubuh ibunya. Bella terharu oleh perkataannya dia pun berhambur menuju tubuh kecil Dion yang sudah menunggunya. Nelson hanya tertawa kecil melihat tingkah keduanya. Begitu pula dengan Dean, dia hanya tersenyum menontonnya tanpa mau ikut bergabung ke dalam sana.


“ Kau dan kakakmu adalah anak yang baik,” bisik Bella di sebelah telinganya, Dion hanya tersenyum menanggapi perkataan ibunya.


*


*


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2