
Dengan tersenyum Roy mengikuti mereka berdua memasuki loket tiket masuk.
Di sana Dion berlarian bahagia. Banyak wahana ekstrem yang di naiki. Membuat Nelson merinding.
Nelson beristirahat sejenak, sementara Roy menemani Dion bermain, dalam batinnya berkata. β Untung saja Roy ikut, jika tidak aku pasti sengsara di buatnya.β
β Ayah. Kau tahu paman Roy gemetaran saat menaiki Roller Coaster,β Dion tertawa begitu puas melihat Roy yang gemetar. ( Jangankan Roy, Author aja takut Dionππ)
Wajah Roy kini sudah pucat pasi, tubuhnya masih gemetaran.
β Tuan muda, saya tidak ingin lagi bermain. Tuan kecil sangat senang sekali bermain wahana yang cukup ekstrem,β ungkap Roy.
β Hei. Paman, bukankah kita akan naik wahana Tornado sekali lagi,β dengan semangat Dion menarik Roy yang gemetar.
β Tuan muda. Tolong selamatkan saya. Tolong Thor.βteriak Roy.
Nelson tertawa kala Dion menggoda Roy dengan jahilnya. Melihat Dion begitu bahagia, tawanya begitu lepas, dalam batinnya berkata. β Seperti inilah kebahagiaan yang sesungguhnya.β
Melihat putranya begitu bahagia, Nelson tersenyum bahagia.
Hari telah menjelang gelap. Nelson dan Dion masih dalam perjalanan pulang. Saat berada di perjalanan Dion ingin membeli kudapan, serta kue kesukaan ibunya.
Ketika tiba di Star Cafe, Nelson menggandeng Dion dengan begitu eratnya. Saat mamasuki Kafe. Orang-orang yang berada di sana berdecak kagum kala melihat wajah keduanya.
β Lihatlah Bukankah itu Tuan muda Nelson Hongli?β
β Kau benar, siapa anak itu? Dia begitu tampan.β
β Bukankah Tuan muda tidak memiliki anak dari pernikahannya bersama Nona besar keluarga Shen? Lalu siapa anak yang bersamanya hati ini?β
β Jangan-jangan anak dari selingkuhannya?β
β Hati-hati jika berucap. Jika Tuan muda tahu apa yang kau katakan barusan, habislah kau,β ancamnya.
β Tuan muda terlihat seperti Daddy goals, benar-benar idaman wanita.β
β Wanita mana yang beruntung bisa mendapatkan benih yang begitu unggul?β
Orang-orang saling berbisik kala melihat Nelson yang berada di depan etalase kue.
β Ayah. Aku ingin ini, dan yang ini,β pinta Dion. Seraya menunjuk kue-kue yang di inginkannya.
β Tentu apa pun yang kau inginkan,β seraya tersenyum dia berucap pada putranya.
β Aku ingin Tiramisu Cake, apakah ada? Sepertinya aku tidak melihatnya,β ucap Dion.
Nelson menelisik seluruh etalase dan bertanya. β Apakah tidak ada?β
__ADS_1
Penjaga etalase pun berkata. β Ada Tuan. Tapi harus menunggu sekitar 25 lima menitan. Apakah Anda bersedia menunggu?β
Nelson bertanya pada Dion. β Apakah kau ingin menunggu?β
Dion pun menjawab. β Emmm. Aku ingin menunggunya,β ucapnya.
Nelson tersenyum dengan begitu hangatnya pada Dion. Seraya berkata. β Kami akan menunggunya, tolong di siapkan,β ucapnya.
β Baik Tuan, silahkan menunggu di ruangan ini,β ucap sang pelayan.
Nelson menggandeng tangan Dion. Senyuman yang begitu manis, serta memabukkan itu, membuat para wanita menjadi salah tingkah, mereka seakan-akan tenggelam dalam pesona Nelson.
β Aku tidak bisa lagi, sepertinya aku terkena serangan jantung, kala melihat Tuan muda tersenyum.β
β Ah senyumannya melelehkan hatiku.β
Para wanita yang berada di kafe itu teriak histeris. Para pria yang berada di sana juga kebingungan mengapa para wanita menggila? Dan saat mereka memalingkan pandangannya. Terlihatlah sosok Tuan muda Nelson yang anggun. Dan terkenal sangat angkuh, dan juga dingin.
β Pantas saja kau menggila ternyata ada Tuan muda Nelson.β
Nelson yang berada di ruangan tidak peduli dengan orang-orang di sekitarnya, dia terlihat sedang memandangi Dion yang sedang memakan kue, tatapannya begitu hangat pada putranya.
β Apa kau mau lagi?β Tanya Nelson pada putranya.
Tiba-tiba saja Dion menghentikan aktivitasnya. Dia meletakkan garpu di atas piring kuenya. Nelson sedikit heran dan bertanya. β Ada apa?β ucapnya.
β Aku jadi ingat dia,β ungkapnya.
Dengan menyunggingkan senyuman dia berkata. β Aku rindu Dean Ayah. Biasanya aku makan kue di sini bersamanya.β
β Di saat ibu sibuk bekerja. Kami selalu menghabiskan waktu bersama di sini,β ungkap Dion.
Seketika Nelson pun terdiam sejenak. Setelah merenung sebentar dia berkata. β Bersabarlah. Sebentar lagi Dean pasti pulang,β ucapnya.
Dion kembali tersenyum. β Emmm,β seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah menunggu. Pesanan pun tiba.
β Apakah kau sudah selesai? Pesanan kita sudah selesai,β ucap Nelson.
β Ayo, aku sudah selesai,β Dion membereskan bekas makanannya, dan meminum habis jusnya.
Nelson tersenyum. Melihat tingkah putranya. Dia pun mengambil pesanannya setelah membayar tagihannya.
Mereka pun pergi meninggalkan kafe. Roy telah menunggu cukup lama. Saat melihat keduanya, Roy segera membukakan pintu mobil untuk mereka berdua.
Terlihat Dion berlari menghampiri Roy, seraya membawa kue. Roy khawatir Tuan kecilnya akan terjatuh, dengan sigap dia menjaganya.
__ADS_1
Dion berkata. β Paman Roy. Ini untukmu,β seraya menyerahkan kue yang di pegangnya pada Roy.
Roy menerimanya, dia menatap begitu takjub pada Dion. Sedangkan Nelson, dia sangat bangga pada putranya itu. Bagaimana tidak? Putranya selalu memberikan apa yang dia makan pada orang-orang yang bekerja pada ayahnya itu.
Roy yang melihat Nelson sedikit takut. Karena menerima pemberian Dion. Namun, saat Nelson melewati Roy, serta masuk ke dalam mobil, terlintas sebuah suara. β Nikmatilah kuenya.β
Roy pun tersenyum seraya berputar menuju kursi kemudinya. Roy meletakkan kuenya dengan begitu hati-hati.
Sedangkan Nelson dia mengusap lembut puncak kepala putranya seraya berkata. β Kerja bagus putraku,β ucapnya.
Dion hanya melemparkan senyum padanya.
Mobil pun melaju cepat membelah jalan raya yang sepi pengendara.
Setelah perjalanan cukup panjang, akhirnya Nelson, dan Dion sampai di Mansion.
Dion berlari setelah Roy menghentikan laju mobilnya. Nelson yang melihatnya setengah berteriak padanya. β Hati-hati, kau bisa terluka,β teriaknya.
Dion segera menghentikan larinya, dan berjalan dengan pelan kembali.
Nelson pun turun untuk mengejar putranya.
β Sebelum menemui ibumu, kau harus membersihkan tubuhmu lebih dulu,β perintah Nelson pada putranya.
Dion tersenyum kala mendengar perintah ayahnya.
Nelson melihat sekeliling mansion, tidak mendapati sosok Bella istrinya.
Kepala pelayan pun menghampiri Nelson, seraya berkata. β Nyonya belum bangun Tuan muad,β ucapnya.
Nelson hanya berkata. β Baiklah. Ini untuk istriku, dan yang ini untukmu. Makanlah,β seraya menyerahkan kue untuk Bella dan dirinya.
β Baik Tuan, terima kasih,β ucap kepala pelayan seraya membungkukkan tubuhnya.
Di dalam kamar Bella masih tertidur, setelah membersihkan dirinya, serta berganti pakaian. Nelson menghampiri Bella.
Di usapnya lembut puncak kepala hingga rambutnya, setengah berbisik dia membangunkan Bella yang masih terlelap dalam tidurnya.
β Istriku bangunlah. Kau bahkan belum makan seharian,β ucap Nelson lembut.
Bella membuka matanya perlahan, kedua matanya begitu sembab karena menangis. Bella tidak berkata apa pun, dia hanya melirik Nelson dengan sendu.
Nelson terluka kala melihat istrinya yang begitu rapuh saat ini.
β Aku mohon bangunlah. Kau harus makan, Dean akan sedih jika kau seperti ini,β ucap Nelson sedih.
Bella tak menanggapi perkataan Nelson. Dia kembali membenamkan wajahnya pada bantal, dengan terisak dia berkata. β Apakah Dean baik-baik saja?β ucapnya lirih.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. ππ₯°π«ΆπΉπΉπΉ
Bersambung