ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 152


__ADS_3

“ Apa kau lapar? Bagaimana kalau kita makan? Aku akan memasak sesuatu untukmu, tunggulah sebentar.” Ucap Andre.


“ Apakah aku bisa tidur sebentar lagi?” tanya Anita pada Andre.


“ Tentu saja, Tidurlah lebih lama,” jawab Andre. Seraya melangkah pergi dari kamar.


Anita sangat lelah, dia masih ingin tidur lebih lama. Dia pun terlelap kembali, selagi Andre memasak di lantai bawah.


Setelah dua jam berlalu, Andre yang telah selesai memasak itu kembali ke kamar untuk membangunkan Anita. Dia bertanya seraya membuka pintu kamarnya. “ Apa kau sudah bangun?”


Andre terdiam kala melihat cara berjalan Anita seperti zombi. Terlihat dari wajahnya dia begitu kesakitan.


“ Apakah masih sakit?” Tanyanya seraya menghampiri Anita.


Anita menganggukkan kepalanya. Seraya merasakan pedih di bagian intinya, dia bahkan tidak mampu melangkah sungguh membuatnya frustrasi.


“ Apakah kau ingin pergi mandi?” Andre menghampirinya dan seketika dia menggendong Anita bridal, membawanya masuk ke kamar mandi.


“ Apakah aku perlu memandikanmu?” Andre mengulas senyum pada Anita.


Wajah Anita memerah, dia benar-benar tak habis pikir, bagaimana bisa dia bertemu dengan seorang pria yang begitu hangat, dan perhatian seperti pria yang berada di hadapannya ini.


“ Tidak perlu, mungkin setelah mandi tubuhku akan lebih segar.” ucap Anita yang merasa malu karena perlakuan Andre.


“ Baiklah, aku akan menunggumu di bawah. Dan untuk pakaianmu, pilihlah sesuai keinginanmu. Di dalam lemari terdapat pakaian wanita, kau bisa memakainya,” Andre pun pergi meninggalkan Anita yang berada di kamar mandi.


Anita merenung di dalam bak mandi, merenungkan apa yang terjadi pada dirinya.


Lima belas menit berlalu Anita akhirnya menuruni anak tangga, Andre yang melihat Anita sedikit mengulas senyum. “ Dia benar-benar cantik,” batinnya.


“ Apakah aku tidak apa-apa mengenakan pakaian ini?” Anita bertanya dengan sedikit canggung.


“ Kau terlihat cantik, sangat cocok untukmu,” Andre memuji Anita.


Wajahnya memerah seketika, saat dia mendapatkan pujian dari seorang pria.


“ Duduklah, aku sudah menunggumu,” pintanya.


Anita duduk bersama, mereka makan dengan tenang tak ada hambatan. Makanan buatan Andre juga sesuai dengan selera Anita.


Selesai makan Anita segera pamit. Namun sebelum dia pergi, Andre menawarkan dirinya untuk memgantar Anita ke rumahnya. Anita pun mengizinkannya untuk mengantar dia pulang.


Keduanya menaiki mobil, dan melaju pesat di jalanan yang sepi karena tidak terlalu banyak yang berkendara, sesampainya di apartemen Anita tinggal.

__ADS_1


“ Apakah kita bisa bertemu lagi?” Andre bertanya pada Anita sebelum melepasnya pergi.


Anita menganggukkan kepalanya. “ Tentu kita bisa bertemu lagi jika kau menginginkannya,” ucapnya lembut.


Setelah mendengar perkataannya, Andre pun harus rela berpisah dengannya. Walau ada sedikit keengganan. Namun Anita sudah mengizinkannya untuk bisa menemuinya di lain hari. Setidaknya itu telah membuat jiwanya kembali hidup.


Setelah mendiang istri dan putrinya meninggal, Andre menutup hatinya untuk wanita lain, dia benar-benar terpaku pada orang yang telah mati. Namun, sekarang seorang wanita telah datang dan mulai mewarnai hidupnya kembali.


Di Mansion Nelson.


Di ruang keluarga, kedua orang tua Nelson sedang berbincang seraya meminum teh. Anak-anak juga berada di sana.


“ Jadi bagaimana? Kapan kalian akan mengadakan pesta pernikahan?” tanya Sandra Hongli.


Nelson menjawab dengan mantap. “ Sekitar dua minggu lagi. Kami sedang menyiapkan segala sesuatunya. Jika sudah selesai kami akan memberitahu kalian berdua.”


“ Baiklah kalau begitu, aku harap tidak ada kendala apa pun sampai harinya tiba,” Sandra sangat berharap semuanya baik-baik saja.


“ Lalu bagaimana kalian akan menghadapi pengobatan si sulung Dean?” Tanya Sandra.


“ Kami akan memulai pengobatannya kembali setelah pesta pernikahan kami selesai.” jawab Nelson.


Sandra menatap Dean yang tengah sibuk dengan laptopnya. Begitu pula dengan Dion yang menempelinya, sekarang fisik mereka terlihat berbeda. Dean terlihat lebih kurus dari terakhir dia melihatnya. Tersirat luka dari tatapan matanya.


“ Oh ya, kakek ingin bertemu dengan cicitnya. Datanglah ke rumah utama, lihatlah tetua. Mereka sudah terlalu sepuh.”


“ Bawa kedua putramu, tunjukkan pada mereka bahwa kedua putramu juga layak mendapat pengakuan keluarga besar Hongli.” Leo menyampaikan pesan dari Kakek Hongli.


“ Baiklah, aku akan mengajak istriku serta kedua putraku untuk datang ke sana malam ini,” jawab Nelson.


“ Kau tidak apa-apa jika aku membawamu makan malam di rumah utama?” Nelson bertanya pada Bella istrinya.


Bella tersenyum lembut. “ Tentu saja tidak, bukankah kita ini sudah menjadi keluarga?”


“ Baguslah Bella sudah menyetujuinya, jadi jangan sampai lupa untuk datang,” Sandra kembali mengingatkan mereka.


“ Baiklah karena sudah selesai menyampaikan pesan Kakek, kami berdua akan pulang. Sampai jumpa di rumah utama.” ucapnya seraya pamit.


Nelson memanggil kedua putranya. “ Anak-anak, kakek dan nenek akan pulang,” Dean dan Dion yang mendengar suara Ayahnya pun segera menghampiri, mereka membungkuk mengucap salam serta mencium pipi kakek dan neneknya.


Nelson dan Bella mengantar mereka sampai ke pintu keluar.


“ Aku sudah memberimu katalog, apa sudah ada yang di pilih?” Nelson bertanya pada Bella.

__ADS_1


“ Ehm, hanya saja aku belum menentukan gaunnya. Belum ada yang cocok untukku,” jawabnya.


“ Apakah kau ingin berkeliling mencari gaun pengantin bersamaku?” Nelson bertanya seraya mengulas senyum.


“ Apakah bisa?” Bella menatap wajah Nelson seraya menampilkan ekspresi menggemaskan.


Wajah Bella benar-benar menggemaskan hingga membuat Nelson tak berhenti tersenyum.


“ Tentu saja. Aku akan mengosongkan jadwal pekerjaanku untuk menemanimu dan juga anak-anak.” ucapnya.


Bella tersenyum lebar, terlihat sangat cantik dan indah menghiasi wajah cantiknya. Bella sangat bahagia dia bergelayutan di tangan suaminya seperti anak bayi yang merengek sesuatu.


Dari jauh Dean menatap keduanya, dia mengulas sebuah senyuman, wajah pucatnya terlihat berseri saat itu juga. Dia menundukkan kepalanya, kemudian tersenyum kembali.


Bella kembali melihat-lihat setumpuk katalog, dia pun memanggil Dean. “ Sayang kemarilah, coba kau lihat ini?” Seraya memperlihatkan desain tuxedo untuk anak-anak. Terlihat simpel namun tetap menawan.


“ Bagaimana?” tanya Bella.


Dean berpikir sejenak, dia pun memanggil Dion untuk memilih bersama. Dean bertanya padanya. “ Bagaimana menurutmu? Apa kau menyukainya?”


“ Ehm,” Dion menganggukkan kepalanya.


“ Aku suka ini, ini bagus,” ucap Dion.


“ Ibu, aku dan Dion ingin yang ini saja,” seraya menunjuk setelan tuxedo warna hitam dengan inner kemeja putih.


Bella menghela napasnya. “ Padahal ibu menginginkan kalian memakai yang ini,” seraya menunjuk pada setelan yang berwarna Dark Navy.


Dean memandang pada Ayahnya. Nelson hanya tersenyum. “ Istriku, kedua putra kita menuruni sifatku. Mereka juga menyukai warna hitam dan putih seperti diriku. Jadi biarkan mereka memilih sendiri, apa yang mereka ingin kenakan nanti,” ucap Nelson sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.


“ Aku tahu,” Bella tertunduk mengulas senyumnya.


Nelson melirik jam tangannya, sudah pukul 15:20. “ Sudah sore, sebaiknya kalian mandi, karena kita akan ke rumah utama.” Ucapnya.


Bella bangkit dari duduknya, dia menutup kembali katalog yang sedang asyik dia lihat. Dan beranjak seraya mengantar anak-anak kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap.


*


*


*


Terima kasih dukungannya ya guys. Sehat dan happy sll. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2