
Masih di kediaman Hongli.
Nelson membiarkan Dean istirahat di kamar lamanya sebelum dia membawanya pulang. Sedangkan Bella bersama dengan mertuanya Sandra Hongli.
“ Nelson, ikutlah bersama kakek sebentar,” pinta sang Kakek.
Nelson pun mengikuti Kakeknya menuju ruang kerja Ayahnya.
“ Duduklah,” serunya.
Nelson segera duduk di hadapannya. Wajahnya sudah menunjukkan raut yang sedikit tidak baik.
“ Bagaimana keadaan putra sulungmu?” tanya Kakek.
“ Untuk saat ini baik-baik saja, hanya saja..” Nelson tidak meneruskan kata-katanya.
“ Ada apa? Mengapa kau murung seperti itu?” Kakek bertanya dengan sedikit cemas.
“ Aku sedikit khawatir pengobatannya tidak sesuai harapan kami, semua obat-obatan paten yang aku berikan tidak terlalu berefek pada Dean,” jawab Nelson dengan murung.
Kakek segera berpindah menuju samping Nelson, ditepuk lembut bahunya seraya berkata. “ Jangan putus asa, lanjutkan perjuangan kalian. Entah itu hasil yang bagus ataupun buruk sekalipun. Kakek dengar kankernya masih stadiun dua, dan itu masih memiliki harapan untuk sembuh dari penyakitnya. Semoga pengobatan yang akan di jalaninya nanti, bisa direspon dengan baik oleh tubuhnya.”
Nelson tak berbicara apa pun, dia hanya mendengarkan kakeknya bicara, sembari memberikan senyuman tipis di sudut bibirnya.
“ Baiklah, sudah waktunya aku pulang. Aku pamit di sini,” ujar Nelson pada sang Kakek.
“ Nelson kau harus ingat, salah satu putramu harus masuk militer. Jika bukan Dean, berarti Dion yang harus memulai kariernya di bidang militer.”
“ salah satu dari mereka harus memjadi seorang prajurit yang tangguh sepertimu. Aku tidak ingin keturunanku tidak meneruskan semangat juangku,” serunya. Mengingatkan Nelson untuk mendidik kedua putranya sedini mungkin.
Nelson yang hendak pergi itu menghentikan langkahnya seraya berkata. “ Mereka bahkan masih anak-anak bagiku. Bagaimana bisa aku berharap terlalu tinggi pada kedua putraku, sedangkan aku baru saja memulai kehidupanku dengan mereka.”
“ Aku tidak ingin menaruh beban berat pada kedua putraku, aku ingin mereka menikmati masa kanak-kanaknya. Jadi ku mohon, jangan membahas ini lagi. Dan jangan menaruh beban itu pada kedua putraku,” pintanya. Namun lebih terdengar seperti sebuah ancaman.
Setelah mengatakan itu, Nelson beranjak pergi dari ruangan.
Kakek menghela napas beratnya, kakinya seketika melemas. “ Aku tahu tidak seharusnya aku menaruh beban itu pada kedua putramu. Tetapi hanya kedua putramu yang cocok meneruskan karier keluarga Hongli dalam bidang militer.” Batinnya. Seraya menatap bayangan Nelson yang berlalu.
Nelson menggendong Dean yang masih tertidur, sedangkan Dion bersama Bella yang lebih dulu berpamitan sudah menunggu di mobil.
Semua orang memandangi kepergian mereka dengan tatapan iri. Setelah berpamitan dengan orang tuanya Nelson pun melajukan mobilnya membelah kegelapan di jalanan yang sepi pengendara.
Sesampainya di Mansion.
__ADS_1
Raut wajah Nelson terlihat murung, dia terkesan lebih dingin. Bella hanya mengikutinya masuk ke dalam. Oliver telah menunggu kedatangan mereka. Dia menyapa dengan sopan dan hormat pada keduanya.
“ Tuan, Nyonya. Anda sudah pulang,” ucap Oliver.
Nelson menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Tolong kau bersihkan tubuh Dean dan ganti pakaiannya dengan pakaian tidur.”
“ Baik Tuan,” seraya mengikuti Nelson menuju kamar Dean. Sedangkan Dion bersama dengan Bella.
Nelson sedang berada di depan kaca jendela dalam ruang kerjanya, masih terngiang-ngiang perkataan kakeknya. Dia teringat kembali saat pertama kali dia di didik dengan keras, di usianya yang baru menginjak sebelas tahun itu. Nelson harus merasakan penderitaan.
Di tahun-tahun pertamanya dia menerima kesulitan, bahkan dia menangis memohon untuk tidak melakukannya. Namun semakin dia memohon, semakin keras pula didikan dari kakeknya.
Nelson memejamkan kedua matanya, seraya menghisap rokoknya kembali, seisi ruangan telah di penuhi oleh asap. Tidak lama kemudian Bella datang, dia menghampiri suaminya lalu bertanya dengan hati-hati.
“ Ada apa? Mengapa kamu murung sekali suamiku?” tanyanya.
Nelson mengulas senyum pada istrinya yang tengah kebingungan menghadapi raut wajahnya yang tidak baik.
“ Aku hanya sedikit lelah saja, maaf karena sudah membuatmu khawatir,” ujarnya pada istrinya.
“ Ada apa? Apa yang sudah membuatmu risau?” Bella semakin cemas pada suaminya Nelson.
Seraya menghisap rokoknya dia berkata. “ Entahlah, aku hanya terlalu banyak berpikir.”
Bella masih tidak mengerti tentang apa yang di bicarakan oleh suaminya itu, tanpa mengeluarkan suara sedikit pun dia menjadi pendengar yang baik untuk Nelson.
Setelah suaminya berbicara, Bella pun berkata. “ Aku tidak mengerti tentang apa yang kamu bicarakan ini. Aku hanya bisa menyarankan, agar jangan terlalu banyak berpikir. Biarkan semuanya berjalan seperti air, berlalu dengan tenang. Bukankah kau bilang semuanya belum pasti? Jadi mengapa harus repot-repot memikirkan semua itu,” Bella memberi saran pada suaminya agar tidak terlalu banyak berpikir.
Nelson yang mendengarkan perkataan istrinya itu, merasa jika dia tidak salah memilih Bella untuk berada di sampingnya.
“ Tidurlah, malam sudah larut. Kau juga butuh istirahat. Masih ada sedikit pekerjaan yang harus aku selesaikan, pergilah lebih dulu,” ucap Nelson. Seraya mengecup lembut kening Bella.
“ Aku tahu,” Bella tersenyum lalu beranjak pergi meninggalkan Nelson.
Di sisi lain
di sebuah apartemen Gisel tinggal, saat dia mulai melangkah masuk ke dalam apartemen, rasanya begitu hampa. Dia duduk di ruang tamu, terlihat jelas bayangan seorang pria dan wanita yang tengah bercanda ria. Gisel memejamkan kedua matanya, menghela napasnya perlahan.
“ Mengapa begitu menyesakkan,” batinnya.
“ Ada apa? Kenapa kau murung sekali?” Suara seorang pria menyadarkannya.
Gisel menatap lembut wajah pria tampan di depannya, seraya tersenyum, dia menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
“ Terasa begitu menyesakkan bukan tanpa dirinya?” Dia berkata lalu duduk di samping Gisel.
“ Kau masih merasakan rasa sakitnya hingga sekarang. Ku dengar dia bahkan masih mencarimu,” dia berkata sambil mengusap lembut punggung Gisel.
Kedua mata indah itu tak kuasa menahan tangisnya, jika mengingat masa lalunya. Dia kehilangan segalanya hanya karena sebuah insiden.
“ Semakin aku melupakannya, semakin besar pula keinginanku untuk bersamanya. Apa yang harus aku lakukan? Jika suatu hari nanti aku bertemu dengannya di tengah jalan?”
“ Aku begitu mencintainya, tapi apalah dayaku?” Gisel menangis di dada pria tampan, tubuh kekar dengan dada bidangnya itu membuatnya merasakan kenyamanan untuk sesaat.
Perlahan dia menghapus air matanya, mencoba menguatkan kembali hatinya.
“ Baiklah, aku harus segera kembali ke kantor. Masih ada pekerjaan yang harus aku kerjakan, jaga dirimu dengan baik,” pria itu pun pamit meninggalkan apartemen.
Gisel masih terduduk di ruang tamu, dia pun berjalan menuju kamar tidurnya. Entah kenapa dia merasakan kerinduan yang begitu mendalam. Saat kembali ke rumah yang telah dia tinggalkan.
Bayangan-bayangan itu perlahan melintas di kedua matanya, seorang pria dan seorang wanita yang tengah di mabuk asmara itu terlihat sangat bahagia.
Gisel menundukkan kepalanya, dan butiran Crystal bening pun mulai berjatuhan. Dia begitu terisak mengingat kenangan yang begitu indah yang telah dilewati bersama.
Rasanya dia merasakan pelukan seseorang di sampingnya hingga dia benar-benar terlelap dalam tidurnya.
Kembali ke Nelson.
Hari ini Nelson membawa Bella menuju pinggiran kota Jincheng.
“ Kita akan pergi ke mana?” Bella bertanya dengan sedikit bingung.
“ Kita akan pergi ke tempat Ayahmu,” ucapnya.
Bella menundukkan kepalanya, dia menghela napas beratnya.
“ Walaupun dia tidak merestui kita, setidaknya kita sudah memberi tahunya tentang pesta pernikahan kita,” ujar Nelson seraya memegang erat tangan Bella.
Bella hanya mengulas senyum tipisnya pada Nelson. “ Aku tahu, walaupun dia begitu, tetapi dia tetap Ayahku.”
Mobil pun melaju pesat meninggalkan pusat kota Jincheng.
*
*
Terima kasih atas dukungannya ya guys. Salam sayang dan sehat selalu.🙏🥰🫶🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung