ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 87


__ADS_3

Di tempat lain Bella menjalani hari-harinya tanpa Dean dan Nelson. Kini dia mulai terbiasa akan keadaan itu. Namun, saat dia pulang kerja, entah kenapa dia tiba-tiba sangat merindukan Nelson, dan Dean.


Bella menatap ponselnya. Namun, tidak ada satu pun pesan dari Nelson, Bella bergumam sendiri, “ Ahh, kenapa dia tidak mengabariku? Aku sangat merindukannya. Sungguh!”


Tiba-tiba saja, terlintas bayangan saat sebelum dia dekat dengan Nelson. Dahulu, sebelum dirinya bersama Nelson, dia berpikir jika Nelson tidak menyukai perempuan, dengan sikap yang sombong, dan angkuh itu semakin membuatnya sulit di dekati.


Semakin lama dia membayangkan banyak kenangan manis tentangnya dan Nelson, semakin membuat rindu padanya. Padahal mereka bicara hanya pergi sebentar saja, tapi sudah hampir satu bulan mereka tidak kembali.


“ Ibu, ada apa?” Dion bertanya.


Bella menjawab. “ Tidak apa-apa, Nak! Ibu hanya rindu saja pada ayahmu, dan kakakmu.


Dion berkata. “ Istirahatlah, mungkin sesuatu yang baik akan terjadi nanti jika ibu bersabar.”


Bella hanya tersenyum menanggapi perkataan Dion. Seraya meninggalkan dirinya, Dion berkata. “ Baiklah, aku akan pergi ke taman belakang, jika ibu mencariku. Aku ada di sana.”


Dalam benak Dion. “ Ah, karena pekerjaanku telah selesai, jadi aku bisa bermain air di sana.”


Dion menuju taman belakang. Sesampainya di sana, bukannya tertawa dan menikmati waktunya, yang dilakukan Dion justru sebaliknya. Dia menangis seraya berbaring dibawah pohon pinus yang rindang.


“ Ahh, mungkin seperti ini jika Dean meninggalkan aku!”


“ Aku harap dia baik-baik saja di sana. Mendengar dari ayah kini tubuhnya semakin kurus, karena penyakit yang menggerogoti tubuhnya.”


“ Tuhan, jika memang yang terbaik untuk kakakku adalah meninggalkan dunia ini, aku harap engkau berbaik hati untuk mengangkat sakitnya. Walau hati dan jiwaku tidak menginginkannya, dan tak mau menerima kenyataan. Aku harap kakakku bisa berbahagia di pelukanmu Tuhan.” Seraya meringkuk Dion meluapkan rasa sedihnya, karena tidak ada tempat untuk berbagi duka dengannya.


Dirinya bangkit, Dion berjalan ke arah sungai kecil di mana dia dan Dion bermain bersama. Terlihat di sebuah pohon yang tak jauh darinya, tersemat kata-kata, “ Dean, Dion, satu jiwa, satu hati, selamanya saudara.” Tangis Dion kembali pecah.


Kini Dion mengerti. Kenapa kakaknya meninggalkannya di sini, tanpa mengabari keadaannya. Adalah agar dirinya dan ibunya terbiasa hidup tanpa Dean. Mungkin Dean berharap, dengan dia tidak tinggal bersama, akan mengurangi beban kesedihan yang akan di tinggalkannya.


Di depan Mansion terdengar suara mobil berhenti. Bella menyadarinya, segera berlari menuruni anak tangga setelah selesai mandi dan berpakaian. Dia berharap yang datang Nelson dan Dean.


Para pelayan yang melihat Bella berlari sedikit khawatir seraya berkata. “ Nyonya, hati-hati.”


Bella tak mendengar perkataan para pelayan, dia begitu terpaku pada kedatangan seseorang.

__ADS_1


Bella mematung, kala melihat sosok yang sangat dia rindukan selama ini. Dia berlari menghampiri Nelson, seraya memeluknya dengan erat dia berkata. “ Kau pulang suamiku? Sungguh ini adalah dirimu?” Bella terlihat sangat bahagia. Dia menciumi Nelson tanpa mempedulikan orang-orang di sekitarnya.


Bella berbisik ditelinga Nelson, dia berkata. “ Aku sungguh merindukanmu suamiku! Bagaimana kau bisa membuatku menunggu begitu lama?”


Nelson menjawab, seraya tersenyum. “ Aku hanya meninggalkanmu hampi satu bulan, itu bukan waktu yang lama.”


Bella kembali menciumi Nelson, seraya memeluknya dengan erat.


Nelson dan Bella berjalan menuju ruang keluarga, saat Bella berbalik, dia baru menyadari bahwa Nelson kembali sendirian tanpa Dean.


Nelson berkata. “ Aku akan mandi terlebih dahulu. Lalu kita akan membicarakan sesuatu.” Nelson meninggalkan Bella yang masih termangu, berusaha mencerna perkataan Nelson.


Bella berpikir, dalam hatinya berkata. “ Apakah aku melakukan kesalahan? Mengapa dia bersikap seperti itu? Aku bahkan tidak mengerti situasi ini!”


Saat Nelson menaiki anak tangga. Seorang pelayan menghampirinya, membungkuk hormat padanya, seraya berkata. “ Tuan muda, selamat datang.”


Nelson hanya menganggukkan kepalanya.


“ Tuan muda, karena Anda sudah datang sebaiknya Anda melihat Tuan kecil.”


Nelson tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia meninggalkan pelayan tersebut dan memasuki kamarnya.


Nelson memasuki kamar mandi, setelah selesai mandi dan berpakaian. Nelson menuju sudut jendela, dia mengedarkan pandangannya dengan seksama, hingga akhirnya Nelson mendapati sesosok anak yang sedang menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon pinus.


“ Ah, ternyata kau berada di sana!”


Nelson berjalan menuju taman belakang. Sesampainya di sana dia mendapati sebuah pemandangan memilukan.


Nelson bertanya. “Apa yang kau lakukan di sini?”


Dion memandang nanar ponselnya itu, tiba-tiba meneteskan air matanya, seraya mengalihkan pandangannya pada Nelson.


Dengan suara bergetar dia berkata, “ Apakah ini benar? Apakah kau ayah kandungku? Apakah ini lelucon belaka?”


“ Eiih, jangan membuat lelucon seperti ini!” Dion kebingungan dengan kenyataan yang menghampirinya saat ini.

__ADS_1


Nelson sedikit kebingungan dengan pertanyaan yang dilontarkan Dion padanya. Nelson menghampiri Dion seraya bertanya, “ Apa maksudmu, Nak? Ayah bahkan tidak mengerti tentang apa yang kau bicarakan!”


Dion berlinangan air mata, dengan sesegukan dia berkata. “ Setelah sekian lama Dean tidak mengabariku. Namun, hari ini dia mengabariku, dan mengatakan bahwa kau adalah ayah kandungku!”


Dengan sediki berat Nelson mengakuinya, sengan lembut dia berkata. “ Ya, yang dikatakan kakakmu itu adalah kebenarannya, apakah kau membenciku? Apakah kau tidak ingin jika orang sepertiku ini adalah ayahmu?”


Dion menggelengkan kepalanya, seraya berkata. “ Aku, aku sangat bahagia, sangat bahagia hingga aku meneteskan air mata.” Dion menghambur kepelukan Nelson dan Nelson memeluknya dengan erat.


Otak jeniusnya yang membuatnya mengerti keadaan dengan cepat, pikiran telah bertambah dewasa diusinya yang sekarang.


Nelson merasa lega, kala Dion mampu menerimanya sebagai ayah kandungannya. Dalam dekapan Nelson, Dion berkata. “ Terima kasih, karena telah menjadi ayahku, terima kasih karena telah memberikan kami sebuah kehidupan, walaupun awalnya cukup sulit. Namun, semunya berjalan dengan baik.”


Nelson tidak mampu berkata-kata kala Dion berbicara seperti itu padanya.


Dion kembali bertanya. “ Apakah ibuku tahu? Atau ayah belum memberitahunya?”


Nelson menunduk, seraya berkata. “ Belum, ayah kembali pulang untuk mengatakan kebenaran ini pada ibumu, ayah harap kau bisa membantu ayah!”


Dengan sedikit bersemangat, Nelson berkata. “ Sebaiknya kita masuk ke dalam, cuacanya terasa semakin dingin.” Karena sudah memasuki musim gugur, sehingga lagit terkesan gelap.


Nelson dan Dion memasuki rumah, di ruang keluarga terlihat banyak mainan, dan beberapa oleh-oleh yang dibawa Nelson untuknya.


Dion sangat senang kala melihat itu. Dengan gembira dia bertanya. “ Apakah ini semua adalah untukku?


Nelson menjawab. “ Tentu saja, apapun yang kau suka ambillah. Ayah akan berada di kamar, ayah akan berbicara dengan ibumu.”


Dion menganggukkan kepalanya.


Nelson bertanya pada seorang pelayan. “ Di mana Bella? Apakah kau melihatnya?”


Pelayanpun menjawab. “ Nyonya ada di taman bunga, Tuan.”


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2