
Setelah target di ketahui, Robin, Evan dan beserta orang dari Nelson memburu Mira Yu. Robin yang memimpin jalannya penyergapan kali ini, kini mereka berada di depan pintu sebuah motel yang terbilang kumuh. Robin dan Evam segera memberi instruksi pada yang lainnya untuk berpencar, menjaga pintu masul dan keluar.
Evan memberi isyarat dengan jarinya untuk segera mendobrak pintu kamarnya.
1…2…3 Brrraaakkk pintu di terbuka. Mira yang tengah berada di dalam pun kaget bukan main. “ Astaga.” Mira terjatuh seraya memegangi kepalanya. Dia melirik ada orang yang masuk setelah mendobrak pintu, orang-orang itu berpakaian serba hitam, dengan senapan yang siap siaga di tangan mereka masing-masing. Membuat orang tidak berkutik.
“ Siapa kalian? Berani-beraninya masuk tanpa izin.” Mira berteriak tanpa mengenal takut.
“ Bawa dia.” Perintah Robin. Beberapa orang pun memasangkan borgol itu di kedua pergelangan tangan Mira Yu.
“ Ya. Apa yang sedang kalian lakukan?” Mira mencoba berontak saat ingin di tangkap. Namun, tanpa daya dia bukanlah tandingan orang-orang yang berada di hadapannya, dengan cepat mereka memeganginya, lalu menutup kepalanya dengan sesuatu.
Robin dan Evan tidak banyak bicara, mereka hanya menatap Mira dengan tatapan yang merendahkan, Evan mengisyaratkan orangnya untuk segera membawa wanita tua itu keluar dari sana.
Mereka pun membawa Mira keluar dengan mengenakan kain hitam untuk menutupi kepalanya, tampak orang-orang berkumpul memenuhi koridor motel, mereka cukup antusias ingin melihat keributan yang tengah terjadi di sana. Mira tetap saja mencoba berontak seakan dia tidak menyadari perbuatan yang telah di lakukan olehnya terhadap anak-anak Bella.
Di sebuah ruangan di mana Zhang, Abe dan Mira yu berada, dengan cahaya yang sedikit redup. Mereka duduk di depan sebuah meja interogasi di mana Nelson sering menggunakannya untuk menggali informasi yang di butuhkan.
Mira masih dalam keadaan kepala ditutupi dengan kain hitam, kedua tangannya di borgol, keadaannya sama dengan pria di sampingnya. Akan tetapi setidaknya wajah Mira tidak hancur seperti Zhang yang di hajar habis-habisan oleh Robin.
Di ruangan yang berbeda Robin tengah di obati, keadaannya tidak lebih baik dari Zhang, sama hancurnya dengan dia, terdapat banyak luka lebam di tubuhnya, terlebih tulang rusuknya juga sepertinya terkena dampak dari baku hantam dengan Zhang.
Robin mengernyit, dia merasakan sakit yang luar biasa di sekitar tulang rusuknya. Dia menejamkan matanya berusaha untuk menarik napas. Namun, Robin kesulitan untuk bernapas.
“ Sepertinya kita harus mengirimnya ke rumah sakit.” ujar Yohan pada Evan yang tengah berdiri di sampingnya.
“ Kau benar, sebaiknya kita harus mengirimnya ke sana.” balas Evan.
__ADS_1
Robin melirik keduanya lalu berkata. “ sejak kapan kalian dekat seperti ini?” Nada suaranya terkesan mengejek.
“ Aissshhh, anak ini.” Umpat Yohan, sedangkan Evan hanya mengulas senyum.
“ Cepat, panggilkan ambulance agar mereka segera mengobatinya.”
Robin hanya pasrah saja dengan keputusan keduanya, lagi pula dia sangat lelah. Setelah menunggu cukup lama ambulance pun sampai. Robin di pindahkan ke mobil ambulance untuk segera mendapat perawatan.
“ Aku sudah memberitahu Andre, untuk menjagamu selama di rumah sakit.” Robin melambaikan kedua tangannya.
Pikiran Robin sejenak melayang, terlintas bayangan Gisel yang tengah memegang tangannya seraya tersenyum lembut padanya. Rasanya dia ingin memeluk wanita itu, dia menghela napas beratnya lalu memejamkan matanya.
Kini Evan bersama Yohan tengah berada di ruang interogasi, mereka mulai menanyai Zhang hingga Mira.
“ Jadi wanita ini yang menyewa jasamu, jawab dengan jujur?” Seraya menunjukkan sebuah foto Mira pada Zhang.
Satu persatu pertanyaan yang di lontarkan oleh Yohan di jawabnya. Kini giliran Mira Yu yang di interogasi. Akan tetapi Mira tidak sendirian, dia di temani oleh Zhang yang sudah berantakan. Mira terperanjat kaget kala mendapati Zhang di hajar habis-habisan. Tubuhnya gemetar, keringat dingin mulai membasahi kedua telapak tangannya. Raut wajahnya begitu ketakutan saat berhadapan dengan Yohan.
“ Nyonya Mira, apa Anda tahu mengapa Anda berada di sini sekarang?” saat Yohan melontarkan pertanyaannya auranya terasa berbeda, suhu di ruangan pun ikut turun, membuat orang yang berada di sana dapat merasakan amarahfi hatinya.
Mira menelan salivanya dengan kasar, dengan berat dia menganggukkan kepalanya tanpa bisa menatap wajah Yohan.
Yohan tidak bicara banyak, sampai dia bertanya siapa yang menyokongnya? Mira gelisah, dia tidak ingin mengungkap siapa yang telah memberinya uang begitu banyak untuk menyewa jasa Geng yang terkenal cukup sadis, akan tetapi mereka tetap tidak bisa mengalahkan orang-orang yang di kirim Nelson untuk penyelamatan anak-anaknya.
Yohan tahu jika Mira ini seorang penakut, dia akan mengorbankan segalanya agar dia selamat. Yohan menarik Zhang, dia memukulnya beberapa kali, meninju wajahnya hingga giginya patah, menginjak kepalanya tanpa belas kasihan sedikit pun, Mira yang ketakutan akhirnya berkata. “ Dia adalah Linny Su istri dari sepupu Tuan Muda Nelson.” Mira segera menundukkan kepalanya, tubuhnya bergetar hebat karena merasakan aura yang begitu mencekam di sekitar Yohan, Linny merupakan Ipar dari sepupunya dengan begitu tega melakukan hal sangat mengerikan kepada keponakannya sendiri, sungguh di luar nalar.
Di sisi lain.
__ADS_1
Ponsel Nelson yang berada di atas nakas begetar, tampak dari layar depan Yohan yang melakukan panggilan Nelson pun menjawabnya.
Terdengar suara familier dari seberang teleponnya. “ Nelson, ternyata pelakunya Ibu tiri Bella bekerja sama dengan ipar sepupumu Linny Su, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Yohan pada Nelson.
Nelson mendengarkan semua penjelasan dari Yohan. Raut wajahnya seketika berubah, sorot matanya begitu tajam, napasnya memburu seakan dia ingin menelan orang hidup-hidup. Baginya tak peduli walau masih memiliki ikatan dengan keluarganya, dia akan tetap menghukumnya. Bagaimana bisa dia melepaskannya begitu saja setelah hal yang sangat mengerikan terjadi pada kedua putranya.
Nelson memandang Dion yang terlelap di pangkuannya, amarah di hatinya kian memuncak, dan saat yang sama Sandra bersama Leo memasuki kamar Dion.
“ Hati-hati lukamu belum kering.” Sandra kaget karena mendapati Nelson tengah mengangkat tubuh Dion untuk di pindahkan.
“ Ya, ya biarkan Ayah yang memindahkannya dari situ.” ujar Leo padanya.
Nelson pasrah saat kedua orangtua nya menyuruhnya kembali berbaring, akan tetapi saat Leo hendak memindahkan Dion ke tempat tidurnya, Nelson tertatih-tatih menuju sofa yang ada di ruang tamu.
“ Nelson, kau harus banyak beristirahat agar lukamu cepat pulih.” Sandra setengah berteriak.
“ Ada yang ingin aku sampaikan.” Seraya berusaha untuk duduk perlahan di sofa. Sandra serta Leo menghampiri Nelson dan duduk bersama di sana.
“ Aku sudah tahu dalang dari penculikan ini.” Raut wajah Nelson berubah menjadi dingin.
“ Siapa mereka? Apa kau sudah menangkapnya?” ujar Sandra.
*
*
Bersambung
__ADS_1