
“ Namun, ternyata pikiranku salah. Dengan terengah-engah Nelson kembali menjemputku, dia tersenyum padaku. Seraya berkata. “ Kau sudah bekerja keras, untuk melindungi negara ini. Aku akan menyelamatkanmu,” itulah yang dikatakan olehnya.
“ Walaupun medan sangat terjal. Namun, dia tetap memperjuangkan aku. Dia menggendongku dengan hati-hati. Dan membawaku hingga ke tempat aman.”
“ Dia menjagaku hingga bala bantuan datang, dan kami pun berpisah sejak hari itu. Karena dia harus menyelesaikan misinya untuk menangkap para militan.”
“ Aku sangat bersyukur sejak bertemu dengannya. Aku ingin mengabdikan hidupku padanya.”
“ Ketika aku sembuh, dan menanyakan keberadaan jenderal muda itu. Ternyata dia telah keluar dari militer. Dan ternyata misi yang berbahaya itu, adalah misi terakhirnya.”
“ Ku dengar dia terluka cukup parah, karena melawan militan. Walaupun dia kalah jumlah. Namun dia dikabarkan berhasil dalam misinya,” ungkap Evan. Dengan bangga menceritakan kisah awal bertemu dengan Nelson.
“ Bukankah kau juga berada di sana? Bukankah kau juga berada di militer?” tanya Evan.
Andre menganggukkan kepalanya, seraya berkata. “ Emm. Tentu saja. Aku juga berada di garis bersama Nelson.”
“ Aku pun sangat takut dengannya. Namun, seiring berjalannya waktu kami semakin dekat di markas.”
“ Jika diingat lagi. Banyak kisah pilu di antara kami. Suka duka telah kami lalui bersama.”
“ Hingga suatu hari, dia harus meneruskan perusahaan keluarganya. Karena Nelson adalah putra tunggal keluarga Hongli.”
“ Tak banyak yang tahu, wajahnya seperti apa? Saat menjabat Presdir di perusahaan dia semakin bersikap dingin.”
“ Namun, sebenarnya dia memiliki sisi yang hangat, saat dia sudah menjadi presdir. Putriku sakit. Dan dialah yang pertama kali datang.”
“ Menemaniku, hingga putriku beristirahat dengan tenang. Dia yang menyadarkanku bahwa hidup harus terus berjalan. Tidak seharusnya aku tenggelam dalam keterpurukan.”
“ Dia membawaku kembali pada hidupku, dan sejak hari itu aku mengabdikan hidupku pada Nelson.”
“ Karena seberapa buruknya aku, dia tetap menemaniku hingga aku menemukan kembali tujuan hidupku.”
“ Kau memang benar, di balik kata-katanya yang dingin. Dia adalah seorang pria yang baik dan hangat,” ungkap Andre.
Andre tersenyum kala menceritakan kisahnya pada Evan. Dia menghisap kembali rokoknya. Mengingat saat kritis hidupnya. Dan Nelson lah yang membantu dirinya bangkit kembali.
“ Akh jika membicarakan masa lalu pasti tidak ada habisnya, benarkan Evan?” tanya Andre.
Evan berkata. “ Tentu saja. Entah itu masa lalu atau masa sekarang. Kita sama terikat dengannya,” ucapnya.
Evan menikmati lembutnya angin setelah hujan, begitu menyegarkan, dan terkesan sepi.
“ Kini hujannya telah reda, apakah kau ingin kopi?” tanya Evan.
__ADS_1
“ Ya. Aku ingin kopi,” ucap Andre.
Evan meninggalkan Andre sendirian, sementara dirinya membeli kopi untuk mereka berdua.
Andre memandang dedaunan yang basah. Dia teringat kembali, saat dirinya kehilangan istrinya karena sebuah insiden yang mengerikan, di mana Nelson juga ikut dalam misi penyelamatan dirinya dan putrinya.
Dia teringat akan saat-saat terakhir istrinya yang harus meregang nyawa karena ketidakmampuan dirinya. Andre merasakan kembali kesedihannya.
“ Ah istriku. Kau pasti sudah bertemu dengan putri kita bukan?”
“ Lihatlah di sini hujan baru saja reda, aku ingat kau sangat menyukai hari setelah hujan reda. Kau begitu gembira, tawamu masih terbayang dalam benakku.”
“ Aku juga begitu merindukan putri kita. Engkau tidak lagi di sisiku, dan aku tahu itu. Tapi entah mengapa aku jadi sangat merindukanmu, sangat rindu.” batinnya.
Dia menutup wajahnya dengan kedua tangannya, tanpa terasa air mata mulai menetes perlahan tanpa henti. “Ah. Ada apa denganku ini? Ah. Kenapa tidak bisa berhenti? Sudah setua ini mengapa masih saja menangis,” ucapnya tertahan.
Evan yang sudah sampai sedari tadi tidak berani mendekat, dia memilih untuk diam di tempat. Memperhatikan Andre yang sedang meluapkan kesedihannya. Evan tahu rindu yang paling menyakitkan adalah kerinduan yang tak berujung, rindu akan seseorang yang telah tiada, dan telah berbeda dunia.
Ya. Andre selalu sedih kala hujan turun. Dia akan mengingat ini dan itu saat bersama dengan istri beserta putrinya. Kenangan-kenangan manis perlahan terlintas kembali dalam benaknya, seperti aroma lembut dari angin yang melintas saat hujan telah berhenti.
❤️❤️❤️❤️❤️
Di kamar pasien. Dean dan Dion telah bangun. Mereka makan bersama-sama. Dean hanya bisa makan di ranjangnya.
“ Setelah makan sebaiknya kau kembali ke hotel dengan Evan,” ucap Nelson.
“ Lihatlah Dion, dia pasti lelah. Pulanglah dan tidurlah dengan nyaman di hotel.”
“ Dean sudah lebih baik, tidak perlu cemas. Aku yang akan menjaganya di sini. Kau kembalilah ke hotel,” pinta Nelson.
Bella menundukkan kepalanya, sebenarnya dia ingin lebih lama menemani Dean. Namun, dia juga tidak berani menentang Nelson.
“ Yang lainnya akan datang ke sini, dan menjaga Dean bersamaku,” ucap Nelson.
Bella hanya bisa menuruti perintah Nelson. Dengan enggan dia pamit pada Dean yang sedang tertidur. Di tatapnya wajah putranya dengan lembut. Di kecupnya kening Dean. “ Baik-baik lah sayangku, Ibu akan segera kembali ke sini,” bisiknya.
“ Ayah, Bolehkah aku kembali ke sini lagi?” tanya Dion.
Dengan lembut dia menjawab. “ Tentu saja. Istirahatlah di hotel. Dean pasti akan segera berkumpul bersama kita, bersabarlah sebentar lagi ya,” ucap Nelson. Seraya mengelus kepala Dion.
“ Hibur, dan bermainlah bersama paman Andre,” pinta Nelson.
“ Paman Andre?” Dion sedikit bingung.
__ADS_1
“ Berjanjilah. Kau akan menemani paman Andre hari ini,” ucap Nelson pada putranya.
Dion segera menganggukkan kepalanya, seraya mengulurkan jari kelingkingnya untuk berjanji pada Nelson.
“ Pergilah. Evan sudah menunggumu,” ucapnya. Tak lupa Nelson memberikan sentuhan terakhirnya, yaitu mengecup lembut kening Bella.
Sebelum beranjak pergi Bella berbalik untuk memeluk suaminya.
Nelson tersenyum seraya berkata. “ Aku tidak akan meninggalkannu,” ucapnya.
Bella seakan tidak ingin berpisah dengan Nelson walau hanya sedetik saja.
Tak lama selang kepergian Bella. Ronald dan yang lainnya tiba. Mereka membawa banyak makanan serta buah kesukaan Dean, serta baju ganti untuk Nelson.
“ Kalian sudah datang?” ucap Nelson.
“ Emm… aku kira kau masih tidur,” ucap Ronald.
“ Apakah kau membawa apa yang ku pesan.” tanya Nelson.
Ronald menjawab. “ Tentu saja. Satu set pakaian, serta pakaian dalam milikmu,” ucapnya.
“ Lalu laptopku? Apa kau membawanya bersamamu?” Nelson kembali bertanya.
“ Tentu saja aku membawanya, ucap Ronald. Seraya menyerahkan barang-barang yang di pesan oleh Nelson.
Sementara Nelson mandi dan bersiap, Ronald dan yang lainnya menunggui Dean yang sedang tertidur. Mereka memakan makanan yang dibawanya.
“ Bukankah hari ini hujan?” tanya Ronald.
“ Ah. Aku lupa,” ucap Robin.
“ Bagaimana ini?” tanya Yohan.
“ Aku harap dia tidak terlalu bersedih hari ini,” ucap Ronald.
“ Ya. Aku harap juga begitu,” Robin menundukkan kepalanya.
“ Apa yang kalian bicarakan?” Suara Nelson begitu mengagetkan semua temannya.
“ Kau tidak lupa bukan jika setelah hujan. Andre akan bersedih,” ucap Ronald.
“ Tentu saja. Aku tahu. Dia tidak akan apa-apa. Putraku Dion yang akan menjaganya,” ucap Nelson dengan percaya diri.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹
Bersambung