
Di satu sisi para pelayan melihat hal itu, mereka tidak menyangka jika tuan mudanya itu cukup agresif, selama ini mereka tidak pernah melihat tuan mudanya bersikap seperti itu.
Di dalam kamar Bella sudah pasrah pada Nelson, dia bahkan tidak bisa berkutit melawan Nelson, kala dia melancarkan serangannya pada Bella, Bella sadar dia tidak akan bisa lolos dari Nelson, dia akhirnya pasrah dan membalas cumbuan demi cumbuan, dengan perlahan Nelson menanggalkan pakaian Bella, hingga tak ada sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya, begitu melihat wajah Bella yang merona, dengan cepat Nelson menanggalkan pakaiannya, dengan penuh gairah Nelson menghampiri Bella dan mulai mencumbunya kembali secara perlahan, membuat Bella merasa terbang, merasakan nikmat yang tidak dapat dipungkirinya.
Bella sudah tidak ingat berapa kali dia mencapai puncaknya, tapi Nelson berbeda dia bahkan tidak pernah lelah menggempur Bella tanpa ampun keringat telah membasahi tubuh keduanya, sampai akhirnya Nelson mencapai puncaknya. Dia jatuh di tubuh Bella, dengan bagian sensitifnya masih menempel di tubuh Bella, dengan suara sedikit menggoda dan terengah-egah Nelson berbisik.
“ Kau benar-benar candu bagiku, bahkan ketika aku bersamamu, aku tidak bisa mengendalikan tubuhku, maafkan jika aku menyakitimu istriku.” Nelson meminta maaf pada Bella, jika perlakuannya sedikit kasar, seraya mencium kening dan mengusap kepala Bella.
“ Ayo kita mandi, sebentar lagi jam makan malam, Dean mungkin sudah kembali.” Nelson berbicara sangat lembut kemudian menggendong Bella menuju kamar mandi, air hangat sudah siap, dia pun menurunkan Bella ke di bak mandi, sedangkan Nelson mandi dengan shower di sebelah Bella.
Karena melihat Bella melamun saat berendam tadi Nelson bertanya.
“ Apa yang kau pikirkan? Hingga membuatmu melamun? Tanya Nelson dengan lembut.
“ Aku hanya berpikir sampai kapan hubungan kita di sembunyikan?”ucap Bella sedikit malu kala menatap Nelson.
“ Kau ingin resepsi seperti apa? Kau akan memilikinya.” Nelson Hongli dengan santai mengatakannya.
“ Aku hanya ingin orang-orang tahu bahwa aku telah resmi menjadi istrimu, untuk acaranya aku serahkan padamu.” ucap Bella malu.
“ Baiklah, kita bicarakan masalah itu nanti, ada yang harus aku katakan padamu.” Nelson memberanikan diri untuk bertanya pada Bella tentang niatnya untuk membawa Dean pergi ke luar negeri untuk dua pekan kedepan.
“ Aku berniat untuk membawa Dean pergi ke luar negeru bersamaku, apakah kau menyetujuinya?” Nelson bertanya dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
“ Apakah itu adalah keinginan Dean sendiri? Bagaimana dengan Dion?” Tanya Bella.
“ Aku pun sudah berbicara pada Dion, dia tidak ingin ikut bersamaku dan Dean, dia bilang ingin menghabiskan waktu bersama kakek dan neneknya.”jawab Nelson dengan tenang, dia menjelaskan jika Dean akan membantunya menyelesaikan pekerjaannya.
“ Jika Dean menginginkannya maka bawalah dia, lagi pula dia butuh suasana baru untuk menenangkan pikirannya.” Dengan tersenyum Bella memberikannya izin tanpa merasa curiga.
Setelah bermain denga Anita, Dean sudah terlihat sangat lelah, namun Anita masih ingin pergi menaiki wahana, dia masih ingin berteriak sekencang-kencangnya hingga gundah di hatinya dapat terselesaikan. Dean tidak bisa mengikutinya, dia meminta waktu untuk istirahat sejenak, Anita pergi menaiki wahana Roller coaster dan meninggalkan Dean, Dean yang merasa sudah tidak beres berlari menuju mobil.
Roy yang melihatnya sedikit heran. Dengan perlahan Roy mengikuti Dean, dan pemandangan sedikit menyayat hati, Dean meringkuk kesakitan di kursi belakang mobil, dia mencari sesuatu di kantong jaketnya, tapi dia tidak menemukan apa-apa, dan Dean baru mengingat jika obatnya tertinggal di kamarnya, Dean yang melihat Roy di kaca mobil pun dengan berat hati memintanya mancarikan air minum, karena di dalam mobil tidak ada air, Roy yang mendengarnya khawatir kala meninggalkan tuan kecilnya yang sakit sendirian.
Roy dengan cepat membelikan air mineral, saat Roy kembali ke mobil dia melihat Dean merintih kesakitan tanpa suara. Roy berpikir jika tuan kecilnya memintanya membeli air karena dia tidak ingin memperlihatkan kesakitannya pada orang lain. Dengan pelan Roy mengetuk kaca mobil. Dean yang menyadari Roy sudah kembali, berlagak kuat, dan duduk bersandar di kursi belakang berkata.
“ Jangan biarkan orang lain tahu tentang ini, mengerti.” ucap Dean memperingatkan Roy. Roy dengan tenang mengatakan bahwa dia tidak akan mengatakan apapun dan pada siapapun termasuk pada tuan Nelson.
“ Apa ibu sudah lega sekarang? Ayo pulanglah ke rumahmu, aku juga akan pulang. Ibuku pasti telah menungguku.” Ucap Dean.
Anita yang sejak tadi tidak menyadari telah bermain cukup lama dan tidak tahu waktu pun, memutuskan untuk mengakhiri hiburannya.
“ Kau masih bisa menyetir bukan? Aku akan pulang bersama Roy.” Dean berbicara dan memeluk Anita terlebih dahulu sebelum dia meninggalkan Anita di tempat parkir, Anita membalas pelukannya dan mengecup lembut kening Dean, membuat Dean sedikit menyunggingkan bibirnya. Walaupun hanya terlihat sedikit namun itu terlihat sangat memesona. Dean memasuki mobil dan duduk di kursi belakang saat mobil melaju., Dean hanya menutup matanya, sesekali dahi dan matanya mengkerut menahan rasa sakit yang menjalar, namun tak pernah ada keluhan atau suara yang menandakan rasa sakitnya.
Dean memejamkan matanya hingga kehilangan kesadarannya. Namun Roya tidak mengetahuinya dia kira tuan kecilnya sedang tertidur karena kelelahan, tapi nyatanya Dean kehilangan kesadaran.
Di perjalanan Roy mencoba membangunkan Dean yang masih tertidur, Roy terus mencoba untuk membangunkan Dean untuk memastikan keadaannya.
__ADS_1
“ Tuan kecil, tuan kecil.” Roy terus memanggilnya namun tak ada jawaban dan respon dari Dean, Roy yang menyadari situasi pun segera menepikan mobil yang di kemudikannya, Roy masih mencoba memanggil Dean . Namun tidak ada respon darinya, dengan segera Roy keluar dari mobil, dan membuka pintu kursi belakang, dia menghampiri Dean, dengan lembut menepuk-nepuk pipi Dean, tapi tetap saja tidak ada respon darinya, Roy cemas tapi dia berusaha untuk tetap tenang, Roy dengan hati-hati mencoba memegang leher Dean untuk memastikan denyut nadinya, apakah masih berdetak, atau tidak.
Roy lega karena tuan kecilnya masih hidup walaupun detak jantungnya terasa lemah, dia mencoba menghubungi Nelson untuk mengabarkan kondisi Dean.
Di ruang tamu Nelson sedang bersama dengan Bella, mereka sedang mengobrol bersama, menunggu anak-anak pulang. Setelah lima menit berlalu Dion dan kedua orangtua Nelson kembali. Tapi Dean tak kunjung pulang. Bella mulai sedikit khawatir dibuatnya.
“ Tidak apa-apa, semuanya baik-baik saja.” Nelson mencoba untuk menenangkan Bella.
“ Apakah Dean tidak ada? Aku tidak melihatnya? Tanya Dion.
“ Ya, kakakmu sedang pergi bersama ibu baptis.” Jawab Bella.
“ Ahhh sial, ternyata kakak pergi dan tidak mengajakku pergi.” gumam Dion dengan sedikit kesal.
“ Sudahlah, kakakmu bahkan pergi dengan tergesa-gesa, jadi tidak bisa mengajakmu ikut bersamanya.” Terang Nelson menjelaskan situasinya pada Dion.
“ Nelson, tidak bisakah kau mencari Dean, bukan kah dia pergi bersama Roy.” Tanya Bella.
Kedua orangtua Nelson juga sama khawatirnya, mengingat Dean yang baru saja pulih dari sakitnya.
“ Jangan khawatir jika terjadi sesuatu, Roy pasti menghubungiku, jadi kita harus menunggu mereka.
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
__ADS_1
Bersambung