ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 198


__ADS_3

“ Kakak, apa aku ini egois? Apa aku ini seorang wanita yang tidak berperasaan?” Revan hanya berusaha memdengarkan kegelisahan adiknya dengan baik.


“ Aku tahu aku sudah menyakiti perasaannya, namun aku juga ikut terluka karenanya. Aku memintanya untuk menjauh dan lagi-lagi aku ikut merasakan sakitnya, selalu seperti itu. Entah kenapa aku selalu terikat oleh benang merah dengannya, aku ingin melepaskannya akan tetapi benang itu semakin erat mengikatku hingga aku tak mampu bernapas.” Gisel semakin terisak di tepi tempat tidur. Revan menghampirinya adiknya lalu mendekapnya dengan erat, berharap bisa mengurangi beban di hatinya.


“ Kau adalah wanita yang baik, kau bukannya egois tapi kau hanya melindungi dirimu sendiri agar tidak kembali terluka. Semua itu bukan karena kesalahanmu, hanya saja Tuhan tahu yang lebih baik untukmu.” Revan berusaha menghibur adiknya.


“ Hari-hari yang begitu menyedihkan berlalu dengan begitu panjang, aku tak bisa menghitungnya, aku ingin memeluknya namun aku tak bisa melakukannya lagi. Aku berusaha merelakannya, tapi di sini terasa sesak, sangat menyakitkan Kak. Tubuh dan pikiranku bagaikan bertengkar. Aku tak berdaya.” Gisel menepuk-nepuk dadanya di hadapan Revan. Dia semakin terisak buliran air mata itu terus mengalir dengan derasnya. Di luar Yohan mendengar semua perkataan yang di ucapkan oleh Gisel. Dia sangat sedih saat mengetahui wanita yang tersimpan di hatinya itu terluka, mendengar tangisannya saja sudah membuatnya gelisah. Yohan hanya menundukkan kepalanya, sesekali menengadahkan kepalanya berusaha menahan air mata agar tidak jatuh.


“ Aku tidak bisa menghancurkan harapannya untuk memiliki anaknya sendiri saat nanti dia mengikat janji dengan wanita lain. Aku sangat mencintainya lebih dari diriku sendiri. Kak, bukankah aku masih bisa mencintainya walau aku tak memiliki raganya? Mungkin aku akan tetap hidup seperti itu. Aku tak ingin membuat seseorang kecewa karena kekuranganku.” Gisel mengulas senyum tak berdaya pada Revan.


“ Tidak apa-apa, kau sudah melakukan apa yang kau bisa untuk menjauhkan dirimu darinya. Walau itu secara langsung membuatmu menderita. Namun percayalah waktu adalah penyembuh, seiring berjalannya waktu kau akan kembali terbiasa tanpanya. Jadi bertahanlah.” Revan mengusap puncak kepala Gisel. Berharap agar adiknya mampu melewati masa sulitnya. Gisel memeluk erat Kakaknya.


“ Tidurlah sebentar, aku akan membawamu pergi dari sini.” Revan membantu Gisel untuk menidurkannya di tempat tidur, menyelimutinya dengan pelan. Walau masih terisak namun Gisel berusaha untuk tidur dan bersikap tenang. Setelah melihat adiknya terlelap Revan keluar menemui Yohan yang masih setia menunggu di ruang tamu, kedua matanya berkaca-kaca saat mata keduanya bertemu pandang tanpa sengaja. Revan merasa jika Yohan akan menjadi Sadboy dalam hubungan adiknya.


“ Terima kasih karena sudah mengantarkan Gisel kembali ke sini. Aku bersyukur karena kau sangat peduli dengannya. Kau sudah tahu bukan? Bahwa Gisel mengalami depresi yang cukup berat saat insiden itu terjadi. Baru dua tahun belakangan ini kondisinya membaik, aku sangat khawatir dengan keadaannya saat mendengar Robin menemuinya. Tapi aku sedikit lega, karena pada akhirnya Gisel memilih untuk meninggalkannya walau hatinya kembali terluka. Itu lebih baik, dari pada dia menghancurkan harapan orang yang sangat di cintainya, melebihi apa pun.” Revan terdengar begitu gelisah saat berbincang dengan Yohan.


“ Alu bahkan tidak melakukan apa pun untuknya, aku bahkan tak bisa menghiburnya.” Yohan tersenyum pahit. Revan sedikit bingung dengan perkataan Yohan. Akan tetapi dia tahu jika Yohan menaruh rasa pada adiknya itu. Revan sedikit penasaran lalu bertanya.


“ Yohan, ada yang ingin aku tanyakan padamu. Apa kau bisa menjawabnya dengan dengan jujur?” Revan menatap lekat pada Yohan.


“ Ehm, jika itu pertanyaan yang masuk akal akubakan menjawabnya.” Sahut Yohan. Revan tersenyum penuh arti di hadapannya membuat Yohan bertanya-tanya.


“ Apa kau menaruh rasa pada Adikku?” Seketika ruangan menjadi hening, udara di dalam pun turun dan lebih terasa seperti di kutub, Yohan hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Revan.

__ADS_1


“ Walau aku memiliki perasaan untuknya, namun semua itu tak akan merubah apa pun. Seluruh jiwa dan hatinya masih milik Robin, dan mungkin selamanya akan seperti itu.” Yohan hanya tersenyum pahit. Tak ada yang bisa dia perbuat saatbini. Dirinya adalah seorang pria yang mencintai seorang wanita dalam diamnya. Hanya melihatnya dari jauh tanpa bisa memegang erat tangannya. Sudah cukup baginya untuk memiliki kebahagiaan, walau terkadang itu sangat menyakitkan baginya.


Di sisi lain.


Si dalam perjalanan, Robin mengemudi dengan kecepatan yang cukup tinggi dia berusaha untuk mengejar wanitanya. Berharap Gisel mau menghabiskan hidup bersamanya, dia sudah membulatkan tekadnya untuk menerima segala kekurangan dan kelebihannya. Walau awalnya dia terkejut namun Robin tak ingin menyerah begitu saja. Pikirannya sudah melayang ke mana-mana, dia takut jika dirinya akan kehilangan lagi wanita yang sangat berarti untuknya.


Saat Robin melewati persimpangan, tiba-tiba sebuah truk melintas menerobos lampu merah, Robin yang berada di dalam mobil menatap ke arah truk yang datang. Lalu mengalihkan pandangannya pada sisi kanannya, sisiwa-siswi TK itu tengah berada di dalam mini bus, jika dia menghindar otomatis akan banyak korban berjatuhan. Robin menguatkan hatinya dia mengerem di tengah jalan bersiap menerima hantaman yang akan mengguncang dirinya. Di dalam pikirannya hanya ada Gisel. “ Gisel, maafkan aku.”


“ Jika ini adalah takdirku, aku harap kita akan di pertemukan di kehidupan selanjutnya.” batinnya. Kedua matanya berkaca-kaca dan dengan sekejab mata. Truk itu menabrak Robin yang berada di kursi kemudi. Semua orang melihat aksi Robin, dan mereka saling berteriak histeris menyaksikan kecelakaan yang terjadi di depan mata mereka.


Jedeeeer Duuarr!!!!


Kaca mobil pecah, dia menoleh pada truk itu seperti slowmotion, tubuhnya terguncang begitu keras. Dia yang mengenakan sabuk pengaman terbanting ke sana kemari. Kepalanya berlumuran darah akibat terbentur, serpihan kaca mengenai kulitnya. Badan mobil yang di kendarai Robin di hantam begitu keras, mobilnya terbalik, berguling-guling, hingga akhirnya truk berhasil berhenti setelah mobil ringsek milik Robin menjadi bantalan penahan truk.


Robin yang masih tersadar itu menatap anak-anak yang berada di depan matanya, dia yang berada di posisi duduk dalam mobil yang terbalik hanya menatap nanar pada mereka yang bergidik ngeri melihat kondisi mobil yang ringsek. Kondisi Robin begitu parah, wajahnya dipenuhi oleh darah segar yang masih mengalir deras, tubuhnya sudah tak bisa bergerak, bahkan dia berusaha bernapas dengan susah payah. Rasa sakit yang teramat sangat menjalar di seluruh tubuhnya. Namun, pikirannya masih tertuju pada Gisel, kedua mata itu menatap ke arah luar kaca mobil yang telah pecah, kilauan crystal bening yang telah bercampur merahnya darah itu mengalir perlahan di wajah Robin. Dia merasakan kesepian di dalam hatinya, dia hanya tersenyum pahit menerima kenyataan hidupnya yang harus berakhir tragis.


“ Dia masih hidup, masih hidup cepat panggil ambulance!” Teriak seorang pria yang menghampirinya. Seketika Robin memejamkan kedua matanya.


Mobil ambulance serta mobil pemasam kebakaran tiba di lokasi kejadian, mereka berusaha mengeluarkan tubuh Robin yang terjepit dengan susah payah. Jalanan begitu macet karena kecelakaan tersebut.


“ Mengapa begitu macet?” Revan bergumam sendiri di dalam mobil. Karena mobil tidak bergerak sama sekali. Gisel mencoba mengintip dari jendela kaca mobil, tapi yang terlihat hanyalah banyaknya mobil yang terhenti tanpa bergerak.


“ Ada apa ini?” Revan semakin tidak sabar.

__ADS_1


“ Di depan sana ada kecelakaan besar Tuan, sehingga menutupi sebagian badan jalan.” Sahut sang sopir.


“ Bersabarlah, mungkin sebentar lagi.” Dan benar saja apa yang di katakan oleh Gisel, tak lama kemudian mobil berjalan dengan jalur yang di buka tutup oleh pihak berwajib. Gise yang melintasi lokasi kejadian melihat tim medis dan petugas pemadam kebakaran yang berusaha mengeluarkan sang korban, Gisel yang menatap nanar mobil ringsek yang di kerumuni orang. Hatinya terasa sesak begitu saja. Mobil yang dì tumpangi pergi tanpa berhenti melihat siapa yang menjadi korbannya.


Setelah usaha keras akhirnya tubuh Robin berhasil di keluarkan tim medis, dengan segera memberikan pertolongan pertama karena dirasa tubuh Robin masih memberikan tanda-tanda kehidupan, sehingga membuat mereka berharap agar si korban masih bisa di selamatkan. Matanya yang sayu terbuka sebelum akhirnya dia memejamkannya kembali.


“ Cepat kita harus segera membawanya ke rumah sakit.” Teriak petugas medis. Tubuh Robin segera di masukkan ke dalam mobil Ambulance dan membawanya ke sebuah rumah sakit. Mobil Revan memberikan jalan setelah mendengar sirine ambulance. Dan mobil ambulance pun melesat melewati mobil yang di dalamnya Gisel.


Nelson yang berada di kantor mendapat kabar bahwa Robin mengalami kecelakaan yang parah. Evan yang mendapat kabar lebih dulu segera membawa Nelson ke rumah sakit di mana Robin di tangani.


“ Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanya Nelson pada Evan.


“ Aku juga tidak tahu kejadian pastinya, yang jelas menurut saksi mata, saat kejadian dia tiba-tian berhenti di tengah jalan untuk menghentikan truk yang kehilangan kendali, agar tidak memakan korban lebih banyak jadi dia mengorbankan dirinya sendiri.” Nelson terdiam sejenak lalu kembali berkata.


“ Lalu bagaimana kondisinya?” Nelson bertanya dengan begitu cemas. Evan hanya menggelengkan kepalanya karena tidak tahu apa yang akan terjadi pada Robin.


Setibanya di rumah sakit. Andre, Yohan bahkan Ronald yang baru kembali dari luar negeri itu sudah menunggu di depan ruang operasi. Nelson melihat para sahabatnya menundukkan kepala tak sanggup menatap wajah Nelson.


“ Bagaimana?” Nelson menghampiri Andre yang tengah berdiri tenang. Dia hanya menggelengkan kepalanya tidak berkata sepatah kata pun padanya. Di raut wajahnya terlukis ketakutan yang amat besar.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2