ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 96


__ADS_3

Tak lama Leo pergi, dokter jaga pun menghampiri Dion.


“ Ada apa lagi? Bukankah tadi sudah aku obati!” seru dokter jaga.


Dion tidak berkata apa-apa hanya matanya melirik dengan sinis pada dokter.


Dokter tersebut, sedikit kasar, kala melepas perbannya yang ada di kepala Dion.


Ah, pelanlah sedikit! Ini cukup menyakitkan!” ungkap Dion.


“ Jangan berisik, terserah padaku, apakah aku lembut, atau tidak padamu! Dasar anak manja!” ungkap dokter. Seraya meneruskan membersihkan luka Dion.


Dion dengan sedikit kesal berkata. “ Aku ini terluka! Mengapa kau tak bersikap lembut padaku? ungkap Dion.


Sang Dokter tidak menghiraukan perkataan Dion.


Dion dengan kesal membuat keributan, dengan melompat dari ranjang.


Dokter setengah berteriak. “ Apa yang kau lakukan?”


Dokter dan perawat segera meraih Dion dan memeganginya.


Leo yang mendengar keributan segera menghampiri!


Dengan marah Leo berteriak. “ Apa yang sedang kalian lakukan?”


Dokter jaga, serta perawat seketika terdiam.


“ Begini Tuan, anak ini tidak bisa diam saat saya sedang membersihkan lukanya! Bahkan dia membuat keributan seperti ini!” Ungkap dokter jaga.


Leo menghampiri Dion, dengan lembut dia berkata. “ Apa yang terjadi?”


Dion dengan dinginnya berkata. “ Kakek, aku tidak apa-apa, hanya sedikit sakit kala dokter membersihkan lukaku!”


Leo kembali bertanya. “ Bagian mana yang sakit?”


Dion berkata. “ Kakek, bisakah aku ganti dokter?”


Leo berkata. “ Ada apa? Apakah dokter ini membuatmu tidak nyaman?”


Dion menganggukkan kepalanya.


Leo berkata. “ Panggil kepala rumah sakit sekarang juga, aku ingin bertemu dengannya!”


Perawat yang berada di bangsal IGD pun segera menghubungi kepala rumah sakit, dan memintanya untuk datang ke bangsal IGD.


Di ruang tunggu Sandra, dan Roy masih menunggu Nelson keluar dari ruang operasi. Dia begitu cemas kala lampu ruang operasi itu belum padam. Sandra maondar-mandir dengan cepat. Berharap semuanya akan baik-baik saja.


Tut… tut… tut.. panggilan pun tersambung.


“ Pak kepala, ada yang ingin bertemu dengan Anda di bangsal IGD!”


Di seberang telepon pun terdengar, “ Siapa yang sedang mencariku?” Kepala rumah sakit bertanya.


“ Orang yang ingin bertemu Anda, bernama Leo Hongli!” Ungkap perawat.

__ADS_1


Kepala rumah sakit kaget, seraya berkata. “ Apa!!!”


“ Tuan besar? Aku akan segera ke sana!”


Sang perawat pun kaget, kala mendengar teriakan dari kepala rumah sakit.


Dengan tergopoh-gopoh kepala rumah sakit bersama dokter yang lain, menuju bangsal.


Leo Hongli sedang duduk di samping ranjang, memperhatikan dokter jaga yang lain mengobati, dan kembali menjahit luka Dion.


Leo berkata. “ Hati-hati, jangan membuat cucuku kesakitan!”


Dokter jaga hanya menganggukkan kepalanya.


Dion yang menyadari ekspresi tegang dokter jaga pun tersenyum lembut, dia berkata. “ Tenanglah, jangan gugup! Perlahan saja! Aku bahkan tidak bisa memarahi dokter yang merawatku dengan baik!” Dion berkata dengan manjanya.


Setelah menunggu selama lima menit, akhirnya kepala rumah sakit beserta dokter yang lainnya datang ke bangsal IGD.


Kepala rumah sakit dan para dokter dengan hormat membungkukkan badannya, untuk memberi salam pada Leo Hongli.


“ Tuan besar, ada keperluan apa hingga Anda di bangsal IGD?” Tanya kepala rumah sakit.


“ Cucuku terluka, sedangkan dokter yang menanganinya sungguh tidak kompeten, dan profesional dalam pekerjaannya!” Ungkap Nelson.


Kepala rumah sakit, dan para dokter pun saling memandang pada Dion yang sedang di jahit lukanya.


Dengan marahnya kepala rumah sakit berteriak. “ Siapa yang berani menyinggung Tuan besar?”


Dokter jaga sebelumnya hanya bisa menundukkan kepalanya. Dia tidak menyangka jika kekesalannya akan berbuntut buruk. Dia hanya mampu meminta maaf terus menerus.


Saat Dokter kepala akan menampar dokter jaga itu, Dion tiba-tiba berkata. “ Maafkan aku sebelumnya, sebaiknya Anda tidak melakukan kekerasan di sini!”


“ Kakek, biarkan saja dokter itu jangan mempersulit jalannya. Mungkin dia merasa penat, dan lelah. Sehingga melampiaskannya padaku!”


“ Aku percaya, dokter itu mempunyai jiwa yang hangat! Jadi apakah bisa, kakek melepaskannya saja?” Dion menunjukkan senyuman terbaik yang dia miliki pada Kakeknya, dan semua orang yang berada di sana.


Leo tidak kuasa berbicara, dia berkata. “ Baiklah, jika itu kemauanmu. Maka kakek tidak akan mempermasalahkannya.”


“ Dan untuk kalian semua, dan terutama untukmu!” Seraya Leo menunjuk dokter jaga.


“ Jangan pernah melampiaskan kekesalan pada pasien yang sakit! Apa kalian mengerti?” Seru Leo.


Leo kagum pada sosok cucunya Dion, di usianya yang begitu muda, dia mampu memaafkan seseorang, dan bersikap bijaksana. Sungguh anak yang luar biasa.


Di sisi lain, operasi Nelson berjalan dengan lancar. Nelson juga telah dibawa ke kamar VVIP, tempat di mana Nelson akan di rawat.


Dokter keluar dari ruang operasi hendak bertemu dengan Sandra Hongli.


Sandra segera bertanya. “ Dokter, bagaimana keadaan putraku?”


Dokter pun menghampiri Sandra seraya berkata. “ Operasinya berjalan dengan baik, pendarahan di perutnya juga sudah di hentikan!”


“ Sekarang pasien akan di pindahkan keruang rawatnya!” Ungkap sang Dokter.


“ Syukurlah keadaan Nelson baik-baik saja!” ucap Sandra.

__ADS_1


Selang dokter keluar, tempat tidur Nelson di dorong keluar dari ruang operasi.


Sandra dan Roy segera menghampiri. “ Nelson, ini Mommy Nak!” ucap Sandra.


Nelson membuka matanya. Namun, perlahan Nelson kembali kehilangan kesadarannya.


Sandra dan Roy mengikuti Nelson kembali ke kamarnya.


Roy berkata. “ Nyonya besar, sebaiknya Anda beristirahat! Tunggulah di ruangan sebelah! Biarkan saya yang menjaga Tuan muda!”


“ Tapi, aku ingin menemaninya!” Seru Sandra.


“ Nyonya, Anda pasti lelah, beristirahatlah! Lagi pula Tuan muda tidak akan cepat kembali sadar!” ungkap Roy.


Sandra sedikit merenung, akhirnya dia pun pergi keruangan sebelah untuk istirahat.


Beralih pada Leo yang sedang menemani Dion melakukan beberapa tes, dirinya mendapatkan kabar yang menggembirakan.


” Sayang, operasi Nelson berjalan dengan lancar, sekarang dia berada di kamarnya!” bunyi pesan yang di terima dari Sandra, istrinya.


Kini Leo bisa bernapas lega, kala mendapat kabar baik itu, dirinya melemparkan senyuman pada Dion.


Leo menghampiri dokter seraya bertanya. “ Apakah tesmya sudah selesai?”


Dokter menjawab. “ Ya, ini sudah selesai!”


“ Melihat hasil pindaian kepalanya, tidak ada luka yang serius, jadi tida ada yang perlu di khawatirkan! ungkap sang Dokter.


Leo bernapas lega, kala mendengar hasil tes Dion.


Dion yang telah memakai kembali pakaian yang terkena darah itu, membuat wajah Leo menggelap, Leo meminta manajer departemen Store untuk membawakan beberapa pakaian ke rumah sakit.


Tut… tut… tut.. panggilan pun terhubung.


“ Aku Leo Hongli, ingin kau mengirimkan beberapa set pakaian anak laki-laki koleksi terbaru di toko kita!”


“ Oh, ya. Untuk usia sembilan tahunan, dan itu untuk cucuku, yang sedang di rawat di rumah sakit!”


“ Kirimkan pakaian itu ke rumah sakit H milik Hongli Group!”


“ Kau mengerti ?” Seru Leo.


Di seberang telepon berkata. “ Baik, Tuan besar!”


Leo pun kembali menutup teleponnya.


Dion memanggil kakeknya, seraya menarik tangannya, dia bertanya. “ Kakek! Bisakah kita bertemu dengan ayah?”


Leo pun menjawabnya, dengan tersenyum dia berkata. “ Tentu saja. Ayo pergi!”


Leo menggendong Dion kembali, membawanya ke kamar Nelson.


Leo berkata. “ Sebaiknya kau jangan mandi lebih dulu, karena menurut dokter lukamu jangan terkena air dulu!”


“ Kakek akan meminta seorang pelayan untuk membersihkan tubuhmu, sampai luka di kepalamu kering!” Jelas Leo.

__ADS_1


Dion hanya menganggukkan kepalanya.


Bersambung


__ADS_2