
Di rumah sakit.
Kondisi Dean telah membaik, bahkan dua hari lagi dia sudah bisa keluar dari rumah sakit. Nelson cukup bahagia kala mendengar kabar baik itu, di tambah sel kankernya belum berkembang. Karena rajin meminum obat- obat paten yang di berikan oleh Dokter.
Tok… tok… pintu kamar di ketuk.
“ Masuk,” ucap Yohan.
Bella masuk ke dalam. Di lihatnya Dean sedang tidur, begitu pula dengan Nelson di ruangan satunya. Bella tersenyum kala melihat keduanya.
“ Apakah Dean tidak ikut?” tanya Robin.
“ Ah. Iya dia tidak ikut, saat aku pergi dia masih tertidur bersama Tuan Andre,” jawabnya.
“ Ah ya,” ucap Robin.
“ Baiklah karena kakak ipar sudah datang kami ingin undur diri lebih dulu,” ucap Yohan.
“ Emm, silahkan,” Bella menganggukkan kepalanya, seraya mempersilahkan mereka untuk pergi.
“ Kami pergi dulu ya, tolong jaga Nelson,” ucap Ronald.
Bella hanya menganggukkan kepalanya. Kini langit telah gelap. Dia menghampiri Dean, dan duduk di sampingnya. Di usapnya lembut puncak kepala putranya, serta wajahnya. “ Lekaslah pulih putraku, ibu sangat merindukanmu,” ungkapnya.
Dean masih memejamkan matanya, di pegangnya tangan kecil Dean, kini dia merasa, dan melihat perubahan pada putra sulungnya.
Bella tidak menangis, hanya saja matanya berkaca-kaca. Di tatapnya lagi wajah kecil Dean. Dia begitu damai dalam tidurnya, di kecupnya lembut keningnya, seraya tersenyum dia berkata. “ Kau sangat kuat dan tampan anakku,” ucapnya.
Bella bergeser ke ruangan satunya. Di mana Nelson suaminya sedang tidur di sana, di tatapnya lembut pria yang kini menempati seluruh tempat di hatinya itu.
“ Apakah kau masih tidur suamiku? Apakah kau tidak mendengarku masuk?” tanyanya.
Bella mencoba mengecek penglihatan Nelson dengan cara mengerak-gerakkan tangannya di depan matanya. Dan hasilnya ternyata suaminya tidak bereaksi.
Bella menghela napasnya. Dia melangkahkan kakinya menuju kafe yang berada di lantai satu rumah sakit.
Di sana Bella cukup takjub melihat desain interior kafenya, cukup memanjakan mata pengunjung.
Bella membeli dua gelas kopi, serta beberapa kudapan manis. Serta makanan. Saat dia kembali, Dean dan Nelson masih tertidur.
Bella menghela napasnya. Berjalan menuju jendela kaca yang besar, dia menatap langit seraya menyesap kopi yang di belinya. Dia menikmati pemandangan yang dilihatnya, Bella tersenyum lembut. Tiba-tiba terdengar bisikan lembut di telinganya.
“ Kapan kau tiba istriku?” bisiknya.
Saat Bella berpaling. Wajahnya berhadapan dengan wajah tampan Nelson, hidung mereka bahkan beradu. Nelson tersenyum, tanpa persetujuan Bella, dia menarik kepalanya, hingga menyentuh bibir Nelson.
Dengan segera dia ******* habis bibir ranum istrinya, sekian lama mereka saling berciuman tanpa memedulikan sekitarnya.
__ADS_1
“ Aku sangat merindukanmu,” bisik Nelson.
Nelson memeluk Bella begitu mesra, menghirup aroma tubuhnya yang kini telah menjadi candu baginya.
“ Ah. Sudahlah jangan menggodaku lagi,” pintanya.
Nelson yang mendengar perkataannya pun melepaskannya. Walaupun sebenarnya dia enggan.
Mereka berdua duduk bersama, memandang langit bersama, karena Dean masih tertidur.
“ Lalu di mana Dion?” tanya Nelson.
“ Dion sedang tidur, dan aku tidak ingin mengganggunya,” ucap Bella.
“ Ku dengar Dion menghilang?” tanya Nelson pura-pura tak tahu.
“ Emm… kami kira dia hilang, tapi ternyata dia berada di kamar Andre. Tadinya aku begitu panik kala mencari Dion. Namun, tanpa di duga Dion berada di kamar Andre. Padahal aku sudah putus asa mencarinya. Aku takut dia hilang tidak kembali lagi. Namun aku lega, karena Dion mampu mengobati luka yang tak pernah terobati itu.” ungkapnya
Nelson tersenyum kala mendengarkan penuturan dari Bella.
“ Emm.. putra kita memang sangat populer, bahkan dia terbaik dalam mengobati luka,” ucap Nelson.
Bella berkata. “ Aku tahu, dia pandai melakukan itu.” Seraya menyesap kopinya. Bella menyandarkan kepalanya pada bahu Nelson.
Nelson dengan senang hati menerimanya, dengan lembut dia mengusap puncak kepalanya.
“ Aku sangat tidak percaya diri Nelson. Aku sangat merasa buruk saat ini.” Bella terisak.
Nelson juga merasa bersalah. “ Berhentilah berkata omong kosong, kau sudah bekerja keras untuk anak-anak kita.”
“ Tidak ada seorang ibu yang buruk untuk anak-anaknya. Kau begitu kuat, jika kau ibu yang buruk, bagaimana bisa kedua putraku tumbuh dengan begitu baik.”
“ Mereka bahkan memiliki hati yang hangat, sungguh itu adalah anugerah terindah bagiku. Jangan berkata omong kosong lagi, bagi mereka berdua kau adalah malaikat tanpa sayap yang di kirim oleh Tuhan untuk mereka.”
“ Jangan berkecil hati, karena tubuhmu lah yang mengingat semua yang telah kau korbankan untuk anak-anak.”
“ Jangan terlalu banyak berpikir, anak-anak akan sedih ketika mendengar apa yang kau katakan saat ini. Tak ada yang perlu kau tangisi, kau adalah seorang ibu yang hebat dan kuat. Tak ada seorang pun yang dapat mengkritikmu saat ini,” ungkap Nelson yang begitu mengagumi Bella istrinya.
Bella yang mendengar perkataan Nelson merasa terharu, dia begitu terisak, Nelson terus mengusap puncak kepalanya dengan begitu lembut.
Di belakangnya Dean sedari tadi mendengarkan percakapan keduanya.
Matanya berkaca-kaca, perlahan buliran crystal bening mulai berjatuhan membasahi wajah tampan Dean.
Dean terisak. Namun, tak mengeluarkan suaranya. Hingga Nelson serta Bella tidak menyadarinya.
“ Ibu…” panggil Dean.
__ADS_1
Seketika Nelson dan Bella berbalik, mereka terkejut kala melihat Dean telah bangun. Namun, wajahnya di penuhi oleh air mata.
Nelson segera menghampiri anaknya, dia bertanya. “ Ada apa? Bagian mana yang sakit, Nak?”
Dean menggelengkan kepalanya.
“ Lalu mengapa kau menangis?” tanya Nelson.
“ Ibu…” panggil Dean lagi.
Bella memgusap air matanya, seraya menghampiri Dean dia berkata. “ Ada apa, Sayang?” tanyanya.
“ Maafkan aku, karena selalu membuatmu khawatir,” ucap Dean.
“ Maafkan aku karena selalu merepotkanmu, maafkan kami berdua,” Dean kembali terisak.
Bella tidak tahu harus bagaimana? Yang dia bisa hanya memeluknya dengan erat, memgusap punggung putranya dengan lembut, dan menangis bersama.
“ Sungguh maafkan ibu, Nak. Ibu sungguh ibu yang buruk karena tidak tahu bahwa kau sakit. Maafkan ibu, maafkan ibu, sayangku.” ucap Bella berulang kali.
Nelson berkaca-kaca kala melihat interaksi keduanya. Rasanya dia benar-benar beruntung, bertemu dengan mereka.
Dua anak itu selalu memberikan kehangatan dalam dirinya. Sedangkan Bella memberikannya kenyamanan dalam sebuah hubungan.
“ Sudah, jangan menangis lagi. Seharusnya kita berbahagia. Karena Dean sudah membaik, dalam dua hari dia akan keluar dari sini.”
“ Berhentilah bersedih. Kita akan memulai kehidupan kita bersama. Aku harap kau akan menjadi wanita kuat,” ucapnya. Seraya mengecup kening Bella dan putranya.
Nelson mengusap air mata di wajah Dean. “ Kau adalah laki-laki. Jangan sering menangis.”
“ Kau harus berbahagia, agar mempercepat pemulihanmu, Nak. Kau harus berjanji pada ayah, jangan bersedih lagi. Jangan menyimpan dukamu sendirian lagi.”
“ Berbagilah pada ayah, atau ibumu. Setidaknya kami akan membuatmu sedikit lega nantinya. Ayah mohon, jangan lagi memendam apa yang kau rasakan. Apa kau mengerti, Nak?”
Dean menganggukkan kepalanya, dia tidak bisa berkata-kata. Hanya tangis bahagia yang menunjukkan semuanya. Rasa haru menyelimuti keluarga kecilnya. Semakin membuat Nelson bahagia.
Nelson tersenyum tipis kala melihat interaksi ibu dan anak, di hadapannya. Sungguh membuat hatinya begitu hangat dan bahagia.
*
*
*
Maafkan jika masih banyak kurang dan salahnya. Sehat dan happy sll Readersku sayang🙏🥰🫶🌹
Bersambung
__ADS_1