
Di sofa, terlihat sosok Nelson yang tengah bersandar pada sandaran sofa, dia memejamkan kedua matanya, wajahnya terlihat pucat.
“ Nelson,” Bella mencoba memanggilnya. Seketika terlihat sepasang netra yang begitu indah, tatapannya begitu dalam, seraya beranjak dari tempatnya dia berkata.
“ Kamu sudah bangun?” Nelson berkata dengan begitu cemas.
Bella hanya menganggukkan kepalanya, seraya bertanya. “ Bagaimana kondisi Dean? Apa sudah ada kabar dari Andre?”
Nelson menggelengkan kepalanya, pertanda belum ada kemajuan darinya, seketika raut wajah Bella pun berubah muram, dia terdiam sejenak, lalu dengan cepat dia mencoba beranjak seraya memohon pada suaminya. “ Ayo kita pergi ke rumah sakit.”
Nelson menatapnya dengan dalam, seakan istrinya telah hilang kendali, perlahan dia memejamkan kedua matanya sejenak. Menghirup napas beratnya seraya berkata. “ Istriku, ini sudah sangat larut, kita tidak bisa datang ke rumah sakit.”
Langkah Bella terhenti, dia memandang pada jam dinding di kamar, yang menunjukkan pukul 02:00 dini hari, seketika tubuhnya goyah, dia terduduk tak berdaya, tatapannya begitu kosong, hingga membuat hati Nelson terluka kala menatapnya.
Di peluknya tubuh istrinya, perlahan dia membelai lembut puncak kepalanya. Lalu berkata. “ Tenanglah, besok kita baru pergi ke rumah sakit, sebaiknya sekarang kamu istirahat.”
Bella menundukkan kepalanya, mata yang indah itu kini tergenang oleh air mata yang menumpuk. “ Suamiku aku sangat takut, sangat takut,” ucapnya lirih.
“ Aku tahu ke khawatiranmu, untuk sekarang tenanglah,” Nelson mencoba menenangkan istrinya.
“ Tapi..” Bella tidak meneruskan perkataannya. Dia malah menangis tersedu-sedu di dalam pelukan Nelson.
“ Aku takut, takut sekali, aku…” perkataan Bella semakin membuat kedua mata Nelson berkaca-kaca. Tanpa sadar dia menahan emosinya dengan sekuat tenaganya.
Dia menggigit bibir bawahnya, tak terasa kilauan air mata membasahi wajahnya, dia juga merasakan hal yang sama yaitu ketakutan akan kehilangan yang selalu menghantui dirinya.
Di malam yang sama Yeni terdiam di dalam kamar mandi, di sana dia termenung sendirian, dalam hati kecilnya berharap ada seseorang yang menyelamatkannya dari jurang keputusasaan.
Perlahan dia meluruskan tali yang akan dipakainya pada teralis besi yang berada di jendela. Sejenak Yeni terdiam, memikirkan kembali apa yang akan di lakukannya sekarang.
Dia teringat akan kenangan bersama mantan suaminya Mario, walau Mario tidak mencintainya. Namun, dia tetap memperlakukannya dengan sangat baik. Perlahan terlintas bayangan indah dalam benaknya.
__ADS_1
Perlahan dia memejamkan matanya, dengan segenap jiawanya dia membulatkan tekadnya untuk mengakhiri hidupnya saat ini.
Di tatapnya dengan putus asa langit-langit kamar mandi yang akan menjadi saksi bisu di mana dirinya akan meregang nyawa.
Dengan tekad yang sudah bulat, dia menaiki kursi kecil di depannya, pelan-pelan dia memasukkan kepalanya pada tali yang telah terikat. Kilauan crystal bening mulai membasahi wajahnya, menandakan betapa tidak berdaya dirinya.
Dan dengan sekali tendangan dia menendang kursi kecil itu, Yeni benar-benar tergantung antara langit dan bumi, bahkan dia tak bayak melakukan perlawanan, hingga tak menimbulkan kecurigaan dan keributan yang berlebih.
Di kediaman keluarga Fan, terasa begitu sunyi. Mario tidak bisa tidur semalaman, dia selalu terpikirkan, tentang keputusannya yang tidak menemui mantan istrinya. Entah mengapa? Selalu menghantuinya.
Keesokan harinya.
Bella dan Nelson telah datang ke rumah sakit, setelah mengemas barang-barang yang ada di hotel dan mengirimnya kembali ke Mansion.
Saat Andre melihat kedatangan Nelson beserta Bella dia dengan sopan dan hormat menyapa keduanya seraya membungkukkan tubuhnya di hadapan mereka berdua. “ Kalian sudah datang,” ucapnya.
“ Bagaimana keadaannya?” Nelson bertanya padanya.
Nelson menundukkan kepalanya, memejamkan kedua matanya, seraya menghirup napas beratnya dia berkata. “ Kau bisa pergi istirahat, aku yang akan menjaganya sekarang.”
“ Baiklah, aku pergi dulu,” ujar Andre seraya beranjak melangkahkan kedua kakinya meninggalkan keduanya.
Bella terduduk, terlihat kedua bola mata yang cokelat nan indah itu memiliki tatapan yang begitu dalam, begitu tak berdaya.
Nelson menghampiri Bella, seraya setengah berlutut satu tangannya memegang dagu Bella sehingga mereka saling memandang satu sama lain.
Dengan suara terisak Bella berkata. “ Bagaimana jiak Dean tidak bangun? Bagaimana jika Dean…” Dia tidak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya, matanya yang indah itu di penuhi oleh genangan air mata yang tak ada habisnya.
“ Aku tahu, aku mengerti tentang perasaanmu. Jadi berhentilah menangis, Dean pasti bisa melewati semua ini. Mungkin sebentar lagi Dean akan siuman. Dia adalah putraku, mana mungkin dia kalah begitu saja.” Nelson terus mencoba menenangkan Bella, dengan pelan dia terus memberi dukungan pada istrinya yang tenggelam dalam kecemasan.
Seorang Dokter keluar dari dalam ruangan di mana Dean di rawat.
__ADS_1
“ Apa ada wali dari Ananda Dean?” Sang Dokter bertanya pada keduanya.
Sontak Nelson dan Bella pun menjawab secara bersamaan. “ Kami berdua,” ujar keduanya pada Sang Dokter.
Dokter menjelaskan dengan seksama, dan jelas pada keduanya tentang kondisi yang di alami Dean, dan mereka harus bersiap dengan kondisi terburuk yang akan di alami oleh Dean.
Kedua kaki Bella melemas, seakan tidak ada lagi tenaga dalam tubuhnya. Seketika jiwanya runtuh. Begitu pula dengan Nelson, dia memejamkan kedua matanya, seraya menggigit bibir bawahnya, menahan emosi dan juga rasa bersalah yang ada di dalam hatinya.
Dirinya tidak menyangka jika sel kankernya sudah mulai berkembang, pengobatan selama ini yang di lakukan Dean tidak terlalu di respon oleh tubuhnya.
Nelson hanya terdiam menatap putranya yang berada di balik kaca pemisah itu. Matanya yang hijau Zamrud itu seakan telah menjadi lautan kesedihan, begitu dalam dan sepi menyelimuti dirinya.
Baru kali ini Nelson di liputi oleh ketakutan, dia yang dulu tidak takut apa pun itu, kini berdiri tegak namun tidak berdaya, sungguh membuat hatinya miris, dia sangat takut kehilangan.
Di tatapnya kembali istrinya yang terisak di kursi tunggu, perlahan dia mengatur napasnya, berjalan mendekati Bella yang tengah menundukkan kepalanya ke bawah.
Dirinya berusaha untuk tetap tegar, saat memeluk istrinya yang saat ini tengah rapuh, pelan-pelan dia membelai lembut puncak kepalanya seraya berkata. “ Tidak apa-apa, semunya akan baik-baik saja. Aku akan meminta Dokter terbaik di bidangnya untuk merawat putra kita. Kita harus kuat, kita akan bisa melewati ini semua. Dia masih muda dan kuat, dia pasti bisa melewati masa kritisnya. Kita harus percaya padanya.”
“ Tapi aku…” Bella menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang kecil, sehingga menutupi sebagian wajahnya yang terlihat kuyu.
Sungguh pemandangan yang menyayat hati, seberapa kuat, seberapa rupawan orang tuan, jika di hadapkan dengan kenyataan yang pagit semuanya akan hancur dan rapuh secara bersamaan.
Nelson bukanlah tipe orang yang bisa menghibur, jadi yang hanya bisa di lakukannya hanyalah memeluk istrinya yang tengah menangis tersedu-sedu di dalam pelukannya.
*
*
*
Jangan lupa like, vote dan komen ya guys. Terima kasih. 🙏🥰🫶🌹🌹🌹🌹
__ADS_1
Bersambung