
“ Ah, kenapa ini begitu sakit?” Nelson berbicara sendiri, dengan susah payah dia kembali membaringkan tubuhnya.
Nelson meraih ponselnya, saat dia melihat layar ponsel, terlihat begitu banyak panggilan dari putranya Dion.
“ Ah, gawat aku melupakan Dion!”
“ Dia pasti khawatir padaku, semalaman aku tidak kembali ke rumah.”
Nelson mencoba bangkit dengan susah payah. Nelson mencoba menghubungi balik Dion.
Tut.. tut.. tut..
Terdengar panggilannya tersambung. Namun, belum ada jawaban.
Setelah melakukan beberapa panggilan akhirnya di seberang telepon pun terdengar suara yang sangat familier.
“ Ayah, kau di mana? Kenapa ayah tidak pulang? Aku sangat khawatir padamu ayah!”
Nelson hanya tersenyum kala mendengar suara manja dari putranya Dion.
Seraya menahan rasa sakitnya, dia berkata. “ Ayah sedang ada urusan, mungkin nanti malam ayah akan pulang. Apakah kau merindukan ayah? Nelson bertanya.
Dion menjawab dengan antusiasnya, dia berkata. “ Tentu saja, aku sangat merindukanmu ayah!”
Nelson tersenyum kala mendengar perkataannya, dalam hatinya dia berkata. “ Ternyata putranya, mengkhawatirkan dirinya.”
Nelson kembali bertanya. “ Apakah ibumu kembali pulang?”
Dion cukup lama terdiam, tak bicara. Setelah beberapa lama dia pun menjawabnya. “ Tidak, ibu tidak pulang ke rumah, aku sendirian di sini!”
Nelson bertanya. “ Apakah kau sudah makan?”
Dion menjawab. “ Ya, aku sudah makan ayah!”
“ Bagaimana denganmu? Apakah ayah sudah makan?”
Nelson mengeryitkan dahinya, terasa begitu sakit di bagian perutnya, dengan suara tertahan dia berkata. “ Ehmm… tentu ayah sudah makan.”
“ Baiklah, ayah sudahi dulu ya, ayah akan segera ada pertemuan dengan kolega bisnis ayah.”
“ Bersikap baiklah di rumah, ayah akan segera pulang, dan mencari ibumu.”
Dion menjawab. “ Ehmm… lekaslah pulang ayah, aku sangat merindukanmu!”
Nelson berkata. “ Ayah juga sangat merindukanmu.”
Nelson pun menutup panggilannya. Roy telah berada di kamar rawat Nelson.
Roy dengan sikap hormat bertanya. “ Tuan muda, apakah ada sesuatau yang Anda ingin makan? Saya bisa membawakannya ke sini!” ucap Roy.
Nelson menjawab. “ Tidak, tidak perlu. Tolong bawakan saja aku sepasang pakaian buat ganti.”
Roy menjawab. “ Baik, tuan muda!” Roy pun undur diri meninggalkan Nelson sendirian di kamarnya.
__ADS_1
“ Ah, aku melupakan Dean, bagaimana kabarnya?”
Sejak Bella pergi meninggalkan rumah, keseharian Nelson menjadi kacau, tak terkendali.
Nelson kembali meraih ponselnya, dia menekan beberapa nomor untuk menghubungi Dean.
Tut… tut… tut..
Nelson memanggil beberapa kali. Namun, tak ada jawaban, akhirnya dia menghubungi Evan karena dirinya sangat khawatir tentang kondisi Dean.
Tut.. tut.. tut..
Setelah menunggu sedikit lama, akhirnya penggilannya dapat terhubung. Terdengar suara Evan di seberang telepon.
Evan berkata. “ Halo, Presdir!”
Nelson bertanya. “ Kenapa begitu lama, kau menjawab panggilanku?”
Evan sedikit bingung, dia pun berkata. “ Begini Presdir, tadi saya sedang ada pertemuan, sehingga saya tidak bisa menjawab panggilan dari Anda!”
Nelson berkata. “ Baiklah. Apakah di sana baik-baik saja?”
Evan sedikit bingung menjawab pertanyaan Nelson. Saat Evan akan memjawab, Dean meraih tangan Evan, seraya berbicara dengan susah payah.
Evan mencoba mendekat pada Dean, dan mendengar kan dengan seksama perkataannya, dan yang terdengar adalah, “ Jangan katakan apa pun pada ayahku, aku tidak ingin membuatnya khawatir.”
Evan bingung di buatnya, di seberang telepon pun terdengar suara yang tidak sabar.
Nelson bertanya. “ Evan, apakah terjadi sesuatu di sana?
Nelson berkata. “ Baguslah, tolong kau jaga Dean di sana, sampai aku kembali! Kabari aku jika terjadi sesuatu, kau mengerti?”
Evan menjawab. “ Baik, Presdir!”
Evan kemudian menutup panggilan dari Nelson, saat berbalik memandang Dean yang begitu kesakitan hatinya begitu sakit, dan hancur.
Kondisi Dean begitu mengkhawatirkan. Terlihat begitu menyakitkan kala penyakitnya kambuh. Siapa pun orang tuanya, tidak akan tega untuk melihat anaknya mengalami rasa sakit yang luar biasa, hanya orang tua yang hebat yang mampu melewatinya.
Di Apartemen Anita.
“ Bella, apakah kau sudah bangun?” Anita mencoba memanggil Bella yang berada di kamar.
Bella yang mendengar panggilan Anita pun, dengan perlahan membuka matanya.
Anita kembali memanggil Bella. “ Bella, bangunlah, kau harus makan!”
Bella perlahan bangkit dari tempat tidurnya, seraya berkata. “ Iya, aku sudah bangun!”
Anita berkata. “ Cepatlah, makanannya akan dingin jika kau terlalu lama.”
Bella berkata. “ Aku, kesana!”
Bella yang baru selesai mencuci mukanya, mencari-cari ponselnya. “ Akh, celaka. Aku meninggalkan ponselku di mansion Nelson.” Batin Bella.
__ADS_1
“ Dion, pasti khawatir!”
Bella berjalan keluar, seraya memanggil Anita. “ Anita, bisakah aku meminjam ponselmu sebentar?”
Anita berkata. “ Apakah kau meninggalkan ponselmu di tempat Nelson?”
Bella memjawab. “ Ehmm, aku lupa meninggalkannya di sana.”
Anita berkata. “ Pakailah ini, Dion pasti sangat khawatir padamu!”
Bella berkata. “ Terima kasih Anita,” seraya mengambil ponsel Anita.
Tut… tut.. tut..
Sudah beberapa kali Bella mencoba menghubungi Dion. Namun, tetap tidak ada jawaban. Sampai akhirnya ada jawaban dari seberang telepon. Terdengar suara yang sangat familier.
“ Halo, ibu baptis. Ada apa?”
Bella berkata. “ Dion, ini ibu Nak!”
Dion berkata. “ Ibu, bagaimana keadaanmu ibu? Kenapa ibu tidak kembali ke rumah? Bahkan, ayah juga tidak kembali ke rumah. Tidak bisakah kau kembali ke sini? Aku kesepian di sini, kakek dan nenek juga belum kembali ke sini! Apakah aku sebaiknya menyusul kakak saja ke sana?” Dion mencoba menarik empati ibunya.
Bella yang mendengar perkataan putranya itu, membuatnya berempati padanya.
“ Tenanglah, ibu hanya sedikit penat.”
“ Ibu, tidak meninggalkanmu, Nak!”
“ Ibu, hanya sedikit penat saja, untuk beberapa hari ke depan, ibu tidak akan kembali ke rumah.”
“ Berperilaku baiklah di rumah. Ibu, akan menjemputmu nanti.”
Dion kembali bertanya. “ Apakah kita akan pergi jalan-jalan?”
Bella menjawab. “ Tentu saja, ibu akan membawamu pergi! Sudah dulu ya sayang. Ibu rindu kamu!”
Dion membalas perkataan Bella. “ Aku juga.”
Bella menutup teleponnya, dia menutup mulutnya seraya menangis. “ Maafkan ibu Dion, maafkan ibu!”
Anita yang melihatnya, merasa kasihan pada Bella.
Anita mencoba menghampiri Bella, dirinya mencoba untuk menenangkannya, seraya berkata. “ Jika ini terlalu berat, dan sulit untukmu? Maka tinggalkanlah hal yang menyakitimu. Dan kejarlah hal yang membuatmu bahagia.”
Bella masih menangis, dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan. “ Aku mencintai Nelson. Namun, aku juga tidak bisa menerima kenyataannya.”
“ Lukaku sepuluh tahun yang lalu kembali terbuka, rasanya begitu sakit , dan pedih. Sungguh pedih Anita.” Wajah cantik Bella, kini berlinang air mata.
Anita berkata. “ Bella, pikirkanlah baik-baik, mungkin Nelson tidak bermaksud untuk menyakitimu.”
“ Bukankah, dia berkata bahwa dirinya juga di jebak oleh sahabatnya? Jadi bukankah tidak seharusnya, kau terlalu menyalahkan, semua sebab rasa sakitmu selama ini?”
Seketika Bella berhenti menangis, dia menatap nanar Anita, seraya mengusap air matanya, dia berkata. “ Mungkin kau benar Anita, aku bahkan tidak memikirkan perasaan Nelson.”
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹
Bersambung