
Evan mendengar pertanyaan Dean sedikit kaget, hingga tersedak makanan. “ Ohook…ohoook, apa yang kau bicarakan Tuan muda? Wah.. wah ternyata sedikit jahil!”
Dean menyenggol lengan Evan, seraya berkata. Eeeiihh, jujurlah padaku, pasti sangat sulit disamping ayahku? Aku tidak akan mengatakan kembali pada ayahku!”
Evan sedikit ragu-ragu, akhirnya dia pun menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Ya, memang sulit. Namun, seiring berjalannya waktu semuanya menjadi baik-baik saja, ada kalanya aku ingin meninggalkannya, tapi melihat betapa kesepiannya dia, sehingga aku tetap bertahan dan tetap tinggal di sisinya.”
Dean dengan tersenyum berkata. “ Terima kasih karena Paman selalu berada disisinya, ku harap paman tidak meninggalkan ayahku.”
Evan tercengang, dengan sedikit cemas dia berkata. Apa yang kau bicarakan, berhenti bicara tentang sesuatu yang membuat sedih, berbicaralah soal kesenangan. Kau mengerti?
Dean hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum.
Di sisi lain Nelson berada diruangan dokter, di sana dia tidak bisa menerima kenyataan tentang putranya.
Dokter dengan menyesal dia berkata. “ Tuan Nelson, dengan sangat menyesal saya harus memberitahu Anda, jika sel kanker putra Anda menyebar akibat benturan di kepalanya, jika tidak mendapatkan perawatan dengan semestinya, mungkin putra Anda tidak akan bertahan lama.”
Nelson masih termangu, mencerna perkataan dokter yang berada tepat dihadapannya hingga akhirnya tersadar.
Nelson bertanya. “ Jadi dokter, apa yang harus dilakukan untuk mempertahankan hidup putraku?”
Dokter berkata, “ Pembedahan tidak di anjurkan untuk kasus putra Anda, karena Tumornya ada di batang otak, sehingga operasinya sangat berbahaya dan sulit dilakukan. Terapi radiasi yang pernah dilakukan sebelum ananda jatuh, ada kemajuan untuk kesembuhannya, tapi efek sampingnya juga kurang bagus. Karena akan merusak sel normal, dan efek sampingnya sangat besar. Pada beberapa orang, tapi kita tidak bisa berputus asa atas rahmat Tuhan, siapa tau ada ke ajaiban untuk ananda Dean, untuk sekarang Tuan; perbanyak berdoa, turuti keinginan putra Anda, bahagiakan dia. Penuhilah hari-harinya untuk bersenang-senang, agar tidak ada penyesalan nantinya.”
Nelson hanya terdiam, tidak mengatakan apapun.
Dokter kembali berkata. “ Untuk dirawat di kamar hotel, itu di kabulkan. Namun, Anda harus menyiapkan seorang perawat untuk menjaganya, selama menjalani rawat jalan. Hari ini putra Anda bisa dibawa pulang, saya akan merekomendasikan seorang perawat berpengalaman.”
Nelson berkata. “ Bisakah Anda memberikan perawat laki-laki, untuk menjaga putraku? Aku ingin perawat yang kompeten, dan profesional dalam pekerjaannya.”
Dokter berkata. “ Tentu saja, kami akan memberikan perawat yang kompeten dalam pekerjaannya.”
Nelson pun undur diri, karena harus menyelesaikan prosedur Dean sebelum keluar rumah sakit, setelah membayar, Nelson kembali ke kamar Dean. Dalam perjalanan dia merasa jiwanya hilang. Dia berjalan dengan pelan, wajahnya tertunduk lesu, banyak pikiran negatif yang terlintas dalam benaknya. Saat Nelson mendengar pembicaraan putranya dengan Evan sekretarisnya. Perlahan butiran cystal bening mulai turun membasahi wajah tampan Nelson, dalam hatinya dia berkata. “ Kenapa ini begitu menyakitkan!” Namun dengan tegar, dia berjalan masuk ke ruangan setelah menghapus air matanya.
Nelson dengan suara bergetar dia berkata, “ Dokter telah menyetujui keinginanmu, sehingga hari ini kau bisa keluar dari sini.”
__ADS_1
Dean dengan antusias berkata. “ Apakah itu benar? Sungguh aku bisa keluar hari ini?” Dengan bersemangat Dean berjingkrak, hingga membuat Nelson dan Evan khawatir.
Nelson berkata. “ Ayah sudah mengurus kepulanganmu, sebaiknya kau berganti pakaian, seraya menunggu perawat yang ditugaskan untuk merawatmu nantinya datang kemari.
Dean segera berganti pakaian, sedangkan Evan membereskan barang-barang Dean untuk dibawa pulang ke hotel.
Tak lupa Evan memberitahu staff Hotel bahwa Dean dan Nelson, akan kembali ke Hotel hari ini.
Evan berkata. “ Hari ini Tuan muda akan pulang ke Hotel, Presdir berpesan untuk menyiapkan segala sesuatunya selama Tuan muda berada di Hotel.”
Staff Hotel yang menerima pesan pun, segera memberikan informasi tersebut, sehingga di Hotel mengalami kepanikan mendadak. Karena mereka tidak ingin melakukan kesalahan lagi di depan Presdir. Dengan perasaan was-was staff Hotel menunggu kedatangan mereka, mengingat kejadian yang telah terjadi sebelumnya, membuat mereka bergidik ngeri sendiri membayangkannya.
❤️❤️❤️❤️❤️
Berpindah ke Mansion, jam antik besar yang berada di ruang tamu menunjukkan pukul 22:00 malam, didalam kamar Bella tidur dengan gelisah, dia memimpikan Dean.
“ Ibu, di sini sangat menyakitkan, aku ingin beristirahat ibu.”
Bella bergumam dalam tidurnya. “ Ada apa, Nak? Apa yang terjadi? Mengapa kau berbicara seperti itu? Katakan pada ibu yang mana yang sakit?”
Pelayan yang mendengar teriakan Bella berkumpul dipintu kamarnya, mereka saling berbisik.
“ Bagaimana ini? Apakah Nyonya baik-baik saja?”
“ Apakah kita harus membangunkan Tuan kecil, dan memintanya untuk masuk memeriksa keadaan Nyonya?”
“ Pergilah ke kamar Tuan kecil, dan bangunkan dia dengan lembut. Kau mengerti?”
Seorang pelayan pun pergi untuk membangunkan Dion ditengah tidurnya.
Tok… tok… tok
Suara pintu di ketuk. Pelayan mencoba masuk, dia melihat Dion telah tidur, dengan lembut membangunkannya.
__ADS_1
“ Seraya menepuk pipi putihnya, dia berkata. “ Tuan, Tuan kecil. Bangunlah.”
Dion yang merasakan dan memdengar seseorang berkata, “ Tuan kecil bangunlah.” Dion pun seketika terbangun.
Seraya mengucek matanya yang masih ngantuk, Dion berkata, “ Ada apa? Apakah sesuatu telah terjadi?”
Pelayan berkata. “ Maafkan saya Tuan kecil, begini, di kamar Nyonya berteriak kami khawatir. Namun, kami enggan masuk ke kamar, bisakah Tuan kecil mencoba melihat Nyonya?”
Dion berkata. “ Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dion pun dengan menahan kantuknya bergegas menuju kamar ibunya. Pintu kamar telah dibuka menggunakan kunci cadangan, Dion masuk ke dalam.
Dion menghampiri ibunya, seraya berkata. “ Ibu apa yang terjadi?”
“ Dion.” Bella memeluk erat tubuh Dion. Seakan Dion akan pergi jauh darinya.
Dion bertanya. “ Ada apa? Apakah ibu mimpi buruk? Katakanlah padaku, ibu?”
Bella menjawab. “ Ibu bermimpi jika Dean meninggalkan ibu, Nak! Ibu takut terjadi sesuatu nantinya.”
Dion menenangkan ibunya, dengan lembut dia mengusap puncak kepala ibunya, seraya berkata. “ Ibu, bukankah mimpi itu bunga tidur? Jadi apa yang harus ibu takutkan? Kakak baik-baik saja bersama ayah, bahkan kakak menghubungiku, dan dia terlihat baik. Jadi berhentilah berpikiran yang tidak-tidak.”
Bella berkata. “ Tapi, itu semua begitu terasa nyata!”
Dion memberikan segelas air pada Bella, dengan pelan dan hati-hati dia membantu Bella minum.
Dion kembali berkata. “ Sebaiknya ibu kembali tidur, setelah tidur ibu akan merasa lebih baik. Apakah aku harus menemani ibu tidur?”
Bella sedikit menurut, dan kembali tidur seraya berkata. “ Kemarilah, tidurlah malam ini bersama ibu.”
Dion mendekat, dia memeluk ibunya seraya berbisik. “ Semuanya akan baik-baik saja.”
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
__ADS_1
Bersambung