
Dokter yang mendengar perkataan Bella pun segera memasuki ruangan, dengan seksama dia memeriksa Dean. Di saksikan pula oleh Nelson dan juga Bella.
“ Dean… apa kau mendengarku? Jika kau mendengar cobalah untuk menggerakkan jarimu perlahan.” Dokter memberikan arahan pada Dean yang masih terpejam.
Dokter mengamati jari-jari tangan Dean, memperlihatkan apakah ada pergerakan darinya atau tidak.
Dan… terlihat sebuah pergerakan kecil dari telunjuk Dean, dengan begitu gembira Bella menutup mulutnya, seakan tidak percaya dengan apa yang di lihatnya saat ini. Perlahan Dean mulai membuka matanya, tatapannya begitu dalam menatap Nelson dan Bella yang tengah berada di belakang Dokter.
“ Ibu,” suaranya begitu pelan dan terdengar begitu parau.
“ Iya sayang, ibu di sini,” Bella menghampiri putranya Dean, seraya memegang erat tangannya yang dingin itu.
“ Mengapa ibu menangis?” Seraya mengusap lembut wajah Bella yang basah.
Dean kemudian mengalihkan pandangannya pada Nelson yang tengah berdiri di samping ibunya. Dia mengusahakan sebuah senyuman dari wajahnya yang pucat.
“ Ayah, kemarilah,” ucap Dean pelan. Seraya mengulurkan tangannya pada Nelson yang tengah berdiri.
Nelson meraih tangan mungilnya, memegangnya begitu erat, seakan tidak ingin melepaskannya. Raut wajahnya terlukis sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Dia mendekati putranya yang masih lemah, seraya mendekatkan telinganya pada Dean yang tengah berusaha berbicara padanya.
“ Ayah, aku tidak akan mati begitu cepat,” bisiknya. Nelson yang mendengarnya seketika tersenyum tipis.
“ Kau bahkan berani berkata seperti itu, setelah membuat aku, dan ibumu menangis seharian,” bisiknya pada Dean.
Dean hanya mengulas sebuah senyuman, seraya menatap kedua orang tuanya, yang tengah berkaca-kaca melihat dirinya di tempat tidur.
“ Ibu, Ayah. Aku masih mengantuk, aku ingin tidur,” ucapnya seraya tersenyum.
“ Ehm, tidurlah.” Ujar Nelson padanya.
Dean perlahan kembali menutup kedua matanya.
Bella yang keget pun kembali bertanya. “ Dokter, mengapa putraku kembali tidur?” Wajahnya terlihat begitu cemas.
Dokter pun menjelaskan kondisi Dean saat ini, bahwa saat ini keadaannya masih sangat lemah, sehingga membutuhkan istirahat yang lebih lama.
Dokter yang melihat kondisi Dean sudah stabil pun berkata. “ Karena pasien sudah siuman, jadi kami akan memindahkannya ke kamar rawat. Selamat Tuan dan Nyonya, putra Anda telah kembali. Silahkan mengurus administrasi penginapannya di bagian administrasi rumah sakit.” Ucao sang Dokter.
__ADS_1
Dokter pun meninggalkan keduanya seraya mengarahkan keduanya untuk keluar dari ruangan.
Nelson dan Bella saling berpelukan, mengucap syukur pada Tuhan yang telah memberkati mereka. Di saat Bella berpelukan penuh haru dan suka cita, Anita dan Andre datang menghampiri mereka berdua.
Anita sedikit bingung melihat keduanya bercucuran air mata. Namun, keduanya tampak tersenyum lega. “ Bella,” panggilnya.
Bella yang mendengar suara Anita pun berbalik, menatap Anita seraya mengulas sebuah senyuman. “ Anita,” Bella setengah berteriak memanggil Anita. Dirinya melepaskan pelukan suaminya, dan berhambur pada Anita.
Anita sedikit tertegun, mulutnya setengah terbuka, kala mendengar Bella berteriak padanya. Tubuh Bella pun menabrak Anita, hingga mereka berdua hampir terjatuh. “Waaa..” Anita sedikit berteriak, karena tubuhnya kehilangan keseimbangan.
“ Awas bahaya,” Nelson juga setengah berteriak kala melihat tubuh Anita yang akan tumbang. Namun secepat kilat Andre segera menopang tubuh Anita, hingga mereka tidak jadi merasakan dinginnya lantai rumah sakit.
Anita sangat beruntung, jika Andre tidak menangkap tubuhnya, dia pasti sudah yakin apa yang akan terjadi padanya selanjutnya.
Nelson sedikit kaget dengan apa yang terjadi, saat Andre tengah menopang tubuh Anita, Nelson segera menarik Bella dari tubuh Anita.
“ Itu cukup berbahaya, lain kali kamu harus hati-hati,” ujar Nelson pada istrinya sambil menggerutu.
Bella menundukkan kepalanya, dia tahu apa kesalahannya. Perlahan dia menatap wajah Anita lalu berkata dengan sedikit menyesal. “ Maafkan aku, aku tidak bermaksud seperti itu,” ucapnya seraya memegang tangannya.
“ Ada apa sebenarnya?” Anita kembali bertanya.
“ Anita, Dean sudah siuman. Dia bangun Anita,” Bella berkata dengan sorot mata yang begitu berbinar-binar.
Anita tersenyum lebar ternyata kekhawatirannya tidak menjadi sebuah kenyataan yang pahit, dengan pelan Anita mengusap lembut punggung Bella yang tengah bersuka cita.
“ Syukurlah, jika Dean sudah siuman. Aku ikut berbahagia mendengarnya,” ujar Anita pada Bella.
Andre dan Nelson hanya memperhatikan interaksi keduanya, sebelum Nelson berpamitan untuk mengurus proses administrasi kamar Dean yang akan di pindahkan ke kamar VVIP.
Di sisi lain.
Di sebuah penjara tengah sibuk, mereka menemukan tubuh Yeni yang tengah tergantung di dalam kamar mandi, dan yang menemukannya adalah teman satu selnya yang akan menggunakan kamar mandi. Namun alangkah terkejutnya dia saat mendapati mayat seseorang yang tengah tergantung di sana.
“ Tidak… tidak, bukan aku! Aku bahkan baru menemukannya pagi ini!” ungkap seorang tahanan wanita yang menemukan mayat Yeni pertama kali.
Dia mengatakan semua yang dia lihat saat itu, pada seorang petugas penjaga yang tengan menginterogasinya.
__ADS_1
Kabar kematian Yeni pun menyebar dengan cepat, saat kabar itu tiba di keluarga Fan. Mario yang tengah memegang gelas di salah satu tangannya pun tanpa sadar melepaskannya begitu saja.
Mulutnya setengah terbuka, dia tidak memercayai dengan apa yang di dengar olehnya. “ Ye-Yeni…” Mario tidak meneruskan perkataannya. Di wajahnya terlukis sebuah ketakutan, kedua matanya berkaca-kaca, secara tidak sadar kilauan crystal bening pun turun membasahi wajahnya tampannya. Dia menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Tatapannya melukiskan sebuah penyesalan yang dalam.
“ Mario,” ibunya mencoba memanggil dirinya. Namun, dia sudah tenggelam dalam kenyataan yang pedih.
Mario mengalihkan pandangannya, menatap kedua mata ibunya seraya berkata. “ Ibu, apa yang sebenarnya terjadi? Aku ingin menemui Yeni, Bu!” Mario setengah berteriak pada ibunya.
“ Ibu, ini tidak benar bukan? Mana mungkin Yeni mati! Ini pasti trik yang dia gunakan agar aku menemuinya kan Bu,” Mario seakan kehilangan jiwanya.
“ Mario dengar ibu, Yeni sudah mati. Dia tewas karena gantung diri di penjara,” Ibunya berusaha menekankan pada putranya, bahwa Yeni telah tewas pagi ini.
Seketika tubuh Mario runtuh, dia benar-benar tidak siap menerima kenyataan ini, dia memejamkan kedua matanya, berusaha menekan emosinya namun tidak bisa.
“ Aaaarrrrgggg…” Dia berteriak hingga menggema di seluruh bagian rumah. Bahkan orang-orang mulai berdatangan memicingkan mata mereka, melirik pada Mario yang tengah berlutut. Tatapannya begitu kosong, bola matanya yang hitam itu kini telah menjadi lautan air mata penyesalan.
Di sisi lain
Mira Yu tengah terpaku, dia tak dapat bereaksi saat menerima telepon dari pihak penjara. Mulutnya ternganga, kedua matanya berkaca-kaca. Kilauan crystal bening mulai berjatuhan membasahi wajahnya yang tampak kuyu.
Dia memejamkan kedua matanya, mencoba mencerna situasinya. Dia berharap bahwa ini semuanya hanyalah mimpi buruk belaka, hingga dia bisa bangun dan memeluk putrinya lagi.
Di wajahnya terlukis luka yang sangat dalam, dia mencoba bernapas, rasanya begitu sesak, anggota tubuhnya seakan kehilangan jiwanya, ditutupnya telepon seraya mencari sandaran untuk dirinya sendiri.
Di rumah tua ini, dia yang sendirian sejenak terdiam. Dengan tubuh gemetar, dia meraih tas tangan miliknya, lalu perlahan menyusuri jalanan di pinggiran kota, air mata berkilauan di matanya, mengalir deras tanpa bisa di hentikan.
Setibanya di rumah sakit, Mira Yu berdiri di depan pintu sebuah ruangan, yang bertuliskan ruang autopsi. Sejenak dia menguatkan batinnya. Mencoba untuk melihat jasad Yeni putrinya.
*
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung
__ADS_1