ANAK KEMBAR JENIUS

ANAK KEMBAR JENIUS
Bab. 188


__ADS_3

Kilatan petir dan gemuruh hujan masih terdengar jelas , Nelson duduk bersama seorang petugas yang bertugas untuk menjaga ke amanan. Sekilas Nelson melihat siluet Dion yang tengah berjalan ke bagian sisi lain gedung rumah sakit.


“ Tolong putar ukang di bagian yang ini.” Nelson menunjuk pada layar untuk memberitahu di bagian mana yang harus di putar ulang.


Nelson kembali mengamatinya, dan ya itu adalah sosok Dion yang tertangkap pada kamera yang berada di sudut gedung. Akan tetapi saat Nelson mencari keberadaannya di kamera yang lain dia tidak menemukan sosoknya lagi. Nelson memutar otaknya berpikir ke mana putranya pergi.


“ Ayah, jika suatu saat kau kehilangan adikku, tempat yang harus kau cari adalah tangga. Dia selalu berlari ke arah di mana ada tangga berada.” Seketika Nelson teringat akan pembicaraannya dengan Dean.


“ Tangga. Ya tangga darurat.” Nelson segera menghubungi Oliver dan yang lainnya untuk mencari Dion di tangga darurat. Semua orang pun kembali bergerak mencari Dion.


Nelson memeriksa di mana lokasi terakhir Dion tertangkap kamera CCTV. Di sana tertulis tangga darurat. Nelson menarik knop pintu, saat dia sudah masuk tangga itu terlihat cukup gelap, samar-samar dia mendengar suara, pelan-pelan dia menuruni anak tangga. Setelah dia turun dua lantai dia terus memanggil nama Dion.


“ Dion, kau di mana Nak? Ayah di sini.” Nelson terus berteriak. Hingga akhirnya dia menemukan sosok yang sangat familier yang sedang meringkuk di sudut tangga.


“ Dion.” Nelson segera turun untuk menghampiri Dion.


“ Ayah.” ucapnya lirih. Tubuh yang gemetar, sorot matanya yang kosong membuat Nelson cemas. Dengan sekejab Nelson memeluk dan menggendongnya.


“ Ayah, aku takut. Takut Ayah pergi meninggalkan aku. Aku sangat takut Ayah.” Dion terisak saat bicara pada Nelson.


Kedua netra indah itu tampak di genangi air mata, namun Nelson mencoba untuk menahannya agar tidak ikut menangis.


“ Maafkan Ayah karena pergi tanpa pamit. Maafkan Ayah karena tidak memikirkan perasaanmu. Sungguh Ayah minta maaf padamu, Nak.” Nelson memeluk erat tubuh Dion yang masih gemetar itu.


“ Sekarang tidak apa-apa, sudah ada Ayah di sini.” Dion hanya tersenyum tipis.


Nelson dengan sekejab menggendong Dion ke dalam pelukannya walau bagian perutnya masih terasa sakit tetapi dia memaksakan dirinya. Dion terasa lebih ringan tidak seperti sebelumnya, rasanya Dion juga kehilangan cukup berat badannya. Dengan sedih Nelson mendekap erat Putranya Dion.


“ Ayah, kapan kakakku akan bangun?” Dion membenamkan wajahnya ke dalam dada bidang Ayahnya.


“ Andai saja aku tidak membiarkannya lari di belakangku, seharusnya aku tidak meninggalkannya. Padahal aku tahu jika Kakakku sedang sakit, tetapi aku tetap membiarkannya berada di belakangku. Semua ini adalah kesalahanku Ayah, aku yang bersalah, maafkan aku.” Dion terisak di dalam pelukan Ayahnya. Kini Nelson tahu penyebab perubahan sikap putra keduanya ini.


Dirinya tak bisa berkata. Hatinya terlalu sakit kala mendengar putra kecilnya menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada Dean kakaknya.

__ADS_1


“ Tidak Dion, semua ini bukanlah kesalahanmu. Semua yang terjadi karena dendam dan keserakahan seseorang dan melampiaskannya pada kalian. Ayah yabg tidak bisa melindungi kalian, Ayahlah yabg bersalah pada kalian.” Nelson memeluk erat tubuh Dion. Nelson yang terkenal dengan sikap dinginnya itu tak kuasa menahan tangisnya. Keduanya menangis di tangga darurat, di tangga bagian atas Andre, Evan, beserta Oliver mendengar keduanya menangis, mereka terdiam karena ikut merasakan rasa sakit dan kesedihan mereka berdua.


Evan menengadahkan kepalanya ke atas tak terasa bulir air mata tampak di sudut matanya. “ Ah, kenapa sesak sekali?” Evan memilih keluar lebih dulu sebelum air matanya terus mengalir dengan sendirinya.


Andre tahu apa yang sedang di rasakan oleh Nelson sekarang, dia sangat mengerti tentang perasaannya saat ini. “ Ayo.” Andre mengajak Oliver untuk meninggalkan keduanya. Sebelum pergi Oliver memandang Ayah dan Anak yang tengah menangis bersama, dia tersenyum pahit.


Di Rumah Duka.


Kabar kematian Lian Xia sudah terdengar ke semua penjuru kota Jincheng. Orang-orang yang mengenalnya mulai berdatangan ke rumah duka lantaran mereka tahu bahwa Nelson Hongli yang mengadakan pemakamannya. Satu persatu tamu memberikan penghormatan untuk terakhir kalinya pada mendiang Lian Xia, bunga krisan putih mulai memenuhi meja yang berada di depan foto besar mendiang. Bella berdiri mematung di samping para tamu yang datang. Wajahnya pucat, di dalam matanya terpancar kesedihan. Bella tidak menangis akan tetapi batinnya menjerit dengan pilu. Sandra mendekap tubuh Bella kedalam pelukannya membiarkannya menangis.


Di sisi lain.


Mira Yu masih di tahan di sebuah rumah , sedangkan Abe dan Bos Zhang sudah dijebloskan ke penjara. Mira berada di sebuah ruangan yang cukup gelap, setiap malam dia menggigil ketakutan karena teringat perbuatannya selama ini. Dia berharap Bella masih mau berbelas kasih padanya. Namun hingga sekarang dirinya belum bertamu dengan Bella maupun Nelson.


Di rumah duka.


Kenzo dan Linny datang, karena mereka belum mengetahui bahwa Nelson telah mengetahui bahwa Linny ikut terlibat dalam insiden penculikan yang menimpa kedua putra Nelson. Kenzo menghampiri Sandra dan juga Bella yang berada di Altar.


“ Bella, bibi kami ikut berduka cita.” Seraya memberi penghormatan untuk terakhir kalinya untuk mendiang Ayah dari Bella.


“ Bibi kami pamit, Bella yang tabah ya.” Kenzo pun berlalu meninggalkan rumah duka.


“ Ada apa, kenapa kau begitu gelisah?” Kenzo bertanya karena merasa aneh dengan sikap istrinya itu.


“ Kenzo apa kau tidak merasakan sikap bibi? Jangan-jangan mereka sudah tahu bahwa aku terlibat.” Kenzo yang mendengar perkataannya itu segera membungkam mulut Linny.


“ Berhentilah bicara omong kosong. Jangan pernah mengungkit-ungkit masalah itu lagi! Apa kau mengerti?” Bentaknya. Linny menutup mulutnya seraya menganggukkan kepalanya.


Hari sudah berganti menjadi gelap, prosesi kremasi pun akan segera usai, akan tetapi Nelson belum kembali ke rumah duka. Sandra dan juga Leo sedikit gelisah karena takut jika Bella menanyakan keberadaan suaminya. Namun sedetik kemudian Nelson muncul dari balik pintu masuk. Semua orang yang melihat kedatangannya pun segera bangkit dari duduknya untuk menyapa Tuan muda Nelson Hongli yang memimpin Hongli Group.


Nelson hanya sedikit menundukkan kepalanya melewati kerumunan orang yang berdiri untuk menyambut kedatangannya. Tampak dia tersenyum saat mendapati istrinya yang tengah duduk bersandar di dalam altar. Nelson berjalan dengan angkuhnya menuju altar.


“ Nelson.” Ucap Sandra pelan. Nelson memeluk ibunya lalu menghampiri Bella, karena prosesi kremasi akan segera di lakukan sehingga Bella harus berpindah tempat. Nelson menggendongnya dengan penuh kasih, raut wajahnya menunjukkan betapa rapuhnya dia sekarang.

__ADS_1


Setelah proses kremasi abu dari Lian Xia di bawa ke pusat krematorium untuk di simpan di sebuah lemari kaca bersama mendiang ibu Bella. Di sana tersimpan sebuah foto keluarga yang tampak bahagia, Bella kecil berada di antara pelukan kedua orangtuanya saat masih bersama dulu.


Baru kali ini Nelson ikut merasakan luka begitu dalam, bahkan hati kecilnya serasa di cabik-cabik oleh sesuatu yang tidak dia mengerti sebelumnya. Kini dia mengerti mengapa dirinya ikut terluka, karena pada dasarnya Nelson telah menjadi satu dengan Bella, perasaan itu semakin berkembang jauh lebih kuat.


“ Apa kamu sudah mengurusnya, aku bertemu dengannya hari ini, dia tampak gelisah dan ketakutan.” Suaranya yang pelan itu memyimpan luka yang dalam.


“ Saat bertemu dengannya, aku ingin memakinya, aku ingin menamparnya sekeras mungkin dan bertanya. ‘ Mengapa dia tega melakukan hal itu pada kedua putraku?’ Tapi aku bukanlah wanita yang tidak tahu aturan, aku mencoba menahan amarahku yang kian memuncak. Aku mencoba untuk elegan agar tidak melukai harga dirimu. Jadi aku mohon berikan mereka hukuman yang setimpal atas perbuatan yang telah mereka lakukan.” Bella memohon pada suaminya.


“ Aku Nelson Hongli berjanji, tidak akan membiarkan satu tikus pun lari dari cengkeramanku, mereka harus bertanggung jawab pada kedua putraku.” Seraya memeluk istrinya.


Bella membenamkan wajahnya di dada bidang Nelson, begitu nyaman saat menghirup aroma tubuh suaminya, sangat menenangkan baginya berada dalam dekapannya.


Di rumah tempat Mira di tahan.


Di saat Mira tengah tertidur itu di seret paksa oleh oarng yang di perintahkan oleh Nelson untuk membawanya ke suatu tempat.


“ Apa yang kalian lakukan?” Mira memberontak di sepanjang perjalanan, di pinggiran jalan yang sepi mereka menyeretnya ke tepi sungai. Di sana tampak seorang pria yang memiliki perawakan tinggi tegap dengan asap rokok yang berkerlip di antara gelap malam yang tersorot lampu mobil.


“ Tuan.” Mereka menyapa Nelson yang sedang berdiri mengisap rokok di depan sebuah mobil Bentley Hitam.


Mira yang sedari tadi meronta itu segera menghampiri Nelson. Dia memeluk erat kaki panjang Nelson, akan tetapi Nelson mengabaikannya. Dia berjalan menuju mobil di sana terlihat ada seorang wanita yang berpakaian serba hitam, raut wajahnya dingin tanpa emosi.


Mira yang memicingkan ujung matanya, ingin tahu siapa wanita yang keluar dari dalam mobil. Matanya membelalak seakan bola matanya yang hitam itu akan keluar dari tempatnya.


“ Bella, putriku tolong kasihani aku.” Mira merangkak menuju Bella.


“ Jika kau ingin dikasihani, lalu apa kau berpikir bagaimana kasihannya kedua putraku yang harus menderita karena ulahmu? Kau bahkan tidak menunjukkan sedikit pun penyesalan dalam dirimu, mengingat kembali apa yang telah kau lakukan pada kedua putraku yang malang.” Bella berkata dengan suara yang sangat dingin, dia bahkan tidak melihat ke arah Mira.


Mira memeluk erat kaki Bella, dia memohon dengan sangat, meminta belas kasih pada Bella, akan tetapi Bella tak bergeming dia menatap dengan tatapan yang penuh amarah, bagaikan harimau yang siapa menerkam mangsanya, tak ada belas kasih dalam dirinya lagi.


*


*

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejaknya🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹


Bersambung


__ADS_2