
Di Mansion terasa sangat hening, Dean sedang tertidur di kamarnya sedangkan Bella membawa Dion untuk bermain. Nelson terdiam di ruang kerjanya, bukan pekerjaan yang tak usai. Namun ini tentang kondisi putranya yang lemah. Dia teringat akan perkataan dokter kalau pengobatan Dean akan segera di lakukan setelah luka di kepalanya membaik.
Nelson beranjak dari tempatnya dia berdiri di jendela besar di tatapnya Dion yang tengah bermain bersama dengan Oliver dan juga istrinya Bella. Di halaman belakang. Mereka tertawa bahagia menikmati waktu sore hari. Nelson kembali mengisap rokok di tangannya.
Dia berpikir sejenak. “ Sepertinya aku harus mempercepat pesta pernikahan, jika di tunda lagi. Mungkin nanti tidak akan ada lagi waktu,” batinnya seraya menjentikkan abu rokok ke dalam asbak.
Nelson berjalan keluar, kebetulan dia bertemu dengan seorang pelayan. Dia berkata. “ Kemarilah,” panggilnya.
Sang pelayan segera menghampiri Nelson, dengan hormat dia berkata. “ Iya Tuan muda, apa ada yang Anda butuhkan?” tanyanya.
“ Tolong panggilkan Nyonya untuk datang ke ruang kerjaku, aku menunggunya,” pintanya.
“ Baik Tuan, kalau begitu saya undur diri,” ucap pelayan. Seraya pergi meninggalkan Nelson.
“ Ayah,” panggil Dean.
Suara yang sangat familier itu terdengar di telinganya, Nelson menoleh dan terlihatlah putra sulungnya Dean.
“ Mengapa kau bangun? Apa ada yang kau butuhkan?”
Dean menjawabnya. “ Tadinya aku mencari Mr. Oliver, tapi saat kulihat dia sedang bermain bersama Dion,” ucapnya. Seraya mendekap pinggang Nelson.
“ Kepalaku sedikit sakit,” ucapnya.
“ Bagian mana yang sakit? Apa sudah minum obat?” Dia bertanya dengan sedikit cemas.
“ Di sini,” ucapnya seraya memegang kepalanya. Nelson mengusap kepala Dean dengan lembut berharap sakitnya mereda.
“ Sudah, aku sudah meminumnya, ayah tidak perlu khawatir,” ucapnya.
“ Aku hanya ingin memelukmu Ayah, biarkan aku sebentar seperti ini,”
“ Mengapa anakku jadi manja seperti ini?” tanyanya sambil menggoda putranya.
“ Karena saat bersamamu, aku merasa sangat nyaman dan damai,” ucap Dean.
Nelson tersenyum kala putranya bicara seperti itu. Dia berjongkok, menjajarkan tubuhnya dengan tinggi badan Dean. Di tatapnya wajah putranya, dengan lembut dia berkata. “ Apa pun yang kau inginkan dari Ayah. Akan Ayah berikan selagi Ayah mampu, jika kau membutuhkan Ayah datanglah padaku. Aku akan meluangkan waktuku untukmu, Nak,” jelasnya. Dia menekankan bahwa dirinya akan selalu ada untuknya.
__ADS_1
Dean tersenyum begitu lembut dan penuh arti, dia berkata. “ Ayah aku ingin digendong olehmu,” ucapnya. Yang setengah berbisik itu.
Nelson menggendong Dean ke kamarnya, dia memcoba mengajaknya bicara. Namun tidak ada jawaban lagi, ternyata dia sudah tidur. Di baringkannya Dean ke tempat tidurnya. Setelah menyelimutinya, Nelson meninggalkan Dean di kamarnya.
Setelah di rasa Dean benar-benar tertidur Nelson segera kembali ke ruang kerjanya. Seraya menunggu istrinya datang Nelson menyeduh teh dengan begitu lihai dan anggun, tangannya yang ramping, serta jari-jemarinya yang lentik dan indah itu semakin menambah kesan laki-laki idaman semua wanita.
Bella yang sudah datang sedari tadi pun terpana kala memandangi jemari suaminya yang begitu lihai kala menuangkan teh ke dalam cangkir. “ Hanya menuangkan teh saja mengapa begitu anggun?” batinnya.
Nelson yang menyadari bahwa istrinya sudah berada di ambang pintu, dia berkata. “ Kau sudah datang? Mengapa memandangku seperti itu?”
Bella tersenyum. “ Karena bagiku kau selalu indah untuk aku lewatkan,” ucapnya, seraya menampilkan senyuman yang menggoda.
Nelson tersenyum lembut. Dia berkata. “ Kemarilah ada yang ingin aku bicarakan,” ucapnya.
Bella menghampirinya, dia duduk di samping Nelson. “ Aromanya sangat harum,” ungkapnya. Seraya mengangkat cangkir teh di hadapannya.
“ Apa kau menyukainya?” tanyanya.
Bella menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Emm… selain harum tehnya sangat enak,” Bella menyesap kembali tehnya.
“ Ada apa? Apa terjadi sesuatu?” tanya Bella yang sedikit kebingungan.
“ Karena awal bulan nanti Dean akan memulai perawatannya, jadi kupikir kita harus segera melangsungkan pesta pernikahan kita “ jelasnya.
Bella terdiam sejenak, setelah melalui pertimbangan dia berkata. “ Aku tahu, jadi kapan kita akan mengadakan pestanya?” tanya Bella pada suaminya.
“ Aku berencana dalam dua minggu ini kita akan mulai mempersiapkan segala kebutuhan pernikahan kita.”
“ Aku sudah menghubungi desainer untuk gaun pernikahan, jadi nanti kau hanya tinggal memilih mana yang kau suka, dan cocok untukmu.”
“ Besok kita akan ke butik bersama anak-anak juga, karena mereka juga harus melakukan fitting baju, agar nantinya sesuai dengan keinginan mereka,” ucapnya.
“ Aku tahu,” ucapnya. Seraya menganggukkan kepalanya.
“ Ada apa? Mengapa kau murung begitu?” tanyanya. Sedikit heran melihat istrinya yang tampak tidak bersemangat.
“ Tidak, tidak apa-apa,” ucapnya seraya tersenyum.
__ADS_1
Nelson menyadari ke khawatiran istrinya itu. Nelson berjongkok di hadapan istrinya, sembari memegang tangannya dengan lembut, dan penuh perhatian. Dia berkata. “ Aku tahu apa yang kau rasakan saat ini, tapi percayalah bahwa putra kita pasti sembuh.”
“ Dia akan menang melawan penyakitnya, kita akan berjuang bersama.”
“ Kita akan menemaninya dari awal prosesnya hingga dia menyelesaikan pertarungannya.”
“ Jangan putus harapan sebelum memulai dan mencobanya. Karena kita tidak akan tahu bagaimana hasil akhirnya nanti,” Nelson memberikan pengertian pada istrinya agar dia tidak perlu mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti.
Bella menundukkan kepalanya, tak terasa air matanya mulai berjatuhan. Perlahan membasahi wajah cantiknya. Nelson yang sedari tadi berjongkok pun bangkit dia duduk di sampingnya. Perlahan dia menarik istrinya ke pelukannya, di usapnya lembut puncak kepalanya. Jemarinya dengan lembut mengusap air mata di wajah istrinya seraya berkata.
“ Menangislah selagi anak-anak tidak ada, aku akan menemanimu di sini.”
“ Luapkan segala emosi dan kesedihanmu, dan akau akan menjadi tempat untuk berbagi rasa suka maupun dukamu. Ku harap kau akan terbuka padaku, katakan apa pun yang ingin kau katakan.”
“ Aku akan senantiasa mendengarkanmu, hal sekecil apa pun yang kau katakan, aku akan menjadi pendengar setiamu,” ucapan Nelson seakan membangkitkan semangat Bella. Dia begitu terharu kala mendengar perkataannya.
Dia merasa bahwa Nelson memperlakukannya begitu spesial, dia begitu di hargai di sini. Nelson yang notabenenya adalah suaminya sendiri, dia begitu beruntung memiliki sosok Nelson.
Di saat mereka berdua berrbicara, Dion telah berada di luar cukup lama hingga mendengar percakapan keduanya, Bella yang terisak membuat Dion sedih.
Di pojokan terlihat Oliver sedang menungguinya, Oliver memperhatikan raut wajah Dion yang sedikit muram. Denga tersenyum dia menghampirinya. Mencoba mengalihkan perhatiannya, agar dia melupakan semua yang di dengarnya.
Semenjak Oliver sampai di Jincheng, dia selalu merasakan kesedihan dari anggota keluarga yang lain. Rasa sedih yang mendalam seakan menelan keceriaan keluarga. Dia cukup prihatin pada keluarga Nelson.
Walau memiliki segalanya, tanpa kekurangan apa pun. Namun, jika di hadapkan dengan seorang putra yang sakit, dan sulit di sembuhkan. Kebahagiaan keluarga pun menghilang secara perlahan.
Terkadang orang di berikan ujian hidup itu berpikir bahwa Tuhan itu tidak adil. Namun sebenarnya Tuhan itu sangat adil, seadil-adilnya. Jadi singkirkan pikiran kalian tentang Tuhan itu tidak adil.
*
*
*
Jangan lupa like, Vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1