ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 141


__ADS_3

“ Apa tidak ada yang lain lagi yang akan kakek sampaikan? Aku harus segera kembali,” ucapnya datar.


“ Jika dia sudah sembuh ajaklah mereka bermain di sini. Sudah lama sekali rumah ini tidak terdengar suara anak-anak berlarian. Aku menginginkan suasana hangat seperti itu.” Pintanya pada Nelson.


“ Ya. Aku akan membawanya di akhir pekan nanti jika kondisi Dean sudah stabil.” ucap Nelson.


“ Pergilah,” ujar kakek Hongli.


Nelson pun beranjak pergi dari sana. Saat menuruni anak tangga semua orang melihat ke arah Nelson dengan tatapan takut. Terlihat Linny Su masih menangis seraya berlutut di ruang tamu, dia tidak beranjak sedikit pun dari sana. Namun itu semua tak memggugah hati Nelson, dia terlalu marah padanya. Bahkan Nelson tidak menunjukkan belas kasih padanya. Nelson pergi tanpa menoleh ke belakang.


Sedangkan Linny dia begitu menyesal karena sudah membuat masalah yang begitu besar untuknya, dan untuk keluarganya juga, kini usaha keluarganya di ambang ke bangkrutan karena dirinya.


Di Mansion Nelson.


Di kamar Dean masih tertidur, dia di temani oleh ibunya. Dion juga tidur bersamanya. Nelson kembali ke mansion saat tengah malam. Di tatapnya Bella yang tertidur seraya memegang tangan kecil Dean.


Nelson menggendong Bella yang tertidur, dengan perlahan dia memindahkannya ke kamar. Nelson meletakkan tubuh Bella di tempat tidur, dengan lembut dia menyelimuti istrinya, dikecupnya lembut kening istrinya seraya dirinya pergi ke kamar mandi.


Di tengah tidurnya Dean terbangun, dia meringis ke sakitan. Kepalanya seakan berdenyut, pandangannya kabur.


Dion yang terbangun karena suara Dean pun sedikit terperanjat kala melihat Dean kesakitan.


“ Ada apa? Mengapa kakak begitu kesakitan?” ucapnya cemas.


“ Ayah… di mana Ayah?” Tanya Dean pada Dion.


“ Aku akan memanggil Ayah, tunggulah sebentar,” pintanya.


Nelson yang berada di dapur mendengar seseorang yang tengah berlari di lantai atas. Dan ternyata itu adalah Dion.


“Ayah,” dengan napas tersengal-sengal dia memanggilnya.


“ Ada apa, Nak?” Tanya Nelson pada putra keduanya.


“ Ayah, cepatlah kemari Dean Ayah Dean,” jawabnya.


Nelson yang melihat Dion begitu cemas segera menaiki tangga dengan cepat menuju kamar Dean.

__ADS_1


Napas Nelson tersengal-sengal kala sampai. Dia segera menghampiri Dean yang meringkuk kesakitan.


“ Yang mana? Bagian mana yang sakit?” tanya Nelson dengan panik.


Dean menatap Nelson dengan lirih dia berkata.” Kepalaku sakit ayah,” ucapnya pilu.


Nelson segera mencari obat yang sudah diresepkan oleh Dokter Kevin untuknya. Nelson kemudian memberikan pil obat pereda nyeri untuknya. Dean pun meminumnya perlahan.


“ Tunggulah sebentar kau akan membaik setelah meminumnya,” ujar Nelson seraya memeluk Dean agar dia lebih tenang.


“ Ayah apa yang terjadi padanya?” Dion bertanya pada Ayahnya Nelson.


Nelson meminta Dion mendekat padanya. Dion segera duduk di samping Nelson. Nelson memeluk keduanya seraya berkata. “ Dean tidak apa-apa, dia hanya sakit sedikit. Kau tidak perlu khawatir,” ucapnya. Menenangkan Dion yang cemas.


Perlahan Dean mulai berangsur-angsur tenang, Nelson menatap nanar kedua putranya yang tertidur di sampingnya. Nelson memeriksa infusan Dean dan terlihat sudah habis. Dengan cekatan dia menggantinya dengan yang baru.


Perlahan sinar matahari menembus dari sela-sela gorden jendela kamar Dean. Nelson terbangun kala cahayanya menerpa wajah tampannya. Dengan enggan dia bangun seraya mengucek matanya yang masih mengantuk. Karena semalaman Nelson menjaga Dean bersama Dion, sehingga dirinya masih mengantuk kala menjelang pagi.


Saat Nelson terbangun hal pertama yang dilihatnya adalah wajah cantik istrinya. Nelson tersenyum seraya berkata. “ Pagi,” ucapnya.


Bella membalas senyuman Nelson, dia berkata. “ Kau pasti lelah?” tanyanya pada Nelson yang masih terbaring di sofa.


Bella mengetuk dahi Nelson dengan lembut, seraya berbisik. “ Apa kau tidak lihat anak-anak sudah bangun.”


Nelson mengalihkan pandangannya pada tempat tidur putranya, dan terlihatlah dua pasang mata yang indah itu sedang memandang keduanya. Namun, bukan Nelson namanya kalau tidak berani menunjukkan siapa pemilik dari Bella. Dengan senangnya dia menggoda kedua putranya. Namun kekecewaan yang dia dapatkan. Karena kedua putranya tidak tergoda oleh ulahnya.


Bella cekikikan kala melihat ekspresi Nelson yang murung karena tidak berhasil menggoda kedua putra mereka. Nelson beranjak dari duduknya dia berjalan menghampir Dean. Dengan sigap dia mengambil termometer untuk mengukur suhu tubuhnya.


Di dekatkannya pada lubang telinga Dean. Tak lama kemudian alat ukur pun berbunyi memperlihatkan 38 derajat Celcius. “ Kau demam!” ucapnya. Sebaiknya kita ke rumah sakit, kau harus melakukan pemindaian untuk melihat seberapa parah luka di kepalamu,” pintanya.


Ayah aku hanya demam, setelah minum obat aku pasti sembuh,” ucapnya.


“‘Ada apa?” tanya Bella pada Nelson.


“ Lihatlah demamnya cukup tinggi aku khawatir padanya, aku tidak ingin sesuatu yang buruk menimpanya,” ujarnya pada istrinya. Seraya menunjukkan hasil alat ukur suhu tubuh Dean padanya.


Bella menganggukkan kepalanya seraya berkata. “ Sebaiknya kau membawanya ke rumah sakit.”

__ADS_1


“ Ibu!” Dean setengah berteriak padanya.


Dion bahkan syok kala mendengar Dean berteriak. Biasanya Dean tidak bersikap seperti itu. Karena terbilang memiliki pembawaan yang tenang. “ Kau seharusnya tidak membentak ibu seperti itu!”


“ Kau tahu dengan jelas, bahwa perkataan Ayah tidak bisa di bantah,” Dion menekankan bahwa apa pun perkataan Ayahnya semuanya adalah mutlak.


Dean hanya terdiam, menundukkan kepalanya. “ Ah bahkan adikku sendiri mengkhianatiku,” batinnya.


“ Ayah pergi mandi dahulu, istriku tolong kau mandikan Dean. Setelah selesai aku akan membawanya ke rumah sakit,” pintanya pada Bella.


Bella hanya menganggukkan kepalanya, dia memandang Dean yang sedari tadi murung, bahkan sepertinya dia benar-benar tidak ingin pergi ke sana.


“ Ayo ibu akan membantumu mandi,” bisiknya pada sebelah telinga Dean.


“ Ahh ayolah ibu, aku bukan anak-anak lagi,” ujarnya seraya melangkahkan kakinya ke kamar mandi, Bella menyusulnya dari belakang.


Di sisi lain.


Keluarga Su sudah benar-benar bangkrut bagaimana tidak? Akibat ulah satu orang yang terkena imbasnya adalah semua keluarga besar Su. Dalam semalam saham perusahaan Su Group anjok.


Linny Su tidak menyangka jika Nelson akan sekejam ini pada keluarganya. Dia benar-benar sudah salah mengganggu orang. Bahkan suaminya sendiri yang notabenenya adalah sepupunya tidak mampu melawan Nelson. Linny merasa frustrasi pada hidupnya sekarang.


Bahkan seperti yang di katakan oleh Nelson. Bahwa ini baru peringatan, jika dia mau dia bisa menghilangkan keluarga Su untuk selama-lamanya dari negara ini. “ Aaah. Hidupku benar-benar hancur sekarang,” batinnya. Seraya menggoyang-goyangkan gelas anggur di tangannya.


Di sebelah tempat duduknya ternyata ada Elena Shen, mantan istri Nelson. “ Kudengar usaha orang tuamu bangkrut?” tanyanya pada Linny Su.


Linny yang sudah setengah mabuk itu berkata. “ Emm.. itu semua adalah ulah Nelson, jika saja dia tidak menghasut semua orang untuk meninggalkan kami. Semua ini pasti tidak akan menimpa kami semua” ucapnya yang setengah mabuk.


Elena yang mendengarkan semua perkataan yang di lontarkannya pun. Memiliki sebuah ide, untuk membalas dendam pada Nelson. Karena pada dasarnya Elena juga memiliki dendam yang mendalam pada Nelson yang juga mantan suaminya.


Kini Elena memiliki partner untuk melancarkan balas dendamnya, dia tidak perlu mengotori tangannya sendiri karena Linny telah menjadi bagian dari rencana sekarang. Elena tersenyum penuh kemenangan seraya menikmati segelas anggur di tangannya sedangkan Linny dia sudah mabuk.


*


*


*

__ADS_1


Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2