
Andre menggelengkan kepalanya seraya berkata. “ Masih belum ada kemajuan, dia ada di dalam,” seraya menunjuk pintu kamar di depannya.
Nelson perlahan mendekat, dia melihat tubuh Dean yang tengah terbaring tak tak berdaya menggunakan masker oksigen dari kaca kecil yang terpasang pada pintu.
Nelson menundukkan kepalanya, kedua matanya berkaca-kaca, napasnya perlahan semakin berat, bahkan kedua kakinya tidak sanggup menopang beban tubuhnya sendiri.
Andre memyadari ke tidak seimbangan tubuh Nelson. Dia segera menghampirinya, berusaha untuk meraih tubuhnya seraya menopangnya berdiri. Seraya membawanya untuk duduk.
“ Tenanglah, dokter berkata kondisinya sudah stabil, sehingga tidak ada yang perlu di khawatirkan.” Andre bicara seraya menepuk bahu Nelson.
Nelon memejamkan matanya, berpikir sejenak. Lalu bertanya. “ Sebenarnya apa yang terjadi?” seraya menatap keduanya.
Oliver menarik napasnya dalam-dalam sebelum menjelaskan apa yang terjadi pada Nelson.
“ Ja-jadi begini Tuan…” Oliver tidak melanjutkan perkataannya, dia terdiam sejenak.
Nelson menatap Oliver dengan penuh harap, bersabar hingga dia mau meneruskan perkataannya. Namun, semakin dia menunggu semakin dia tidak sabar. Wajahnya yang merenggut tidak percaya dengan apa yang di alaminya saat ini.
Perlahan Nelson menghirup napas panjang berusaha menekan emosi yang telah memuncak di dalam dirinya.
“ Jelaskan padaku, apa yang sebenarnya terjadi?” dengan sedikit menekan emosinya dia bertanya lagi.
Kali ini Oliver telah memantapkan dirinya untuk menjelaskan apa yang terjadi pagi tadi.
“ Jadi, pagi tadi Tuan kecil meminta saya untuk tidak ikut dengannya. Tuan kecil bilang dia membutuhkan privasi, sehingga saya pun meninggalkannya sendirian. Karena saya pikir Tuan kecil sedang dalam kondisi yang prima.”
Oliver menelan salivanya dengan kasar, kemudian melanjutkan perkataannya. “ Awalnya saya masih memperhatikannya. Namun, saat saya kembali dari kamar mandi…”
“ Tuan kecil sudah tidak ada di tempatnya.” Oliver menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, begitu menyesal kala bicara pada Nelson.
Sedangkan Nelson memejamkan kedua matanya, pembuluh darahnya tampak menegang, seraya menggigit bibir bawahnya, dia benar-benar tidak percaya Oliver melepaskan pengawasannya pada putranya yang sakit begitu saja, rasanya dia ingin menghajarnya sampai puas.
Tetapi Nelson tidak melakukannya, perlahan dia menghirup napasnya dalam-dalam, setelah sedikit tenang dia tidak lagi bicara. Namun rasa takut terlukis dengan jelas di wajahnya.
Menjelang sore Bella baru bangun dari tidurnya, perlahan dia membuka matanya. Namun, tidak terlihat sosok Nelson di mana pun. Seraya mengucek kedua matanya yang ngantuk, dia mencoba memanggil nama suaminya, namun tak ada jawaban.
__ADS_1
Bella beranjak mandi, karena kepalanya begitu pusing karena telah tidur seharian, perutnya pun telah mengeluarkan suara-suara pertanda dirinya belum makan seharian ini.
Selesai mandi dan berpakaian, Bella menemukan memo di kaca meja rias, tertulis pesan pada memonya. “ Aku harus pergi, ada urusan mendesak. Anak-anak sudah aku titipkan pada ibu, jika kau membutuhkan sesuatu, tinggal panggil layanan kamar saja.”
Bella menghela napasnya. “ Apa yang sedang terjadi?” batinnya.
“ Apa sebaiknya aku kembali ke mansion saja?” Bella berjalan ke samping tempat tidur. Dia duduk di sana seraya menekan beberapa digit nomor di ponselnya.
Terdengar suara yang sangat familier baginya, suara rendah namun terdengar seksi itu menggema di telinganya.
“ Istriku kamu sudah bangun?” tanya di seberang telepon.
“ Eng, apa kamu masih lama di luar? Gimana kalau aku kembali ke mansion saja?” ucap Bella seraya memainkan rambut basahnya.
“ Sebentar lagi aku akan kembali, tenanglah,” pintanya.
“ Baiklah, aku masih ada urusan mendesak, jadi aku akhiri di sini,” ucap Nelson seraya mengakhiri panggilannya.
Bella menyimpan kembali ponselnya, seraya menjatuhkan dirinya pada tempat tidur. Berpikir sejenak ada sesuatu yang aneh, bayangan-bayangan itu seperti dejavu untuk Bella, seakan kejadian sebelumnya terjadi lagi, pikiran negatif itu semakin berputar di kepalanya.
Di sisi lain Nelson masih menunggui Dean, Oliver begitu kuyu karena masih merasa bersalah tidak menjaga Dean dengan baik.
Begitu pula dengan Andre, dia bahkan merelakan waktunya menemani Nelson yang terlihat tak berdaya, seakan membuat Andre bersimpati padanya.
Di tatapnya kaca pemisah di mana putranya terbaring, semakin membuat mata sakit, dan pedih. Perasaan tak berdaya itu semakin menguasai Nelson.
Nelson berpikir dengan keras bagaimana dia menjelaskan tentang kondisi Dean pada istrinya? Permasalahannya semakin rumit.
Hari yang seharusnya bahagia itu kini menjadi duka, walau sebelumnya Nelson sudah memprediksinya. Namun, dia tidak berpikir jika itu akan datang dengan begitu cepat. Perlahan merebut kebahagiaannya.
“ Nelson, sebaiknya kau pulang, Kakak ipar pasti sangat khawatir sekarang? Lagi pula dia belum siuman.” Andre meminta Nelson untuk kembali pada Bella.
Nelson memijat dahinya yang sakit, perlahan dia bangkit dari duduknya, berdiri di depan kaca pemisah, air matanya tampak menggenang di kedua mata indahnya, dia menundukkan kepalanya seraya berkata.
“ Tolong, tolong kau jaga dia. Kabari aku jika terjadi sesuatu padanya,” Nelson berkata dengan suara yang tertahan.
__ADS_1
Andre tahu apa yang harus dilakukannya, perlahan dia menepuk pelan bahu Nelson seraya berkata. “ Percayalah semuanya akan baik-baik saja, walau sekarang tidak ada tandanya, tetap optimis sobat.”
Nelson menghela napas beratnya seraya melangkah pergi meninggalkan rumah sakit. Dia mengajak serta Oliver untuk pulang.
Di dalam mobilnya, Oliver berada di kursi penumpang sedangkan yang mengemudi adalah Nelson. Dia mengantarkan Oliver ke pintu masuk mansion, lalu meninggalkannya menuju hotel tempat mereka mengadakan resepsi dan menginap.
Sepanjang perjalanan Nelson terus memikirkan apa yang harus di katakannya pada istrinya, baru berbahagia, mengapa dia harus menerima kemalangan seperti ini.
Sesampainya Nelson di pintu masuk hotel, staf penjaga sudah siaga di tempatnya, saat melihat Nelson memasuki area hotel mereka segera menghampirinya, untuk memarkirkan mobilnya.
Dalam diamnya Nelson merasa ragu. Namun, mau tidak mau dia harus mengatakannya. Walau kenyataannya akan begitu menyakitkan nantinya.
Saat Nelson memasuki arean kamar, Bella sudah menunggunya, wajahnya yang cantik itu basah dengan air mata, napasnya begitu berat, dia juga terisak, entah apa yang merasukinya?”
“ Katakan apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa kamu membohongiku?” Tanya Bella dengan nada yang begitu tidak percaya bahwa suaminya menyembunyikan hal sepenting itu darinya.
Nelson terdiam sejenak mencoba mencerna apa yang di katakan oleh istrinya, dengan wajahnya yang tampak tak berdosa itu berkata. “ Apa yang kau maksud? Bahkan aku tidak mengerti?”
Bella sangat marah saat mendengar ucapan Nelson. “ Masih bisa berbohong. Kenapa kamu melakukan hal seperti ini padaku?” Butiran crystal bening jatuh perlahan, menyusuri wajah cantik Bella.
Nelson terdiam menatap istrinya dengan begitu dalam. Perlahan dia menundukkan kepalanya seraya berkata. “ Maafkan aku, bukan maksudku seperti itu,” kedua mata indah itu terlihat tenggelam dalam air mata. Berusaha menjelaskan apa yang terjadi.
Bella mendengarkan dengan seksama perkataan yang di lontarkan oleh suaminya, seketika tubuhnya melemas pikirannya melayang yang terdengar hanyalah. “ Dean sekarang koma,” kata-kata itu terngiang di telinganya.
Nelson segera meraih tubuh Bella sesaat sebelum tubuhnya ambruk, Nelson begitu panik, dengan sigap dia membawanya ke kamar tidur, dan merawatnya semalaman.
Saat Bella bangun, hari sudah berubah menjadi tengah malam, di perhatikannya dengan seksama suasana kamar begitu hening, seakan tidak ada kehidupan.
*
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih atas dukungannya.🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung