
Anita masuk ke dalam apartemennya, dengan segera dia menutup pintu. Anita bersandar di balik pintu, tubuhnya merosot kedua tangannya menutup wajahnya dengan kasar dia mengacak-acak rambutnya hingga tidak karuan.
“ Aaaarrrggg… Apa yang telah aku katakan? Mengapa jadi seperti ini? Bagaimana ini? Aku bahkan tidak tahu harus berbuat apa sekarang?” Anita bangkit dari duduknya, dia melangkahkan kakinya menuju kamar. Di sana dia menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur, kembali membayangkan saat dia begitu malu di hadapan orang lain.
Di sisi lain.
Sebuah mobil membelah gelapnya jalanan di malam hari. Andre menghentikan mobilnya di sebuah vila yang berada di pesisir pantai. Dia keluar dari mobil, berjalan pelan menyusuri pantai dengan pasir putih. Debur ombak pantai terdengar berirama, Andre berdiri di tempatnya pandangannya tertuju ke arah laut. Dalam bayangannya tampak seorang wanita dan seorang anak perempuan sedang berlari di kejar oleh seorang pria, itu adalah bayangan Andre sendiri beberapa waktu silam, kenangan manis itu masih membekas dalam ingatannya.
Andre duduk di atas pasir, tangannya meraih pasir lalu menjatuhkannya kembali, sekilas dia teringat akan senyuman hangat dari Anita, akan tetapi sedetik kemudian dia tidak bisa melepaskan kesedihannya. Dia seakan Terjerat masa lalunya, dadanya sesak membayangkan kepergian mendiang istrinya. Dia menjatuhkan tubuhnya menatap langit yang dipenuhi oleh banyak bintang, malam yang sunyi itu diterangi oleh sinar bulan yang sangat indah dan menakjubkan.
“ Apakah Anita bisa menerimaku saat aku belum sepenuhnya melupakan masa lalu? Aku juga mencintainya, dia wanita yang baik dan juga hangat. Aku ingin hidup yang baru, namun aku masih belum bisa melepaskan kalian.” Banyak pertanyaan dalam benak Andre. Dia memilih untuk memejamkan kembali matanya. Menikmati dinginnya malam sendirian, sentuhan angin menusuk ke kulit Andre, dia hanya menikmati sensasi itu dengan tersenyum tipis di sudut bibirnya.
Di tempat lain.
Keesokan paginya Robin tengah menunggu di bawah apartemen Gisel, dia yang baru mengetahui kenyataan pahit yang dijalaninya merasa sangat bersalah, dia bahkan tidak bisa tidur nyenyak saat mengetahui kebenarannya. Di sebuah lorong seorang wanita muda tengah berjalan, sekali lihat Robin sudah bisa mengenali wanita tersebut. Itu adalah Gisel, wanita yang selalu membuatnya sekarat dan ingin mati.
Gisel yang melihat Robin tengah berdiri di depan mobil Audi R8 warna hitan miliknya itu tertegun, dia menghentikan langkahnya. Ditatapnya dengan dalam wajah yang tak asing lagi baginya. Begitu pula dengan Robin dia menampilkan sorot mata yang tajam saat pandangannya tertuju pada Gisel. Robin menghampiri Gisel, setelah mengajaknya bicara akhirnya Gisel mau ikut bersama dengan Robin menaiki mobilnya.
Robin membawa Gisel ke apartemennya, Gisel tertegun saat Robin membawanya ke sana. Apartemen yang selalu dia impikan saat dulu masih menjadi kekasih Robin. Gise tak banyak bicara namun kedua matanya berkaca-kaca.
“ Apa kau menyukainya?” Robin bertanya dengan sedikit bersemangat. Gisel tetap bungkam dia tak bisa mengatakan sesuatu di depan pria yang pernah menjadi belahan jiwanya.
“ Aku membawamu ke sini, karena aku ingin menunjukkan rumah ini padamu. Rumah yang selalu kau inginkan dulu. Mari kita mulai lagi dari awal.” Robin memegang tangan Gisel.
“ Apa?” Gisel menepis tangan Robin.
__ADS_1
“ Selama lima tahun terakhir aku tidak pernah melupakanmu. Setiap hari terasa menyakitkan karena pilihan yang ku buat. Bukankah kau juga belum melupakan aku? Apa aku salah?” Robin berbicara seakan tidak memikirkan luka yang diderita oleh Gisel.
“ Kau tidak harus…” Gisel tidak melanjutkan perkataannya.
“ Apa?” Robin tidak mengerti ucapan Gisel.
“ Kau tinggalkan aku saat aku terpuruk, di saat aku berada di titik terendah hidupku. Aku benar-benar terpuruk dalam keterpurukan yang panjang.” Gisel menepuk-nepuk dadanya hingga kilauan crystal bening turun membasahi wajahnya.
“ Kesedihan memenuhi setiap anganku, aku terjatuh ke dalam jurang kegelapan, dan tenggelam di lautan yang tak bertepi. Setiap hari kau tampak terlalu jauh bagiku, setiap malam aku melihatmu di setiap bayanganku. Setiap kali aku memikirkannya, aku akan menangis sendirian di sudut kamarku.” Gisel menangis tanpa henti akan tetapi dia tersenyum pahit.
“ Sebenarnya aku tidak pernah menyalahkanmu, itu semua karena ketidakmampuanku. Menjadi seorang wanita yang utuh.” Gisel menekankan bahwa dirinya lah yang tidak mampu untuk meneruskan hubungan yang sudah terjalin di antara keduanya.
“ Gisel, aku mohon kembalilah padaku. Dan maafkanlah aku yang telah meninggalkanmu tanpa tahu alasan kau menjadi seperti itu. Aku sangat menyesal.” Robin menggenggam erat tangannya, berharap Gisel mau memulai kembali kisah cinta yang telah usai itu.
“ Kita tidak akan pernah bersama, kau sangat menyukai anak kecil dan kau berharap suatu hari nanti kau akan menggendong serta memeluk anakmu sendiri, dan akan kau pamerkan pada dunia bahwa anak itu adalah milikmu.” Buliran air mata itu memgalir deras di wajahnya.
“ Kita tidak akan pernah bersama. Apa pun perasaanku waktu itu, kini telah berubah semuanya, sudah tak sama lagi. Aku akan menganggap tidak mendengar perkataanmu hari ini. Sepertinya akan lebih baik jika kita tidak bertemu lagi, dengan begitu tidak akan ada yang terluka.” Gisel mengusap air matanya sendiri, berusaha tegar saat menatap wajah Robin.
“ Setelah kau pergi aku berjalan sendirian, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku sebenarnya lebih membenci diriku sendiri. Jadi lupakan aku, lupakan segalanya tentang diriku.” Gise yang sudah basah oleh air mata itu berusaha untuk pergi meninggalkan Robin. Namun, lengannya dijegal oleh Robin. Gisel mengalihkan pandangannya pada Robin, tatapannya begitu pilu seakan memohon padanya untuk tetap tinggal. Gisel menguatkan hatinya, dia melepaskan tangan Robin, dan memberikan sentuhan terakhirnya di punggung tangan Robin. Raut wajahnya terlukis rasa sedih yang begitu dalam. Gisel lalu pergi meninggalkan Robin tanpa berkata lagi.
Gisel menangis sepanjang koridor apartemen, kedua tangannya mengusap kasar air mata yang mengalir sedari tadi. Dia tak kuasa menahan kesedihannya. Gisel terduduk di tangga darurat, menangis tanpa bersuara. Samar-samar terdengar suara langkah kaki, Gisel tidak terlalu memperhatikannya hingga sepasang sepatu pria berhenti dalam pandangannya, Gisel menaikkan dagunya hingga dia bisa melihat sosok yang ada di hadapannya.
Ya. Itu adalah Yohan, seorang pria yang dulunya akan di jodohkan dengan dirinya. Dia juga menjadi sahabat Robin. Dan sudah dianggap sebagai kakaknya sendiri. Gisel segera memeluk Yohan, rasa sakit di hatinya seakan menggerogotinya perlahan.
“ Hatiku sangat sakit, aku sangat tidak rela melepaskannya. Tapi aku tidak ingin menghancurkan harapannya.” Yohan yang mendengar perkataan Gise itu ikut prihatin dengan keadaannya sekarang, mereka saling menyakiti satu sama lain. Namun dia sadar dirinya tidak bisa ikut campur dalam hubungan keduanya, yang bisa Yohan lakukan hanyalah menjadi penghibur untuk keduanya. Walau di relung hatinya dia menyimpan sedikit rasa pada Gisel.
__ADS_1
Jiwa Robin sedikit terguncang atas pernyataan yang di lontarkan oleh Gisel, bahwa dia kehilangan hak istimewanya untuk menjadi seorang ibu, itu kandas bersama dengan calon anak miliknya. Rasa bersalah semakin besar di hatinya, dadanya terasa sesak saat memikirkannya, Robin memukul-mukul dadanya berusaha untuk menyadarkan dirinya sendiri. Namun hatinya merasakan sakit yang teramat pedih setelah kehilangan anak, dia juga kehilangan wanita yang sangat di cintainya. Robin menampar dirinya sendiri.
“ Robin sadarkan dirimu! Jika kau mencintainya dengan tulus kau tidak akan keberatan tentang dia yang tidak bisa memberimu keturunan. Kau seharusnya mengejarnya.” Robin seakan mendengar bisikan di telinganya. Berusaha mengejar Gisel yang sudah pergi sedari tadi.
Yohan mengantarkan Gisel kembali ke apartemennya. Di sepanjang perjalanan Gisel diam tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulutnya. Gisel memejamkan kedua matanya, sesekali bulir air mata masih menetes di sudut matanya, membuat Yohan terseret dalam jurang keputusasaan miliknya. Yohan ingin sekali menggenggam tangan Gisel dan menguatkannya. Namun, dia tidak memiliki keberanian sama sekali, dulu mungkin Yohan kurang menyukai Gisel, berbeda dengan sekarang dia hanya memendam perasaan kasihnya terhadap Gisel, berlagak baik-baik saja walau ternyata dia ikut terluka saat Gisel menangis sendirian melewati kejamnya dunia.
Sesampainya di gedung apartemen ada sebuah mobil yang menarik perhatian Yohan, dan benar saja ternyata di depan apartemen Gisel sudah berdiri dengan tangguhnya Revan kakak kandung Gisel, tampangnya begitu sangar akan tetapi dari raut wajahnya sudah dipastikan bahwa dia sangat mengkhawatirkan keadaan adik semata wayangnya. Gisel menaikkan dagunya, dia menatap Revan dengan tatapan yang sangat dalam, Kedua matanya sembab karena terus menangis. Gisel ingin menangis tapi dia mengurungkan niatnya, dia menampilkan senyum terbaiknya di depan Revan dengan semampunya dia menutupi lukanya yang kembali terbuka.
“ Apa yang terjadi?” Revan bertanya dengan prihatin saat melihat penampilan adik semata wayangnya.
“ Tidak apa-apa, Kak.” ucap Gisel seraya mengulas senyuman pada Revan.
“ Kakak pasti sudah menunggu lama, ayo masuk.” Gisel membuka pintu unitnya mempersilahkannya untuk masuk. Sementara Revan masuk mengikuti langkah Gisel, Yohan hanya terdiam di tempatnya.
“ Masuklah,” Revan meminta Yohan untuk ikut masuk, suaranya tegas dan terdengar dengan jelas di telinga Yohan. Bahkan Gisel sampai berbalik untuk memandang Yohan yang masih berada di luar. Dia tak banyak bicara langsung masuk ke dalam tanpa menunggu keduanya. Gisel segera masuk ke dalam kamarnya sementara Revan dan Yohan sedang berada di ruang tamu.
“ Tunggulah sebentar, aku akan bicara dengan Gisel.” Revan pun mengetuk pintu kamar. Gisel yang berada di dalam kamar itu seketika tersadar dari lamunannya, dengan enggan dia melangkahkan kakinya membukakan pintu untuk kakaknya. Saat pintu telah terbuka raut wajah Revan tampak berbeda, rasa khawatir terlukis jelas di sana. Revan menutup pintunya pelan lalu kembali menatap adiknya yang tertunduk lesu, tak ada gairah sama sekali.
“ Kudengar kau pergi dengan Robin?” Gisel hanya menganggukkan kepalanya pelan. Revan menghela napasnya dia tidak percaya adiknya mau menemuinya.
“ Gisel, apa kau tidak mendengarkanku? Jangan dekati dan berhubungan lagi dengan dia. Sudah berapa banyak luka yang diberikan padamu? Mengapa kau masih saja seperti ini?” Nada suara Revan terdengar tinggi bahkan Yohan yang di ruang tamu dapat mendengar percakapan keduanya. Gisel hanya terdiam, buliran air mata menjelaskan bagaimana perasaan dan hancurnya dia sekarang. Seketika Revan berhenti bicara, dia menatap nanar adiknya, ada rasa sakit menjalar di hatinya, seakan dia ikut merasakan penderitaan yang sedang di alami olehnya.
*
*
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih.🙏🥰❤️🫶🌹🌹🌹🌹
Bersambung