
Nelson kembali berkata. “ Elena Shen adalah mantan istriku, aku menceraikannya karena dia mengkhianatiku. Dia adalah wanita yang aku nikahi setelah empat tahun mencarimu. Namun, aku tidak bisa merasakan apa yang aku rasakan saat bersamamu.”
“ Jika saja saat itu aku tahu kau Bella Xia, aku akan menjemputmu dan membawamu pulang bersamaku. Jika aku tahu kau mengandung anakku, aku pasti akan menjaga dan memenuhi keinginanmu.”
“ Aku tidak akan membuatmu menderita, jika saat itu kau bersamaku, orang-orang tidak akan meremehkanmu, bahkan mereka tidak akan berani menyinggungmu.”
“ Maafkan aku karena aku tidak bisa menemukanmu, tidak bisa menjagamu saat kau sedang hamil. Maafkan aku karena telah membuatmu menderita selama ini. Maafkan aku karena membiarkanmu hidup susah bersama kedua putraku. Maafkan aku karena membiarkanmu bekerja keras untuk mencari nafkah untuk kedua putra kita. Maafkan aku kerena tidak bisa melindungi kalian. Maafkan aku karena tidak ada saat putra kita lahir. Sungguh aku sangat menyesal karena tidak mencarimu lebih keras lagi. Maafkan aku istriku, sungguh aku sangat menyesal,” ungkap Nelson.
Bella terlihat berkaca-kaca kala mendengar perkataan Nelson. Dirinya sangat terharu kala Nelson menyesali atas semua yang terjadi.
“ Aku tidak pernah menyalahkanmu, sama sekali tidak menyalahkanmu. Dalam benakku selalu terlintas bayangan saat kau menggagahiku tanpa henti. Saat sentuhan lembutmu menyentuh dasar kulitku, itu selalu menjadi mimpi burukku setiap malam.”
“ Ayahku mengusirku dari rumah, aku mendapat perlakuan yang buruk dari semua orang yang mengenalku. Mereka memperlakukanku seperti seorang yang sangat hina. Aku sangat putus asa saat itu, di saat aku mengandung, mempertahankan kehamilanku seraya bekerja untuk mendapatkan uang.”
“ Bukannya aku membencimu karena merenggut kesucianku. Namun, aku lebih membenci diriku yang tidak tahu siapa dirimu.”
“ Aku tidak bisa menceritakan seperti apa pria yang menjadi ayah dari anak-anakku? Aku tidak bisa menjawab saat kedua putraku bertanya tentang siapa ayahnya? Seperti apa rupa ayahnya? Pekerjaannya apa? Aku tidak bisa menjawabnya sama sekali.”
“ Terkadang aku selalu membentak mereka ketika aku lelah bekerja. Namun, mereka yang masih balita kekeh bertanya siapa ayahnya?”
“ Setelah aku memarahi mereka, aku menangis sendirian, aku kecewa pada diriku sendiri saat itu. Karena ketidakmampuan diriku saat itu. Sehingga aku melampiaskannya kepada kedua putraku yang masih balita.”
“ Namun, semenjak aku memarahi mereka berdua, sikap keduanya berubah. Mereka seakan kehilangan senyum mereka.”
“ Mereka semakin memperhatikan diriku, tak pernah bertanya apapun. Tidak pernah lagi membuatku marah. Malah sering bertanya apakah aku lelah? Mereka berdua memijat kakiku setiap pulang bekerja. Mereka tidak pernah tidur lebih dulu, mereka selalu menungguku pulang dahulu baru mereka tidur.”
“ Mereka selalu membantuku di toko bunga. Aku ingat saat itu Dean, dan Dion membutuhkan laptop untuk menunjang pendidikannya.”
“ Saat mereka ingin meminta padaku. Mereka mengurungkan niatnya, karena saat itu aku sedang menghitung sisa uang hasil bekerja selama satu bulan, dan bisa di bilang masih kurang mencukupi untuk biaya hidup kami.
“ Aku sangat sedih saat itu, walaupun aku bekerja paruh waktu banyak. Namun, hasilnya tetap kurang.”
“ Aku tidak bisa terus meminta bantuan pada Anita. Dia sudah banyak membantu kami. Aku tidak mau membebaninya terus-menerus.”
“ Mereka berdua berjualan bunga mawar, hingga ikut berjualan pakaian, dan mereka berdua yang jadi modelnya.”
__ADS_1
“ Dan aku sangat takjub saat itu. Karena mereka berdua bisa membeli laptopnya dengan hasil keringatnya sendiri.”
“ Aku sangat bangga pada mereka. Semenjak mereka menghasilkan uang mereka sendiri. Aku tidak lagi melakukan banyak pekerjaan paruh waktu.”
“ Aku sangat terbantu oleh mereka. Aku sangat malu saat aku diberi uang oleh mereka. Agar aku tidak lelah karena banyak bekerja.”
“ Mereka sangat perhatian. Disaat mereka berusia empat tahun. Mereka memintaku untuk berhenti menggunakan jasa pengasuh. Mereka menjaga diri mereka dengan baik, saat aku tidak berada di rumah.”
“ Aku sangat terbantu oleh sikap mereka yang mandiri. Namun, perlahan aku kehilangan masa indah melihat tumbuh kembang mereka berdua.”
“ Mereka tumbuh begitu cepat, mereka berdua memiliki pemikiran yang dewasa di usianya yang sangat muda.”
“ Kini aku menyesali segalanya. Menyesali karena tidak meluangkan waktu lebih banyak untuk kedua putraku,” Bella terisak kala menceritakan masa sulitnya dulu.
“ Maafkan aku karena tidak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakmu. Maafkan aku Nelson,” ungkap Bella yang tak henti-hentinya menitikkan air matanya.
Nelson mencoba mengusap lembut kepala Bella, seraya berkata. “ Terima kasih, karena sudah bekerja keras. Kau sudah menjadi ibu yang sangat baik untuk anak-anak. Terima kasih karena sudah merelakan masa mudamu untuk membesarkan kedua putraku.”
“ Aku sangat berterima kasih padamu karena sudah memberikan kehidupan kepada kedua putraku untuk terlahir ke dunia ini. Sungguh kau adalah wanita luar biasa,” ucapnya.
Nelson memeluk sambil mencium lembut pucuk kepala Bella seraya terus menerus mengucapkan terima kasih padanya. Dan berjanji pada Bella bahwa dia akan selalu berada disisinya, dan menjaganya sampe maut memisahkan mereka.
Dean sangat menawan kala sinar mentari pagi menyinari wajah tampannya. Senyumnya begitu memesona. Namun, sedetik kemudian Dean terjatuh, memegangi kepalanya. Dirinya begitu kesakitan.
Evan yang melihat kejadian itu segera berteriak. “ Oliver….” seraya berlari menghampiri Dean yang tersungkur di lantai.
“ Tuan kecil…. Tuan kecil.”
“ Oliver..” Evan setengah berteriak. Kala memanggil Oliver yang tak kunjung datang.
Oliver yang baru selesai mandi pun dengan segera menghampiri Evan. Rambut basahnya masih meneteskan air, tanda dia menyelesaikan mandinya dengan tergesa-gesa.
“ Aku datang. Aku datang bertahanlah sebentar,” Oliver bicara seraya menyiapkan obat untuk Dean.
Oliver memgambil beberapa pil pereda nyeri untuk meredakan rasa sakit Dean.
__ADS_1
“ Tuan Evan. Tolong bantu saya memindahkan Tuan kecil,” ucapnya.
Evan memindahkan Dean ke posisi duduk.
Dean yang meringis kesakitan membuat sekujur tubuhnya bergetar. Evan merasa tidak tega melihatnya.
“ Baiklah Tuan kecil, telanlah obatnya. Kau akan merasa lebih baik,” ucap Oliver.
Oliver memasukkan beberapa pil pereda nyeri kedalam mulut Dean, dan meminumkan segelas air pada Dean.
Setelah menunggu reaksi obat pun bekerja. Dean terlihat berangsur-angsur tenang kembali.
“ Sebaiknya Tuan kecil dibaringkan di kamarnya saja. Sekarang keadaannya sudah cukup stabil,” ucap Oliver.
“ Baiklah,” ucap Evan. Seraya menggendong Dean untuk di baringkan di tempat tidurnya.
Setelah membaringkan Dean. Evan dan Oliver segera meninggalkan kamar Dean.
Evan terlihat begitu terkejut dengan kejadian pagi ini.
“ Mr. Oliver. Baru pertama kali ini aku melihat Tuan kecil begitu kesakitan,” ucapnya.
Oliver berkata. “ Itu adalah sesuatu yang lumrah terjadi pada pasien kanker otak, rasa sakitnya akan bertambah jika sel nya berkembang dengan cepat,” ungkapnya.
Evan tak bisa berkata apa pun lagi. Dia berjalan menuju meja makan. Oliver mengikuti langkahnya dari belakang.
” Makanlah lebih dulu. Biarkan Tuan kecil tidur lebih dulu,” ucap Evan.
Oliver duduk di meja makan. Di meja sudah banyak makanan yang tersaji. Namun, Oliver melirik Evan yang sedari tadi diam tidak makan.
Oliver bertanya. “ Tuan Evan. Mengapa Anda tidak makan?”
“ Ah. Setelah aku melihat Tuan kecil pagi ini. Aku tidak bisa makan, aku begitu ketakutan,” ungkap Evan.
“ Tenanglah Tuan. Bulan depan Tuan muda sudah bisa menjalani pengobatannya lagi.”
__ADS_1
“ Lagi pula hasil pemeriksaan kemarin menunjukkan bahwa sel kankernya belum berkembang,” ujar Oliver.
Bersambung