
Nelson meraih laptopnya sementara yang lainnya sibuk memakan makanan yang mereka bawa dari hotel.
Ronald bertanya. “ Kapan kau membuat lamaran yang romantis untuk kakak Ipar?Kamu kan menikahinya secara mendadak? tidak ada romantis-romantisnya!”
Nelson menjawab. “ Aku belum mendapatkan momen yang tepat untuk itu,” ungkapnya.
Semua orang kembali terdiam, Yohan berkata. “ Apakah kau tidak ingin membuat acaranya di sini? Lihatlah di sini sangat indah, bisa jadi kakak ipar tidak akan bisa melupakan momen yang kau berikan ini,” ucapnya.
“ Apa lagi jika kau membuat lamaran kakak ipar di bawah matahari yang terbenam, sungguh romantis,” ucap Robin.
Nelson terdiam sejenak. Dirinya tidak biasa melakukan hal itu.
“ Jangan mempersulitnya. Sebaiknya kau buat acaranya di hotel saja. Lagi pula kakak ipar tidak menyukai hal-hal seperti itu?” ucapnya.
“ Ah sudahlah, biarkan nanti aku yang akan memikirkannya. Aku harus bekerja terlebih dahulu,” ucap Nelson.
“ Ya. Ya lakukan apa yang kau mau,” ucap Yohan.
Yohan melihat ponselnya. Tidak ada apa-apa. Yohan menatap Nelson yang sibuk bekerja.
“ Kau harusnya istirahat. Kau bahkan hanya tidur sebentar,” ucap Yohan.
Ronald berkata. “ Hei. Dari dulu dia memang seperti itu, selalu gila kerja,” ucapnya.
“ Aku tidak tahu apa yang ada di kepalanya? Padahal hartanya tidak akan habis tujuh turunan,” ucap Robin.
“ Sudahlah jangan pikirkan dia lagi, biarkan dia mengurusi pekerjaannya,” pinta Yohan.
Di tempat lain Andre telah kembali kekamarnya, rasanya dia ingin tidur lebih lama. Andre tidur meringkuk di kamarnya sendirian.
Sedangkan Dion, dia berkeliling kamar. Dia melihat begitu banyak fasilitas di dalam kamar hotel.
Bahkan mereka memiliki kolam renang pribadi, pemandangan yang disajikan begitu indah.
Bella diantar ke kamar Nelson. Di sana dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. “ Sepertinya aku harus mandi terlebih dahulu, setelah itu aku akan tidur sebentar,” batinnya.
Dia beranjak ke kamar mandi, untuk membersihkan tubuhnya.
Evan menyiapkan sedikit makanan dan kudapan untuk Dion dan juga Bella. Setelah itu dia pun pergi untuk membersihkan diri.
Tok… tok… tok.. suara pintu di ketuk.
Andre yang tertidur terbangun karena mendengar suara pintu kamarnya di ketuk seseorang.
Dengan enggan dia berjalan menuju pintu. “ Siapa?” seraya membukakan pintu kamarnya.
Andre sedikit terkejut karena Dion datang ke kamarnya.
Dengan tersenyum Dion berkata. “ Aku kesepian. Bisakah aku bermain di sini?”
“ Ibu dan paman Evan. Sepertinya sudah tidur. Dan aku di sini kesepian,” ucapnya.
Andre tambah bingung dengan perkataan Dion.
“ Bolehkah aku masuk?” ucapnya. Seraya memberikan raut wajah yang menggemaskan.
Andre sedikit tersenyum, dia mempersilahkan Dion masuk. “ Masuklah, apakah kau ingin kudapan?” tanyanya.
__ADS_1
“ Emm. Tentu,” ucapnya. Seraya menganggukkan kepalanya.
“ Apakah paman memiliki coklat? Aku ingin makan coklat. Selagi ibuku tidak ada,” pintanya.
“ Hei. Kau tidak boleh seperti itu,” ucap Andre.
“ Aku mohon satu gigit saja,” pinta Dion.
“ Tidak. Tidak boleh,” tegas Andre.
Perkataannya membuat Dion tertunduk. Namun, sebenarnya Andre membawakan banyak coklat untuknya.
Di saat Dion mengangkat kepalanya, dia begitu bahagia kala melihat banyak coklat di depannya.
“ Wow.. Amazing,” serunya. Seraya memeluk erat coklat-coklat itu.
Dion mengalihkan pandangannya pada Andre. Dengan muka imutnya dia berhambur pada tubuh Andre. “ Terima kasih paman, kau yang terbaik,” ucapnya.
Entah mengapa Andre seakan terhibur akan kehadiran Dion. Ada kebahagiaan yang tersirat dalam wajahnya.
Andre menatap Dion begitu hangat. Seakan mengingatkannya pada mendiang putrinya.
“ Dion. Kemarilah,” pinta Andre.
Dion menghampiri Andre. “ Izinkan aku memelukmu sebentar,” ucap Andre.
Dion tersenyum hangat, dia memeluk Andre begitu erat. Setidaknya dia bisa mengobati rasa rindunya saat ini.
Mereka berdua bermain layaknya ayah dan anak, Andre terlihat bahagia akan kehadiran Dion, dia sangat bersyukur Dion bersamanya saat ini.
“ Dion. Rasanya paman tidak ingin hari ini berakhir begitu saja,” ucapnya.
Andre tersenyum seraya mengacak-acak rambut Dion. “ Kau begitu hangat, berbeda dengan ayahmu,” ucapnya.
Dion hanya tersenyum seraya berkata. “ Jika ayahku seorang yang dingin, tidak mungkin memintaku untuk datang ke sini,” ungkapnya.
Andre ternganga kala mendengar kenyataan yang di katakan oleh Dion. Ternyata Nelson tidak pernah lupa akan lukanya yang tak kunjung sembuh kala hujan turun. Tiba-tiba Andre terisak, dia sangat berterima kasih pada Nelson. Karena sudah mengirimkan malaikat kecil miliknya.
Sedangkan Dion memandangi Andre yang terisak, dia mendekatinya, memeluknya dengan erat. Andre juga membalas pelukannya, dengan lembut dia mengecup kepala Dion. Mengucapkan kata terima kasih yang tak terhitung jumlahnya.
Hari telah menjelang sore. Kala Bella terbangun. Dia mulai berjalan menyusuri kamar hotel. Dia duduk di sofa ruang tamu. Menatap pemandangan yang sangat indah dari balik jendela besar yang berada di ruang tamu.
Pemandangan indah itu terlihat begitu jelas dari sana. Bella sedikit merenung, sedetik kemudian perutnya berbunyi karena lapar.
Bella memgetuk pintu kamar.
Tok.. tok… tok..
“ Sayang apakah kau sudah bangun?” Berulang kali Bella mencoba memanggilnya. Namun tidak ada jawaban.
Dia segera membuka pintu kamar. Dan mendapati Dion tidak ada di kamarnya.
“ Dion…Dion…” panggil Bella.
Dia panik, hingga menggedor kamar Evan.
Evan terbangun karena mendengar gedoran di pintu kamarnya. “ Ada apa Nyonya?” ucap Evan. Seraya mengucek matanya yang masih ngantuk.
__ADS_1
“ Dion tidak ada di kamarnya, bagaimana ini?” ucap Bella yang cemas.
Evan terkejut. “ Apa!”
“ Bagaimana bisa Tuan kecil tidak ada? ucap Evan.
“ Aku juga tidak tahu,” seru Bella.
“ Jangan cemas dulu. Kita akan mencarinya di sekeliling hotel dulu. Mungkin Tuan kecil ada di kafe hotel,” ucap Evan.
Evan segera menuju kafe hotel yang berada di lantai dasar, dia berkeliling. Namun tidak dapat menemukan Dion.
Begitu pula Bella yang mencari di sebagian area hotel. Namun, dia tidak menemukannya.
“ Nyonya. Bagaimana? Apakah Anda menemukan Tuan kecil?” tanya Evan. Yang menghampiri Bella.
Dengan gemetar Bella berkata. “ Aku tidak menemukannya. Bagaimana ini?” ucap Bella cemas.
Bella duduk di sofa lobi. Dia begitu gemetaran. Putranya hilang, tentu saja dia cemas.
“ Nyonya tunggulah di sini. Saya akan memeriksa CCTV,” pintanya.
Evan segera ke ruang keamanan. Di mana CCTV berada.
“ Izinkan aku melihat CCTV,” perintahnya, pada keamanan.
Petugas yang tahu akan Evan. Segera memberikan monitor yang berisi rekaman CCTV nya. Namun di sayangkan CCTV nya tidak bekerja pada siang itu. Sehingga kamera tidak menangkap sosok Dion yang keluar dari kamar hotel.
Evan memijat dahinya yang pening. Dia cukup sakit kepala. Evan duduk sejenak. Berpikir ke mana Dion akan pergi?
Bella mencoba menghubungi Nelson tapi tidak ada jawaban darinya. Bella putus asa. Hingga akhirnya Bella melihat Evan yang berlari.
Evan tiba di kamar Andre. Beberapa kali Evan menekan bel kamarnya. Namun, tidak ada jawaban darinya. Saat Bella berhasil mengejar Evan. Dia melihat Evan berlari lagi.
“ Apa yang sebenarnya terjadi?” Dengan napas tersengal dia bicara sendirian.
Evan kembali ke meja resepsionis untuk meminta kunci cadangan kamar Andre.
Pegawai hotel yang mengetahui indetitas Evan. Segera membantunya mencari kunci.
“ Tuan ini dia,” ucapnya. Seraya menyerahkan sebuah kartu yang menjadi kunci kamar Andre.
Napasnya tersengal karena berlari terus menerus. Evan menatap Bella, menyadari bahwa Bella bernapas dengan tersengal-sengal.
“ Nyonya. Mengapa Anda begitu lelah?” tanya Evan.
“ Harusnya aku yang bertanya padamu,” ucap Bella yang kelelahan.
Napasnya terasa begitu berat bagi Evan.
“ Saya hanya meminta kunci cadangan kamar Andre,” ucap Evan.
*
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹
Bersambung