
Yohan menggigit bibir bawahnya, dia menghela napas beratnya. Sejenak berpikir mencari solusi. Yohan meraih ponselnya, lalu menekan beberapa digit nomor setelah tersambung dia berkata. “ Aku membutuhkan satu helikopter, aku ingin kau segera membawanya kemari. Akan aku kirimkan koordinatnya padamu. Jadi cepatlah datang. Ini dalam keadaan darurat.”
Yohan pun menutup teleponnya. Setelah melihat Dean sedang di tangani, dia beralih pada Nelson yang sedang di kerumuni sebagian orang. Yohan memicingkan matanya, tampak tangan Evan di lumuri oleh darah yang begitu banyak.
Di sisi lain.
Bella yang tengah tertidur itu di bangunkan paksa oleh Anita.
“ Bella,” Anita menepuk-nepuk bahu Bella yang tengah tertidur itu.
Bella membuka matanya perlahan, matanya yang masih mengantuk itu menangkap sorot mata Anita yang begitu cemas.
“ Ada apa? Apakah anak-anak sudah di temukan?” Tanya Bella, seraya langsung bangkit dari tidurnya.
“ Bella, Nelson dan Dean tengah dalam keadaan kritis, Nelson yang di tikam mengalami pendarahan. Kondisi tubuh Dean juga sangat lemah, mereka sedang berusaha membawa mereka kembali menggunakan helikopter. Untungnya keadaan Dion baik-baik saja, hanya mengalami luka ringan, dan itu tidak parah.” Setelah Anita menyelesaikan perkataannya. Tatapan Bella begitu kosong. Dia bangkit dari tempatnya, dia berlari menuju Altar.
Di sana dia berlutut, kedua tangannya dalam pose berdoa. Dengan deraian air mata Bella berdoa memohon untuk keselamatan suami dan putranya yang tengah diambang kematian.
Bella menundukkan kepalanya sambil berdoa, kilauan crystal bening itu perlahan jatuh membasahi wajahnya yang cantik itu, deraian air mata tak terelakkan lagi, dia memejamkan kedua matanya berusaha untuk tegar, walau suaranya bergetar.
Anita hanya melihatnya dari arah samping, matanya berkaca-kaca, hatinya begitu hancur, akan tetapi dia tidak bisa melakukan apa-apa.
Di sisi lain.
Di tempat persembunyian sang Bos penculik pun tahu bahwa anak buahnya gagal dalam melakukan pekerjaannya, di tambah orang yang di tangkap masih dalam keadaan hidup, dan kapan pun bisa menyeretnya dengan paksa.
Dia terus mondar-mandir, perasaannya begitu gelisah kala mendengar tiga anak buahnya telah mati, semakin membuatnya merasa ketakutan.
“ Benar, aku harus melarikan diri dari sini, akan sangat berbahaya jika aku sampai tertangkap.” ujarnya pada diri sendiri.
Dia pun bergegas untuk mengemas barang-barang serta uangnya agar dia bisa kabur meninggalkan negaranya.
Tiba-tiba suara telepon masuk. Membuatnya kaget setengah mati. Tampak dari layar depan tertulis Klien. Yang berarti itu adalah seorang pelanggan yang menggunakan jasanya.
Dia menelan salivanya begitu kasar, lalu dia menghirup napasnya sebelum menjawab panggilan yang masuk. “ Ah iya,” jawabnya.
“ Aku bahkan tidak bisa mengembalikan uangmu, karena aku baru saja kehilangan tiga anak buahku, dan satu orang di tangkap.” Sang Bos kembali menekankan bahwa dirinya tidak bisa mengembalikan uang Klien karena dia juga kehilangan cukup banyak.
“ Sebaiknya kau bersiap-siap saja, jika kemungkinan terburuknya datang kau harus bisa melarikan diri. Bahkan aku sendiri tidak yakin bisa lolos dari masalah ini atau tidak.” Dia menghela napasnya lalu melanjutkan perkataannya. “ Baiklah, aku tutup teleponnya sekarang.” Sang Bos pun menutup panggilannya, lalu mulai mempersiapkan apa saja yang di butuhkannya.
Beralih ketempat di mana Nelson dan Dean berada.
Tampak sebuah helikopter tengah mendarat di area padang rumput. Angin yang di hasilkan dari baling-balingnya pun begitu kuat hingga membuat orang terpental jika tidak memiliki persiapan.
Seseorang turun dari atas helikopter adalah Robin. Dia mengisyaratkan agar segera dibawa naik. Beberapa petugas pun membantu brankar pasien menuju helikopter. Yohan melirik Nelson yang tengah memejamkan mata, setengah tubuhnya di penuhi darah. Sesaat kemudian dia mengalihkan pandangannya pada brankar yang berisi anak kecil yang tak kalah menyedihkan kondisinya dari Nelson.
__ADS_1
“ Bagaimana bisa mereka melakukan semua ini pada seorang anak kecil?” batinnya.
Wajah keduanya begitu pucat, seakan tak ada darah yang mengalir di tubuh mereka. Setelah persiapan dan barang-barang di naikkan, helikopter pun kembali terbang menuju rumah sakit yang berada di bawah naungan Hongli Group.
Di rumah sakit Leo Hongli, dan istrinya Sandra sudah menunggu kedatangan mereka berdua. Beberapa anggota keluarga pun sudah menunggu sedari tadi.
Staf rumah sakit, dan sebagian petugas medis pun telah bersiaga untuk kedatangan pasien, mereka berdiri dengan harap-harap cemas. Tidak lama dari perkiraan helikopter pun terlihat, staf dan perugas pun bersiap untuk membawa mereka masuk ke meja operasi.
Angin yang berasal dari baling-baling helikopter itu bahkan menerbangkan jubah-jubah dokter, serta rok suster dan staf yang tengah berada di atap.
“ Cepat, cepat.” Dokter kepala memerintahkan agar para Dokter segera memberi tindakan pada keduanya yang sudah kehilangan kesadarannya.
Nelson dibawa menuju ruang operasi yang sudah di siapkan sejak awal untuknya. Sedangkan Dean dibawa ke bangsal IGD terlebih dahulu. Untuk melakukan serangkaian pemeriksaan lebih lanjut, untuk menunjang tindakan selanjutnya.
Di ruang operasi pintu telah di tutup. Semua orang begitu cemas. Tampak seorang Suster terus keluar masuk ruang operasi, membawa beberapa kantung darah.
Sandra menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Berharap agar semuanya hanya sekedar mimpi belaka. Namun, pada kenyataannya adalah, semua yang di lewati hari ini adalah kenyataan yang begitu pahit, dan menyakitkan.
Sandra terisak kala mengingat kondisi Nelson dan cucunya yang sama kritisnya.
Seorang Suster berlari menghampiri kerumunan yang berada di depan ruang operasi. “ Apakah di sini ada wali dari ananda Dean Hongli?” Sang Suster bertanya.
Sandra dan Leo Hongli pun berdiri menghampiri Suster tersebut. “ Kami Kakek dan Neneknya.” Ujar Leo.
“ Tolong lakukan apa pun, yang terpenting cucu kami dapat selamat.” Leo tampak memohon pada Suster.
“ Baik, silahkan ikuti saya Tuan.” Ujar sang Suster.
Selagi Leo Hongli menyelesaikan administrasi Dean, Sandra menghampiri cucunya Dean yang tengah terbaring di Brankar dalam keadaan yang sangat menyedihkan, sebagian wajahnya tampak memar, terdapat goresan di mana-mana. Pergelangannya tampak terluka cukup dalam. Bahkan di lehernya tampak ada sebuah luka yang sedikit dalam.
Tubuh Sandra terhuyung ke belakang, dia tak kuasa kala melihat cucunya terbaring lemah tak berdaya di brankar rumah sakit. Matanya berkaca-kaca, pelan-pelan kilauan crystal bening itu jatuh membasahi wajahnya, tangannya memegangi dadanya yang sesak.
Di sisi lain.
Di sebuah tempat yang gelap, dan lembab tampak seorang pria duduk seorang diri, wajanya telah babak belur karena si hajar berulang kali oleh orang-orang Robin.
Robin masuk ke dalam ruangan, dia menghampiri orang tersebut. Dia berjalan dengan anggunnya. Jarinya yang indah itu, memegang dagu penjahat bernama Abe yang sudah berlumuran darah.
“ Jadi kau masih ingin tetap bungkam?”
Penjahat itu tetap bungkam soal siapa dalang dari penculikan yang menargetkan kedua putra Nelson.
Robin menghela napas beratnya, dia menyeringai jahat di depan penjahat itu. “ Ku dengar kau sangat setia pada Bosmu, akan tetapi apa kau akan tetap bungkam jika kau melihat ini.”
Dengan santainya Robin mengeluarkan beberapa foto dari balik jasnya. Tampak di dalam foto ada seorang wanita yang tengah menggendong seorang anak yang berusia sekitar enam tahunan.
__ADS_1
Awalnya Abe tak peduli dan acuh. Namun, saat dia melirik pada sekumpulan foto itu. Kedua matanya membelalak, tampak dia sedikit kaget, kala mendapati istri beserta anaknya ada dalam sekumpulan foto itu.
“ Apa yang sedang kau coba lakukan?” Tanya penjahat dengan gugup.
“ Kau sendiri sudah bisa menebaknya bukan? Aku bahkan bisa melakukan apa pun untuk mendapatkan informasi darimu. Lihatlah wanita ini cukup cantik, mungkin aku bisa menikmatinya, dan sekedar bermain dengannya. Lalu siapa gadis kecill ini? Apa aku perlu melakukan apa yang telah kau lakukan pada anak-anak yang telah kau culik, padanya juga?” Robin menatapnya dengan tajam, dia terus memprovokasi Abe agar mau membuka mulutnya.
“ Jangan pernah menyentuh mereka, jika kau berani menyentuhnya aku tidak akan segan.” Teriak Abe.
Robin menyeringai jahat. “ Apa? Kau tidak segan. Kau bahkan tidak bisa menyelamatkan dirimu sendiri, jadi jangan berlagak sok seperti itu.”
Robin menepuk kedua bahu penjahat itu, dia berbisik. “ Lalu jika aku menyentuhnya sekarang, kau bisa apa?”
Amarah sang penjahat memuncak, dia menggigit bibir bawahnya, napasnya begitu memburu, dua bangkit mendorong kursinya hendak menyerang Robin. Namun, bukan anggota militer namanya jika Robin kalah soal baku hantam.
Sebelum Abe menghajarnya. Robin sudah lebih dulu menarik tubuhnya, meninju perutnya beberapa kali, lalu melemparnya ke atas meja. Raut wajah Robin sangat gelap mengingat apa yang telah menimpa Nelson dan kedua putranya. Dia sangat ingin mencabiknya hingga tak tersisa.
Penjahat yang di hajar itu tersungkur, dia mengerang kesakitan, jeritannya terdengar begitu pilu. Abe mencoba bangkit tapi di robohkan lagi oleh Robin.
“ Ternyata memang harus menggunakannya.” Robin menekan beberapa digit nomor di ponselnya, dia melakukan panggilan Video Call pada orang yang berada di seberang telepon.
Robin menunjukkan panggilan itu ke hadapan Abe yang masih terbatuk-batuk di lantai. Seketika matanya terbelalak, tampak dalam panggilan Video itu adalah rumah di mana istri dan anaknya tinggal. Selama ini tidak banyak yang tahu tentang keberadaan istrinya.
“ Hentikan, jangan lakukan itu padanya, dia bahkan masih terlalu muda untuk melalui hal yang mengerikan seperti itu. Aku mohon jangan lakukan apa pun pada mereka, aku mohon!” Teriaknya, matanya berkaca-kaca, dia tidak menyangka jika orang-orang itu akan melibatkan istri dan anaknya yang masih balita itu.
Di raut wajahnya terlukis ketakutan yang sangat besar, hingga dia berkata dengan begitu gugup, seakan takut jika terjadi suatu kesalahan anak dan istrinya yang akan jadi korbannya.
“ Baiklah, jadi apa yang kau inginkan dariku? Aku akan menjawab semua yang kau tanyakan.”
Robin menepuk pipi Abe pelan, lalu dia merapikan kerah baju Abe lalu berkata. “ Andai saja kau bicara lebih awal. Kau tidak akan menderita seperti ini.” Nada bicara Robin terdengar mengejek.
Abe menelan salivanya kasar, dia benar-benar putus asa, dia berpikir bahwa Bosnya tidak akan mampu membantunya keluar dari neraka ini.
“ Lalu siapa dalang dari kasus penculikan ini?” Robin bertanya dengan nada suara yang terkesan dingin.
“ Yang aku tahu dia seorang wanita, yang berusia sekitar lima puluhan. Dan aku pernah mendengar Bos memanggil namanya, itu adalah Nyonya Yu.”
“ Itu saja yang aku ketahui, selebihnya aku tidak tahu.”Ucapnya begitu gugup.
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1