ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 186


__ADS_3

Setelah selesai makan Anita dan Andre berbincang di bawah pohon yang rindang. Sebelum mereka kembali menjaga Robin.


“ Apakah aku boleh bertanya?” Anita ingin bertanya pada Andre.


“ Tentang apa?” jawabnya.


“ Aku sangat penasaran dengan kisah cinta Robin, ku dengar kisah cinta mereka begitu terkenal di militer.”


“ Tentu.” Andre pun mulai menceritakan awal mula kisa cinta Robin dan kekasihnya Gisel.


Flashback On


Saat pertama kali Robin dan Gisel bertemu.


Robin sedang membantu rekannya untuk bangkit saat melakukan pelatihan tiga hari tiga malam tanpa istirahat. Robin yang begitu antusias karena ingin mendapatkan cuti, dia menyeret kakinya melewati medan yang terjal.


Seorang prajurit yang kelelahan itu tumbang di atas derasnya air sungai, dengan sigap Robin segera menariknya, sedangkan Gisel tengah berjaga di salah satu pos medis tidak sengaja melihatnya, Gisel yang memperhatikan Robin yang keras kepala memaksakan tubuhnya yang sudah kelelahan itu untuk tetap berjalan.


Robin membantu rekannya untuk kembali berjalan, tiba-tiba terdengar suara dengan nada cukup tinggi. “ Ya! Apa kau ingin mati?”


Robin hanya meliriknya sebentar lalu melangkah pergi. “ Berhenti!” Gisel berteriak padanya.


“ Apakah hadiah cuti itu lebih penting dari nyawamu?” Gisel menarik lengan Robin.


Robin menatap Gisel dengan tatapan dingin, dia menghempaskan tangan Gisel. Dia kebingungan apa mau wanita yang ada di hadapannya, Robin lebih memilih untuk pergi melanjutkan perjalanannya, meninggalkan Gisel yang masih mengumpat di tempatnya.


Dia yang bersikeras ingin memenangkan hadiah cuti itu bukan tanpa alasan. Robin adalah anak mafia konglomerat yang cukup terkenal. Dan dia sebelum masuk dalam dunia militer adalah anggota geng. Dia dengan susah payah keluar dari geng yang membesarkan namanya dan dengan tekad yang sudah bulat dia berpindah haluan untuk mengabdikan dirinya untuk negaranya.


Saat Robin memasuki pelatihan tentara, dia memiliki kekasih yang sangat dia cintai, setelah berjalan tiga tahun menjalin hubungan. Sang wanita memilih untuk mengakhiri hubungan mereka karena memiliki tambatan hati yang lain dan akan segera menikah. Robin yang mendengar itu hanya bisa menerimanya. Dia bersumpah akan hadir di upacara pernikahan sang mantan kekasih sehingga dia harus berjuang untuk mendapatkan hadiah cuti dari atasan. Gisel tidak menyerah dia menyeret Robin ke pos medis dan mengobati luka-luka yang ada di tubuh serta kakinya. Dari situlah mereka mulai dekat.


Karena kegigihannya akhirnya Robin yang mendapatkan hadiah cuti itu, dia sedang berada di dalam mobilnya dengan pakaian formal yang membalut tubuh atletisnya. Tiba-tiba seorang wanita yang memgenakan seragam militer itu langsung masuk dan duduk di kursi penumpang dalam mobilnya. Robin melirik sekilas bayangan itu milik letnan Gisel, di usianya yang terbilang muda itu mampu memiliki pangkat yang lebih tinggi dari pada Robin.


“ Sersan Yohan, selamat atas kemenanganmu. Sekarang kau bisa menghadiri pernikahan mantan kekasihnu. Dan aku akan membantumu untuk melakukan balas dendam padanya.” ujarnya seraya mengeluarkan sebuah gaun putih selutut dari ranselnya.


Robin hanya meliriknya dengan ujung mata. Tampak Gisel masih mengenakan seragamnya. “ Bisakah kau memiringkan kaca spionnya? Aku akan berganti pakaian terlebih dulu.” Pintanya.


Letnan Gisel adalah seorang prajurit yang bergelar sebagai dokter bedah, dia sangat terkenal di akademi. Selain cantik dia juga memiliki talenta yang mumpuni sehingga di usia yang sekarang sudah menyandang gelar Letnan. Sedangkan Ayahnya sendiri Jenderal dengan bintang tiga di pundaknya. Sungguh keluarga mengagumkan. Gisel yang telah selesai berganti pakaian menggerai rambutnya yang berwarna coklat itu di hadapan Robin, dan dia segera berpindah ke kursi di samping Robin.


“ Yup, aku sudah selesai.” Senyumnya hangat, wajahnya memesona saat dirinya mengenakan gaun putih di tubuhnya, sangat cocok dengan warna kulitnya yang putih halus. Robin memberikan tatapan yang hangat terhadap Gisel yang berada di sampingnya.


“ Apa aku cantik?” Gisel bertanya dengan mimik wajah yang terlihat lucu di depannya.

__ADS_1


“ Apa kau tahu aku seperti apa?” Gisel kembali bertanya.


Robin yang kebingungan pun asal menjawab. “ Mungkin kau adalah seorang hantu yang cantik.


Wajah Gisel mengerut, ekspresinya sulit untuk di artikan. “ Jadi kau tidak tahu ini.” Kedua tangannya mengepak-ngepak bagaikan anak burung yang belajar terbang.


Robin menggelengkan kepalanya, tanda dia tidak mengerti maksud dari perkataan dan tingkah lakunya.


“ Apakah aku tidak seperti malaikat yang turun dari langit untuk membantumu.” Gisel sedikit kesal. Dia pun mengeluarkan sepatu hak tingginya agar senada dengan gaun yang tengah dinkenakannya.


“ Baiklah, mari buat kesepakatan. Jika sekarang aku membantumu. Nanti kau harus membantuku.”


Robin melirik dengan tidak percaya pada wanita yang ada di hadapannya sekarang ini.


“ Kau tahu bukan di timmu akan ada seorang kapten yang baru?” Robin mengangguk dan berkata. “ Ya. Dia sudah tiba dua hari yang lalu.”


Gisel berpikir sejenak. “ Ternyata lebih cepat dari perkiraanku.” ujarnya pelan.


“ Baiklah. Jika aku sudah melakukan tugasku. Kau harus mengatakan bahwa kau sedang berkencan denganku. Setuju?” Gisel mengulurkan tangannya yang terkepal pada Robin.


“ Setuju.” Seraya menyentuh tangan Gisel yang terkepal.


“ Ayo kita berangkat. Mobil pun melesat membelah jalanan yang cukup lenggang, menuju gedung di mana acara pernikahan sang mantan kekasih Robin di adakan.


Saat berada di ambang pintu, pengantin wanita tengah menunggu selesai di rias, dia begitu cantik dengan balutan gaun pengantin di tubuhnya. Sang pengantin tampak bahagai, dia menciumi wangi buket bunga di tangannya, sesekali dia tersenyum.


Namun, saat dia mendapati seorang pria tengah berdiri di hadapannya. Matanya membelalak seakan bola matanya yang hitam itu akan melompat.


“ Apa yang kau lakukan di sini? Apa kau datang untuk mempermalukanku?” ujar sang pengantin wanita.


“ Aku datang ke sini untuk melihat siapa pria yang akan menikah denganmu. Dan aku juga sudah bertemu dengan mempelai priamu.” ucap Robin.


“ Apa dia pria baik?


“ Apa? Aku mohon jangan lakukan apa pun, aku mohon padamu. Jangan berbuat hal gila.” Isak sang pengantin.


Robin yang tengah berdiri itu tampak mengulas senyum di wajahnya. Tiba-tiba Gisel masuk dan menggandeng lengan Robin.


“ Mengapa tidak menunggu? Ah, aku bahkan hampir kehilanganmu.” Gisel bergelayut di salah satu tangan Robin. Gisel yang melihat wanita di hadapannya segera menyapa dengan sopan dan elegan.


“ Kenalkan aku Gisel, kekasih Robin. Dan aku adalah seorang Dokter bedah. Salam kenal.” Gisel berlagak imut dan manja di depannya.

__ADS_1


Sang pengantin yang ada di hadapannya itu tidak percaya. Bahwa wanita yang ada di hadapannya itu adalah kekasih dari Robin, pria yang pernah mengisi hatinya.


Robin yang mendengar perkataan Gisel pun memindahkan tabgannya, dengan lembut dia menggenggam tangannya begitu erat. Robin menampilkan senyuman yang begitu menawan di depannya. Dan baru kali ini juga Gisel melihatnya secara langsung.


“ Aku datang ke sini hanya ingin mengucapkan selamat untukmu, karena kau sudah menemukan seseorang yang bisa membuatmu bahagia. Aku tidak bermaksud mempermalukanmu, aku hanya ingin berterima kasih padamu karena sudah melepaskan aku. Sehingga aku bisa bertemu dengan wanita yang sangat cantik ini. Kalau begitu aku akan pamit di sini. Semoga bahagia dengan pernikahanmu.” Robin pun pamit dan masih menggenggam erat tangan Gisel.


Tiba-tiba sang pengantin wanita itu menangis histeris saat Robin pergi meninggalkan ruangannya.


Gisel masih tidak percaya dengan apa yang di dengar olehnya. Dia pikir Robin akan balas dendam dan menghancurkan pernikahan mantan kekasihnya. Ternyata Robin datang ke sana untuk mengucapkan selamat padanya. Gisel tersenyum simpul mengikuti langkah Robin di depannya.


Flasback Off


“ Lalu apa yang terjadi selanjutnya?” Anita bertanya dengan penasaran pada Andre.


“ Suatu saat nanti aku akan menceritakannya kembali, lihatlah langit sudah cukup gelap. Sebaiknya kita bergegas.” Setelah mereka membereskan tempat makan, tidak lama bukiran air hujan turun membasahi bumi.


Andre dan Anita segera berlari berlari masuk ke area gedung rumah sakit, tampak rambut, dan juga pakaian Anita sedikit basah. Andre yang melihatnya pun dengan sigap melepas mantelnya lalu memasangkannya di tubuh Anita. Anita menoleh seketika wajah keduanya sangat dekat, membuat detak jantung Anita maupun Andre berdegup lebih kencang dari biasanya, darahnya mendesir gejolak cinta itu semakin tumbuh seiring berjalannya waktu yang di habiskan keduanya.


Satu minggu setelah insiden penculikan.


Dean masih terbaring koma, setelah melewati masa kritisnya Dean di nyatakan stabil sehingga dia sudah di pindahkan di bangsal VVIP di mana Dion juga Nelson di rawat. Luka lebam dan goresan ditubuhnya mulai sembuh, luka bekas operasi di kepalanya membaik, rambut di sekitarnya mulai tumbuh.


Sedangkan Dion semenjak insiden itu dia kehilangan sosok ceriamya, dia menjadi pendiam. Bella juga menjadi lebih murung lagi dan menjadi wanita yang banyak diam. Nelson merasa kehilangan kehangatan dalam keluarganya, di tambah Dean belum sadarkan diri semakin membuatnya jatuh.


Pagi ini Nelson memdapat kabar bahwa Lian Xia ayah mertuanya di temukan tak bernyawa di tempat persembunyiannya. Dan penyebabnya belum di ketahui. Bella yang mendapat kabar itu semakin terpuruk walau dirinya membenci ayahnya akan tetapi di dalam lubuk hatinya, dia masih memiliki kasih sayang untuknya.


Bella tengah terduduk di sudut jendela dia menatap langit yang cukup mendung hari ini, seakan tahu akan duka Bella, wajahnya yang tirus itu tampak kuyu, matanya sembab karena terus menerus menangis tanpa henti karena meratapi jalan hidupnya yang pilu, setelah suami serta kedua putranya mengalami hal mengerikan. Belum juga usai kegelisahannya tentang putra sulungnya yang sampai sekarang belum siuman, kini dia harus di rundung duka atas kematian Ayahnya.


Nelson yang berada di ambang pintu itu menatap sendu tubuh istrinya dari belakang, yang semenjak insiden itu telah kehilangan cukup banyak berat badan. Dia berjalan pelan hingga tak menimbulkan suara langkah kakinya.


“ Apa kamu sudah siap? Apa kamu ingin pergi ke sana?” Nelson bertanya, suaranya tertahan seakan menahan kesedihannya sendiri.


Bella yang mendengar suara suaminya pun berbalik pelan, di raut wajahnya terlukiskan kesedihan yang amat dalam, wajahnya pucat seakan tidak ada aliran darah yang mengalir di bagian sana. Sorot matanya begitu kosong, sesekali bulu mata yang lebat dan lentik itu berkedip.


Dia tersenyum dengan lembut saat menatap wajah suaminya, Nelson hanya bisa mengatupkan bibirnya, dia sangat mengerti dengan yang ada dibalik senyuman itu, membuatnya semakin sedih. Bella bangkit dari duduknya dia meraih tangan suaminya yang sedari tadi sudah terulur padanya.


“ Ayo kita pergi.” Ajaknya. Nelson menganggukkan kepalanya. Di luar sudah ada Oliver dan juga Evan, mereka menunggu keduanya untuk pergi ke sebuah rumah sakit untuk mengambil jasad Lian Xia yang akan di semayamkan di rumah duka di rumah sakit J yang berada di bawah di bawah naungan Hongli Group.


*


*

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2