ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 114


__ADS_3

Nelson merasa hancur, dengan sekuat tenaga dia mencoba menenangkan Bella.


“ Jadi saat kau membawanya ke luar negeri, kau sudah tahu jika Dean sakit? Tapi tidak memberitahuku. Mengapa kau tega membiarkan aku tidak mengetahuinya? Mengapa kau membohongiku? Mengapa?” Tangis Bella kembali pecah.


“ Aku minta maaf padamu. Sungguh minta maaf,” ucap Nelson.


Nelson pun ikut menangis, dia tidak tahan melihat Bella hancur.


“ Aku tidak bermaksud membohongimu, maafkan aku istriku,” Nelson kembali meminta maaf.


Dengan suara bergetar Nelson berkata. “ Aku tahu bagaimana hancurnya hatimu saat ini?”


“ Aku tahu hatimu terluka. Namun, aku ingin kau bisa menerima kenyataannya.”


“ Kau harus kuat karena Dean saja begitu tegar menghadapi penyakinya sejak setahun yang lalu.”


Tangis Bella kembali pecah kala dirinya mendapati putranya telah sakit selama satu tahun. Namun, dirinya yang di panggil ibu itu baru mengetahuinya sekarang.


Sungguh hancur hatinya. Kala mendapati kenyataan yang begitu pahit menimpa putra sulungnya.


Bella menangis sejadi-jadinya. Sedangkan Nelson memeluknya dengan erat. Menenangkannya seraya mengingatkannya pada Dean yang begitu tegar, dan tabah menghadapi cobaannya.


Bella memeluk erat tubuh Nelson, seraya berkata. “ Mengapa Tuhan begitu tega membiarkan anak sekecil itu menderita penyakit yang begitu parah? Jika saja aku bisa menukar hidupku? Akan aku tukar dengan kehidupan Dean.”


Bella membenamkan wajahnya di dada bidang milik Nelson, dia begitu terisak kala mengeluh pada Tuhan yang kejam terhadapnya.


Nelson mencoba memberi pengertian pada Bella, dengan suara bergetar Nelson berkata. “ Istriku, Tuhan itu sangat adil dan baik.”


“ Dia begitu mencintai Dean hingga memberikannya cobaan yang begitu berat padanya.”


“ Dia adalah anak yang begitu spesial di mata Tuhan. Dan begitu pula di mata kita.”


“ Dia adalah putra kita yang luar biasa, senantiasa menerima kenyataan dengan lapang dada, tak sedikit pun dia mengeluh tentang rasa sakitnya.”


“ Aku harap kau dapat berada di sampingnya, memeluknya kala rasa sakit menyerang. Aku harap kau dapat tabah seperti yang di lakukan Dean.

__ADS_1


“ Mari berjuang bersama-sama. Agar Dean kuat melewati pengobatannya, tidak merasa kesepian, kala melewati hari-harinya.” Nelson memberi semangat untuk istrinya agar bisa melewati suka dan duka bersama-sama.


Orang tua mana yang tidak hancur kala mendapati buah hatinya sakit? Bagai kena petir di siang bolong. Itulah yang di rasakan Nelson maupun Bella.


Di dalam kamar di penuhi isak tangis Bella. Nelson bahkan ikut menangis bersamanya. Nelson mengusap lembut kepala Bella, menciumi keningnya seraya berkata. “ Semuanya akan baik-baik saja. Tenanglah, percayalah Tuhan tidak pernah meninggalkan kita.”


Bella hanya membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Nelson. Setelah dirinya puas menangis kini dirinya dapat bersandar di tubuh Nelson, dia bertanya dengan lirih. “ Apakah kondisinya baik-baik saja? ucapnya.


Nelson menjawabnya. Suaranya begitu lembut kala bicara pada Bella. “ Tentu saja dia baik. Dia bahkan memiliki seorang perawat pribadi.” ungkapnya.


Bella sedikit memaksakan senyumannya, seraya berkata. “ Syukurlah jika Dean baik. Aku harap dia bisa secepatnya kembali kemari. Aku sangat merindukannya,” ungkapnya.


Nelson membalas. “ Bersabarlah, minggu depan dia akan kembali kesini. Semoga saja dia dalam kondisi yang stabil. Sehingga tidak ada hambatan lain saat dia pulang nanti,” ungkapnya.


Dion yang mendengarkan pembicaraan kedua orang tuanya dari celah pintu yang terbuka, terlihat begitu sedih. Wajahnya dipenuhi air mata yang tak henti-hentinya mengalir.


Dion menangis tanpa suara, dia begitu merasakan kesedihan yang dialami oleh ibunya. Hati kecilnya begitu hancur kala melihat ibunya begitu terpuruk karena tahu kebenaran tentang Dean.


Dion tak ingin ibunya mengetahui keberadaannya. Sehingga dia segera pergi meninggalkan pintu kamar kedua orang tuanya.


Dion begitu terisak, dia berjalan cukup cepat menuju halaman belakang. Kakek dan neneknya sedang tidak berada di mansion sekarang, karena harus bertemu dengan kakek ayahnya.


Namun, Dion bukanlah anak dengan ego yang tinggi. Dia sangatlah murah hati. Bella membesarkan kedua putranya dengan sangat baik.


Dion berbaring di bawah pohon yang rindang, menatap langit biru yang luas. Dalam hatinya dia berkata. “ Ah. Kau benar di sini sangat indah. Aku bisa menatap langit yang begitu luas dan indah.”


Dion mencoba memejamkan matanya. Merasakan betapa segarnya angin yang berembus, kini sudah memasuki musim gugur, udaranya cukup terasa dingin.


Dion yang memejamkan matanya itu meringkuk sendirian di bawah pohon yang rindang. Mungkin ketika orang lain yang melihatnya terlihat biasa. Namun sebenarnya Dion sedang menangis tanpa suara.


Dia begitu sedih kala melihat ibunya menangis. Di tambah rasa rindu yang telah membumbung tinggi kepada kakaknya, ingin rasanya dia berteriak sekencang-kencangnya, meluapkan emosi serta kesedihan yang selama ini bersarang di hatinya.


Dalam tangisnya Dion berkata. “ Kakak. Aku ingin kau segera kembali. Aku ingin bermain bersama, ingin mendengarkan ocehanmu lagi. Sungguh aku sangat-sangat merindukanmu,”


Dion kembali memejamkan matanya, hingga dia tertidur di bawah pohon seraya menikmati sinar matahari yang hangat, serta angin yang berembus dingin.

__ADS_1


Di dalam mimpinya terlintas bayangan kala keduanya masih menetap di Eropa. Rumah sederhana itu menjadi saksi bisu tumbuh kembang keduanya.


Semenjak Bella keluar dari rumah milik Anita Ye dia menyewa sebuah rumah kecil di pinggiran kota. Mereka berdua begitu bahagia. Melengkapi satu sama lain.


Sungguh indah kala mengenang masa-masa itu. Walaupun Dean bertampang dingin. Namun, jika menyangkut adiknya sendiri, dia rela membuat dirinya malu, bahkan Dean mampu melakukan apapun untuk adiknya.


Saat dirinya di rundung oleh anak-anak di sekitarnya. Dean lah yang memasang badan untuk melindunginya, dia bahkan merelakan es krim kesukaannya untuk di berikan padanya.


Terkadang Deanlah yang mengajarkannya berbagai hal, di kala ibunya sibuk mencari nafkah. Jika di pikirkan lagi Dean adalah segalanya baginya. Tak akan ada yang bisa menggantikan sosoknya.


Dalam ingatan Dion momen itu sangatlah berharga baginya. Waktu yang dia lewati bersama Dean lah yang paling berharga.


Bahkan sebelum mereka lagir ke dunia. Mereka berdua telah berbagi tempat bersama.


“ Aku sangat merindukannya,” gumamnya.


Di sisi lain Nelson menidurkan Bella di kamarnya. Karena kelelahan menangis Bella pun tertidur.


Nelson keluar kamar, untuk mencari putranya Dion. Dirinya khawatir karena saat bersama Bella di dalam kamar. Nelson melihat siluet Dion di celah pintu kamarnya.


Nelson berjalan mengitari rumah, serta memeriksa kamar Dion. Namun tak ada Dion. Dia pun memcoba berpikir sejenak. “ Ah. Pasti di taman belakang,” batinnya.


Nelson segera berjalan ke taman belakang, dan terlihatlah sesososk anak yang sedang terbaring di bawah rindangnya pohon.


Nelson berjalan dengan sangat pelan, melangkahkan kakinya mendekati Dion. Perlahan dirinya ikut berbaring di samping Dion.


Nelson yang terbaring otomatis memandang langit biru nan luas itu. Seketika bayangan saat masa kanak-kanaknya terlintas begitu saja.


Jika di pikirkan lagi pohon ini tetap sama, tetap rindang dan menenangkan hatinya.


Nelson memejamkan matanya, merasakan bagaimana tenang dan damai kala berbaring di atas rumput hijau, angin yang menyegarkan berembus perlahan. Suasana ini begitu dia rindukan.


Tiba-tiba saja Dion terbangun, dia terperanjat mendapati Ayahnya berada tepat di sampingnya.


Dion bertanya. “ Apa yang sedang Ayah lakukan di sini?”

__ADS_1


Dukung author dengan cara; like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹


Bersambung


__ADS_2