
Para perawat wanita saling berbisik kala mereka dapat melihat wajah tampan Nelson secara langsung.
“ Aku baru saja melihatnya, kau benar pemilik rumah sakit ini begitu tampan! Seandainya saja aku sederajat denganya!”
“ Sekarang kau percaya bukan? Tuan muda Nelson memang benar-benar tampan!”
Nelson terbaring lemah di ranjang rumah sakit, wajahnya pucat pasi. Andre yang mendapat kabar dari Roy pun segera datang ke rumah sakit untuk melihat Nelson. Dirinya sedikit terkejut kala melihat Nelson yang terbaring lemah, tak berdaya.
Dalam hatinya dia berkata. “ Seputus asa itukah dirimu? Aku benar-benar tidak menyangka dirimu yang tangguh itu menghilang kala berhadapan dengan seorang wanita.”
Andre menatap Nelson yang masih tidak sadarkan diri, Andre mulai penasaran. Dan ingin mencari tahu siapa sebenarnya wanita bernama Bella.
Andre meninggalkan Nelson yang masih tertidur. Dengan kekuasaan, dan wewenangnya, Andre dapat dengan mudah mengumpulkan informasi tentang Bella, dan kedua putra kembarnya. Beserta foto mereka bertiga. Dan betapa kagetnya Andre kala melihat dua anak lelaki yang sangat mirip dengan Nelson.
“ Siapa anak-anak ini?”
“ Mengapa mereka begitu mirip dengan Nelson?”
“ Mungkinkah wanita ini adalah, wanita yang dulu di cari-cari oleh Nelson?”
“ Dan mereka berdua adalah anak-anak Nelson dari wanita ini?”
Banyak pertanyaan yang terlintas dalam benak Andre, dan dia pun mengerti kenapa Nelson yang begitu tangguh, menjadi begitu putus asa hanya karena wanita ini!”
“ Sungguh besar pengaruh wanita ini, aku tidak boleh sampai menyinggungnya.”
Andre benar-benar mendapatkan informasi yang menggemparkan. Bahkan dirinya mencari jejak terakhir Bella, untuk menemukannya. Dan membawanya pada Nelson.
Andre menghubungi seseorang, terdengar dia berkata. “ Halo, bisakah kau mencari tahu keberadaan wanita yang berada di foto yang aku kirimkan padamu?”
Terdengar di seberang telepon berkata. “ Baik Tuan muda, beri saya waktu. Saya akan menemukan Nona yang ada di dalam foto ini.”
Andre tersenyum puas seraya berkata, “ Kabari aku secepatnya.”
Andre pun menutup panggilannya, Andre sedikit tenang kala menatap fota Bella, dan kedua putranya, dalam hatinya dia berkata. “ Akhirnya pencarianmu berakhir, aku harap dia wanita yang pantas mendampingimu.
Andre menaruh harapannya pada sosok Bella, dia berharap Bella adalah wanita yang pantas untuk diperjuangkan oleh Nelson.
Di Mansion Nelson.
Di tengah malam, Dion terbangun dan mendapati dirinya tidur di kamar Nelson, terasa begitu sepi. Dion mencoba keluar kamar untuk mencari ayahnya. Namun, setelah berkeliling pun dia tidak menemukannya di mana pun.
__ADS_1
Akhirnya Dion menuju dapur, mencari apakah ada makanan di kulkas.
“ Aku sangat lapar.” Gumam Dion yang berada di dapur sendirian.
Tiba-tiba sebuah suara terdengar, dan cukup mengagetkan dirinya.
“ Tuan kecil. Anda sedang apa?” Kepala pelayan bertanya dengan sedikit bingung.
“ Astaga… kau membuatku kaget.”
Dion yang kaget pun berkata, “ Akh aku, aku sedikit lapar sehingga aku mencari sedikit makanan di sini. Apakah aku tidak boleh berada di sini? Pada jam tengah malam seperti ini?
Kepala pelayan hanya tersenyum, dengan lembut dia berkata. “ Seharusnya Anda tidak boleh berada di dapur pada jam ini.”
“ Karena Tuan muda Nelson, menerapkan peraturan yang mana jika dia pulang lebih dari pukul 20.00 malam, maka tidak ada makan malam di rumah.”
“ Sehingga sampai sekarang pun Tuan muda Nelson masih menerapkannya di rumah ini.”
“ Tetapi, untuk Tuan kecil ada pengecualian.”
Kepala pelayan pun memberikan sepotong kue tart rasa blueberry kesukaannya.
“ Makanlah ini, Tuan muda Nelson yang menyiapkan untukmu.”
Dion sedikit penasaran ke mana ayahnya Nelson pergi. “ Apakah kau tahu ke mana ayahku pergi?”
Kepala pelayan pun menjawab. “ Tuan muda Nelson, pergi untuk bertemu dengan teman-temannya.”
“ Mungkin sebentar lagi akan pulang.”
Dion sedikit kecewa, dengan sedikit memaksakan sebuah senyuman dia berkata. “ Baiklah, aku akan menunggu ayah di sini, sampai ayah kembali pulang.”
Dion sedikit khawatir pada ayahnya Nelson, mengingat beberapa saat yang lalu dia begitu terlihat putus asa. Seraya memakan kue, Dion terus memikirkan di mana kira-kira ayahnya berada. Sungguh dirinya begitu mengkhawatirkannya.
Setelah selesai makan kudapan, Dion meminta kepala pelayan untuk menceritakan bagaimana sosok ayahnya ketika kecil.
Dion dengan hati-hati berkata. “ Bisakah Anda menceritakan masa kecil ayahku, padaku?”
Kepala pelayan menjawab dengan lembut. “ Sekarang terlalu larut untukmu mendengar sebuah cerita, sebaiknya Tuan kecil segera tidur sekarang!”
Dion yang mendengar perkataan kepala pelayan pun merasa kecewa. Dengan enggan dia melangkahkan kakinya menuju kamar di lantai atas. Dalam hatinya berkata, “ Ah, pada akhirnya dia tidak memberitahuku.”
__ADS_1
Dion menatap jam tua klasik yang berada di ruang tamu, terlihat di sana menunjukkan pukul 1:30 malam. Dirinya mencoba menghubungi Nelson. Namun, tidak ada jawaban satu pun, Dion mencoba menghubungi Dean pun tetap sama tidak ada jawaban sama sekali.
“ Akh, sungguh sial kenapa semua orang tidak ada yang menjawab satu pun?”
Dion melemparkan tubuhnya ke atas tempat tidur, seraya berkata. “ Mungkin sebaiknya aku tidur saja!”
Keesokan harinya, cahaya matahari perlahan menembus kaca jendela kamar rawat Nelson. Cahaya hangat itu, perlahan menyinari wajah tampan Nelson.
Dokter Kevin bertanya. “ Apakah kau sudah bangun?”
Nelson yang menyadari keberadaan Dokter Kevin pun sedikit meliriknya, seraya berkata. “ Ehmm..”
Dokter Kevin kembali bertanya. “ Ada apa denganmu? Tidak biasanya kau seperti imi?”
Nelson tidak mengatakan sepatah kata pun pada Dokter Kevin. Dia hanya meliriknya dengan sinis.
Dokter Kevin yang menyadari ekspresinya pun melanjutkan perkataannya. “ Lambungmu terluka, dan lukanya cukup besar, hingga menyebabkan pendarahan pada perutmu!”
“ Apakah kau sudah bosan hidup?”
Nelson hanya memijat dahinya yang sakit, seraya berkata. “ Lalu apakah kondisiku serius?”
Dokter Kevin pun menjelaskan. “ Sebaiknya kau tinggal di sini lebih lama, agar aku bisa memantau keadaanmu!”
“ Ingatlah, jangan minum-minum dulu, jika kau sayang pada nyawamu!”
“ Jika saja Roy tidak cekatan membawamu ke sini, aku tidak akan tahu apa yang akan terjadi padamu nanti?”
Nelson hanya melambaikan tangannya, pertanda dia menyuruhnya untuk segera pergi meninggalkan ruangannya.
Dokter Kevin sedikit menyeringai. “ Eh, eh, aku ini Doktermu, kau tidak bisa menyuruhku pergi.”
Nelson dengan sinis berkata. “ Namun pada kenyataannya, aku bisa!”
Dokter Kevin tidak bisa berkata apa-apa lagi, sebelum pergi dia menjelaskan. “ Minumlah obatmu 3 x 1 tiap delapan jam, dan aku sudah memberikanmu obat penghilang rasa sakit, jadi itu aka mengurangi rasa sakitmu!”
Nelson hanya melambaikan tangannya, menyuruhnya segera pergi meninggalkannya.
Dokter Kevin pun meninggalkan Nelson sendirian di kamarnya. Nelson kembali berbaring, dan menutup kembali matanya, perutnya masih terasa cukup sakit kala dia bergerak sedikit.
Dukung author dengan cara; like, vote, dan komen ya guys. Terima kasih🙏🥰🌹🌹
__ADS_1
Bersambung